Gadis Virgin Milik CEO

Gadis Virgin Milik CEO
SELAMAT SIANG MISS KARIN


__ADS_3

Seperti biasa pagi hari di rumah Marvin, sedang menikmati sarapan bersama, sementara Azka sudah berangkat ke sekolah di antar sopir nya.


Tinggal lah Marvin dan Zara di meja makan, seperti biasa suasana akan terasa tegang untuk Zara, tapi kali ini Zara ingin bertanya.


"Marvin soal wawancara itu, aku ingin bertanya" tanya Zara dengan ragu.


Marvin langsung menatap tajam pada Zara, "Aku tidak ingin membahas hal itu" jawab Marvin dingin.


"Ini tentang Miss Karin, apa menurutmu dia sangat mirip dengan Kirani?" Zara memberanikan diri kembali bertanya.


"Mau dia mirip atau tidak, sepertinya itu bukan urusan kamu Zara dan satu lagi aku ingatkan jangan pernah mengurus urusanku, karena kita BUKAN SUAMI ISTRI" ucap Marvin dengan mempertegas kalimat terakhirnya, lalu berdiri untuk berangkat ke kantor.


Sementara di perjalanan, Marvin melihat mobil yang mengantar Azka sedang berada di pinggir jalan, "Pak hentikan mobilnya" perintah Marvin pada sopirnya.


Mobil pun berhenti pas di samping mobil yang ingin mengantar Azka, Marvin kemudian membuka kaca mobil, "Ada apa?" tanya Marvin pada sopir Azka.


"Bannya bocor Tuan" jawab sopir itu.


"Biar Azka saya yang antara" ujar Marvin.


"Baik tuan" lalu membuka pintu mobil di mana Azka berada.


"Papah" panggil Azka saat melihat Marvin.


Sopir pun membuka pintu mobil Marvin untuk Azka, "Naik di sini jagoan ku, biar papah yang antar" panggil Marvin, kemudian Azka naik ke mobil Marvin.


Beberapa saat kemudian mobil sudah sampai di sekolah Azka, Marvin mengantar Azka sampai depan pagar sekolah.


"Azka" suara anak perempuan yang memanggil dari belakang.


"Pah itu Nela teman baru Azka" ucap Azka, membuat Marvin menoleh seketika.


Nela pun berjalan ke arah Azka dan melihat Marvin, "Om tampan" ucap Nela.


Marvin tidak bisa menahan rasa rindunya pada Nela, langsung saja Marvin berjongkok memeluk Nela, "Nela di antara siapa ke sekolah" tanya Marvin sambil melepas pelukannya.


"Sama sopir dan Mami, itu di sana mobil Mami" jawab Nela sambil menunjuk mobil Maminya dan di saat bersamaan, mobil Karin melaju pergi.


Sekilas Marvin melihat Karin di dalam mobilnya, "Apa itu Kirani?, ah tidak mungkin" batin Marvin.

__ADS_1


"Yah sudah kalian masuk, nanti terlambat" ucap Marvin pada Nela dan Azka sambil mengusap kepala keduanya.


Kemudian Marvin menyuruh sopirnya, melanjutkan mobilnya menuju perusahaan, pada akhirnya Marvin pun sampai dan langsung naik ke ruangannya.


Marvin duduk di kursi kebesarannya, sedang sibuk dengan laptopnya dan tiba-tiba pintu di ketuk seseorang, "Masuk" ucap Marvin masi fokus melihat ke leptopnya.


Ternyata Ryan yang datang dan langsung menghampiri Marvin, "Bos, asisten Miss Karin menyampaikan pesan, kalau Miss Karin ingin bertemu dengan bos?" ucap Ryan.


Marvin langsung menghentikan Aktivitasnya lalu tersenyum penuh arti dan menutup leptopnya.


"Bagaimana bos, apa saya harus atur waktu nya?" tanya Ryan.


"Tidak perlu Ryan, berikan padaku alamat kantor Miss Karin, biar saya yang menemuinya" balas Marvin masi dengan senyumannya.


"Baik bos" ucap Ryan menunduk hormat pergi.


Marvin kemudian langsung bergegas ke kantor Karin, dengan hati yang semangat dan terlihat jelas kebahagian di wajahnya.


Setelah sampai di kantor Karin, Marvin langsung di sambut oleh karyawan Karin yang sudah mengenal Marvin Jansen sebelum.


"Selamat datang tuan" sapa salah satu karyawan Karin.


"Iya nyonya ada di dalam, silahkan masuk tuan" ucap karyawan itu lagi sambil mengarahkan Marvin keruangan Karin.


Sementara karyawan lain mengagumi ketampanan Marvin Jansen, secara langsung .


Marvin sudah berada di depan pintu ruangan Karin, terlihat Karin sedang sibuk bersama Yanti.


"Selamat siang Miss Karin" sahut Marvin, membuat Karin terkejut mendengar suara Marvin, lalu melihat ke arahnya.


"Siang juga tuan Marvin" balas Karin tersenyum manis, lalu menghentikan pekerjaannya.


"Yanti kamu bisa keluar" perintah Karin pada asistennya.


"Saya permisi nyonya" ucap Yanti menunduk hormat pergi.


"Silahkan duduk tuan Marvin" ucap Karin sangat formal dan lebih dulu duduk di sofa yang ada di rumahnya.


Marvin berjalan pelan sambil mengamati ruangan itu, lalu duduk di hadapan Karin, "Arsitektur ruangan ini sangat nyaman" ujar santai Marvin berbasa-basi.

__ADS_1


Karin berusaha menahan diri, agar tidak terbawa suasana karena berada di dalam satu ruangan bersama pria yang masi dia cintai.


"Tuan Marvin kenapa repot-repot datang kemari, kita bisa bertemu di luar" ucap Karin dengan gaya anggunnya.


"Mungkin akan lebih nyaman kalau di ruangan tertutup seperti ini" ujar Marvin menatap Karin.


"Baik tuan Marvin, kita bisa membahas pekerjaan sekarang" balas Karin.


"Iya baik, apa ada yang ingin anda tanyakan atau persyaratan yang ingin anda utarakan?" tanya Marvin.


"Kita langsung saja, jika kami siap bekerja sama dengan perusahaan anda, apa yang anda jaminkan pada kami?" tanya Karin dengan menatap Marvin penuh tantangan.


"Semua yang kamu mau Miss Karin, saya tidak akan menolaknya" jawab Marvin sambil bersandar santai di sofa.


"Maaf tuan Marvin, saya bekerja secara profesional" ujar Karin sedikit panik karena sepertinya Marvin mencoba mendekati pribadinya.


Marvin kemudian berdiri, lalu duduk di samping Karin, "Tidak-tidak jangan salah paham Miss Karin, maksud saya semua yang kamu inginkan, akan di turuti perusahaan kami" jelas Marvin sambil mencium rambut Karin dari belakang, tapi Karin tidak menyadari apa yang di lakukan Marvin padanya.


Marvin secepatnya berdiri agar Karin tidak curiga dan melihat-lihat desain baju Karin yang ada di ruang itu.


Tenyata keberadaan Marvin yang duduk terlalu dekat dengannya tadi membuatnya gelisah, karena Karin merasakan kenyamanan yang selama ini di rindukannya.


Tapi Karin secepatnya mengatur kembali perasaan nya, "Kalau boleh saya tau, kenapa tuan Marvin memilih saya, sedangkan sangat banyak desainer yang lebih hebat di luar sana?" tanya Karin untuk mengetahui apa Marvin mencurigainya.


"Seperti yang saya katakan sebelumnya Miss Karin, kalau saya pribadi sangat mengagumi desain anda, jadi kehadiran saya di wawancara media tersebut, sengaja hanya ingin bertemu Miss Karin di sana" ujar Marvin menjelaskan yang sebenarnya, tapi dia tidak menyangka kalau Miss Karin itu ternyata Kirani.


Kirani kemudian berdiri mendekati Marvin, "Kalau begitu saya siap bekerja sama dengan anda" ucap Karin sambil mengulurkan tanyanya pada Marvin.


Marvin langsung menjabat tangan Karin, "Baik semua berkas perjanjian kerjasama, akan di urus Ryan asisten pribadi saya" balas Marvin lalu mereka melepaskan tangan masing-masing.


"Untuk merayakan kerja sama kedua belah pihak, apa miss Karin bersedia menerima undangan makan malam dariku" ajak Marvin.


"Oh tentu saya, dengan senang hati menerima undangan anda" balas Karin sambil memperbaiki kacamatanya.


"Baik Miss Karin ingin makan malam di restoran atau di rumah saya saja" ujar Marvin agar Karin merasa nyaman.


"Sebaiknya di rumah anda saja, agar tidak ada ke salah pahaman" usul Karin.


"Baik, asisten saya Ryan akan menjemput anda jam 8 malam, saya permisi" pamit Marvin sedikit menunduk, kemudian meninggalkan ruangan Karin.

__ADS_1


__ADS_2