
Malam hari telah tiba, tapi saat ini Kirani masi jalan-jalan di pinggir pantai, dia belum mau pulang ke Vila milik suaminya.
Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat Marvin sedang cipika-cipiki dengan sorang wanita bule, sambil menikmati minuman bersama.
Kirani mencoba menahan air matanya yang hampir terjatuh, dia mundur beberapa langkah, dan memutar badannya meniggalkan tempat itu.
Tapi Marvin sempat melirik keberadaan istrinya itu yang melihat dirinya, kemudian kembali mengobrol dengan wanta bule yang masi berada di depannya.
"Baik tuan Marvin, aku harap kerjasama kita akan selalu baik" ucap wanita blasteran bule itu.
"Saya harap juga seperti itu" balas Marvin dengan wajah tegapnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan Marvin" sambung wanita itu, kemudian meninggalkan Marvin.
Marvin masi berdiri di tempatnya, sedang meminum minumannya dan menatap tajam ke depan terlihat memikirkan sesuatu.
Sementara itu Kirani sedang ada di kamarnya dan mengumpat dirinya sendiri, "Sial Kirani ngapain elo harus mikirin pria brengset itu, bukan kah elo uda tau kelakuannya" ucap Kirani berusaha menenangkan hatinya.
Kirani mengusap air matanya dengan kasar dan ingin keluar kamar, tapi langkahnya terhenti ketika melihat Marvin sedang berdiri di depannya.
"Om CEO? sejak kapan om berdiri disini?" tanya Kirani, takut Marvin mendengar ucapannya.
"Barusan, kamu dari mana saja keluar tidak bawa HP?" tanya Marvin dan berjalan ke arah ranjang.
"Baterainya mati om" ucap Kirani sambil menunjukan HPnya yang mati.
"Baik tunggu aku kita makan bersama, aku mandi dulu" ucap Marvin kemudian mengambil handuk dan berlalu masuk kamar mandi.
Kirani tidak menjawab, dia kemudian bejalan dan duduk di atas ranjang.
Beberapa saat kemudian Marvin keluar dari kamar mandi dan melihat Kirani sedang duduk di ranjang dengan wajah malas.
Marvin menghampiri Kirani dan duduk di sampingnya, "Kalau kamu tidak suka tempat ini, kita bisa pulang besok" ucap Marvin dengan kondisi bertelanjang dada dan hanya memakai handuk yang di lilit di pinggangnya.
Kirani langsung memicingkan matanya melihat suaminya, "Tapi om, gue belum menikmati Bali, kok pulang sih" ucap Kirani memalingkan wajahnya.
Marvin tersenyum, "Yah sudah besok kita jalan-jalan, tapi sekarang siap-siap kita makan dulu" ucap Marvin.
__ADS_1
Reflek Kirani memeluk leher Marvin yang keadaan bertelanjang dada, "Makasih om, mau nemenin Kirani jalan-jalan" ucap Kirani belum menyadari kalau marvin sedang tidak memakai baju.
Marvin yang di peluk tiba-tiba, tidak bisa berkata apa-apa, tubuhnya langsung menegak di ikuti junior Marvin yang ada di balik handuknya.
Kirani yang tersenyum dengan mata berbinar-binar, baru menyadari kalau diri sedang memeluk Marvin.
Segera Kirani melepaskan pelukannya lalu menunduk, "Maaf gue terlalu senang, abisnya lama gak pernah jalan-jalan" ungkap Kirani.
"Bersiap lah kita makan" ucap Marvin dan segera memakai baju.
Keduanya sudah sama-sama siap dan keduanya bejalan turun untuk makan malam.
Terlihat di meja makan sudah tersedia berbagai macam makan, yang sudah di masak koki.
Kirani menghentikan langkahnya dan terdiam melihat makan yang tersedia begitu banyak di atas meja.
"Ayo sayang, kita makan dulu" ucap Marvin sambil mengandeng pinggang ramping Kirani.
Kirani menatap tangan Marvin di pinggangnya dan beralih melihat suaminya, tapi Marvin tidak peduli dia menatap lurus ke depan.
"Om kira aku monster bisa menghabiskan semua makan ini" ucap Kirani.
"Nikmati mana yang kamu suka, karena aku tidak tau makan kesukaanmu" sambung Marvin.
"Ribet banget yah, gue kan ada disini om, bisa nanya kan?" balas Kirani.
"Kenapa aku tidak memikirkan itu" gumam Marvin sambil mengambil air dan meneguknya.
"Karena om, hanya memikirkan wanita-wanita om di luar sana" ucap Kirani sambil menyuap makanannya dengan santai.
"Kayaknya ada yang cemburu nih" balas Marvin .
"Nggak! Gue gak cemburu" sangkal Kirani.
"Cemburu juga boleh" ucap Marvin sambil melirik Kirani yang terlihat tidak terima di bilang cemburu.
"Siapa yang bilang cemburu" ucap Kirani lagi, tetap tidak terima di bilang cemburu.
__ADS_1
Marvin tersenyum melihat istrinya yang seperti anak kecil yang suka berdebat, tapi dia tidak sadar kalau dirinya juga menjadi banyak bicara semenjak bersama Kirani.
*******
Keesokan harinya matahari bersinar dengan cerah, tapi Kirani masi terlelap dalam tidurnya, sementara Marvin sudah bangun dan membuka matanya, dia memperhatikan wajah Kirani yang putih bersih bak artis korea.
Semalam Marvin dan Kirani tidur di ranjang yang sama, tapi Marvin tidak menyentuh Kirani sama sekali, karena dia sudah berjanji tidak akan menyentuh Kirani tampa seisinya.
Marvin melihat rambat Kirani yang menghalangi wajah cantiknya, pelan-pelan Marvin ingin menyingkirkan rambut Kirani, tiba-tiba mata Kirani terbuka.
"Om mau ngapain?" ucap Kirani dengan terkaget dan segera duduk sambil menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Tidak, om cuma menikmati pemandangan indah di hadapanku, wajah gadis 18 tahun yang telah resmi menjadi istriku" ucap Marvin masi menatap Kirani.
"Sudah lah om, dari pada gue dengerin gombalan om, mending gue mandi dan segera keluar jalan-jalan" ucap Kirani sambil menyingkirkan selimut yang dia pakai, kemudian berdiri dan bergegas mandi untuk menghindari suaminya agar tidak bertindak lebih.
Marvin kembali tersenyum melihat tingkah istrinya, Marvin kemudian memegang dadanya, "Perasaan apa ini, kenapa aku merasa begitu senang saat bersama kancil kecilku" gumam Marvin.
Keduanya sudah siap, hari ini seperti biasa Kirani berpenampilan feminim yang terlihat imut dan cantik, berbanding terbalik dengan Marvin yang hari-harinya selalu rapi dengan setail jas rapi, hari ini dia berpenampilan casual yang terlihat 5 tahun lebih mudah dari usianya.
"Ternyata istri ku ini memang sangat cantik, tidak salah kalau jadi idola" puji Marvin yang berdiri di belakang Kirani, yang sedang merias wajahnya dengan makeup yang tipis.
"Baru nyadar suamiku, kalau gue memang cantik" balas Kirani sinis sambil mengibaskan rambutnya.
"Iya tentu kamu cantik dan menawan, kalau tidak mana mungkin aku mau bermain denganmu di atas ranjang" ungkap Marvin sambil meraba lengan Kirani yang halus.
Nyali Kirani menciut, dia langsung membayangkan kejadian kemarin, bagaiman perkasanya aksi suaminya yang menembus benteng pertahannya, hingga membuat Kirani jadi malu dan segera menundukkan kepalanya.
Tapi bukan Kirani namanya kalau tidak bisa membalikkan ke adaan.
Kirani secepatnya berdiri dan menghadap kepada Marvin, "Kalau di lihat-lihat, om lebih mudah dari usianya dengan penampilan seperti ini" ucap Kirani sambil melihat dari bawa sampai atas.
"Ayo jalan, kalau masi di sini aku bisa membuatmu tidak jadi jalan-jalan" balas Marvin.
Kirani menjadi ketakutan dan segera berlari kecil keluar kamar.
"Hei tunggu aku kancil kecil" teriak Marvin mengikuti langkah Kirani.
__ADS_1