
Ryan secepatnya berdiri di depan pintu kamarnya, "Elmira sebenarnya..." ucap Ryan terpotong, karena Elmira sudah langsung membuka pintu kamarnya.
Elmira langsung menghentikan langkah nya melihat Zara sedang berbaring di ranjang Ryan, tubuhnya membeku dan hatinya terasa sakit bagai tertusuk seribu pedang, lalu menoleh melihat Ryan.
Mata Elmira langsung berkaca-kaca, "Apa maksudnya ini kak Ryan?" tanya Elmira dengan mulut bergetar.
"Elmira jangan salah paham dulu" ucap Ryan panik.
"Salah paham katamu" balas Elmira tersenyum meremehkan.
"Dengar penjelasan aku dulunya Ra" ucap Ryan.
"Seorang pria dewasa dan wanita dewasa berada di dalam satu kamar yang sama, dan lihat penampilan kamu sekarang, jadi apa lagi yang harus di jelaskan kak Ryan" tutur Elmira sambil menggeleng pergi.
Ryan segera mengejar Elmira, "Elmira dengan kan aku dulu" teriak Ryan, tapi Elmira tidak mempedulikan teriakan Ryan.
"Sial, kenapa jadi seperti ini" umpat Ryan frustasi.
Sementara itu Elmira mengendarai mobilnya menuju rumah Karin, selama perjalan Elmira membayangkan kebersamaan mereka dan momen-momen mesra mereka.
Setelah beberapa saat, mobil Elmira sampai di halaman rumah Karin, Elmira menelpon Karin kalau dia ada di bawa.
Tidak lama kemudian pintu rumah di buka oleh Karin, Elmira langsung menghambur memeluk sahabat nya dan meluapkan tangisan nya.
Karin menjadi bingung dan khawatir, "Ra masuk dulu" ucap Karin lalu menuntun Elmira duduk di sofa.
Elmira belum bisa mengatur nafasnya, karena tangisannya yang membuatnya sesenggukan, Karin mengusap punggung sahabatnya untuk menenangkannya.
"Elmira tenang lah, ayo cerita padaku apa yang terjadi?" ucap Karin sambil menggenggam tangan Elmira.
Elmira mengusap air matanya dan mulai bercerita, "Ryan mengkhianati ku, aku melihatnya sendiri ada seorang wanita di kamar apartemen nya" tutur Elmira.
"Apa, kamu tidak salahkan?" tanya Karin tidak menyangka.
"Kamu mu tau siapa wanita itu, wanita itu adalah Zara" ujar Elmira.
"Dasar yah semua laki-laki pada dasarnya sama, mengatasnamakan persahabatan lalu mereka memanfaatkan semua itu" tutur Karin sambil menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"Kamu tenang saja Elmira, biar aku yang tangani wanita itu" sambung Karin.
**********
Keesokan harinya, Karina mengemudikan sendiri mobil sport miliknya, menuju ke kediaman Marvin dan Zara.
Setelah sampai di halaman rumah Marvin, Karin langsung turun dan mengetuk pintu dengan kasar sambil berteriak.
"Zara keluar" panggil Karin berulang kali.
Marvin dan Zara yang sedang sarapan mendengar suara Karin yang berteriak dari luar, "Itu sudah Karin kan Vin?" tanya Zara, di balas anggukan oleh Marvin.
Kemudian Marvin dan Zara berdiri untuk melihat keluar, Karin langsung menerobos masuk setelah pelayanan membukakan pintu.
Karin langsung menghampiri Zara dan Marvin, "Hei Zara, apa tidak cukup kamu menghancurkan hidupku dan sekarang kamu mengusik hidup sahabat ku" maki Karin dengan emosi.
"Karin tenang dulu, ada apa?" sahut Marvin sambil menahan Karin.
"Coba tanyakan pada istri mu ini, semalam dia menginap di mana?" tutur Karin masi menatap tajam pada Zara.
Marvin kemudian menatap tajam pada Zara, karena dia yakin tidak mungkin Karin semarah ini tampa sebab, "Apa yang terjadi sebenarnya Zara?" tanya Marvin dengan menekan suaranya.
Marvin langsung menarik nafasnya lega, karena kemarahan Karin hanya membela sahabat nya, "Karin tenang dulu, ini tidak seperti yang kalian pikiran" ucap Marvin sambil memegang kedua lengan Karin.
Karin menepisnya lalu tersenyum sinis, "Marvin aku kira kamu akan berpihak padaku, aku tidak menyangka kalau kamu lebih membela istri kamu ini" ujar Karin sambil menunjuk Zara.yang hanya menunduk, kemudian berjalan pergi.
Setelah kepergian Karin, Zara langsung memohon pada Marvin, "Vin aku mohon percaya padaku, aku tidak ada maksud merusak hubungan Elmira dan Ryan, semua ini hanya salah paham" ucap Zara di sela isak tangisnya sambil menyatukan kedua tangannya.
"Tenang saja Zara kali ini aku percaya padamu" balas Marvin sambil memegang lengan Zara dan berlalu pergi.
Saat ini di perusahaan Jansen group, Marvin dan Ryan sedang memeriksa berkas proyek di ruangan Marvin, mereka lagi duduk di sofa, terlihat Ryan membuka beberapa berkas.
Marvin menatap pergerakan Ryan, "Apa yang di lakukan Zara di apartemen mu?" tanya Marvin tiba-tiba.
Ryan langung menutup berkas di hadapannya, lalu melihat Marvin, "Kami hanya minum Bos" jawab Ryan santai.
"Kamu yakin hanya minum?" Marvin kembali bertanya.
__ADS_1
"Yah ilah Bos, mana berani aku dengan istrinya Bos" balas Ryan.
"Aku tidak peduli dengan Zara, tapi kamu tidak mengkhianati Elmira kan?" tanya Marvin penuh selidik.
Wajah Ryan berubah menjadi serius, "Vin dari kecil kita bersahabat kan, dan tampah bicara pun kamu bisa mengerti aku" ucap Ryan menaikkan satu oktaf suara nya, sambil berdiri.
"Ryan ada apa? kamu marah bukan karena aku mencurigai mu, jadi katakan apa yang terjadi?" tanya Marvin terlihat bingung tidak mengerti dan ikut berdiri.
Ryan tersenyum, "Vin persahabatan kita bertiga terjalin dari kecil , tapi aku tidak menyangka kamu menyembunyikan rahasia sebesar itu dariku" tutur Ryan
Marvin langsung mengerti arah pembicaraan Ryan, "Apa Zara yang mengatakannya?" tanya Marvin.
"Iya.! Kamu tau Marvin, Zara selama ini hidup dengan rasa bersalah dan sangat tertekan, bukan karena dia tidak mendapatkan cinta mu, melainkan dia juga kehilangan sahabatnya" jelas Ryan, mengatakan semua isi hati Zara semalam.
Marvin langsung lemah dan kembali duduk, "Ryan maaf aku telah menyembunyikan status pernikahan ku dengan Zara, alasannya agar rahasia ini bisa aman sampai Azka berumur 17 tahu" ujar Marvin memberi penjelasan.
"Oke Vin, tapi bagaimana dengan Zara yang delapan tahun ini kamu acuhkan?" tanya Ryan kembali duduk.
"Kamu benar Ryan, Zara juga tidak pernah mengganggu kehadiran Kirani lagi" pikir Marvin.
"Aku pergi dulu Vin, aku harus menyelesaikan masalahku dengan Elmira" pamit Ryan.
"Pergi lah Ryan" ujar Marvin.
Ryan kemudian keluar dari ruangan Marvin dan berpapasan dengan Karin yang ingin keruangan Marvin.
Karin menatap Ryan penuh amarah, membuat Ryan menahannya, "Karin tunggu" sahut Ryan dengan wajah serius.
Membuat Karin berhenti, "Ryan... " ucapan Karin terputus.
"Karin percaya padaku, aku tidak mungkin mengkhianati Elmira, jadi aku yang akan menyelesaikan sendiri ke salah pahaman ini" ucap Ryan untuk memenangkan Karin yang sepertinya sangat marah dengannya.
"Iya sudah Ryan jangan pernah menyakiti sahabat aku, temui Elmira dia butuh penjelasan mu" nasehat Karin.
Ryan segera berlalu dari Karin dan Karin kembali berjalan ingin keruangan Marvin.
Karin pelan-pelan membuka pintu ruangan Marvin dan melihat Marvin sedang duduk di sofa dengan wajah tekuk.
__ADS_1
Karin mengurungkan niatnya menemui Marvin, "Apakah Marvin sedih karena istrinya menginap di apartemen Ryan semalam?" batin Karin.
Karin menjadi salah paham dengan kesedihan Marvin dan matanya berkaca-kaca meninggalkan depan ruangan Marvin.