Gadis Virgin Milik CEO

Gadis Virgin Milik CEO
IYA PAPAH


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, sekarang Nela sudah berangsur-angsur sembuh dan sudah bisa beraktivitas seperti biasa.


Hari ini Marvin berniat membawa Istri dan putrinya ke rumah utama, Marvin sudah mempersiapkan penyambutan yang luar biasa.


Sementara Kirani sudah bersiap-siap menunggu Marvin menjemput nya, "Mam kita mau kemana?" tanya Nela.


"Nanti Om tampan yang mengatakan yah sayang" jawab Kirani.


Baru saja Kirani selesai bicara, mobil Marvin sudah terdengar di luar rumah, "Itu Om tampan sudah datang" sambung Kirani, Kemudian keduanya berjalan keluar menyambut Marvin.


Nela langsung menghambur memeluk Marvin dan Marvin menangkap nya lalu menggendongnya, "Om tampan kita mau kemana?" tanya Nela.


Marvin kemudian melihat Kirani dan di balas anggukan oleh Kirani, lalu kembali melihat Nela.


"Ke rumah Om, karena mulai hari ini Nela dan Mami tinggal di rumah Om yah" jelas Marvin, masih menggendong Nela.


"Hore sekarang kita tinggal sama Om tampan" ucap Nela kegirangan lalu mencium pipi Marvin.


"Ayo sayang kita berangkat" ajak Marvin sambil merangkul pundak Kirani berjalan keluar rumah.


Sopir kemudian membuka pintu mobil untuk bosnya, kemudian ketiganya masuk di kursi penumpang, selanjutnya mobil berlalu pergi.


Setelah beberapa saat, Mobil sudah sampai di rumah utama milik Marvin dan sopir kembali membuka pintu untuk bosnya.


Marvin dan Kirani kemudian trung dan Marvin menggendong Nela turun lalu berjalan masuk, dengan di sambut para pembantu di rumah itu.


Penyambutan Kirani dan Nela begitu cantik, berbagai bunga dan balon tertata rapi di setiap sudut ruangan.


Nela melihat sekeliling, "Wah rumah Om sangat besar, Nela juga mau punya rumah sebesar ini" ucap Nela polos.


Kirani langsung melihat Marvin lalu menghampiri para pembantu yang berdiri menyambut nya dan langsung memeluk satu persatu ketiga pembantu yang sudah di rindukannya.


"Bi Ira, Bi yanti dan Bi Narti aku sangat merindukan kalian semua" tutur Kirani.


"Iya Nyonya kami juga merindukan anda" ujar Bi Ira mewakili yang lain.


Sementara Marvin berjalan duduk ke sofa dan memangku Nela, "Kamu suka rumah Om?" tanya Marvin.

__ADS_1


"Iya Om, Nela suka banget" jawab Nela.


"Kalau begitu kita naik melihat kamar Nela, gimana?" ajak Marvin pada putri nya.


"Sekarang kamu panggil Mami baru kita naik" sambung Marvin.


Nela langsung turun dari pangkuan Marvin kemudian berlari menuju Kirani dan ketiganya berjalan naik.


Marvin membuka pintu kamar yang di sediakan untuk putrinya, terlihat kamar itu di dominasi warna pink dan sangat luar, di tambah banyak permainan berbagai macam rupa yang sudah tersedia di dalamnya.


Kirani dan Nela berjalan masuk di belakang Marvin, "Om tampan ini kamar Nela" sahut Nela.


"Iya sayang ini kamar Nela, kamu suka?" tanya Marvin pada putrinya.


"Suka banget om" jawab Nela sambil mengambil salah satu permainan di kamar itu.


Marvin kemudian menghampiri Nela dan menggendongnya kembali, "Om bisa belikan lebih banyak lagi mainan untuk Nela, tapi Nela harus panggil Om dengan sebutan Papah" ucap Marvin.


"Kok papah sih Om, kan Om tidak pernah nikah sama Mami" tanya Nela dengan nada polos nya.


Marvin berfikir sejenak lalu berjalan ke kemeja belajar Nela dan mendudukkan Nela di kursi, kemudian Marvin mengambil foto pengantin dirinya dan Kirani di atas meja belajar itu.


"Nela sayang, kamu mengenal poto pengantin ini?" tanya Marvin pada putrinya.


Nela melihat sejenak, "Ini kan foto Mami dan Om" jawab Nela.


"Jadi Mami dan Om sudah pernah menikah, jadi Nela harus memanggil Om dengan sebutan papah" ujar Marvin menjelaskan pada putrinya pelan-pelan.


"Jadi Om tampan papah aku" tebak Nela antusias.


"Iya sayang, jadi mulai sekarang panggil Papah yah" sambung Marvin.


"Iya papah" ucap Nela.


Mata Marvin langsung berkaca-kaca mendengar putrinya memanggilnya Papah dan langsung memeluk Nela, sementara Kirani yang menyaksikannya itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca, karena terharu melihat putrinya bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah.


Kirani mendekati Marvin dan Nela, "Sekarang Nela sudah punya Papah, seperti anak yang lain" ucap Kirani pada putrinya.

__ADS_1


"Tapi Mam, kok papah Nela papahnya Azka juga?" tanya Nela polos.


Kirani langsung menatap Marvin, karena tidak tau harus menjelaskan apa pada putrinya.


Marvin kemudian mengusap rambut Putrinya, "Sayang kalau Nela sudah besar, baru Nela bisa mengerti dan papah akan menjelaskan semuanya" ucap Marvin, membuat Kirani tersenyum bangga pada suaminya.


"Sekarang Nela main di kamar Nela yah, Papah dan Mami ke kamar dulu" ucap Marvin.


"Iya Pah" ucap Nela.


Marvin dan Kirani kemudian berjalan keluar kamar Nela dan berjalan masuk ke kamar mereka dan setelah Marvin membuka pintu kamar, betapa terkejutnya Kirani saat melihat kamar mereka, yang penuh dengan bunga layaknya kamar pengantin baru.


"Apa ini saya, kita bukanlah pengantin baru lagi?" protes Kirani.


Marvin langsung berjalan memeluk pinggang istrinya dari belakang, "Aku hanya menyambut kedatangan istriku, yang selama 8 tahun ini aku rindukan dan bisa tinggal di rumah ini kembali" ucap Marvin.


Kirani memutar badannya menghadap pada Marvin dan mengalungkan tangannya ke leher suaminya, "Benarkah kamu merindukan ku?" tanya Kirani.


Marvin menjawab pertanyaan Kirani dengan mencium bibir istrinya dengan agresif, membuat Kirani kewalahan menahan ciuman Marvin yang membuatnya mundur kebelakang, hingga terjatuh di atas ranjang yang penuh dengan kelopak bunga Mawar.


Marvin perlahan melepas kancing baju kemejanya, tampa melepas ciumannya di bibir Kirani, membuatnya sudah bertelanjang dada dan Kirani sudah tidak berdaya di bawah Marvin.


Nafas Kirani sudah naik turun dengan aksi Marvin di leher jenjangnya dan perlahan Marvin menarik pengikat baju depan Kirani dan mulai memperlihatkan belahan dadanya yang berukuran cukup besar, perlahan Marvin meninggal kan jejak kepemilikan di sana, membuat Kirani semakin sulit mengatur nafasnya.


Tiba-tiba HP Marvin berdering di saku celana yang belum terlepas, membuat Marvin menghentikan aksinya sejenak dan melanjutkannya kembali.


HP Marvin kembali berdering dan terpaksa dia harus mengangkat, Ternyata Zara yang menelpon, "Iya halo Zara" tanya Marvin sambil berdiri dari tubuh Kirani, tapi matanya tidak pernah berhenti menatap Kirani.


"Azka sakit Vin dan badannya sangat panas" suara Zara yang terdengar khawatir.


"Kamu jangan khawatir Zara, cepat bawa Azka ke rumah sakit dan saya akan segera ke sana" perintah Marvin.


Kirani yang mendengar Azka sedang sakit, langsung duduk mengikat kembali tali bajunya dan membuang pandangan tidak ingin melihat Marvin.


Marvin kembali memakai bajunya dan melihat Kirani sedikit kecewa, "Maaf kan aku sayang, aku harus segera menemui Azka" ucap Marvin lalu mencium kening Kirani, hanya di balas anggunkan pelan oleh Kirani.


Marvin kemudian segera meninggal kan kamar nya.

__ADS_1


__ADS_2