
Setelah meniggalkan ruangan Bram, Kirani langsung masuk toilet dan meluapkan tangisannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, apa Marvin mempermainkan diriku" pikir Kirani sambil mengusap air matanya.
"Kirani jangan memikirkan macam-macam dulu, tunggu rekaman pembicaraan mereka" ucap Kirani untuk menepis pikiran nya.
Sementara di ruangan Bram, Bram masi menunggu kemauan Marvin selanjutnya, "jadi apa rencana kamu selanjutnya Marvin" tanya Bram.
"Saya tidak akan menceraikan istri saya, tapi saya kan menepati janji akan menghancurkan perusahaan Mario brata, seperti yang om Bram inginkan" ucap Marvin.
"Saya tidak salah dengar kan Marvin, kamu akan menghancurkan perusahaan orang tua wanita yang kamu inginkan, tapi masih berharap bisa bersama dengan putrinya" balas Bram mengejek jalan pikiran Marvin.
"Kalau begitu hentikan balas dendam Om Bram pada Mario Brata, maka semuanya akan baik-baik saja" sambung Marvin.
"Ha....ha... ha.... sekarang kamu sudah berani melawan aku Marvin" ucap Bram sambil berdiri lalu mengangkat tongkatnya di atas meja di depan Marvin.
Marvin menarik nafasnya menahan emosinya, tapi bagaimana pun dia tidak bisa melawan Bram, karena hutang budi Bram sangat besar padanya.
"Jadi mau om Bram apa?" tanya Marvin menatap tajam pada Bram.
Bram menurunkan tongkatnya dan berjalan di samping Marvin, "Kita masih di rencana awal, kalau kamu harus menikahi Zara dan menghancurkan perusahaan Mario Brata" ucap Bram membalas tatapan Marvin.
"Bari aku waktu, tapi tidak sekarang" balas Marvin.
Bram kembali duduk kursinya, "Jangan coba untuk menghianati ku Marvin, Karena gadis yang kamu cintai itu yang akan menanggung akibatnya" ancam Bram.
Ancaman Bram membuat Marvin sangat marah, "Jangan pernah menyentuhnya" ucap Marvin memperingati Bram, sambil berdiri meninggal kan ruangan Bram.
Selang beberapa saat telah berlalu, saat ini Kirain sedang mengedap-ngedap di ruang cuci piring mencari rekaman yang sudah dia simpang, dari ruangan Bram.
Kirani terlihat bingung dan gelisah karena tidak menemukan rekaman tersebut, tapi tiba-tiba ada seorang pria yang mendekap mulutnya dan membawanya di tempat yang sepi.
Kirani mencoba melawan tapi apa daya, kekuatannya tidak biasa melawan, "hmmm" suara Kirani mencoba berteriak.
__ADS_1
Pria itu menyandarkan Kirana di tembok, membuat Kirani dapat melihat pria itu dan membuatnya sangat terkejut, karena ternyata pria itu adalah Marvin.
"Kamu mencari ini sayang" ucap Marvin sambil memperlihatkan rekaman itu di depan wajah Kirani, di balas anggukan oleh Kirani karena mulutnya masi di tutup.
"Sayang kenapa berani sekali, apa kamu punya nyawa cadangan" ucap Marvin sambil melepas tangannya di mulut Kirani.
"Berikan padaku, aku yang kamu sembunyikan dariku" balas Kirani.
"Kalau begitu ikut denganku sayang" ajak Marvin sambil menarik tangan istrinya menuju mobilnya.
Setelah sampai di mobilnya Marvin menyuruh sopirnya membawa pulang mobil Kirani, kemudian membukakan pintu mobil untuk Kirani, dan mengemudikan mobilnya meninggalkan perusahaan Bram Wijaya.
Marvin melirik istrinya sambil fokus mengemudi, yang terlihat diam saja, "Sayang kamu sudaha makan?" tanya Marvin.
"Udah kok, kita mau kemana?" jawab Kirani kembali bertanya.
"Ke suatu tempat sayang" jawab Marvin sambil mengelus kepala Kirani dengan satu tangannya.
Beberapa saat kemudian, mobil Marvin telah sampai di bekas kediaman orang tuanya, yang terlihat masi bersih karena ada seseorang yang selalu menjaga dan membersihkannya.
"Ayo turun sayang" ajak Marvin sambil melepas sabuk pengamannya.
Marvin dan Kirani kemudian berjalan masuk rumah dan di sambut penjaga rumah tersebut, "Selamat datang tuan" ucap penjaga rumah tersebut, di balas anggukan oleh Marvin.
Kirani berjalan duduk di sofa dan Marvin juga ikut duduk di sampingnya, "Ini rumah orang tuaku sayang" ucap Marvin lalu melihat istrinya.
"Terus mereka di mana?" tanya Kirani sambil melihat sekeliling.
"Mereka sudah meninggal 23 tahun yang lalu, dalam kecelakaan maut, karena remnya blong" ungkap Marvin.
Mata Kirani langsung berkaca-kaca mendengar perkataan suaminya, lalu melihat ke arah Marvin yang terlihat sedih.
Kirani kemudian memegang lengan Marvin dan bersandar di lengannya, "Sayang, sekarang aku ngerti kenapa om CEO sangat sulit untuk menceritakan tentang masa lalu" ucap Kirani sambil mengusap-usap lengan suaminya agar bisa lebih terang.
__ADS_1
Marvin kemudian mengambil rekaman percakapannya dengan Bram, di saku dalam jasnya, "Kamu mau ini sayang" ucap Marvin sambil memperlihatkan di depan Kirani.
"Berikan pada ku sayang" ucap Kirani dan ingin mengambil rekaman itu, tapi Marvin mengangkat tangannya ke atas, membuat Kirani jatuh ke dada Marvin.
Marvin langsung memeluk istrinya dan mencium keningnya, "Sayang aku akan memberikan rekaman ini, tapi aku akan cerita semuanya dan berjanjilah tidak akan meninggalkan ku" ucap Marvin.
"Maaf aku tidak bisa janji sayang, karena aku tau pasti siapa Bram Wijaya itu, dia adalah musuhnya papah ku" balas Kirani.
Marvin langsung menarik nafasnya, "Sekarang aku akan cerita, agar kamu tau posisi aku nantinya" timpal Marvin.
Wajah Kirani berubah menjadi serius, lalu bagun dari pelukan Marvin dan menanti penjelasan Marvin.
*Marvin mulai bercerita dari pembunuhan berencana kedua orang tuanya yang dia dengar sendiri, tapi tidak biasa berbuat apa-apa, hingga dirinya di sekap seperti binatang oleh pamannya sendiri* cerita Marvin, sementara Kirani mendengar kan dengan serius.
*Lanjut cerita, hingga pada suatu hari dirinya melarikan diri kemudian Bram yang menolongnya dan menjadikannya anak angkat, tidak sampai di situ hutan budi yang di berikan Bram padanya, tapi di mana puncaknya ketika Bram telah tertabrak demi menolong diri nya dan kakinya harus di amputasi* cerita Marvin.
"Begitu besarnya pengorbanan Pak Bram padaku, hingga aku tidak bisa menolak keinginannya" ucap Marvin.
Penjelasan Marvin membuat Kirani menjadi sedih dan perihatin dan meneteskan air matanya.
Marvin kemudian memberikan rekaman itu pada Kirani dan Kirani segera mendengarkan nya.
Kirani yang mendengar rekaman percakapan antara suaminya dan Bram, membuatnya menjatuhkan rekaman itu dan menutup mulutnya karena syok.
"Maafkan aku sayang, tapi terpaksa aku akan menghancurkan perusahaan papah mu, karena aku sudah berjanji pada Pak Bram akan melakukan apa pun yang dia inginkan, setelah membantu ku membalas dendam atas kematian kedua orang tuaku" jelas Marvin sambil memegang erat kedua tangan Kirani.
Kirani menarik tangganya dan dari genggaman Marvin lalu menangis, "Hiks... hiks... hiks... apa kamu juga akan menikahi Zara" tanya Kirani di sela isak tangisan.
Marvin langsung memeluk istrinya untuk menenangkannya, tapi membuat Kirani menangis sejadi-jadinya.
"Sayang, papah tidak akan bertahan hidup, kalau beliau harus kehilangan kedudukannya dan martabatnya" ucap Kirani masi dalam pelukan Marvin.
"Kamu tenang saja sayang, aku sedang memikirkan cara agar semuanya baik-baik saja" ucap Marvin sambil menatap tajam ke depan.
__ADS_1
keduanya pun larut dalam kesedihan dan mereka menikmati waktunya di rumah itu sampai malam.