Gadis Virgin Milik CEO

Gadis Virgin Milik CEO
MAKAN MALAM


__ADS_3

Marvin dan Steven menikmati makan siang tersebut sambil mengobrol bersama.


"Saya sangat tertarik bekerja sama dengan anda tuan Steven" ucap Marvin.


"Terima kasih, saya terkesan ternyata tuan Marvin sangat lah ramah" timpal Steven.


"Kalau dua perusahaan besar bekerja sama, akan sangat menguntungkan kedua belah pihak" sambung Marvin.


"Benar sekali tuan Marvin, apa kah itu tandanya anda ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan kami" tanya Steven.


"Tentu saja tuan Steven" jawab Marvin.


"Wah terimakasih tuan Marvin" ucap Steven.


"Bagaimana untuk merayakan kerja sama dua perusahaan kita, saya mengundang anda untuk makan malah di rumah saya" sambung Marvin.


"Dengan senang hati saya menerima undangan anda dan saya akan datang" balas Steven.


Setelah pembicaraan semuanya selesai, mereka sama-sama meninggal restoran tersebut.


Setelah bertemu Marvin, Steven mendatangi sekolah Azka dan melihat Azka dari kejauhan.


Steven tidak berani menghampiri putranya, bagaimana pun dia merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan, dengan mata Steven berkaca-kaca melihat putranya.


Tiba-tiba matanya tertuju pada Nela yang sedang bermain dengan Azka, "Itu Nela?, iya aku tidak salah itu memang Nela" ucap Steven.


Kemudian Steven tersenyum penuh arti dan menyuruh sopirnya untuk jalan.


********


Malam ini, waktunya makan malam di rumah Marvin dan semua makan sudah tersedia di meja makan.


Marvin dan Kirani juga sudah siap, sementara Nela sedang bermain di ruang tengah bersama Bi Yati.


"Sayang, apa segitu penting rekan kerja kamu kali ini?" tanya Kirani.


"Tidak juga aku hanya penasaran dengannya, perusahaan nya bukan lah perusahaan kecil" jawab Marvin.


"Benarkah, aku juga jadi penasaran" sambung Kirani.


"Seperti dia sudah datang, ayo sayang kita menyambut nya" ajak Marvin, sambil menggandeng pinggang istrinya.


Ternyata benar Steven sudah datang dan betapa terkejut Kirani saat melihat Steven yang datang.

__ADS_1


"Sayang, dia rekan kerja mu yang ingin datang?" tanya Kirani untuk memastikan,


"Iya sayang, dia tuan Steven" jawab Marvin.


"Tapi sayang, dia juga teman aku yang ku ceritakan itu" sambung Kirani sambil melihat suaminya.


Marvin langsung melihat Kirani, "Benar kah, ini sangat ke betulan" timpal Marvin.


Steven sudah sampai di depan Marvin dan Kirani, "Selamat malam tuan Marvin" sapa Steven dan beralih sedikit menunduk melihat Kirani.


"Selamat malam Karin" sapa Steven sambil tersenyum akrab pada Kirani.


"Steven, kamu berhutang penjelasan padaku" balas Kirani terlihat akrab.


Marvin sedikit cemburu melihat keakrabpan mereka "Wah kebetulan sekali tuan Steven, ternyata kalian berteman dekat" ucap Marvin.


"Sebaiknya kita masuk kedalam saja tuan Steven" sambung Marvin.


Ketiganya pun berjalan masuk dan Steven melihat Nela sedang bermain di ruang tengah, kemudian Nela juga melihat kedatangan Steven.


"Om Steven" panggil Nela.


Steven pun menghampiri Nela, "Apa kabar Nela sayang" tanya Steven lalu duduk di samping Nela.


"Baik Om, sekarang aku sudah punya papah Om" cerita Nela.


Sementara itu Marvin dan Kirani melihat mereka, "Aku tidak percaya seorang wanita dan pria bisa berteman, pasti ada salah satunya punya rasa" ucap Marvin menyindir.


"Itu kan kata yang pernah aku ucap kan sayang" balas Kirani.


"Itu lah makanya, aku menanyakan balik padamu" timpal Marvin.


"Aku kan sudah katakan padamu sebelumnya, kalau dia tidak percaya pernikahan" ungkap Kirani.


"Itu bukan jawaban pertanyaan ku sayang" ujar Marvin.


"Tanyakan saja padanya" ucap Kirani lalu berjalan ke depan.


Ketiganya pun akhirnya makan malam bersama, Marvin dan Steven terlihat cepat akrab.


"Stev sekarang kamu jelas kan, kehadiran kamu di kantor aku kemarin, kamu sudah tau kan semuanya" tanya Kirani.


Marvin juga menunggu jawaban dari Steven, karena di juga penasaran tujuan Steven sebenarnya.

__ADS_1


"Jujur yah tuan Marvin, Kirani, sebelum saya ke indo, saya tidak pernah mengetahui identitas Kirani sebenarnya, aku sempat syok dengan berita kalian yang menghebohkan berita nasional" jelas Steven.


"Iya pasti dong Stev, kamu kan tidak pernah tau identitas ku, karena aku sengaja menyembunyikan nya" timpal Kirani.


"Tapi sayang, Steven ini selalu membantuku di setiap langkah dalam karirku" sambung Kirani.


"Terimakasih tuan Steven, selalu membantu istri yang paling aku cinta ini" ucap Marvin.


Steven yang mendengar Marvin membahas tentang istri, jadi membuat nya ada celah untuk bertanya ke hal yang pribadi, "Hemmm maaf sebelumnya, istri kedua tuan Marvin tinggal di rumah yang berbeda, karena aku tidak melihat nya dari tadi" tanya Steven untuk memancing reaksi Marvin selanjutnya.


Kirani langsung menatap Marvin, membuat Marvin sedikit sulit untuk menjawab, Kirani baru saja ingin menjawab, tapi tangannya di genggam erat oleh Marvin agar tidak bicara.


Marvin kemudian meneguk air, "Kamu tentu pernah mendengar, kalau Marvin Jansen tidak pernah mau membahas hal pribadinya" ucap Marvin dengan serius.


“Maaf tuan Marvin, saya terlalu lancang” ucap Steven.


“Apa makanan nya enak tuan Steven? ” tanya Marvin mengalihkan pembicaraan.


“Sangat enak, bahkan aku hampir lupa untuk berhenti” jawab Steven.


Ketiganya pun sudah selesai makan malam dan Steven pamit untuk pulang, kemudian Marvin dan Kirani mengantarkannya keluar.


“Oh yah tuan Marvin, apa boleh saya mengajak istri anda untuk menemani saya jalan-jalan di kota ini, karena teman saya hanya Kirani di sini” ucap Steven santai.


Sementara Kirani sudah menatap tajam pada Steven, tapi Steven pura-pura tidak melihat Kirani.


“Tentu boleh Tuan Steven, apa lagi kalian sudah berteman sebelumnya dan sudah banyak membantu istri saya” balas Marvin.


“Sekali lagi terimakasih tuan Marvin, saya permisi dulu” pamit Steven.


Marvin dan Kirani menatap ke kepergian Steven, “Ternyata dunia ini memang sangat sempit, sangat kebetulan ternyata kamu bisa bekerja sama dengan Steven” ucap Kirani.


“Tidak ada yang kebetulan di dunia ini sayang” balas Marvin sambil merangkul pundak istrinya berjalan masuk.


“Maksud kamu apa sayang?” tanya Kirani tidak mengerti.


Marvin mengabaikan pertanyaan Kirani, “Sekarang kamu duluan naik ke kamar yah, aku keruang kerja dulu” ucap Marvin lalu mengecup bibir Kirani.


Kirani langsung berjalan naik tangga dan Marvin menuju ruang kerja nya.


Setelah sampai di ruang kerja nya, Marvin langsung menelpon Ryan, "Ryan selidiki identitas Steven Ricardo" perintah Marvin dengan menatap tajam ke depan, lalu mematikan panggilnya.


Sementara itu Steven langsung pulang ke rumahnya dan langsung mengambil handuk lalu berjalan masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Setelah selesai mandi, Steven kemudian duduk santai dengan menyalakan rokoknya dan menghisap nya dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan.


"Aku yakin ada sesuatu yang tidak beres, wajah Marvin langsung berubah saat aku menyebut nama Zara, kalau memang Zara tidak bahagia bersama dirinya, aku akan mengambil Zara kembali dan menebus semua kesalahan ku selama ini" pikir Steven.


__ADS_2