
Karin langsung menjauh dari Marvin, “Beri aku waktu untuk berfikir, tapi saat ini keluar lah Vin” Mohon Karin dengan suara sesak.
Marvin mendekati Karin lalu menunduk mengecup bibir Karin, “Selamat malam sayang” ucap Marvin lalu keluar kamar Marvin.
Setelah kepergian Marvin, Karin langsung duduk di atas kasur, “Apa yang harus aku lakukan, Marvin semakin nekat saja” pikir Karin sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
Sementara Marvin langsung masuk kamarnya dan segera masuk dalam kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya, yang sudah membara di kamar Karin.
Setelah cukup lama Marvin di dalam kamar mandi, Marvin keluar lalu duduk di sofa dan menyalakan rokoknya.
“Sekarang aku tidak akan mundur, aku akan mendapatkan Kirani ku kembali” ucap Marvin sambil menghisap rokoknya santai.
**********
Keesokan harinya Marvin dan Karin sudah pulang setelah semua urusan nya selesai.
Di saat di pesawat Marvin tidak pernah berhenti tersenyum, apa lagi melihat wajah Karin yang di tekuk, di samping nya.
Marvin pun menunduk berbisik di telinga Karin, “Karin kamu masi memakai kacamata mu itu, kata Nela seperti nenek-nenek” ucap Marvin menahan tawanya.
Karin menoleh membuat jarak wajah mereka sangat dekat, “Berhenti mengganggu ku Marvin atau...” balas Karin dengan memicingkan matanya.
“Atau apa” ujar Marvin dan langsung mencium bibir Karin, membuat Karin terkejut dan membulatkan matanya, lalu Marvin kembali memperbaiki duduk nya menghadap ke depan.
“Marvin bisa kan tidak berbuat seenaknya” protes Karin.
“Tidak bisa” balas Marvin seenaknya.
Karena Karin tidak ingin berdebat lagi sama Marvin, jadi Karin memilih diam.
Setelah beberapa saat pesawat sudah sampai di bandara internasional, turun lah Marvin, Karin dan juga siska sekertaris nya Marvin, di dampingi beberapa bodyguard.
Siska mohon pamit untuk pergi duluan, jadi tinggal lah Marvin dan Karin, sementara itu sopir Marvin sudah siap menunggu dan membukakan pintu untuk tuanya.
Sedangkan mobil jemput tan Karin tidak terlihat, langsung saja Marvin menarik tangan Karin masuk ke mobilnya.
"Marvin lepasin" ucap Karin, tapi Marvin tidak mempedulikan nya.
"Pak angkat semua barang nyonya Karin ke dalam mobil" perintah Marvin sambil masuk dalam mobilnya.
"Marvin bagaimana kalau sopir aku datang" protes Karin.
__ADS_1
"Tenang saja dia tidak akan datang" balas Marvin tapi tidak melihat Karin.
Karin diam-diam tersenyum melihat tingkah seenaknya yang di lakukan Marvin, "Memang kamu tau rumah aku di mana?" tanya Karin.
Marvin menoleh melihat Karin, "Kamu lupa siapa Marvin Jansen, tidak ada yang bisa kamu sembunyikan dariku" ucap Marvin, membuat Karin terdiam dan berfikir.
Marvin kemudian menunduk di samping telinga Karin, "jadi jangan pernah berfikir untuk menyembunyikan sesuatu dariku" bisik Marvin, lalu kembali melihat ke depan.
Karin berubah menjadi tegang, takut kalau Marvin mengetahui semuanya kalau sebenarnya dia belum menikah.
Beberapa saat kemudian akhirnya mereka sampai di halaman perumahan elit milik Karin, sopir pun membukakan pintu untuk mereka.
Karin kemudian ingin turun, "Kamu tidak memanggilku masuk di rumahmu" sahut Marvin, membuat Karin menoleh lalu tersenyum.
"Maaf yah Vin, aku kira kamu akan langsung pulang menemui Zara" ucap Karin.
Marvin tidak mempedulikan ucapan Karin, dia langsung turun dari mobil dan menuju bagasi mobil.
Karin secepatnya mengikuti Marvin dan melihat Marvin mengambil paper back di bagasi mobil.
"Pak turun kan semua barang nyonya Karin dan bawa kedalam" perintah Marvin lalu berjalan duluan.
"Bi, apa Nela sudah pulang?" tanya Karin.
"sudah Nya, nonton Nela di atas" jawab bi Surti.
Karin menoleh melihat Marvin, "Ayo masuk Vin" panggil Karin, Marvin langsung masuk dan melihat sekeliling.
Nela yang kebetulan turun dari tangga, melihat kedatangan Karin dan Marvin, kemudian Nela langsung berlari menghampiri mereka.
Karin dan Marvin juga melihat Nela, Karin tersenyum melihat putrinya menyambutnya, tapi Nela melewatinya dan langsung menuju Marvin, secepatnya Marvin berjongkok memeluk Nela.
"Om tampa juga ada di sini?" tanya Nela.
"Iya manis, karena om kangen sama Nela" jawab Marvin melepas pelukannya.
Nela melihat paper back di tangan Marvin, "Apa itu om, pasti oleh-oleh untuk Nela?" Nela kembali bertanya dengan tingkah lucunya.
Marvin yang gemes melihat tingkah Nela, langsung menggendongnya berjalan duduk di sofa.
"Iya sayang ini untuk Nela, gadis manisnya om" ucap Marvin, pada Nela di pangkuannya.
__ADS_1
Karin hanya diam saja melihat interaksi anak dan bapak tersebut dan tidak ingin menggangunya, kemudian Karin berjalan ke dapur.
Marvin memberikan paper back itu pada Nela dan Nela mengambil nya, "boleh aku membukanya Om" tanya Nela.
"Silahkan gadis manis" jawab Marvin sambil mengusap rambut Nela.
Nela kemudian turun dari pangkuan Marvin, lalu membuka pemberian Marvin dan ternyata sebuah boneka barbie besar yang lengkap disertai pangeran dan anak satu.
"Hereee.... bonekanya bagus sekali om tampan" seru Nela dan langsung mencium pipi Marvin sambil memeluk lehernya.
Marvin tersenyum bahagia melihat Nela sangat senang, "Kenapa aku merasa bukan hadiah ini yang membuat Nela sangat bahagia, tapi melainkan kasi sayang seorang ayah" batin Marvin.
Nela kemudian membuka kotak boneka itu, "Om temani Nela bermain yah, pangeran ini adalah om tampan dan anaknya ini adalah Nela, sedangkan barbie nya adalah Mami" ucap Nela dengan nadanya yang polos.
Marvin terkejut mendengar pikiran polos Nela, "Kenapa Nela tidak menyebut papahnya?" pikiran batin Marvin.
Marvin berniat menanyakan pada Nela tentang papahnya, tapi semua itu batal karena Karin tiba-tiba datang dari dapur membawa beberapa makanan.
"Maaf yah Marvin, Nela memang terlalu aktif bicara" ucap Karin saat duduk di samping Marvin.
"Aku senang Rin, melihat Nela tersenyum bahagia" balas Marvin.
Sementara Nela sedang serius bermain di depan meja, dengan boneka Barbie pemberian Marvin, sementara Karin melihat putrinya yang sedang asik bermain.
Sudah cukup lama Marvin di rumah Karin, "Karin kamu istirahat, aku pulang dulu" ucap Marvin sambil berdiri menghampiri Nela.
"Nela, om pulang dulu yah jangan nakal" ucap Marvin lalu mencium kening Nela.
"Iya om tampan" jawab Nela.
Karin berdiri menghampiri Marvin, "Marvin makasih yah, atas semua perhatian yang kamu berikan pada Nela" ucap Karin sedikit ragu.
Marvin kemudian mengusap lengan Karin, "Kalau Nela ingin bertemu dengan ku, jangan sungkan untuk menghubungiku Karin" ujar Marvin,
"Iya om CEO ku" batin Karin sambil mengangguk tersenyum.
"Sekarang aku pulang yah" ucap Marvin lalu perlahan mencium lembut kening Karin, reflek Karin memejamkan matanya.
Kemudian Marvin berjalan keluar dan perlahan-lahan Karin luluh dan tersentuh dengan perhatian Marvin pada Nela.
"Yah Tuhan, saya tidak tau ini salah atau tidak, tapi saya tidak bisa memisahkan ikatan anak dari bapaknya" batin Karin.
__ADS_1