
Setelah kepergian Marvin, Karin menarik nafasnya lega lalu melepas kacamatanya dan memijit pangkal hidungnya.
"Bodoh kenapa aku harus menerima tawaran malam itu" ucap Karin pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba ada suara tepuk tangan dari arah pintu, "Luar biasa kamu punya kantor sebesar ini dan tidak memberitahu ku" suara seorang wanita.
Karin menoleh, "Elmira, ternyata kamu yang datang" ucap Karin tidak menyangka kalau Elmira tau kantor nya.
"Hey kamu merahasiakan hal sebesar ini padaku, bahkan aku selalu memakai desain kamu dan aku sangat menyukai nya, tapi aku tau dari orang lain kebenarannya" omel Elmira.
"Pertama-tama aku minta maaf Ra, tapi kali aku pusing banget" ungkap Karin.
Elmira yang melihat wajah sahabat nya benar panik, membuat nya tidak jadi marah, "Memang ada apa sih Rin" tanya Elmira lalu duduk di sofa.
"Kamu tau, aku menyetujui kerja sama dengan Marvin dan menerima undangan makan malam di rumahnya" ujar Karin menjelaskan.
"Masalahnya apa Rin, Marvin kak juga tidak mengetahui siapa kamu sebenarnya" balas Elmira.
"Masalahnya aku harus melihat kedua suami istri itu, Marvin dan Zara bermesraan di mataku, itu gila kan?" tutur Karin frustasi.
Elmira yang mendengar nama Zara, membuatnya diam karena dia juga menyembunyikan pada Karin, kalau Marvin dan Zara sudah menikah.
Karin yang melihat sahabat nya diam saja, membuat Karin menyadari kalau Elmira menyembunyikan tentang status Marvin sekarang.
Karin menghampiri Elmira yang duduk di sofa, tapi Elmira mengalihkan pandangan nya di sembarangan arah, "Kamu juga salah Ra, bisa-bisanya kamu menyembunyikan status pernikahan Marvin padaku" ujar Karin.
Elmira langsung tersenyum kecut, "Maaf Karin aku tidak sanggup mengatakannya, jadi sekarang kita satu sama" balas Elmira.
Karin memikirkan ucap Elmira yang ternyata ada benarnya juga, "Sekarang kita impas, apa yang kamu sembunyikan lagi?" tanya Karin.
"Sebenarnya aku masi berhubungan tampa status bersama Ryan, selama 8 tahun ini" jujur Elmira.
"Ya ampun Ra, kamu belum percaya pernikahan?" tanya Karin tidak menyangka, di balas anggukan oleh Elmira.
**********
Karin sedang berada di kamar dan bersiap untuk makan malam dengan Marvin, dia sudah memakai banyak baju tapi tidak ada yang pas menurutnya.
Hingga akhirnya pilihannya jatuh pada dress panjang warna hitam yang memperlihatkan lengkung tubuhnya dengan belahan paha dan bahu yang sedikit terbuka, membuat Karin terlihat anggun dan dewasa di tambah rambutnya yang bergelombang diikat ke atas, dan dia tidak lupa memakai kacamatanya.
Pintu kamarnya kemudian di buka Nela, "Mam mau kemana?" tanya Nela yang melihat Mamahnya sudah rapi.
__ADS_1
"Mami mau pergi dulu yah sayang, mami gak lama" ucap Karin sambil menoleh melihat putrinya.
"Mami mau ke pesta yah, bajunya cantik sekali" ucap Nela yang duduk di ranjang mamahnya.
Karin kemudian duduk di samping putrinya, "Apa benar bajunya mami berlebihan, kelihatan mau ke pesta?" tanya Karin sambil mengamati penampilannya.
"iya Mam" jawab Nela dengan polos.
"Aku harus ganti baju nih" gumam Karin.
Tiba-tiba pintu di ketuk seseorang, Karin segera berdiri membuka pintu kamarnya dan ternyata Bi Surti.
"Ada apa bi?" tanya Karin.
"Ada orang di bawa Nya, katanya mau jemput nyonya" ucap Bi Surti dengan sopan
"Iya Bi, saya akan segera turun" ujar Karin.
"Nela sini sayang, mami mau keluar dulu" panggil Karin lalu mengambil tasnya.
Nela segera berlari kearah Mamahnya dan berjalan turun bersama, setelah sampai di bawa Ryan sudah menunggunya di ruang tamu.
"Malam Ryan" jawab Karin dengan anggun.
"Bi Surti" panggil Karin.
Dengan tergopoh-gopoh Bi Surti muncul dari dapur, "Iya Nya".
"Jaga Nela yah, saya pergi dulu" ujar Karin.
"Sini non" panggil Bi Surti pada Nela yang berada di rangkulan Karin.
"Iya, temani Nela ke kamar Bi" ucap Nela sambil berjalan ke arah Bi Surti.
Karin memandangi putrinya sampai ke atas dan beralih melihat Ryan, "Ayo kita berangkat" ajak Karin.
"Baik Miss Karin" ujar Ryan.
"Jangan terlalu formal Ryan" balas Karin.
Membuat Ryan menatapnya, karena ucapan itu yang sering dipakai Kirani padanya.Karin secepatnya mengalihkan ucapannya.
__ADS_1
"Sebaiknya kita langsung saja berangkat, jangan sampai tuan Marvin menunggu lama" timpal Karin.
"Baik" jawab Ryan dan berjalan keluar lalu membukakan pintu mobil untuk Karin.
"Silahkan Naik Miss Karin" ucap Ryan.
Karin langsung naik di kursi penumpang dan Ryan juga naik ke mobil secepatnya, kemudian mengemudikan mobilnya menuju jalan raya.
Di tengah perjalan ternyata Ryan, sesekali melirik Karin dari kaca spion tengah dan mengagumi kecantikan Karin.
Beberapa saat kemudian mobil sudah sampai di halaman rumah utama, Karin melihat sekeliling dan membayangkan semua kenangan di rumah itu, membuat mata nya berkaca-kaca, tapi Karin mencoba menahan perasaannya.
Karin baru tersadar ketika Ryan sudah membuka pintu mobil untuknya, "Silakan Miss Karin" ucap Ryan.
Karin segera terung dan langsung di sambut oleh Marvin yang menjemputnya, "Selamat datang Miss Karin" ujar Marvin sambil mengulurkan tangannya untuk menyambut Karin.
Marvin terlihat sangat gagah malam ini, apa lagi setelan jas hitam yang sangat serasi dengan dress Karin, membuat Karin sempat terhipnotis oleh ketampanan pria yang masi berstatus suaminya itu.
Karin secepatnya mengendalikan perasaannya, lalu menerima uluran tangan Marvin, "Selamat malam tuan Marvin" balas Karin.
"Silahkan masuk" ujar Marvin masi bersikap formal, lalu keduanya berjalan masuk.
Sementara Ryan menatap kedua pasangan yang sedang melakukan drama tersebut, "Aku sangat yakin kalau wanita itu adalah Kirani" ucap Ryan.
Karin dan Marvin sudah sampai di ruang tamu, Karin melihat sekeliling dan tidak melihat keberadaan Zara, dan juga menyadari rumah itu tidak ada yang perubahan selama 8 tahun di tinggalkannya.
"Silahkan duduk Miss Karin" ujar Marvin lebih dulu duduk di sofa.
Di susul Karin duduk pelan-pelan di hadapan Marvin, sementara Marvin sangat terpesona melihat kecantikan Karin malam ini, ingin sekali rasanya mencium bibir Karin yang sudah lama di rindukannya itu.
"Bagaimana sebelum kita memulai makan malamnya, kita tanda tangan kontrak dulu" usul Marvin.
"Baik tidak ada masalah tuan Marvin" balas Karin.
Marvin kemudian berdiri mengambil berkas di atas meja yang sudah di sediakan sebelumnya, lalu menuju kearah Karin dan duduk di sampingnya.
"Silahkan baca kontrak kerjanya dulu Miss Karin" ucap Marvin masi formal sambil memberikan berkas itu pada Karin.
Karin kemudian membaca surah kontrak tersebut dengan serius, sementara Marvin mengamati wajah serius Karin, sambil perlahan-lahan ingin mengusap rambut Karin dari belakang, tapi Marvin secepatnya menarik tangannya dan kembali bersandar di sofa.
Karin mengambil pulpen yang sudah tersedia dan mulai menandatangani surat kontrak itu, sementara Marvin mengamati pergerakan tangan Karin yang sedang bertanda tangan, sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1