
FLASHBACK LANJUT
Marvin kembali menatap pria yang sudah membesarkannya ini, pertama kalinya melihat seorang Bram Wijaya menurunkan derajatnya dan memohon pada seseorang, hanya demi harga diri putri tercintanya.
"Baik om Bram, saya akan mengakui Zara sebagai istri saya dan anaknya kelak sebagai anak saya, hanya sebagai status sosial tapi saya tidak ada menikah dengan Zara dan akta kelahiran anak itu tidak akan ada nama Marvin Jansen" jelas Marvin memberi persyaratan.
"Iya Marvin apa pun yang kamu mau kami akan menyetujuinya, Om berterima kasih padamu Marvin, dan dengar Marvin kalau kamu dan Kirani benar-benar berjodoh, klain pasti akan bertemu kembali, pada saat itu tiba Om tidak akan menggangu hidupmu lagi" ucap Bram dengan tegas.
FLASHBACK OFF
Setelah mengingat semuanya, Marvin menarik nafasnya berat, dan tidak menyadari kalau sekertarisnya sudah berada di depannya, membuat Marvin terkejut.
"Santi kamu di sini, ada apa?" tanya Marvin berubah serius.
"Maaf tuan, Miss Karin ada di luar dan katanya ingin bertemu anda" jawab Santi.
Marvin langsung tersenyum, wajahnya yang tadi kaku berubah menjadi ceria, "Suruh dia masuk, lain lali kalau Miss Karin datang, suruh saja masuk" perintah Marvin.
"Baik tuan" ucap Santi menunduk hormat keluar.
Muncul lah Karin dari arah pintu, Marvin yang melihatnya langsung berdiri untuk menyambut wanita yang masih berstatus istrinya itu.
"Kirani kamu sudah datang, silahkan duduk" ucap Marvin dengan lembut sambil berjalan ke arah sofa.
Karin berjalan santai lalu duduk di depan Marvin, "Tuan Marvin bisa kan memanggil saya dengan panggilan Karin, karena saat ini anda sedang bekerja sama dengan Karin" protes Karin.
Marvin tersenyum miring, "Bisa, tapi dengan satu syarat, berhenti berbicara formal dengan ku" balas Marvin.
"Oke Marvin kalau itu mau kamu, sekarang kita bisa kan bahas kerjaan" ucap Karin sambil tersenyum palsu.
Marvin melonggarkan dasinya dan mulai menjelaskan, "Perusahaan Jansen group tahun ini, akan membangun pusat perbelanjaan di luar kota, tapi kami bermaksud menggandeng desainer untuk membantu penjualan barang kami agar lebih berkualitas, supaya para konsumen akan merasa nyaman memakainya" ucap Marvin menjelaskan dengan serius.
"Bukankah ide kalian akan menurunkan kualitas desainer" usul Karin memberi pendapat.
"Tidak Karin, yang kami ingin bangun bukanlah pasar, melainkan adalah pesat perbelanjaan yang setara dengan Mall, dan juga harga yang di tawarkan, tidak akan menurunkan kualitas harga dari desainer kondang" ungkap Marvin memberi Karin pemahaman.
__ADS_1
"Oke masuk akal, tapi tujuan kalian sebenarnya apa?, karena aku yakin bukan itu tujuan utamanya" tanya Karin mencoba mengerti.
Marvin kemudian berdiri dan duduk di samping Karin, "Pintar, pertanyaan yang tepat Karin, pantas saja kamu menjadi desainer yang sukses. Tujuan kami adalah untuk memotivasi para desainer-desainer Daerah yang ingin membuka tokoh di pusat perbelanjaan kami nantinya, agar karya mereka bisa lebih di kenal dan tolak ukur karya mera adalah kamu Karin" Marvin dengan serius menjelaskan, hingga Karin menatap Marvin dengan kagum.
"Luar biasa, aku sangat kagum padamu, tidak hanya mementingkan keuntungan perusahaan, melainkan memikirkan bakat-bakat yang ada di Daerah" puji Karin lalu bertepuk tangan.
"Oke Karin, aku rasa pembicaraan hari ini cukup sampai di sini" ujar Marvin lalu matanya tertuju pada syal yang di pakai Karin, dan menyadari apa yang di balik syal itu, membuat Marvin menahan tawanya.
Karin menyadari kalau Marvin memperhatikan syalnya, kemudian Karin berpura-pura merapikan soalnya,
"Ada apa di balik syal mu itu" tanya Marvin pura-pura bertanya, lalu tertawa lepas karena tidak bisa menahannya lagi, "Ha... ha... ha... ".
Karin menjadi salah tingkah mengingat kejadian semalam yang menikmati setiap sentuhan Marvin, dia langsung menunduk sedih. Marvin seketika berhenti tertawa.
Sementara Ryan yang ingin masuk ke ruangan Marvin, menghentikan langkahnya kerena melihat Marvin tertawa lepas di depan Karin dan tersenyum melihat sahabatnya bisa tertawa lepas lagi, Ryan kemudian segera berjalan pergi.
Karin menatap Marvin, "Zara apa kabar?" tanya Karin mengalihkan keadaan.
"Dia baik" jawab singkat Marvin.
Marvin menahan tangan Karin, "Bagaimana kalau kita makan siang dulu" ajak Marvin.
"Tidak Marvin, sekarang sudah berbeda dan ada hati yang harus di jaga" ucap Karin lirih.
"Karin kita cuma makan siang, tidak ada yang salah kan" balas Marvin.
"Aku ada janji dan aku harus segera pergi" tolak Karin lalu pergi meninggalkan ruangan Marvin.
***********
Beberapa hari telah berlalu, hari ini ada acara di sekolah Nela dan Azka, dan di harus kan orang tua murid untuk hadir.
Nela dan Azka semakin akrab, keduanya sedang duduk bersama menunggu orang tua mereka masing-masing.
Marvin dan Zara menghampiri Azka yang masi bersama Nela, "Azka" panggil Zara.
__ADS_1
Azka dan Nela menoleh, "Mamah" jawab Azka.
"Om tampan" sapa Nela antusias.
Marvin langsung berjongkok untuk mengajak Nela bicara "iya gadis manis".
Senyum Zara berubah, ketika melihat Marvin mengabaikan Azka untuk pertama kalinya, demi anak perempuan yang tidak dia tau dan Zara mengamati ke akrab pan keduanya.
"Nela, orang tua kamu akan hadir?" tanya Marvin penuh kasih sayang.
"Mami akan segera datang om" jawab Nela apa adanya.
Tiba-tiba Karin datang di tengah kerumunan orang hingga Nela melihat mamahnya, "Mamiiiii" panggil Nela.
Membuat Marvin dan Zara menoleh, ke arah di mana Nela melihat dan pandangan Karin tertuju pada Marvin dan Zara yang bersama putrinya.
"Kirani" panggil Marvin saat Karin sudah berdiri di belakang Nela.
"Marvin, Zara kalian di sini juga" tanya Karin untuk menyembunyikan kesedihannya melihat Marvin dan Zara bersama.
Marvin langsung menatap tajam pada Zara, mengisyaratkan agar meninggalkan mereka, Zara langsung mengerti tatapan Marvin.
"Kirani atau Karin saya permisi dulu, ada yg ingin saya tanyakan pada kepala sekolah" pamit Zara dengan lembut, membuat Karin menatap aneh pada Zara yang berubah 180 derajat.
"Jangan menatapnya seperti itu, kamu juga lebih berubah 360 derajat" bisik Marvin pada Karin, membuat Karin terkejut karena terlalu fokus melihat Zara.
Azka kemudian mengajak Nela untuk bermain bersama, hingga tinggal Marvin dan Karin berdua.
"Azka anak kalian?" tanya Karin untuk mencairkan suasana yang sedikit tegang.
Marvin tidak membalas pertanyaan Karin, dia malah balik bertanya, "Siap Nela?" tanya Marvin dengan menatap Karin penuh cinta dan berharap jawaban Karin tidak akan melukai hatinya.
"Nela putriku" jawab Karin dengan jujur.
"Anak kecil yang pertama bertemu denganku dan memberiku setangkai bunga mawar, dan juga aku bisa melihat dirimu di dalam matanya, ternyata benar gadis manis itu adalah putrimu" ungkap Marvin pada Karin, apa yang dia rasakan.
__ADS_1
Karin kemudian menatap haru pada Marvin, karena ikatan batin antara anak dan ayah sangar kuat.