
Hari ini Karin akan menghadiri wawancara media ternama yang sudah di setujui nya, karena saat itu Marvin belum terdaftar terlibat dalam acara itu, jadi dia bersedia hadir.
Hari ini Karin tampil sangat cantik, dia memakai softlens warna coklat untuk membedakan antara Kirani dan Karin, dan kaca mata baca yang sudah menjadi cirihas Karin, di tambah rambut bergelombang yang sudah di warnai, membuat penampilannya sangat berbeda dengan Kirani. Sekarang wajah yang tegas dan jarang tersenyum itu lah Karin, berbanding terbalik dengan Kirani yang ceria dan banyak bicara.
Sementara itu Marvin juga sudah siap dengan stelan formal dan rapi, terlihat sangat segar di usianya yang sudah kepala empat, tapi tidak memudarkan ketampanannya karena Marvin selalu menjaga bentuk tubuhnya yang atletis itu.
Marvin dan Karin sudah berada di hotel tempat mereka akan melakukan wawancara cara, dan di dampingi asisten mereka masing-masing, yaitu Ryan dan Yanti.
Semuanya berlangsung formal, karena yang dia undang hanya pengusaha dan desainer ternama saja,
Pada akhirnya acara pun di mulai, para tamu undangan di panggil satu persatu keluarga dan yang terakhir di panggil oleh MC adalah Karin dan Marvin.
"Sekarang tibalah saatnya kita memanggil desainer yang populer 3 tahun belakang ini, beliau jarang mau tampil di depan media, tapi kali ini kami sangat beruntung karena beliau bersedia hadir hari ini, Miss Kariiiin" panggil MC acara tersebut.
Karin pun muncul dengan senyuman manis dan kamera menyorotinya dan di susul tepuk tangan para hadirin yang ada di ruangan itu, kemudian duduk di kursi yang sudah di sediakan.
MC itu kembali bicara, "Selanjutnya kita panggil pengusaha mudah ternama, yang mempunyai cabang perusahaan di dalam dan luar negri, ya itu CEO perusahaan Jansen Group, Marvin janseeen" panggil MC tersebut.
Karin yang mendengar nama Marvin Jansen, membuatnya sangat terkejut dan khawatir, takut Marvin mengenalinya tapi dengan cepat dia berusaha tenang.
Muncul lah Marvin di dampingi beberapa bodyguard, berjalan dengan penuh wibawa menuju kursi yang sudah di sediakan, pandangannya kemudian tertuju pada Karin, membuat pandang mereka bertemu.
"Kirani" batin Marvin.
Perasaan Marvin benar-benar bahagia dan tidak bisa di ungkap kan lewat kata-kata, wajah istrinya yang selama ini di rindukannya berada pas di hadapannya, membuat Marvin tidak pernah berhenti menatap Karin tampa berkedip dengan tatapan haru.
__ADS_1
Karin yang melihat wajah suaminya yang selama ini di rindukannya juga, membuatnya menatap haru pada Marvin, tapi dia berusaha mengendalikan perasaannya agar Marvin tidak curiga padanya, kemudian menatap ke depan.
MC mulai menanyakan satu persatu tamu undangan dan tiba lah saatnya pertanyaan tertuju pada Kirani.
"Miss Karin kami dengar, Miss akan menetap di indo?" tanya MC pada Karin.
"Iya baik, pertama saya ucapkan terimakasih pada media yang mengundang kami di sini dan tentang kabar saya akan menetap di indo, iya itu benar" jawab Karin dengan rama juga tidak pernah berhenti tersenyum dan sepanjang acara Marvin tidak pernah berhenti memandangi Karin yang sangat berbeda, dengan Kirani istrinya yang dia kenal.
"Apa ada yang ingin anda sampaikan pada pecinta desain anda yang ada di indo?" MC kembali bertanya.
"Iya bagi pecinta desain saya selama ini, saya ucapan banyak terimakasih karena klain saya bisa sampai di titik saat ini. Saya tidak akan berhenti berkarya dan akan selalu membuat karya-karya terbaik saya selanjutnya" ungkap Karin dan berusaha tenang agar tidak terpancing dengan tatapan Marvin padanya.
"Baik kita beri tepuk tangan yang meriah untuk Miss Kariiin, selanjutnya kita bertanya pada pengusaha muda yang merupakan CEO perusahaan terbesar Jansen group" ucap MC itu dan iringi tepuk tangan para hadirin.
"Baik terimakasih, seperti tahun-tahun sebelumnya Jansen group selalu membuat gebrakan baru di setiap tahunnya dan tahun ini kami berencana akan bekerja sama dengan beberapa desainer untuk terlibat mendesain produk kami agar lebih berkualitas" tutur Marvin dengan wibawanya dan di susul tepuk tangan para hadirin.
"Terimakasih tuan Marvin, pertanyaan selanjutnya apa kami bisa bertanya hal lebih pribadi, kenapa tuan Marvin tidak pernah terlihat bersama dengan istri anda Zara" ucap MC kembali bertanya.
Deng deng deng Pertanyaan MC itu membuat jantung Karin bagai tertusuk pedang, perih dan sakit membuatnya sesak sesaat dan langsung menatap Marvin, tapi itu cuma berlangsung sebentar, kemudian Karin berusaha bersikap biasa saja agar Marvin tidak curiga padanya.
Marvin mulai bicara, "Maaf sebelumnya, seperti biasa saya tidak akan membahas hal pribadi di muka umum, terimakasih" sambung Marvin sedikit menunduk dan kembali tegap dan menatap reaksi Karin.
Akhirnya acara pun selesai, potret dan video wawancara cara mereka sudah di siarkan eksklusif oleh media yang membuat acara tersebut, termasuk potret Marvin yang tidak pernah berhenti menatap Karin sepanjang acara.
Sementara itu Karin sedang berada di ruangannya bersama asistennya Yanti, sedang bersiap-siap untuk pulang.
__ADS_1
"Kirani" panggil Marvin dari belakang, membuat Karin terkejut dan seketika menoleh.
"Maksud saya Miss Karin, maaf wajah anda mengingatkan saya pada seseorang" sambung Marvin.
Karin berusaha tersenyum ramah agar Marvin tidak mencurigainya, "Maksud anda apa?" ujar Karin pura-pura bertanya.
"Ah lupakan, apa Miss Karin ada waktu? saya ingin bicara?" tanya Marvin berdiri tegak dengan satu tangan di saku celananya, di dampingi Ryan di belakangnya.
"iya bisa, ada apa yah tuan Marvin" ujar Karin dengan sikap anggun nya, sementara Marvin dan Ryan mengamati pergerakan nya.
"Begini sudah lama saya mendengar nama anda karena saya termasuk orang yang mengagumi desain anda, dan di balik karya-karya anda yang elegan ternyata Miss Karin sangat cantik" puji Marvin berbasa-basi.
"Terimakasih tuan Marvin atas pujiannya, tapi tujuan anda apa sebenarnya, karena saya sedang terburu-buru" tanya Karin.
Marvin semakin menatap Karin tampan berkedip, "Kirani kamu berusaha menghindar rupanya" batin Marvin.
Kemudian menatap ke sembarangan arah, "Saya ingin mengajukan kerja sama dengan anda, apakah Miss Karin bersedia?" ujar Marvin sangat formal.
"Dari sekian banyak
desainer, kenapa anda memilih saya, apa karena wajah saya mirip dengan seseorang yang anda kenal, seperti pernyataan tuan Marvin sebelumnya" tanya Karin penuh selidik sambil memperbaiki kaca matanya.
"Oh tentu tidak, anda jangan salah paham, wanita yang saya kenal sangat keras kepala, sedangkan anda sepertinya wanita yang punya pendirian" jawab Marvin untuk memancing reaksi Karin.
Dan benar Karin langsung terpancing mendengar tantangan Marvin, "Baik tuan Marvin, saya akan memikirkan tawaran anda, dan maaf saya permisi terlebih dahulu" ujar Karin lalu berlalu pergi dan di susul Yanti yang dari tadi diam saja.
__ADS_1