
Setelah menarik pengikat baju Karin, Marvin kembali bercumbu mesra dengan Karin dan sempat melakukan satu ronde, sebelum baju mereka datang.
Setelah sopir mengantar baju mereka, Marvin kemudian mengantar Karin pulang ke rumahnya, "Sayang kamu istirahat yah" ucap Marvin lalu mengelus rambut Karin.
"Iya sayang" balas Karin.
Karin baru saja ingin membuka pintu mobil, tapi Marvin langsung menarinya dan mencium bibir nya, sementara sopir di depan melihat kelakuan bosnya dari kaca spion tengah, terpaksa harus pura-pura tidak melihat nya.
Setelah ciuman panas itu, Karin membuka pintu mobil dan berlari masuk ke rumahnya, sementara Marvin menatap tajam penuh arti pada Karin sampai tidak terlihat, barulah Marvin menyuruh sopir untuk jalan.
**********
Di perusahaan Jansen group, Marvin sedang duduk bersandar di kursi kebesaran nya sambil melihat foto Karin delapan tahun yang lalu.
"Kirani sayang, ternyata setelah delapan tahun berpisah kamu salah menilai ku, tapi satu hal yang perlu kamu ingat kalau Marvin Jansen tidak bodoh" ucap Marvin pada foto Karin, lalu membayangkan malam di mana Marvin kembali melakukan penyatuan bersama Karin.
"Kirani kamu tentu lupa kalau suamimu ini sangat berpengalaman dalam berhubungan, jadi tentu aku dapat merasakan kalau ternyata kamu sudah lama tidak pernah melakukan hubungan suami istri lagi, bahkan kamu terasa seperti Virgin kembali, hanya saja tidak ada dara perawan lagi" sambung Marvin masih menatap foto Karin.
Tiba-tiba pintu di ketuk seseorang, "Masuk" ucap Marvin.
pintu pun di buka seseorang, ternyata Ryan yang datang membawa laporan perusahaan, "Bos ini harus di tanda tangani" sambil memberikan berkas di depannya.
Marvin segera menandatangani berkas itu dan memberikannya pada Ryan kembali, "Baik bos saya permisi" ucap Ryan.
"Tunggu Ryan" cegah Marvin.
"Ada apa bos?" tanya Ryan.
"Selidiki identitas suami Karin di luar negeri, aku mau secepatnya" perintah Marvin.
"Baik bos, tapi bos tidak ada niat kan menghabisinya" tanya Ryan sedikit khawatir.
"Gila kamu Ryan, Marvin Jansen bukan seorang mafia yang seenaknya menghabisi orang" jawab Marvin sambil melempar berkas kepada Ryan, dengan sigap Ryan menangkapnya.
"Selesaikan itu" sambung Marvin lalu berdiri berjalan ke dinding kaca yang ada di ruangannya.
"Baik bos, saya permisi" ucap Ryan menunduk hormat pergi.
Setelah kepergian Ryan, Marvin menatap penuh rencana sambil melihat keluar gedung perusahaannya.
Marvin kemudian berniat menjemput Azka di sekolah nya dan Marvin segera meninggalkan perusahaannya.
__ADS_1
Setelah sampai di sekolah Azka, Marvin melihat Nela dan Azka sedang bermain bersama menunggu sopir penjemputan nya.
Di saat yang bersamaan, Zara juga sudah sampai ingin menjemput Azka karena kebetulan Zara juga ingin keluar mengajak putranya jalan-jalan.
"Zara kamu di sini?" sapa Marvin.
"Iya Vin, aku ingin menjemput Azka" jawab Zara.
Dan keduanya berjalan masuk, "Om tampan" panggil Nela.
Marvin kemudian berjalan duduk di antara Azka dan Nela, "Kalian berdua sedang main apa?" tanya Mervin.
Zara tersenyum melihat Marvin yang sedang bermain dengan Azka dan Nela.
Di saat yang bersamaan Karin juga datang menjemput Nela dan tentu melihat kehadiran Marvin dan Zara di sana.
Marvin yang melihat kedatangan Karin langsung berdiri dan menghampiri nya, "Sayang kamu juga di sini" tanya Marvin sambil mengelus lembut rambut Karin, yang tentu membuat Karin merasa risih karena ada Zara di situ juga.
Zara langsung membuang pandangannya ke sembarang arah, lalu mengajak Azka untuk pulang.
"Vin jaga sikap kamu dong, di sini kan ada Zara, aku terlihat sangat jahat" bisik Karin.
"Itukan yang terlihat" jawab asal Marvin.
"Mah kita kan mau jalan-jalan, kok papah gak ikut" sahut Azka.
Zara langsung berjongkok pada putranya, "Hari ini papah sedang sibuk, lain kali saja yah sama papah" bujuk Zara.
Marvin kemudian mendekati Azka, "Jagoan papah mau di temani, siapa komandan perintah di laksanakan" ucap Marvin.
"Horeee itu kan mah, papah bisa nemenin kita" ucap Azka.
Terlihat Nela bersedih melihat Azka yang punya papah dan bisa pergi kapan pun yang di ingin kan, Karin yang melihat kesedihan putrinya langsung berjalan kebelakang Nela sambil mengusap pundaknya.
Marvin kemudian menoleh melihat Karin dan Nela, "Karin aku pergi dulu yah" pamit Marvin dan beralih pada Nela, "Gadis manisnya om jangan nakal yah" sambung Marvin sambil mengacak-acak rambutnya putrinya.
"Kami duluan Karin" pamit Zara dan di balas anggukan oleh Karin. Ketiganya pun berjalan pergi.
"Mam kenapa Nela tidak mempunyai Papah sepertinya yang lain?" tanya Nela polos, tapi ucap Nela bisa di dengar Marvin.
Karin yang mendengar pertanyaan putrinya, membuat matanya berkaca-kaca dan tidak bisa menjawab pertanyaan putrinya.
__ADS_1
"Cukup, aku tidak boleh egois merebut kebahagiaan istri dan seorang anak, mungkin Zara tidak bisa mendapatkan cinta Marvin, tapi baginya sudah cukup bahagia, kalau Marvin bisa selalu ada untuk putranya" batin Karin melihat kepergian mereka.
"Nela sayang, nanti kalau Nela sudah besar, baru mami bisa jelasin yah, kita pulang sekarang" Ucap Karin.
"Iya Mam" balas Nela.
*********
Malam hari di rumah utama Marvin, Marvin sedang berada di ruang kerjanya, sedang menunggu kehadiran Ryan.
Tidak lama kemudian Ryan datang dan membawa beberapa berkas tentang Karin, "Selamat malam bos" ucap Ryan.
"Malam Ryan, apa tugas yang ku berikan sudah selesai?" tanya Marvin.
"Sudah Bos, aku tidak menemukan identitas suami Karin" ucap Ryan.
"Maksud kamu apa Ryan" tanya Marvin tidak mengerti.
"Karena seperti Karin tidak pernah menikah lagi, sebab identitas asli tidak pernah di rubah" jelas Ryan dengan wajah serius.
"Apa ucap mu itu bisa di buktikan Ryan?" tanya Marvin dengan menatap tajam pada Ryan.
Ryan kemudian memberikan berkas pada Marvin, bukti identitas asli Karin, secepatnya Marvin mengambil berkas itu dan segera memeriksanya.
Terlihat semua berkas identitas Karin, masi tertulis nama KIRANI ANASTASIA dan delapan tahun belakang ini tidak pernah berganti ke warganegaraan, jadi kemungkinan besar Kirani belum pernah menikah dan status Kirani masi istri sah Marvin secara hukum.
Setelah membaca semua kenyataan yang ada, Marvin tersenyum penuh kebahagiaan di mata nya.
"Tapi bos ada kabar buruk" timpal Ryan.
"Apa itu Ryan?" tanya Marvin.
"Hubungan bos dengan Karin sudah tercium media sejak pesta malam itu dan semua menghujat desainer Miss Karin sebagai selingkuhan dari CEO Jansen group" jelas Ryan.
Marvin terlihat khawatir, "Biar aku yang mengurus semuanya" balas Marvin.
"Kalau begitu, aku permisi dulu bos" pamit Ryan.
"Pergilah Ryan" ucap Marvin, kemudian Ryan meninggalkan rumah utama Marvin.
"Kirani kenapa kamu menyembunyikan banyak hal padaku, apa kah masi ada yg kamu sembunyikan, terus kalau kamu tidak pernah menikah lagi, Nela Siapa? " pikir Marvin.
__ADS_1
"Dan aku janji akan mengembalikan nama Kirani lagi, istri satu-satunya Marvin Jansen" janji Marvin dengan menatap lurus ke depan.