
Karin kemudian berjalan duduk di depan Marvin, “Marvin di mana putriku?” tanya Karin.
“Nela sedang tidur di ruang pribadiku, jangan ganggu dia” jawab Marvin.
"Baik lah" ucap Karin, kemudian Karin merasa canggung karena Marvin menatapnya tampa berkedip.
"Di mana papah Nela, kalian baik-baik saja?" tanya Marvin tiba-tiba.
"Ba baik, kami baik-baik saja?" jawab Karin gugup.
"Maksud aku, hubungan Nela dan papahnya?" tanya Marvin penuh selidik.
"Seperti nya aku tidak perlu membahas masalah pribadiku di kantor?" jawab Karin mengalihkan pembicaraan.
Marvin kemudian berdiri dan bejalan duduk di samping Karin, "Yah sudah kalau kamu tidak nyaman membahas masalah pribadimu dengan ku" ucap Marvin.
Karin hanya tersenyum dan memilih diam saja, agar Marvin tidak semakin mencurigai nya.
"Yah sudah kita makan dulu yah" tanya Marvin.
"Tawaran yang bagus, kebetulan aku juga belum makan siang" jawab Karin dengan ekspresi ceria sambil memegang perutnya.
Marvin jadi gemes dengan Karin, "Tunggu yah" lalu berdiri ke meja kerja nya.
Marvin kemudian memencet telpon yang terhubung pada sekertaris nya, "Siska antar makan siang ke ruangan ku dua porsi" perintahkan Marvin.
Tidak lama kemudian seseorang membawa makan keruangan Marvin, lalu Karin merapikan makanan dia atas meja dan keduanya menikmati makan bersama.
Akhirnya keduanya sudah selesai makan dan Marvin melihat sisa makan di bibir Karin, lalu Marvin mencoba membersihkannya membuat Karin terdiam karena tangan Marvin menyentuh sudut bibirnya.
"Karin aku tau apa yang kulakukan adalah salah, mencintai seseorang wanita yang sudah memiliki suami, tapi tidak kah kamu ingin membantuku bersama-sama menanggung dosa ini" ungkap Marvin sambil menatap Karin penuh cinta.
Membuat Karin terhipnotis dan reflek memejamkan matanya, Marvin langsung m*l*mat bibir Karin penuh h*srat.
Karin menikmati ciuman Marvin dan perlahan-lahan setelah delapan tahun berlalu, untuk pertama kalinya membalas ciuman Marvin, membuat Marvin semakin bersemangat dengan aksinya di bibir Karin.
__ADS_1
Hingga akhirnya Karin sudah berbaring di sofa dan Karin sudah mengalungkan tangannya di leher Marvin yang berada di atasnya.
Marvin akhirnya melepaskan ciuman nya dan menatap wajah Karin, lalu perlahan melepas kaca mata Karin, "Sungguh kaca mata ini menggangguku karena aku tidak bisa melihat langsung mata indahnya mu ini" ucap Marvin.
Karin tersenyum manis, "Yah sudah, aku akan melepas nya" balas Karin yang masih berada di bawah Marvin.
Marvin menatap Karin dengan serius, "Karin akhirnya aku bisa melihat kembali senyum penuh kebahagiaan di bibirmu, setelah delapan tahun telah berlalu" ungkap Marvin.
Selanjutnya Marvin mencium kembali bibir Karin dengan sedikit agresif, karena senjata nya di bawa sana sudah dari tadi menegak yang dapat di rasakan oleh Karin.
Tangan Marvin juga sudah kemana-mana di balik baju Karin, yang kebetulan memakai baju kemeja, jadi sangat mudah bagi Marvin menyentuh buah kenyal yang sudah menantang di dalam sana.
"Om tampan, Mami" panggil Nela, yang ternyata sudah bangun dan sudah berada di depan pintu kamar pribadi Marvin.
Marvin dan Karin saling menatap sambil tersenyum dan menghentikan aksi mereka, Marvin langsung bangun dan bersandar di sofa, sementara itu Karin memperbaiki bajunya yang berantakan karena ulah Marvin.
Nela bejalan mendekati kedua orang tuanya dan langsung duduk di pangkuan Marvin, "Om tampan kok Mami di sini?" tanya Nela.
"Apa lagi sayang, iya untuk menjemput kamu" sahut Karin.
"Mam kita di sini saja sampai sore" pinta Nela.
"Mau om, Mami boleh kan?" tanya Nela sambil menoleh melihat mamahnya.
Karin melihat Marvin, lalu tersenyum mengangguk, "Boleh sayang" jawab Karin.
Marvin dan Karin berjalan keluar dan Marvin menggendong Nela, sambil mereka berbicara sambil tertawa, membuat para pegawai yang menyaksikannya menjadi heboh dan takjub, karena selama delapan tahun ini, mereka tidak pernah melihat CEO dari perusahaan itu terlihat begitu bahagia.
Ternyata kehebohan itu tidak luput dari pandangan Ryan, "Marvin akhirnya aku bisa melihat mu kembali tertawa dan bahagia, bodohnya aku tidak bisa melihat pernikahan mu dengan Zara hanyalah sandi wara" ucap Ryan sambil menatap kebahagiaan mereka.
Marvin dan Karin sudah berada di Mall, mereka membawa Nela ke tempat bermain anak, keduanya menyaksikan Nela yang sedang bermain dengan bahagia.
Sementara tangan Marvin tidak pernah berhenti menggenggam jemari Karin, seakan-akan tidak ingin di lepas.
"Marvin yang kita lakukan ini tidak salah kan?" tanya Karin, karena dia merasa berselingkuh di belakang Zara.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah dalam cinta sayang" jawab Marvin sambil melirik Karin yang terlihat khawatir.
Marvin melepas tangannya lalu merangkul pundak Karin, "Kalau kamu menganggap ini salah, ceraikan saja suamimu dan menikah lah kembali dengan ku" ajak Marvin.
"Tapi aku tidak siap di madu Vin" jawab Karin menatap lurus ke depan.
"Terserah kamu saja, yang penting kita seperti ini terus dan Nela bisa bahagia, biar waktu yang menyatukan kita" ucap Marvin lalu tersenyum menatap Karin.
Setelah puas menemani Nela bermain dan tidak terasa sudah malam, mereka kemudian makan malam bersama.
Saat pelayanan memberi menu makan, Karin memesan dua makanan yang tidak pakai Udang.
Setelah kepergian pelayan itu, Marvin bertanya pada Karin, "Yang Alergi Udang selain aku siap?" tanya Marvin.
"Nela juga Alergi Udang Vin" jawab Karin santai.
Marvin langsung menatap tajam Karin, "Kok bisa kebetulan gitu" ujar Marvin.
Karin secepatnya mencari alasan agar Marvin tidak curiga, "Pada umumnya kan orang alergi Udang, jadi ini bukan hal yang bisa di pertanyakan Vin" jelas Karin.
"Benar juga, kenapa aku mempertanyakan itu" Balas Marvin.
"Bukan kah Mami bilang, kalau Papah alergi Udang juga" sahut Nela.
"Iya sayang, papah juga alergi Udang" ucap Karin sambil mengusap rambut putrinya lalu melihat ke arah Marvin.
"Ternyata papanya juga alergi udang, kenapa tidak bilang dari tadi" sambung Marvin sedikit cemburu.
Karin yang menyadari Marvin sedang cemburu, langsung mengusap punggung tangan Marvin agar bisa tenang, "Papahnya itu kamu Marvin" batin Karin.
Marvin yang mendapat perlakuan lembut dari Karin langsung lulu, kecemburuan langsung hilang.
"Sayang hanya kamu yang bisa mengerti aku dan membuat ku langsung tenang" batin Marvin sambil tersenyum melihat Karin.
Tidak lama kemudian pesanan mereka sudah datang dan mereka menikmati makanannya, setelah makan malam, Marvin mengantarkan Karin dan Nela pulang kerumahnya.
__ADS_1
Setelah mobil sampai di depan rumah Karin, ternyata Nela sudah tertidur, kemudian Marvin menggendong Nela naik kamarnya dan Karin berjalan di belakang Marvin dengan tersenyum haru melihat kasih sayang Marvin pada Nela, meski Marvin tidak mengetahui siapa Nela sebenarnya.
Marvin membaringkan Nela di tempat tidur nya dan menyelimuti nya, lalu mencium kening Nela, "Semoga mimpi indah gadis manis ku" ucap Marvin.