Gadis Virgin Milik CEO

Gadis Virgin Milik CEO
CINTA BUTUH PENGORBANAN


__ADS_3

Marvin dan Ryan berada di ruangan Marvin, mereka sedang memeriksa berkas perusahaan dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Ryan tau gak sih, kenapa wanita susah di mengerti?" tanya Marvin tiba-tiba, masi memegang berkas di tangannya.


"Wah luar biasa, ini baru pertama kalinya bos pusing masalah wanita, biasanya masalah pekerjaan" ucap Ryan.


"Mau bantu atau tidak" ucap Marvin.


"Maaf bos" balas Ryan.


"Bagaimana bisa ada seorang wanita cemburu pada Zara?" ucap Marvin mulai bertanya.


"Karena wanita sebelumnya tidak mencintai bos, sedangkan wanita yang cemburu itu tandanya cinta" jawab Ryan dan pura-pura tidak mengetahui wanita yang di maksud Marvin.


"Jangan pura-pura tidak tau Ryan, kamu tentu tau siapa wanita yang ku maksud" timpal Marvin.


"Siapa lagi bos kalau bukan Kirani, cuma dia satu-satunya wanita yang bisa membuat bos bertengkar di klab malam" ungkap Ryan.


"Tuh kamu saja tau, kenapa Kirani tidak bisa melihat, betapa aku takut dia kenapa-kenapa, Kenapa dia masi cemburu dengan Zara sahabat kita" sambung Marvin.


"Kali ini aku ingin mengatakan padamu sebagai seorang sahabat, Marvin kamu tentu tidak bodoh kah dan kamu tau sendiri kalau dari dulu Zara menginginkanmu, jadi wajar kalau Kirani cemburu. Bro wanita tidak akan bisa di bohongi, apa lagi menyangkut soal perasaan" ucap Ryan dengan serius.


Membuat Marvin terdiam mencoba mencerna ucapan Ryan dan mulai bicara, "Apa aku harus menjauhi Zara, begitu maksudmu?" tanya Marvin.


"Saya tidak maksud mengatakan itu, tapi jagan beri kesempatan Zara bisa dekat denganmu lagi seperti dulu" ucap Ryan.


"Tapi itu kan mustahil, saya tidak mungkin melukai hati Zara dia sahabat kita dan kamu tau sendiri papanya begitu banyak membantu perusahaan jansen group" timpal Marvin lalu berdiri dan melihat keluar dari dinding kaca dalam ruangannya.


Ryan kemudian mengikuti langkah Marvin dan berdiri di samping sahabatnya, "Cinta butuh pengorbanan dan akan ada yang di korbankan bro" nasehat Ryan sambil menepuk pundak Marvin dan bersama menatap keluar di balik dinding kaca tersebut.


Marvin berada di dalam sebuah dilema diantara hutang budi dan cinta, "Apa harus mengungkapkan perasaanku untuk meyakinkan Kirani" tanya Marvin meminta pendapat Ryan lagi.


"Perlu jika kamu ingin mempunyai anak darinya, karena seorang wanita tidak ingin mempunyai anak dari pria yang tidak mencintai" pendapat Ryan.

__ADS_1


"Anak? akan kupikirkan" ucap Marvin menolah melihat Ryan.


"Bos belum memikirkan tentang anak?" tanya Ryan.


Marvin tidak mempedulikan pertanyaan Ryan, "Sepertinya kamu banyak mengerti tentang cinta, tapi kenapa kamu belum punya pacar" tanya balik Marvin.


"Yah si bos gimana mau nyari pacar, sudah beberapa tahun ini selalu di sibuk kan dengan pekerjaan yang bos percayakan padaku, mana ada waktu pacaran" jawab Ryan ketus.


Pernyataan Ryan membuat Marvin sedikit merasa bersalah, "Kalau begitu pergilah, kamu bisa cuti seminggu atau dua minggu" perintah Marvin.


"Baik bos" jawab Ryan.


"Keluarlah" ucap Marvin.


"Padahal aku cuma bercanda, tapi di tanggapi serius sama si bos" gumam Ryan sambil berjalan keluar.


Setelah kepergian Ryan, Marvin masi berdiri di tempatnya dan memikirkan perkataan Ryan tadi, kalau cinta butuh pengorbanan, tiba-tiba matanya berkaca-kaca.


*********


Malam hari telah tiba Marvin sudah pulang kerumahnya dan tentu bersama Zara, mereka terlihat akrab layaknya sahabat sambil berjalan masuk rumah.


Tapi ke akrab pan Marvin dan Zara di saksikan oleh Kirani yang berdiri balkon kamarnya, "Sungguh om Marvin tidak bisa menjauhi wanita ular berkepala dua itu" ucap Kirani menatap lurus ke depan.


"Malam sayang" suara Marvin yang masuk kamar, tapi Kirani pura-pura tidak mendengar.


Marvin melihat istrinya yang masi marah dan sedang berdiri di balkon, di tambah lagi pasti tadi Kirani melihatnya pulang bersama Zara.


Marvin segera melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya sampai sikut, kemudian menghampiri Kirani di balkon.


Kirani terlihat cantik dengan dress rumahan warna pink baby, di atas paha yang di pakainya, di tambah rambutnya yang di gerai lurus tertiup angin malam, menambah aura kecantikan Kirani lebih memancar.


Marvin langsung memeluk pinggang ramping istrinya dan menyembunyikan wajahnya di leher Kirani, "Sayang maaf kan aku" bisik Marvin.

__ADS_1


Kirani berusaha menepis pelukan Marvin, tapi Marvin semakin mempererat pelukannya, "Tidak ada yang perlu di maafkan om, karena di sini Kirani yang salah dan terlalu berharap pada pernikahan kita, yang sebenarnya hanya dilandasi bisnis" balas Kirani acuh.


Marvin memutar tubuh Kirani dan memegang kedua bahunya "Sayang kamu bicara apa, pernikahan kita sah di mata hukum" jelas Marvin.


"Aku tidak bilang pernikahan kita tidak sah, tapi aku cukup tau diri kalau aku hanya orang asing yang tidak berhak menyuruhmu menjauhi siapa pun" ucap Kirani menaham isak tangisnya.


Marvin memegang kedua pipi Kirani dan mengangkatnya agar menatap wajahnya, "Sayang dengar yah, kamu bukan orang asing dan kamu berhak atas diriku, tapi berulang kali akan ku katakan, aku tidak bisa menjauhi Zara" ucap Marvin sedikit emosional.


Kirani kemudian menepis tangan Marvin di pipinya, "Mandi lah om, setelah itu kita turun makan malam" ucap Kirani sambil berjalan masuk kamar dan meninggalkan Marvin yang masi berdiri di tempatnya.


"Aku janji akan mengatakan yang sebenarnya sayang, tapi bukan sekarang" gumam Marvin.


waktu makan malam telah tiba, seperti biasa Marvin, Kirani dan Zara sedang menikmati makanan yang sudah sediakan pelayanan di rumah itu.


Zara yang melihat Marvin mengambil makan pedas, dia menegurnya, "Vin tunggu, bukannya kamu punya riwayat asam lambung, tidak boleh makan yang pedas-pedas" sahut Zara mengingatkan.


"Makasih Za, aku kadang lupa" balas Marvin.


Kirani yang melihat perhatian Zara pada suaminya, membuat Kirani menghentikan suapannya dia merasa kalah saing dengan Zara.


Kirani meletakkan sendok nya dan segera mengambil air, "Aku sudah kenyang, aku duluan" ucap Kirani kemudian berjalan naik ke kamarnya.


Membuat Marvin menghentikan makannya dan melihat kepergian istrinya, sementara itu Zara diam-diam tersenyum penuh kemenangan.


"Zara maafkan istriku, dia belum bisa berfikir dewasa" ucap Marvin.


"Santai aja lah Vin, dia kan baru beranjak dewasa" balas Zara sok manis.


Sementara itu Kirani di kamar sedang menatap dirinya di depan cermin dan terlihat sedang meneteskan air matanya.


"Kirani kenapa sih sekarang kamu sangat cengeng" ucap Kirani bicara pada dirinya sendiri sambil mengusap air matanya.


"Istri macam apa aku Ini, yang tidak tau riwayat penyakit suaminya bahkan orang lain tau semuanya" sambung Kirani lagi.

__ADS_1


__ADS_2