
Kirani sedikit terkejut Ryan mengetahui maksudnya, "Kok kak Ryan bisa tau?" tanya Kirani.
"Kirani kali ini aku berpesan sebagai sahabatnya Marvin, apa pun yang terjadi nantinya jangan pernah meninggalkan Marvin" ucap Ryan dengan serius.
"Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan?" tanya Kirani dengan menatap tajam Ryan.
"Bukan hak aku untuk bicara, tapi kamu harus tau kenyataan Kirani, Marvin sebelum mengenal dirimu dia tidak pernah menghargai satu wanita satu pun, di matanya semua wanita sama dan menganggapnya cuma mainan, bahkan dia sangat arogan dan tidak pernah mengampuni kesalahan siapa pun" ungkap Ryan panjang lebar.
"Beri aku alamat apartemen nya Marvin" ucap Kirani.
Ryan kemudian mengambil HPnya di saku celananya dan mengirim lokasi Marvin pada Kirani, Kirani kemudian melihat pesan yg masuk di HPnya.
"Temui dia secepatnya" perintah Ryan.
Sementara Elmira hanya menyimak pembicaraan mereka, karena dia tidak tau apa yang terjadi sebenarnya.
"Oke gue pergi dulu dan lanjutkan permainan kalian, maaf sudah mengganggu, daah" ucap Kirani melambaikan tangannya sambil berjalan keluar.
Ucapan Kirani membuat Elmira dan Ryan saling pandang, hingga terjadi kecanggungan di antara mereka.
Kirani langsung mengendarai mobilnya menuju apartemen suaminya, dan Kirani berfikir keras apa hubungannya Marvin dan pak Bram.
Kirani sudah berada di depan pintu apartemen Marvin dan sedikit ragu untuk memencet bel nya, tapi pada akhirnya Kirani pelan-pelan memencet bel nya.
Tidak lama kemudian pintu pun terbuka dan berdiri lah Marvin dengan wajah yang lesu, di tambah penampilannya yang berantakan.
Marvin yang melihat istri nya berada di hadapannya dia langsung memeluknya, "Sayang maafkan aku, pasti kamu sangat khawatir" ucap Marvin.
Setelah merasa tenang Marvin mengajak Kirani masuk dalam apartemen nya, lalu Kirani berjalan masuk.
"Sayang boleh aku nginap di sini" tanya Kirani sambil mengamati apartemen Marvin, agar bisa mendapat petunjuk.
Marvin kemudian memeluk Kirani dari belakang, "Kenapa kamu bertanya sayang, kamu kan istriku dan apartemen ini juga milikmu" ucap Marvin.
"Kalau memang kamu menganggap aku istri, kenapa masi banyak yang kamu sembunyikan padaku, termasuk apartemen ini" balas Kirani
Mendengar ucapan Kirani, Marvin langsung melepas pelukannya, "Maaf kan aku sayang, tapi satu hal yang harus kamu tau, aku sangat mencintaimu" ungkap Marvin lalu berjalan keluar balkon.
__ADS_1
Mendengar permintaan maaf suaminya, Kirani juga tidak bisa memaksa nya untuk cerita, Kirani kemudian menghampiri Marvin dan berdiri di samping.
"Aku tidak bisa janji sama om, kalau aku bisa berada terus di sisimu, tapi aku bisa menjanjikan kalau cuma om CEO yang aku cintai sekarang dan selamanya" janji Kirani lalu memegang lengan Marvin.
"Aku juga tidak bisa yakin sayang, kalau nantinya kamu tau yang sebenarnya, apa kah semua akan baik-baik saja" batin Marvin dengan menatap lurus ke depan.
Marvin kemudian menatap Kirani tampa berkedip lalu memeluknya dengan erat, "Aku sangat mencintai mu Kirani" ucap Marvin.
*********
Di bandara internasional, turunlah seorang pria paruh baya yang memakai tongkat untuk membantunya berjalan, Pria itu ada Bram Wijaya.
Bram Wijaya di dampingi beberapa bodyguard dan terlihat Zara putri Satu-satunya telah tiba untuk menjemput papahnya.
"Selamat datang di indo pah" ucap Zara langsung memeluk papahnya.
"Apa kabar sayang, kamu sehat" tanya Bram sambi melepas pelukannya.
"Baik pah, oh yah Marvin sedang ada kerjaan jadi tidak bisa menjemput papah" ucap Zara.
"Kamu selalu saja membela anak keras kepala itu" balas Bram sambil merangkul pundak putrinya menuju mobil.
Kirani sedang berada di depan perusahaan Bram dan duduk di mobil menunggu kedatangan Marvin, karena dia yakin setelah kedatangan Bram Wijaya, pasti suaminya juga akan datang.
Tidak balam kemudian mobil Bram datang, lalu turunlah Bram di susul oleh Zara masi di dampingi beberapa bodyguard.
"Bram Wijaya" gumam Kirani, lalu mengamati langkahnya terutama tongkat yang dia gunakan.
"Apakah dia benar-benar membutuhkan tongkat itu apa cuma untuk menunjang penampilannya saja" pikir Kirani.
Dan tidak berselang lama datang lah mobil Marvin, kemudian Marvin turun dari mobilnya setelah sopir membukakan pintu mobil.
Kirani tentu melihat kedatangan Suaminya itu, "Benarkan dia datang, pasti ada yang tidak beres, mana mungkin seseorang yang sangat tulus mengatakan cinta, tapi masi merahasiakan sesuatu pada pasangan nya" Kirani kembali berfikir dengan keras.
Kirani baru sadar dengan rencananya, dia segera mengambil baju pelayanan yang sudah dia sediakan, kemudian memakai masker dan turun dari mobilnya.
Sementara itu Bram berada di ruangannya dan tentu di temani Zara juga ada bersama papahnya.
__ADS_1
Bram sedang melihat berkas-berkas laporan perusahaan nya, dan pintu di buka seseorang, ternyata Marvin yang datang.
"Selamat datang om Bram" sapa Marvin lalu duduk di hadapan Bram.
"Zara sayang keluar lah dulu" perintah Bram pada putrinya.
"Iya pah" jawab Zara dan berdiri meninggal kan ruangan papahnya.
"Apa kabar Marvin" tanya Bram sambil melihat Marvin dan menutup berkas di hadapannya.
"Aku baik om" jawab Marvin sambil menyalakan rokoknya.
"Baguslah kamu tentu tau kan kedatangan om ke indo" sambung Bram.
Marvin tidak menjawab pertanyaan Bram, dia langsung bersandar di sofa dan menyilang satu kakinya, kemudian menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan.
Tiba-tiba pintu di ketuk seseorang, "Masuk" ucap Bram dengan tegas.
Pintu pun terbuka dan muncul lah seorang pelayan wanita yang memakai masker dan kaca mata, sedang mendorong troli, ternyata pelayan itu adalah Kirani yang menyamar.
"Permisi tuan" ucap Kirani berusaha merubah suaranya, dan di balas anggukan oleh Bram.
Marvin yang mendengar suara Kirani, membuat Marvin menatap tajam pelayan yang memakai masker dan kacamata juga memakai topi tersebut.
Kirani sedikit kaku takut Marvin mengenalinya, tapi dia berusaha rileks dan menuang kopi di gelas sangat pelan, sementara Marvin masi mengamatinya.
"Kapan kamu menceraikan istrimu itu?" tanya Bram pada Marvin, dan tidak mempedulikan kalau ada pelayan di ruangan itu.
Perkataan Bram membuat Kirani terkejut, membuatnya sangat gugup dan hampir menumpahkan cangkir kopi yang dia tuang, sementara matanya sudah berkaca-kaca, tapi Bram tidak menyadari itu dan masi menunggu jawaban Marvin.
Marvin yang menyadari tingkah pelayan itu, membuatnya tersenyum tipis dan sangat yakin kalau pelayan itu adalah Kirani.
"Saya tidak akan menceraikannya om Bram" jawab Marvin, sementara Kirani hanya menunduk melanjutkan pekerjaannya.
"Masud kamu apa Marvin?" Bram kembali bertanya.
"Karena saya, mencintai istri saya om Bram" jawab Marvin dengan tegas.
__ADS_1
"Omong kosong, sejak kapan kamu mengenal cinta Marvin?" bentak Bram.
Kirani secepatnya meninggalkan ruangan Bram, tapi dia meninggalkan rekaman di teko kopi tersebut, Marvin melihat kepergian Kirani dengan ujung matanya.