
Elmira sedang duduk di salah satu restoran, sedang menunggu kedatangan Ryan yang memintanya bertemu di tempat itu.
"Ngapain yah, kak tampang itu ngajak gue ketemuan" pikir Elmira sambil meminum minumannya.
"Hei sudah lama menunggu" tanya Ryan yang tiba-tiba duduk di depannya.
"Gak kok kak, barusan" jawab Elmira santai, karena Elmira memang orangnya kalem.
"Kenalkan namaku Ryan Alvano" sambil mengulurkan tangannya.
Di sambut oleh Elmira, "Aku Elmira Revalina"
"Sejak kapan kamu sahabatan dengan Kirani" tanya Ryan, tampa basa-basi.
"Sejak SD, kami sudah satu sekolah, emangnya kenapa?" tanya balik Elmira.
"Kamu tentu tau kan apa yang di sukai Kirani" Ryan kembali bertanya.
"Ngapain kak Ryan nanyain apa yang di sukai Kirani, jangan-jangan naksir yah?" tebak Elmira penuh selidik, karena tidak mungkin dia sembarang memberitahu pada orang rahasia sahabatnya, tampa alasan yang jelas.
"Santai aja Ra, aku bukan pebinor kok, langsung curiga aja bawaanya" sambung Ryan.
"Habisnya kak Ryan langsung nanya aja, yah wajan kan gue curiga" balas Elmira.
"Sebenarnya pak Marvin yang ingin tau, apa kamu bersedia mengatakannya" ucap Ryan.
"Sebenarnya Kirani tidak ada sangat menyukai satu benda, karena pribadinya juga tidak glamor, tapi kalau pasangan ideal ada" ungkap Elmira sambil berfikir.
"Nah pasangan seperti apa yang dia inginkanya" cecar Ryan.
"Dia sering bermimpi punya pasangan, yang bisa memberikannya hal yang tak terduga yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya" cerita Elmira.
"Terus" ucap Ryan.
"Dan intinya bisa mengerti dirinya, yang apa adanya dan setia pastinya" sambung Elmira.
"Hanya itu" tanya Ryan.
"Hanya itu kak, tapi sampai Kirani menikah dia tidak menemukannya" ucap Elmira.
"Makasih yah infonya adik cantik, kalau kamu butuh sesuatu hubungi aku aja, kakak janji akan membantu" ucap Ryan sambil tersenyum nakal lalu berdiri dan pergi.
Elmira menatap kepergian Ryan dan tersenyum sambil menghabiskan minumannya.
__ADS_1
********
Malam hari di kediaman Marvin, Kirani sedang serius belajar di kamarnya, dia sedang duduk di atas kasur dan sibuk dengan leptopnya.
Jam menunjukan pukul 11:00 Kirani masi sibuk dengan tugasnya.
Sementara Marvin juga sedang sibuk di ruang kerjanya, pada akhirnya Marvin menutup leptopnya.
"Akhirnya selesai juga" ucapnya sambil berdiri merenggangkan otot-ototnya.
Marvin kemudian berjalan menuju kamarnya dan pelan-pelan membuka pintu dan ternyata Kirani masi serius belajar.
Marvin menghampiri istrinya dan duduk di sampingnya, "Mau aku bantu, sepertinya kamu kesulitan" ucap Marvin sambil melihat ke arah leptop.
"Iya nih om, tugasnya agak berat" jawab Kirani sambil mengarahkan leptop ke arah suaminya, tapi matanya masi tertuju pada layar leptop.
Marvin memencet leptop itu dan menjelas pada Kirani, apa yang harus di lakukan.
Sementara Marvin serius menjelaskan, Kirani malah tidak fokus pada tugasnya, dia malah memperhatikan wajah suaminya yang terlihat dua kali lipat lebih gagah saat menjelaskan.
"Nah sekarang selesai" ucap Marvin lalu menoleh melihat Kirani, membuat pandangannya bertemu.
Kirani secepatnya tepuk tangan dengan pelan, "Wah om sangat hebat, sekejap saja semuanya sudah selesai" ucapnya dengan wajah salah tingkahnya, karena ketahuan menatap Marvin diam-diam.
"Dasar kancil kecil" ucap Marvin sambil memencet hidung istrinya.
Marvin tidak menjawab dia malah menatap Kirani dalam-dalam, dan perlahan-lahan menyentuh leher istrinya.
Kirani yang merasa malu di tatap suaminya membuatnya memejamkan matanya, membuat Marvin tersenyum tipis, lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Kirani.
Marvin kemudian mencium bibir mungil istrinya, dan perlahan-lahan Kirani membalas ciuman Marvin yang semakin panas.
Setelah cukup lama menikmati bibir manis istrinya, Marvin menghentikan aksinya, membuat Kirani membuka matanya.
"Kenapa kamu mau menikah dengan om, sedangkan usia kita selisih belasan tahun" tanya Marvin tiba-tiba.
"Seperti om tau, keluarga kami butuh uang agar perusahaan papah tidak bangkrut" jawab Kirani.
"Maafkan om salah menilai kamu selama ini Kirani" ucap Marvin sambil mengusap lengan Kirani.
"Tidak ada yang salah om, bukankah memang seperti itu kenyataanya, hanya wanita murahan yang mau menukar dirinya dengan uang" tutur Kirani.
"Stop" ucap Marvin sambil menempelkan telunjuknya ke bibir Kirani.
__ADS_1
"Tapi faktanya kamu tidak pernah memakai uangku dan meminta apa pun dariku, jadi aku yakin ada alasan lain yang membuatmu mau menikah denganku" sambung Marvin.
"Ternyata om sangat mudah, merubah sudut pandangnya tentang wanita, bisa aja kan gue punya rencana lain" ucap Kirani mencoba berargumen dengan suaminya.
Marvin tersenyum lebar dan tertawa terbahak-bahak, "Ha...ha...ha... Sayang suamimu kamu ini tidak mungkin jadi pengusaha sesukses ini, kalau salah menganalisis seseorang" ucap Marvin membanggakan dirinya.
Kirani tersenyum melihat suaminya, "Kalau begitu, apa om mau nemenin Kirani, ke rumah papa dan mama besok" ajak Kirani.
"Oke tidak ada masalah, besok hari minggu kan" balas Marvin.
"Makasih om" sambil tersenyum manis.
Marvin yang melihat istrinya tersenyum manis membuat jiwa kelelakianya bangkit, secepatnya dia berbaring membelakangi Kirani, "Ayo tidur sudah malam".
Kirani kemudian ikut berbaring sangat dekat di samping suaminya dan Marvin yang merasakan kulit Kirani menyentuhnya, segera memutar tubuhnya menghadap Kirani.
Langsung mendekap tubuh kecil istrinya dan menarik selimut menutupi dirinya, "Karena kamu dekat-dekat, jadi kamu harus tanggung jawab" ucap Marvin di balik selimut.
*******
Di kediaman Mario Brata, (Orang tua Kirani), Mario dan istrinya Intan Pertiwi sedang berbincang bersama di ruang keluarga.
"Pah gimana kesehatannya sekarang" tanya Intan pada suaminya yang sedang membaca majalah bisnis.
"Sudah membaik mah, apa lagi sekarang keuangan perusahaan kembali membaik, berkat menantu kita" ucap Mario sambil menutup majalahnya.
"Pah sepertinya ada mobil yang datang" sambung Intan.
"Ayo mah kita lihat" ajak Mario sambil berdiri, di ikuti istrinya.
Baru saja Mario dan Intan ingin sampai di pintu, tiba-tiba pintu terbuka dan terlihatlah Marvin dan Kirani berdiri di ambang pintu.
"Eh nak Marvin, Kirani kalian yang datang, ayo masuk" panggil Intan.
"Kalian kenapa tidak mengabari kami terlebih dahulu" sambung Mario sambil mengarahkan Marvin untuk duduk.
Marvin kemudian melihat ke arah Kirani yang tidak nyaman dengan sikap formal orang tuanya, kemudian beralih melihat mertuanya.
"Pah jangan terlalu formal, ini bukan kantor" sambil berjalan duduk di ruang tamu.
Sementara Kirani melihat papah dan mamahnya dan segera menghambur memeluk mamahnya.
"Aku kangen mah" ucap Kirani di selah tangisnya dan berpaling melihat papahnya, "Papah tidak salah memilih pasangan untuk Kirani, Marvin adalah pria yang bertanggung jawan" sambung Kirani.
__ADS_1
Marvin yang duduk di sofa, menoleh melihat pertemuan mengharumkan antara anak dan orang tua.
Mario segera menghampiri menantunya yang duduk di ruang tamu, di susul Intan dan Kirani.