
Kirani kemudian memencet hidung mancung suaminya, membuat Marvin melepaskan pelukannya.
"Aaaah....sakit sayang" ujar Marvin.
Kirani segera berdiri dan duduk di samping Marvin, "Dasar om mesum" ucap Kirani dengan memicingkan matanya.
"Mesum, tapi kamu suka kan?" timpal Marvin.
"Nggak, gue gak suka" jawab jutek Kirani.
"Benarkah, kalau gitu maafin om yah" ucap Marvin.
"Yah sudah, om mau pulang atau tetap di sini" tanya Kirani.
"Kepala om sedikit sakit, bisa bantu pijitin" keluh Marvin sambil memijit pelipisnya.
Kirani segera berdiri di belakang Marvin dan pelan-pelan memijit kepala suaminya.
"Enak, ternyata kamu bisa memijit juga" ucap Marvin.
"Apa benar enak, kalau gitu Kirani jadi tukang pijit aja" canda Kirani.
"Jangan dong sayang, aku tidak terima kalau istri ku harus memijit orang lain" ucap Marvin menimpali candaan Kirani.
Kirani tidak bicara lagi, dia hanya tersenyum sambil melanjutkan pijitannya.
Marvin yang memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan Kirani di kepalanya, tiba-tiba menangkap tangannya, "Sayang, sebenarnya cita-cita kamu apa?" tanya Marvin dengan serius sambil membuka mata.
Kirani belum menjawab, dia kemudian berjalan mendekati pembatas balkon, membuat Marvin berdiri mengikuti langkah Kirani dan berdiri di sampingnya.
Kirani menatap Marvin, "Om sebenarnya aku tidak ada cita-cita, aku hanya ingin melihat orang di sekitarku bahagia, itu udah cukup" ungkap Kirani.
"Sesederhana itu?" Marvin kembali bertanya.
"Bisa jadi, mungkin karena sejak kecil aku sudah punya segalanya yang ku mau, jadi saat ini aku tidak menginginkan hal yang berlebih" tutur Kirani dengan menatap lurus ke depan.
"Jujur aku salut padamu, di usiamu yang masi mudah dan sudah bisa berfikir dewasa, karena biasanya pada umumnya gadis sepertimu hanya memikirkan egonya saja" sambung Marvin.
Dan keduanya tidak ada yang bicara lagi, mereka hanya memandang ke depan.
********
Di perusahaan jansen group Marvin dan Ryan sedang duduk di sofa dalam ruangan Marvin, mereka membahas proyek perusahaan yang mengajukan kerja sama.
Marvin membaca beberapa proposal yang di kirim ke perusahaanya, dan di akhir berkas terdapat beberapa foto wanita cantik dan seksi, membuat Marvin tersenyum miring
__ADS_1
Yang tentu di saksikan juga oleh Ryan, "Bagaimana bos?" tanya Ryan yang yakin bosnya akan mengiyakan, karena seperti biasa jika di sertakan beberapa foto wanita yang di tawarkan untuk menjadi teman kencannya, pasti akan di setujui.
"Tolak semuanya yang mengirim foto-foto wanita dan katakan jangan mengulanginya lagi" perintah Marvin dengan tegas.
"Jadi ini peraturan baru bos?" tanya Ryan memastikan.
"Mereka tidak tau apa, kalau Marvin jansen sudah menikah" timpal Marvin.
"Kayaknya aku perlu memberi penghargaan pada nona Kirani, penakluk hati sang casanova" sambung Ryan, mengejek sahabatnya.
Mendengar ucapan sahabatnya Marvin tidak marah, malah sebaliknya dia tersenyum, "Bagaimana tugasmu, sudah kamu laksanakan?" tanya Marvin.
"Sudah bos" jawab Ryan.
"Apa yang kamu tau" timpal Marvin.
"Kata Elmira, nona Kirani tidak menyukai barang-barang mewah, tapi nona Kirani hanya bermimpi punya pasangan yang selalu memberikannya hal yang tak terduga" ucap Ryan menjelaskan.
"Benar-benar wanita yang langkah, sepertinya aku harus berfikir keras" gumam Marvin, tapi dapat di dengar oleh Ryan.
"Selamat berfikir bos, aku permisi" ledek Ryan sambil berdiri dan berjalan keluar.
Marvin tidak mempedulikan ledekan Ryan, karena dia terlalu fokus terhadap apa yang akan dilakukannya.
********
Sementara itu di perusahaan jansen group, Ryan sedang sibuk di ruangannya, tiba-tiba HPnya berdering dan segera mengangkatnya.
"Halo bos" ucap Ryan, ternyata telpon dari Marvin.
"Siapkan semuanya yang sudah kita rencanakan, karena aku akan segera pulang" suara Marvin di sebrang telpon.
"Baik bos" jawab Ryan, kemudian Marvin mematikan telponnya.
Setelah mendapat telon dari Marvin, Ryan segera meniggalkan ruangannya.
Saat ini Marvin sudah berada di pesawat, terlihat sedang memegang kalung berlian sambil menatapnya tampa berkedip.
"Kirani aku memang tidak mengenal dan percaya cinta, tapi satu hal yang harus kamu tau, aku ingin bersamamu untuk selamanya" ucap Marvin dan masi memandang kalung yang dipegangnya.
Kemudian melihat foto Kirani di HPnya, yang terlihat tersenyum manis, "Istriku sayang, aku sangat kangen dan tunggu akan ku beri kejutan" ucap Marvin lalu mencium foto Kirani di layar HPnya.
********
Kirani sedang malas-malasan di kamarnya, sambil nonton drama korea kesukaannya, dia hanya memakai pakaian rumahan baju tali kecil dan celana pendek sepaha.
__ADS_1
"Om CEO, lama juga yah di luar negri" pikir Kirani.
"Kirani elo mikir apa sih, bukannya bangus kalau dia tidak ada" ucap Kirani menimpali ucapannya sendiri.
Tiba-tiba pintu kamar di buka seseorang, ternyata Marvin yang sudah sampai, membuat Kirani langsung berdiri dan tatapan mereka bertemu.
Entah kenapa tubuh Kirani membeku, bagaikan aliran daranya berhenti sejenak dan ada perasaan yang aneh, yang tidak bisa diungkap lewat kata-kata.
Tampa bicara Marvin langsung menghampiri Kirani dan menangkap leher Kirani, kemudian mencium bibir Kirani dengan lembut.
Kirani yang merindukan kehadiran suaminya, merasakan ciuman Marvin begitu nikmat, di tambah perasaanya yang berbeda saat ini.
Setelah puas menikmati bibir manis istrinya, Marvin perlahan-lahan melepaskan ciumannya dan menatap mata Kirani dalam-dalam.
"Istriku aku kangen" ucap Marvin lalu memeluk Kirani.
Kirani yang merasakan rasa yang sama, mulai bicara, "Om boleh aku jujur, Kirani juga kangen ama om" ucap Kirani di dalam pelukan Marvin.
Membuat Marvin mempererat pelukannya, sambil mengusap air mata haru di sudut matanya.
Kirani juga tidak bisa menahan air mata harunya, dia juga terisak.
"Bersiap lah kita akan ke suatu tempat" ucap Marvin sambil melepas pelukannya.
Sekarang Kirani dan Marvin sudah siap, meski usia mereka terpaut belasan tahun, tapi mereka terlihat sangat serasi.
Marvin mengandeng pinggang Kirani masuk dalam mobilnya dan duduk di kursi penumpang, "Pak jalan" perintah Marvin pada sopirnya.
"Baik tuan" balas sopir itu lalu menjalankan mobilnya dan melesat menuju jalan raya.
"Om tidak capek,baru datang dan pergi lagi" tanya Kirani.
"Tidak kancil kecilku" jawab Marvin sambil melirik Kirani.
Berapa saat kemudian mobil berhenti dan sampai di sebuah bangunan yang baru saja selesai di kerjakan.
"Sayang kita sudah sampai" ucap Marvin.
"Yah sudah kita turun sekarang" balas Kirani.
"Tunggu dulu Kirani" ucapnya sambil mengeluarkan kain hitam di saku celananya.
"Pakai ini dulu yah" lalu mengikatkan kain hitam itu di mata istrinya.
Marvin tersenyum lalu turun dari mobil dan berputar untuk membukakan pintu mobil untuk Kirani.
__ADS_1
Marvin menggenggam tangan tangan Kirani turun dari mobil, untuk menuntunnya.