
Ryan kemudian menatap Elmira yang terlihat jelas sedang menyimak pembicaraannya dengan kakeknya.
"Elmira kenalkan mereka Kakek dan nenek ku" ucap Ryan.
"Senang sekali bisa bertemu kakek dan nenek, dan desa ini sangat sejuk" sambung Elmira.
"Iya nak, itulah yang membuat kami nyaman tinggal di tempat ini" balas Nenek Ryan.
"Ryan kamu sudah sangat matang, apa tidak ada rencana untuk mencari pendamping" sahut Kakek Ryan.
"Ada kek, Ryan sedang melakukan pendekatan dengan seorang wanita" jawab Ryan sambil melihat ke arah Elmira.
"Oh yah perkenalkan secepatnya dengan kami, apa gadis yang kamu bawa ini orang nya?" timpal nenek Ryan.
Elmira baru saja mau bicara, tapi Ryan lebih dulu menyahut, "Bagaimana kalau sosok wanita itu seperti gadis ini?" tanya Ryan, membuat Elmira mencubit pinggang Ryan, tapi Ryan malah membalasnya dengan senyuman.
"Kenapa harus seperti gadis ini, kenapa bukan gadis ini saja?" ucap Nenek Ryan berharap.
"Kalau kakek dan nenek setuju aku akan segera melamar ke orang tuanya" ucap Ryan dengan serius lalu menoleh melihat Elmira.
Elmira yang mendengar pernyataan Ryan membuatnya terkejut, "Kak bercandanya gak lucu loh" bisik Elmira.
"Nenek sangat setuju, ayo ikut dengan nenek saya ajarkan memasak makanan kesukaan Ryan" ucap Nenek Ryan.
"Baik Nek" ucap Elmira sambil berdiri dan keduanya berjalan masuk.
Setelah kepergian neneknya dan Elmira, Ryan dan kakeknya masi duduk di tempat itu.
"Ryan apa kamu sudah yakin dengan gadis itu, dia terlihat masi sangat belia?" tanya kakek Ryan.
"Aku baru meyakinkannya Kek, tapi aku yakin kek dia wanita yang tepat untuk ku" ungkap Ryan.
"Kakek bangga padamu nak, hargailah seorang wanita" nasehat Kakeknya.
Elmira dan Nenek Ryan sedang memasak di dapur, terlihat mereka sudah sangat akrab dan setelah semuanya selesai, mereka berempat menikmati makanannya, sambil bercanda dan tertawa layak nya keluarga bahagia.
Setelah selesai makan dan sore telah tiba, Ryan membawa Elmira jalan-jalan di perkebunan kakeknya, yang ada di halaman belakang rumah.
"Elmira kamu bahagia" tanya Ryan.
__ADS_1
"Iya kak, apalagi nenek dan kakek kak Ryan sangat baik dan ramah" jawab Elmira sambil melihat pemandangan perkebunan itu.
"Dan terima kasih kak, apa kak Ryan mau menjadi sosok kakak dalam hidupku?" tanya Elmira.
Ryan langsung menatap Elmira tampa berkedip dan memegang kedua tangannya, "Bukan sekedar kakak, aku ingin lebih dari itu Elmira, bisakah kita saling mengenal lebih satu sama lain?" tanya Ryan dengan serius.
"Maksud kak Ryan apa" tanya Elmira benar-benar tidak mengerti.
"Aku ingin kamu menjadi kekasihku dan bisa membahagiakanmu untuk selamanya" ucap Ryan mengungkapkan keinginannya.
"Ha...ha...ha... Kak Ryan dari tadi bercanda mulu, jadi gak asik" balas Elmira.
"Aku serius Elmira, aku sayang sama kamu dan aku tidak ingin pola pikir mu akan menghancurkan masa depanmu, jadi izinkan aku menjagamu" sambung Ryan mengungkapkan perasaan nya.
Elmira yang melihat keseriusan di mata Ryan, membuatnya berkaca-kaca, "Tapi Kak, gua bukan wanita yang baik untuk kak Ryan yang nyaris sempurna" ungkap Elmira meneteskan air matanya.
"Kamu menolak aku Elmira?" ucap Ryan kembali bertanya.
"Sekarang gue tanya ama kak Ryan, apa ada wanita baik-baik yang pergaulannya bebas seperti diriku?" jujur Elmira.
Ryan yang mendengar pengakuan Elmira membuatnya melemah, dirinya bagai tersambar petir.
"Tidak kak, hidupku hancur di usia 15 tahun, karena gue korban pemerkosaan yang membuat hidup hancur" ungkap Elmira dengan suara bergetar.
Ryan langsung memeluk Elmira untuk menenangkannya, "Jangan menangis adik manis, kamu adalah gadis yang kuat dan tegar" hibur Ryan.
Elmira yang mendengar panggilan adik manis dari Ryan, membuatnya sedikit tersenyum dibalik pelukan Ryan.
"Kalau kamu mau aku menjadi kakak untukmu, maka izinkan aku menjaga dirimu" ucap Ryan sambil melepas pelukannya dan menatap dalam-dalam mata Elmira.
"Aku bisa menerima mu apa adanya" batin Ryan
"Makasih kak" balas Elmira berusaha tersenyum.
"Sekarang kita pulang yuk" ajak Ryan.
"Kak kalau aku kangen kehangatan keluarga, apa kakak bersedia membawaku ke tempat ini lagi" pinta Elmira.
"Iya Ra kamu bisa pergi kapan pun yang kamu mau" balas Ryan.
__ADS_1
Setelah meminta izin pada nenek dan kakeknya, Ryan mengemudikan mobilnya meninggal pedesaan tersebut.
*********
Di perusahaan Jansen group, Ryan sudah kembali bekerja setelah cuti beberapa hari, dia sedang sibuk dengan pekerjaan nya.
Tiba-tiba HPnya berdering dan betapa kagetnya setelah melihat pasan yang masuk di HPnya, Ryan seger berdiri dan menuju kerungan Marvin.
Ryan mengetuk pintu, "Masuk" terdengar suara Marvin dari dalam.
Ryan segera masuk dan terlihat Marvin sedang sibuk, "Ada apa Ryan?" tanya Marvin masi fokus melihat dokumen di tangannya.
"Bos ada kabar buruk, om Bram akan segera pulang ke Indo" ucap Ryan dengan menunduk hormat.
Marvin yang mendengar berita kepulangan Bram Wijaya, membuatnya seketika menghentikan aktivitas dan tubuh Marvin membeku menahan emosinya.
Marvin kemudian melempar dokumen yang di pegang nya dan menyapu semua barang yang ada di atas mejanya.
"Sial!" terik Marvin frustasi sambil melepas kancing jasnya dan melonggarkan dasinya.
"Bos harus melepas salah satunya, karena om Bram tidak akan menerima sebuah alasan" Ucap Ryan memberi pendapat.
Marvin tidak merespon kata-kata Ryan, dia belum bisa mengendalikan emosinya, Marvin kemudian meninggalkan ruangannya tampa bicara apa pun.
Selanjutnya Marvin mengambil kunci mobil pada sopirnya dan mengemudikan sendiri mobil ke jalan raya.
Mobil Marvin melaju dengan kecepatan tinggi, tampa mempedulikan kendaraan lain dan Marvin langsung menuju ke kediamannya.
Setelah sampai di rumahnya, Marvin langsung keluar mobil nya dan menghempaskan kasar pintu mobilnya, lalu berjalan naik ke kamarnya.
Bik Ira dan bik yati yang melihat tuanya pulang dengan terburu-buru, membuatnya penasaran, tapi mereka tidak berani mencari tau.
Setelah sampai di atas, Marvin langsung membuka pintu kamarnya dan melihat istrinya sedang duduk membaca buku di ranjang.
Kirani yang melihat Marvin pulang secara tiba-tiba membuatnya terkejut dan segera berdiri untuk menghampiri suaminya.
Kirani baru ingin melangkah tapi Marvin lebih dulu menghampirinya dan langsung menangkap rahan istrinya lalu mencium bibir nya penuh kasih sayang, seakan-akan tidak ingin dia lepaskan.
Setelah cukup lama, Marvin melepaskan ciumannya dan menatap istrinya sangat dalam, "Sayang apa pun yang terjadi ke depan, karena cobaan rumah tangga akan ada ujian yang berat, jadi apapun yang terjadi nantinya, berjanjilah akan percaya padaku kalau aku sangat mencintaimu dan jangan pernah pergi dari ku" Ucap Marvin dengan nada yang berat dan bergetar.
__ADS_1
Ungkapan cinta yang di ucapkan Marvin yang selama ini dia tunggu-tunggu keluar dari mulut suaminya, sudah dia dengar sekarang tapi dia merasa ada yang aneh dari ucapannya, membuat mata Kirani berkaca-kaca.