
Azka dan Bella sedang ada di mobil, Bella melihat Azka yang sedang fokus mengemudi.
"Ada apa sayang" tanya Azka.
"Kak Azka ganteng benget" puji Bella.
Azka tersenyum di puji, "Begini kalau pacar sama anak SMA, terlalu polos bikin melting" balas Azka.
"Memang benar kok kak, coba deh kakak ngaca, emang ganteng" sambung Bella.
"Untuk kamu suka nya sama kakak, kalau orang lain... " ucapan Azka menggantung.
"Kalau orang lain, kenapa kak?" tanya Bella.
"Kamu akan habis" jawab Azka.
"Kok habis" gumam Bella.
"Ngomong-ngomong kita mau kemana kak?" tanya Bella sambil melihat keluar kaca.
"Kepuncak?" jawab Azka dan Bella tidak bertanya lagi.
Tidak lama kemudian mobil Azka sudah sampai di kawasan puncak, Azka dan Bella turun dari mobil.
Keduanya pun berjalan masuk, "Ayo masuk Bella" ucap Azka setelah membuka pintu.
Bella pun mengikuti langkah Azka masuk sambil melihat sekeliling, "Villa kak Azka besar juga" ucap Bella.
"Duduk dulu Bella" ucap Azka, kemudian berjalan ke dapur.
Villa Azka sangat bersih dan di dapur juga lengkap makanan, karena Azka menugaskan seseorang untuk menjaga di villa nya.
Azka kemudian mengambil minuman dan makanan yang tersedia di kulkas, lalu berjalan keluar kembali.
Bella sudah duduk di sofa sambil memencet HPnya dan Azka berjalan duduk di sampingnya sambil membawa minuman dingin.
"Minum dulu Bella" ucap Azka.
Bella menyimpan HPnya di atas meja dan mengambil minuman nya, "Kak Azka memang sering kesini?" tanya Bella sambil meminum minuman nya.
"Iya Bella, jika aku bosen dengan hingar-bingar ibu kota, aku pasti ke tempat ini dan juga kalau Nela tidak bisa menemaniku" curhat Azka.
Mendengar nama Nela, Bella berusaha menyembunyikan kecemburuan, tapi Arga menyadari kecemburuan Bella.
"Bella maaf" ucap Azka.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kok kak, kenapa tidak keluar negri aja, kalau bosan?" tanya Bella untuk mengalihkan perasaannya.
"Aku lebih suka ketenangan Bella dan inilah aku yang sesungguhnya" jawab Azka.
"Apa pekerjaan di perusahaan yang bikin kak Azka jadi bosan" tanya Bella sambil melihat Azka yang bersandar di sofa.
Azka kemudian menarik pundak Bella dan memeluk nya sambil bersandar di sofa bersama, "Diam lah sayang sebentar, aku ingin tidur" ucap Azka dan sudah menutup matanya.
Bella menoleh melihat wajah Azka yang berada sangat dekat di sampingnya, membuatnya tersenyum, "Aku tidak peduli kalau kak Azka selalu mengingat kak Bella, yang penting kak Azka selalu ada untukku, aku sudah bahagia" batin Bella.
Perlahan Bella membaringkan Azka di pangkuannya, agar Azka bisa tidur dengan nyaman dan Azka diam-diam tersenyum.
Setelah cukup lama menghabiskan waktu di villa tersebut, akhirnya mereka pulang dan hari sudah malam.
Saat ini mobil Azka sudah sampai di depan rumah Bella, tapi Azka menahan tangan Bella agar tidak turun dulu.
"Bella apa kamu tidak bosan seharian bersama ku di villa" tanya Azka.
"Gak kok kak, aku malah bahagia dan ternyata lebih nyaman dari kebisingan ibu kota" jawab Bella.
"Apa kamu mau ke sana lagi, kalau ada waktu luang" tanya Azka kembali.
"Mau dong kak, apa lagi pelajaran di sekolah cukup rumit, setelah seharian di sana pikiran jadi fresh" balas Bella sambil bersandar di kursi.
Azka kemudian melihat Bella dan memajukan tubuhnya mendekati Bella, "Nyaman di villa itu atau nyaman karena ada aku" tanya Azka dengan tatapan menggoda.
"Ayo jujur, karena ada kakak kan" desak Azka.
Akhirnya Bella mengaku, "Iya sih karena ada kak Azka juga" jujur Bella.
Azka semakin mendekati Bella dan tinggal menyisakan beberapa senti jarak wajah mereka, detik berikutnya Azka langsung mencium bibir Bella, membuat Bella membulatkan matanya karena dia tidak menyangka Azka tiba-tiba menciumnya.
Azka kemudian melepaskan ciumannya, "Selamat malam" ucap Azka lalu kembali bersandar di kursi nya.
Bella merasa malu karena ini ciuman pertama baginya, dia langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke rumah nya, membuat Azka tersenyum melihat sikap Bella yang polos sambil mengusap bibir nya.
Setelah melihat Bella sudah masuk dalam rumahnya, baru lah Azka mengemudikan mobil nya pergi.
Bella sudah sampai di kamar nya dan masi senyum-senyum sendiri sambil memegang bibir nya, mengingat ciuman pertama yang di lakukan Azka padanya secara tiba-tiba.
*********
Sebelum pulang ke rumah nya, Arga menyuruh sopir nya untuk menuju kekediaman Marvin Jansen, karena mertua nya tersebut menyuruh nya untuk menemuinya.
Arga langsung menemui Marvin di ruang kerjanya dan benar Marvin sudah menunggu nya.
__ADS_1
"Selamat malam pah" ucap Arga dengan hormat seperti biasa.
"Arga kamu tau kesalahanmu, sehingga papah memanggilmu?" tanya Marvin.
"Iya pah, itu mengenai lebel musik yang aku masukkan dalam Jansen group" jawab Agar menunduk hormat.
Marvin kemudian memutari Arga dan berdiri di belakangnya, "Kamu tau kan Jansen group tidak pernah terlibat di dunia seni musik Entertainment" ucap Marvin.
"Iya aku tau itu pah" balas Arga.
"Papah tidak menyangka kalau kamu sangat mencintai putriku, hingga kamu mengorbankan sebagian saham perusahaan untuk menguasai lebel musik yang menaungi Nela" tutur Marvin.
"Maaf kan Arga pah" balas Arga.
"Katakan apa motifmu sebenarnya melakukan ini semua?" tanya Marvin dengan serius.
Arga kemudian mengangkat wajahnya, "Pah apa sih yang di ingin kan seorang penyanyi selain konser tunggal, aku ingin membuat konser tunggal untuk istri ku" jawab Arga dengan tegas.
Marvin langsung menepuk pundak Arga dan tersenyum, "Ternyata benar saya tidak salah memilih menantu untuk putriku, cinta kamu sungguh luar biasa dan aku mengapresiasi itu" ucap Marvin.
"Terimakasih pah" balas Arga.
"Sekarang kamu bisa pulang dan berusaha memberi papa cucu secepatnya" ujar Marvin
Arga akhirnya tersenyum di depan Marvin, "Saya sedang berjuang pah" sambung Arga.
"Pergi lah" perintah Marvin.
"Saya permisi pah" balas Arga lalu meninggalkan ruang kerja Marvin.
Di luar ruangan, ternyata Arga bertemu Kirani yang dari tadi mendengar percakapan mereka, "Permisi Mah" sapa Arga.
"Hati-hati di jalan nak" pesan Kirani.
"Iya Mah" balas Arga dan berlalu pergi.
Kirani yang membawa kopi untuk Marvin, kemudian masuk di dalam ruangan Marvin dan langsung dulu di samping suaminya dan meletakkan kopinya di atas meja.
"Sayang sekarang aku sudah merasa lega karena putri kita mendapatkan suami yang sangat mencintainya" ucap Kirani.
"Iya sayang" balas Marvin sambil merangkul pundak istrinya.
"Sayang sepertinya kepalaku sedikit sakit" ucap Marvin sambil memegang kepala nya.
Kirain langsung memijit kepala Marvin dari depan, "Sudah enakan sayang" tanya Kirani.
__ADS_1
"Enakan, pijitan mu tidak pernah berubah sayang" jawab Marvin.