
Mobil Ryan akhirnya sudah sampai di apartemen Elmira dan mereka berdua segera naik. *Sekedar info apartemen Elmira dan Ryan sudah tidak berdekatan lagi, apartemen Elmira sudah bedah*.
Elmira membuka pintu apartemennya dan keduanya berjalan masuk, Ryan melepas jasnya dan duduk di sofa yang ada di kamar Elmira.
Sementara Elmira sedang menganti pakaian di ruang ganti, tidak lama kemudian Elmira keluar dengan baju tidur yang cukup seksi dan membawa pakaian ganti untuk Ryan.
Elmira mendekati Ryan dan duduk di sampingnya, "Kak Ryan ganti baju dulu" sambil meletakkan baju itu di atas meja.
Ryan kemudian menatap Elmira tampa berkedip, "Elmira sudah cuma lama hubungan kita seperti ini, apa kamu tidak ingin menjalin hubungan serius dengan ku" tanya Ryan serius.
Elmira tidak menjawab, dia kemudian mengambil rokok di atas meja dan menghisap nya dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan, sambil berfikir.
"Elmira usia aku hampir kepala empat, aku juga ingin merasakan menjadi seorang ayah dan ada seseorang anak yang memanggilku papah" sambung Ryan.
Elmira kemudian meletakkan rokoknya dia asbak, lalu menggenggam tangan Ryan, "Sayang kamu bisa sabar sedikit lagi, sebenarnya aku sudah siap menikah denganmu, tapi aku masi terikat kontrak kerja untuk tidak menikah dan kontraknya berakhir tahun ini" ucap Elmira selembut mungkin menjelaskan pada Ryan, agar Ryan tidak marah.
"Oke aku percaya padamu Elmira, tapi jangan sekali-kali mengkhianati ku" ujar Ryan menatap dalam-dalam mata Elmira.
Ryan kemudian perlahan-lahan membaringkan Elmira di sofa dan mulai menarik pengikat baju tidur Elmira, seperti biasa Elmira tidak diam saja, tangan nakalnya membuka kancing baju kemeja Ryan.
Hingga Ryan melepas sendiri bajunya dan langsung mencium bibir Elmira dengan agresif dan di balas oleh Elmira lebih agresi lagi, sambil mengalungkan tangannya di leher Ryan.
Ini bukan kali pertama mereka melakukan itu, 8 tahun ini mereka selalu melakukannya jika mereka saling membutuhkan, jadi keduanya sangat berpengalaman dari segi membangkitkan h*srat masing-masing.
Ryan sudah puas bermain di bibir Elmira, saatnya mengangkatnya menuju ranjang dan membaringkan tubuh langsing Elmira di atas kasur, dengan sedikit agresif melepas seluruh pakaian Elmira, lalu melepas sendiri celananya.
Ryan menatap seluruh tubuh mulus Elmira dan memulai kembali aksinya di buah kenyal milik Elmira, Ryan bermain lidah di buah kembar itu dan perlahan-lahan di seluruh tubuh Elmira, sedikit demi sedikit lidahnya turun di bawa pusar Elmira dan mengigit benda segitiga milik Elmira untuk melepaskannya kebawa.
Terlihat kenikmatan dunia milik Elmira, Ryan segera memainkan lidahnya di dalam sana dan membuat Elmira merem melek menikmati sentuhan lidah Ryan, di hanya bisa mengigit bibir bawahnya. Sesekali Ryan melihat ekspresi wajahnya Elmira yg membangkitkan gelora di jiwanya.
__ADS_1
Setelah melihat Elmira sudah mencapai puncaknya, Ryan menghentikan aksinya dan giliran Elmira yang bangun lalu mendorong Ryan dengan lembut di atas kasur.
Sekarang giliran Elmira yang memanjakan Ryan dengan lidahnya, Elmira sungguh bermain di senjata Ryan yang sudah berdiri kokoh.
Setelah cukup puas dan membuat tulang-tulang Ryan menjadi lemas, Elmira memulai aksinya naik ke atas Ryan dan bergoyang sesukanya.
Sementara Ryan tidak menyia-nyiakan buah kenyal yang bergelantungan di depan matanya, langsung saja Ryan menangkap bola kembar itu yang saling beradu dan sesekali menangkap dengan mulutnya, membuat Elmira semakin bersemangat menggoyang aksinya.
Pada akhirnya Ryan memutar tubuh Elmira berada di bawahnya dan bergantian Ryan yang beraksi kali ini, cukup lama permainan Ryan berlangsung, hingga akhir nya Ryan memuntahkan larva panas yang ingin keluar dari tubuh nya di perut Elmira.
Ryan kemudian mencium kening Elmira dengan penuh kasih sayang, "Terima kasih sayang" ucap Ryan dan di balas anggukan lemas oleh Elmira.
**********
Keesokan harinya Karin bangun di pagi hari dan segera membersihkan dirinya di kamar mandi, setelah beberapa saat Karin keluar dengan memakai jubah mandi dan langsung duduk di meja hias.
Karin melihat dirinya di cermin, begitu terkejutnya ketika melihat leher dan bahunya yang terdapat beberapa jejak kepemilikan, yang di buat Marvin semalam.
Keceriaan Karin perlahan-lahan mulai kembali dan secepatnya Karin bersiap-siap memakai baju. Karin kembali melihat dirinya di cermin dan jejak kepemilikan Marvin masi terlihat jelas, meski dia sudah memakai blazer.
Karin berfikir sejenak lalu mengambil syal di lemarinya dan segera mengikat di leher nya, "Nah ini baru aman" ucap Karin melihat darinya di cermin.
Setelah semuanya sudah rapi, Karin kemudian mengantar Nela ke sekolah dan segera berangkat ke kantor nya.
Saat ini Karin sedang bersama Yanti di ruangannya sambil memeriksa desain nya yang harus selesai bulan ini.
"Apa jadwal saya hari ini Yanti?" tanya Karin masi melihat gambar di depannya.
"Untuk siang ini, nyonya harus datang ke perusahaan Jansen group, selanjutnya tidak ada lagi" ucap Yanti.
__ADS_1
Karin langsung memejamkan matanya, "Kamu bisa keluar Yanti" perintah Karin.
"Baik Nyonya" ucap Yanti lalu meninggalkan ruangan bosnya.
Karin mengusap rambutnya ke atas dan melepas kacamatanya, "Marvin kenapa kamu mempermainkan perasaanku, sedangkan sudah ada Zara di sisimu" ucap Karin dengan mata berkaca-kaca, lalu bersandar di kursinya.
Sementara saat ini Marvin sedang berada di ruang rapat sedang membahas proyek baru Jansen group.
Setelah selesai rapat Marvin kembali ke ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya, sambil membayangkan kejadian semalam saat Karin mengatakan kalau apa yang dilakukannya adalah salah, lalu menatap lurus kedepan.
FLASHBACK ON
8 tahun yang lalu, di malam Marvin mengejar Kirani di bandara, Marvin pulang ke rumahnya dalam keadaan berantakan dan frustasi.
Ketika Marvin membuka pintu rumahnya, terlihat Bram dan Zara sedang menunggunya, Marvin langsung duduk di sofa dan tidak berkata apa-apa.
"Marvin kali ini om tidak akan berbasa-basi, dan ini permintaan om yang terakhir" ucap Bram.
"Katakan lah om Bram, bagaimana pun aku hanya boneka bagimu" Balas Marvin putus asa.
Bram berdiri lalu duduk di samping Marvin dan mengusap punggung Marvin, "Om sangat sayang padamu Marvin, berkat diri mu kita bisa sesukses sekarang" ucap Bram pelan.
Sementara Zara hanya menunduk dan menangis karena dia sedang hamil di luar nikah, membuat Marvin menyadari keanehan pada Zara.
"Apa yang sebenarnya yang terjadi?" Marvin menatap tajam pada Zara, karena dia juga tidak tega melihat sahabatnya di sakiti seseorang.
"Begini Marvin, ini permintaan terakhir om dan setelah ini tidak ada lagi ikatan hutang budi dia antara kita" ucap Bram dengan serius, membuat Marvin menatap tajam padanya dan menunggu permintaan Bram kali ini.
"Zara sedang hamil dan aku tidak ingin putri kesayangan om harus menanggung malu seumur hidupnya, saya tidak akan meminta kamu menikahi Zara, tapi om mohon padamu Marvin, untuk memberi status sosial pada anak Zara kelak sampai dia menginjak umum 17 tahun" pinta Bram untuk pertama kali memohon pada seseorang, sambil menyatukan kedua tangannya.
__ADS_1
FLASHBACK BERSAMBUNG