
Marvin juga menandatangani surat kontrak itu dan segera mengambilnya dan berdiri, "Silahkan Miss Karin, waktunya kita makan malam" ujar Marvin sambil mengarahkan tangannya ke arah ruang makan.
Karin kemudian berdiri dan mengikuti arahan Marvin, dan masih penasaran kenapa Zara belum terlihat.
"Tuan Marvin, maaf di mana istri anda" tanya Karin dan pandangannya tertuju pada sebuah foto pernikahannya yang berukuran besar, masi terpajang dengan rapi di ruang tengah, Karin menghentikan langkahnya dan memegang dadanya.
Marvin yang melihat Karin menatap foto pernikahan mereka, diam-diam tersenyum lalu mendekati foto tersebut.
"Ini dia istri saya, dia sangat cantik juga ceria, dan sekilas mirip denganmu bukan" ucap Marvin.
Karin masi bisa menahan diri nya, "Maaf tuan Marvin yang saya tanya kan Zara yang menjadi istri anda sekarang?" tanya Karin sedikit gugup.
"Zara tidak berhak tinggal di rumah ini" jawab Marvin berubah serius.
Tapi Marvin segera mengalihkannya, "Saya tidak suka membahas hal pribadi, Zara berada di rumah yang lain" timpal Marvin, membuat Karin berusaha tersenyum meski berat.
"Maaf" ucap Karin menunduk sambil mengusap air mata di sudut matanya.
"Tidak apa-apa, ayo silahkan" balas Marvin sambil berjalan ke meja makan.
Para pembantu melihat kedatangan Kirani, tersenyum bahagia tapi mereka harus berpura-pura tidak mengenalnya atas perintah Marvin.
Karin juga melihat para pembantu itu penuh haru, karena dia juga sangat merindukan kan para pembantu nya yang sudah di anggap seperti keluarganya sendiri, ingin sekali rasanya memeluk mereka tapi Karin menahan dirinya.
Marvin kemudian menarik kursi untuk di duduki Karin, "Silahkan duduk" ucap Marvin.
Karin kemudian duduk dan Marvin duduk di ujung meja, persis seperti 8 tahun yang lalu saat mereka sedang makan bersama.
Karin melihat semua makan yang di hidangkan para pembantu, yang ternyata semua makanan favorit nya, membuat dirinya membeku tidak bisa berkata apa-apa.
"Miss Karin saya tidak tau makan kesukaan anda, jadi saya hanya menyediakan makanan favorit rumah ini" ucap Marvin dengan formal.
Karin menunduk dan sudah tidak bisa menahan perasaannya, air mata yang dari tadi di tahannya sudah terjatuh.
__ADS_1
Marvin yang melihat nya tersenyum puas, "Kirani" panggil Marvin lirih sambil menatap tajam ke arah Karin.
Karin yang mendengar Marvin memanggilnya lirih, langsung mengangkat wajahnya dan melihat tatapan tajam suaminya.
Karin terisak lalu mengusap air matanya dan segera berdiri kemudian berlari ke pinggir kolam berenang.
Marvin dengan santai menghampirinya dan langsung memeluk Karin agar bisa tenang, tapi malah membuat Karin menangis Sesenggukan dalam pelukan Marvin.
Setelah merasa tenang, Marvin melepas pelukannya dan perlahan-lahan melepas kacamata Karin, "Sayang jangan berharap kamu bisa bersembunyi di balik kacamatamu ini" ucap Marvin dengan nada berat, karena menahan rasa harunya.
Karin menatap Marvin penuh cinta dengan mata masi berlinang air mata, dan mulut masi bergetar belum bisa berkata apa-apa.
Kedua tangan Marvin memegang rahang Karin dan mengusap air mata istrinya dengan kedua jempolnya, "Aku merindukan mu sayang dan selalu menunggu kehadiran mu datang kembali ke rumah kita ini" ucap Marvin dengan mulut bergetar, dengan mata berkaca-kaca menahan tangis harunya.
"Marvin" panggil Kirani lirik, tapi ucapannya terputus, karena Marvin langsung m*l*mut bibirnya penuh gairah.
Kirani langsung memejamkan matanya dan menikmati sentuhan bibir Marvin, yang sudah lama di rindukannya.
cukup lama kedua insan manusia itu bercumbu mesra, menikmati rindu yang 8 tahun mereka tahan dan pada akhirnya bisa meluapkannya malam ini.
Kirani benar-benar terbuai dengan perlakuan lembut Marvin, hingga matanya langsung terbuka ketika mengingat bahwa sekarang Marvin sudah menikah dengan Zara.
Kirani langsung mendorong tubuh Marvin menjauh, "Hentikan! ini semua salah Marvin, sekarang kamu sudah menjadi milik nya Zara" ucap Kirani dengan mulut bergetar dan dadanya begitu sesak.
Marvin menggeleng ingin menjelaskan sesuatu, tapi Kirani langsung berlari pergi dan Marvin segera mengejar nya.
Hingga Marvin menangkapnya dan memeluk pinggang Kirani dengan satu tangannya, "Kirani tunggu jangan mencoba lari dariku, karena kamu sudah tanda tangan kontrak" ucap Marvin sambil memperlihatkan berkas perjanjian itu di depan wajah Kirani.
"Kamu tenang saja Marvin, aku akan tetap bekerja secara profesional" balas Kirani dengan menekan nada bicaranya.
Akhirnya Marvin melepas kan pinggang Kirani, "Baik lah" ujar Marvin dan membiarkan Kirani melangkah keluar rumahnya.
Kirani berlari keluar dan menyuruh sopir Marvin mengantarnya pulang, sopir itu pun langsung membuka pintu mobil untuk Kirana, karena tentu mengenal istri tuannya itu.
__ADS_1
Sementara Marvin di dalam rumah menyapu semua barang yang ada dia atas meja dengan tangannya, "Siaaal" umpat Marvin, lalu menelpon Ryan untuk menjemputnya ke klub malam.
Kirani sudah sampai di rumahnya dan menangis sejadi jadinya, di lantai sudah banyak bertaburan tisu.
"Bodoh bisaa-bisanya aku percaya dengan sandiwara Marvin selama ini" tutur Kirani dan melanjutkan tangisannya kembali, "Hiks... hiks...hiks... ".
***********
Saat ini Marvin sedang berada di salah satu klub Malam, dia sedang mabuk berat sementara Ryan dan Elmira sedang memantaunya tidak jauh dari tempat Marvin duduk.
Setelah Marvin sudah benar-benar mabuk dan tidak bisa mengangkat gelas minumannya lagi, Ryan dan Elmira segera membawanya pulang.
Karena terlalu larut malam, Ryan akhirnya membawa Marvin di apartemennya yang lebih dekat dari klub tersebut.
Setelah sampai di apartemennya, Ryan membaringkan sahabatnya di atas ranjangnya dan menyelimutinya.
Ryan menatap Iba pada Marvin, sementra Elmira berdiri di sampingnya dan mengusap lengan Ryan.
"Entah apa yang membuat nya begitu terpukul?" tanya Ryan pada Elmira.
"Mungkin Marvin sudah mengetahui, kalau Karin adalah Kirani" ungkap Elmira dengan menatap Marvin.
Ryan langsung menatap Elmira, "Kamu sudah tau semuanya dan menyembunyikan nya padaku" tanya Ryan.
"Kak Ryan tidak begitu jangan salah paham, aku cuma tau kalau Kirani pulang ke indo, tapi aku tidak tau kalau ternyata dia Miss Karin" jelas Elmira.
Ryan melepas tangan Elmira di lengannya dan berjalan mengambil air di atas meja, kemudian Elmira mengikutinya.
"Kak Ryan antar aku pulang dong dan kamu menginap di apartemen aku aja, agar tidak mengganggu Marvin di sini" ajak Elmira yang berdiri dia samping Ryan.
Ryan langsung tersenyum lalu merangkul bahu Elmira, "Apa boleh aku menginap di apartemen kamu?" tanya Ryan menatap Elmira.
"Kenapa nggak, biasanya juga sering nginap" jawab Elmira membuat Ryan mengecup pipinya.
__ADS_1
Kemudian keduanya berjalan keluar menuju apartemen Elmira.