Gadis Virgin Milik CEO

Gadis Virgin Milik CEO
KELUARKAN SAJA KIRANI #area18+


__ADS_3

Setelah mendengar pengakuan istrinya kalau masi perawan, Marvin menghentikan aksinya sejenak, kemudian melanjutkan aksinya sangat lembut di bagian tubuh Kirani yang lain, membuat Kirani benar-benar melayang bagai surga dunia.


Kirani ingin sekali mendesah dengan aksi Marvin di atasnya, tapi dia hanya mengigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara.


Marvin yang sedang bermain di ************ Kirani, menghentikan aksinya lalu tersenyum melihat wajah istrinya yang tidak berdaya.


"Keluarkan saja Kirani jangan di tahan karena akan menyiksamu" ucap Marvin kemudian beralih mencium bibir Kirani dengan lembut, lalu turun ke leher istrinya dan meninggalkan beberapa jejak kepemilikan di sana.


Akhirnya Kirani tidak bisa menahan desahannya, Kirana menikmati sentuhan suaminya yang memperlakukan nya dengan lembut.


Setelah puas bermain-main di seluruh tubuh Kirani, Marvin memulai kembali melakukan penyatuannya.


Marvin berulang-ulang menekan pinggulnya agar bisa menembus benteng pertahanan Kirani, Akhirnya benteng pertahan Kirani berhasil di jebol oleh Marvin.


Marvin yang merasakan keperawanan istrinya membuatnya bersemangat menghentakkan pinggulnya, membuat d*sahan keduanya bersahut-sahutan.


Cukup lama aksi Marvin berlangsung hingga akhirnya, Marvin tidak bisa menahan larva panas yang ingin keluar di tubuhnya, Marvin menarik senjatanya dan di susul darah keperawanan Kirani, Membuat Marvin sangat bangga karena itu membuktikan jika dirinya lah yang pertama menyentuh istrinya.


Marvin kemudian berbaring terlentang di samping Kirani, yang sudah lemas tidak berdaya karena aksi-aksi Marvin yang perkasa dan berpengalaman.


Kirani memejamkan matanya dan Marvin mencium keningnya, "Terima kasih kancil kecilku" ucap Marvin lalu berdiri untuk ke kamar mandi.


Sebelum masuk kamar mandi, Marvin menutup tubuh Kirana yang polos dengan selimut.


Setelah Marvin mandi, Kirani belum membuka matanya, Marvin kemudian meniggalkan kamarnya.


Kirani yang berpura-pura tidur, segera membuka matanya setelah merasakan Marvin sudah tidak ada, terlihat tetesan bening menetes di sudut mata Kirani.


Kirani mengusap air matanya dan segera bergegas membersihkan diri ke kamar mandi.


Saat ini Kirani sudah rapi dan berdiri di samping kolam berenang, memperlihatkan pemandangan pantai Bali yang indah.


Kirani memakai dress di atas lutut yang cukup seksi, karena baju-baju Kirani memang dominan seksi.


"Akhirnya keperawanan gue di ambil sama pria yang tidak mencintaiku dan tidak pernah menghargai diriku, hancur lah sudah impianku untuk memberikan keperawanan ku pada pria yang mencintaiku dan yang gue cintai" batin Kirani dengan mata berkaca-kaca.


Marvin baru saja datang sambil memegang makanan di tangannya dan melihat istrinya yang berdiri melamun di pinggir kolam berenang, kemudian menghampiri Kirana dan menyimpan makanan di atas meja.

__ADS_1


Setelah menyimpan makanan, Marvin kemudian menghampiri istrinya dan berdiri di samping Kirani, tapi Kirani tidak bergeming meski Marvin sudah berdiri di sampingnya.


Marvin menunduk dan berbisik di telinga Kirani, "Kenapa sekarang kamu menjadi pendiam, biasa tidak pernah berhenti bicara" tanya Marvin.


Tapi Kirani belum menatap suaminya, Marvin kembali menegakkan badannya dan berfikir agar Kirani mau bicara.


Marvin kembali menatap Kirani yang terlihat meneteskan air matanya, Marvin segera mendekap leher Kirani dengan lembut dan mengusap air matanya.


"Sayang maafkan aku, tidak akan ku ulangi jika kamu tidak ingin melakukannya" ucap Marvin dengan suara yang berat tapi bernada lembut.


Membuat Kirani menatap mata Marvin, dan tidak menyangkan kalau suaminya akan mengatakan hal seperti itu.


"Om CEO, gue mengaku kalah ternyata uang adalah segalanya" ucap Kirani lemas.


"Ayo makan dulu sudah sore" ucap Marvin sambil merangkul pundak Kirani dan berjalan menuntunnya ke meja di mana meletakkan makanan tadi.


Setelah sampai di meja, Marvin kemudian menarik kursi untuk istrinya, Kirani langsung saja duduk tampa bicara.


Marvin memotong-motong makan lalu memberikan pada Kirani, "Makan dulu" ucap Marvin sambil memberikan piring pada Kirani.


Marvin tidak menjawab, di hanya duduk bersandar di kursi dengan melipat kedua tangannya di dadanya, sambil senyum-senyum sendiri membayangkan tubuh Kirani yang sangat nikmat.


"Kirani andai tadi aku tidak berjanji, tidak akan menyentuhmu tampa seizin mu, mungkin saat ini aku sudah menyeret mu keranjang" batin Marvin.


Kirani makan dengan lahap, kemudian duduk bersandar di kursi setelah menghabiskan makanannya.


"Makanannya enak om, gue udah kenyang" ucap Kirani sambil mengusap perutnya, terlihat mod Kirani kembali pulih setelah makan.


"Lain kali akan ku buatkan lagi" balas Marvin.


"Ini om yang masak?" tanya Kirani terkejut, di balas anggukan oleh Marvin.


"Kok gue gak percaya yah, pasti masakan koki yang ada di vila ini" ucap Kirani tidak percaya.


"Dengar yah kancil kecil, aku cukup lama melajang jadi menuntunku untuk bisa masak sendiri di apartemen" ucap Marvin.


"Berkah gue jadi salut? Tapi ngomong-ngomong sepertinya gue harus menikmati pulau bali" ucap Kirani sambil berdiri menatap laut yang biru.

__ADS_1


"Nikmatilah Kirani" sambil berdiri dan berjalan kesamping Kirani.


"Rencana om malam ini kemana, apa ada janji dengan wanita-wanitanya om?" tanya Kirani berusaha biasa saja.


Marvin tersenyum mendengar pertanyaan istrinya, "Apa kamu tidak cemburu kalau suamimu bersama wanita lain?" tanya balik Marvin sambil merangkul pundak Kirani.


Kirani menatap Marvin, "Apa gue punya hak untuk cemburu om?" Kirani kembali bertanya.


"Kamu berhak, dan siapa pun berhak untuk cemburu" jawab Marvin santai.


"Bukan kah kecemburuan harus dilandasi rasa cinta, dan di antara kita tidak ada cinta om" sabung Kirani.


"Kalau begitu kita bisa menciptakan cinta" ucap Marvin enteng.


Kirani tersenyum hambar, "Gue gak mungkin menyerahkan hatiku, pada pria yang bisa membuang gue kapan saja kalau dia sudah bosan" sindir Kirani.


Marvin langsung menatap tajam Kirani, "Maksud kamu apa Kirani?" tanyanya untuk memperjelas pernyataan Kirani.


"Kenapa om tidak mengerti maksudku, bukan kah om membuang wanita-wanita om jika sudah bosan dan apa bedahnya dengan diriku yang cuma pelunas hutang orang tuaku" ungkap Kirani.


"Kamu berbeda Kirani, kamu itu istriku sedangkan mereka hanya wanita j*lan yang membutuhkan uangku" ucap Marvin dengan tegas.


"Ha...ha...ha" tawa mengejek Kirani, "Bukan kah panggilan wanita j*lan, om sematkan padaku sebelumnya" ucap Kirani sambil melepas tangan Marvin di pundaknya dan berjalan masuk kamar.


Marvin tidak menghalangi kepergian Kirani, dia hanya menatap lurus ke depan penuh misteri.


Kirani yang menyadari Marvin tidak mencegahnya, dia secepatnya keluar kamar.


Kirani kemudian berkeliling Vila tersebut dan melihat pelayan yang terlihat berpakaian seksi.


"Ada yang bisa kami bantu nyonya?" tanya pelayang yang berpapasan dengannya.


"Gak ada kok mba, gue cuma jalan-jalan aja" balas Kirani.


"Baik nyonya, kalau butuh bantuan panggil kami saja" ucap pelayan tersebut.


"Oke mba" ucap Kirani dan kembali berjalan mengamati Vila itu.

__ADS_1


__ADS_2