
Azka dan Nela sudah sampai di perusahaan Jansen group dan Azka menggendong Gala naik keruangan nya, di ikuti Nela dibelakang nya, terlihat seperti keluarga kecil yang harmonis.
Seluruh pegawai langsung bergosip tentang kecocokan antara Nela dan Azka yang terlihat sangat serasi, di tambah persahabatan mereka dari kecil sudah menjadi rahasia umum.
Semenjak kematian Agar lima tahun yang lalu, Nela sangat jarang datang ke perusahaan, jadi kedatangannya kali ini membuat gempar seluruh isi perusahaan.
Kedatangan Nela ke perusahaan kali ini, juga langsung sampai ke telinga Marvin Jansen.
**
Setelah sampai di ruangan nya, Azka langsung mendudukkan Gala di kursi kebesarannya dan melihat kearah Nela yang melihat sekeliling.
"Nela duduk lah" ujar Azka yang merasa bahagia karena Nela ingin datang ke perusahaan.
"Ini ruangan Om Azka, wow ini sangat keren" sahut Gala dengan polosnya.
Azka kemudian duduk di atas meja, di depan Gala, "Gala mau punya ruangan seperti Om?" tanya Azka.
"Mau banget Om" jawab Gala.
"Kalau begitu, mulai dari sekarang Gala harus rajin belajar, supaya menjadi orang yang hebat seperti Kakek dan alm Papah" tutur Azka.
"Om Azka juga hebat dan Gala ingin menjadi seperti Om yang selalu menjaga Mamah" jawab spontan Gala, karena selama ini Gala selalu melihat Azka selalu bersama Mamanya.
Nela tentu mendengar percakapan Anak dan sahabat nya tersebut, tapi Nela tidak ingin mengganggu mereka.
Azka kemudian melirik Nela, takut kalau Nela curiga dengan perhatian nya yang melebihi sahabat selama ini, apalagi mendengar pernyataan Gala barusan.
Azka kembali melanjutkan percakapannya dengan Gala, karena melihat Nela bersikap biasa saja.
"Gala, kamu harus tau kalau perusahaan ini akan menjadi milik kamu nanti nya, kalau kamu bisa menjadi orang yang hebat" jelas Azka.
"Benarkah Om, kalau begitu Gala harus rajin belajar mulai dari sekarang" balas Gala.
"Anak pintar" ujar Azka sambil mengacak-acak rambut Gala.
Nela tersenyum bangga melihat Azka yang ikut mendidik Gala selama ini.
*****
Setelah sore hari, Azka mengantar Nela pulang ke rumah Marvin, karena Kirani yang memanggil cucunya untuk menginap di rumahnya.
Kedatangan mereka bertiga, langsung di sambut oleh Marvin dan Kirana.
__ADS_1
"Selamat datang anak-anakku" ucap Kirani.
"Iya Mam, Mami sehat?" tanya Nela.
"Mami baik, duduklah dulu" timpal Kirani.
Nela kemudian duduk di samping Kirani, sementara Gala asik bermain di ruang keluarga.
Marvin menatap Azka yang masi berdiri, "Azka ikut dengan Papah" ucap Marvin sambil berdiri dan berjalan duluan menuju ruang kerja nya.
Nela melihat Papahnya dan melihat kearah Azka, Azka kemudian memberi kode pada Nela untuk mengikuti Marvin dan di balas anggukan pelan oleh Nela.
Azka segera berjalan mengikuti Marvin dan setelah sampai di dalam ruangan, Marvin menyuruh Azka untuk duduk.
Setelah Azka duduk, Marvin mulai bicara, "Azka aku dengar, hari ini Nela ke perusahaan" tanya Marvin memperjelas.
"Iya Pah" jawab Azka dengan sopan seperti biasa.
"Kali ini Papah ingin bertanya dengan serius, kenapa kamu tidak mengungkapkan perasaan mu pada Nela saat ini?" tanya Marvin dengan menatap Azka.
Azka kemudian membalas tatapan Marvin, "Kenapa Papah tidak menjodohkan kami saja" tutur Azka, membuat Marvin tersenyum.
"Kenapa bisa jagoan papah, tidak bisa gentle untuk mengungkapkan perasaan nya" pikir Marvin.
"Sebegitu takutnya kah kamu kehilangan Nela" tanya Marvin.
"Iya Pah" jawab Azka dengan menunduk.
"Aku akan segera mengurus pernikahan kalian" sambung Marvin.
"Terima kasih Pah" balas Azka.
Setelah percakapan Azka dan Marvin, Azka langsung pulang.
****
Pagi harinya di rumah Marvin, semuanya sedang sarapan bersama, karena hari ini adalah hari libur jadi Gala tidak masuk sekolah.
Setelah sarapan bersama Marvin, Kirani dan Nela sedang duduk di ruang keluarga, sementara Gala sedang bermain dengan pembantu di rumah itu.
Marvin berencana membahas perjodohan Nela dan Azka pagi ini, setelah semalam sudah meminta pendapat dari Kirani.
"Nela sayang, sini duduk di samping papah" panggil Marvin sambil menepuk tempat di samping nya.
__ADS_1
Nela langsung berdiri dan duduk di samping papah nya, "Yah Pah, ada apa?" tanya Nela.
Marvin melihat Gala yang sedang bermain, "Nela sekarang Gala semakin besar dan bagaimana pun Gala butuh sosok seorang Papah, apa kamu tidak berfikir untuk menikah lagi sayang" tutur Marvin.
"Papah kamu benar sayang" sahut Kirani.
Nela kemudian melihat Papah dan mamah nya, lalu melihat ke arah Gala, "Tapi Pah, Mam,... Gala tidak akan kehilangan sosok figur seorang ayah, karena ada Papah dan Azka yang selalu menyayangi Gala" jelas Nela masi melihat Gala.
"Kalau begitu menikah lah dengan Azka" timpal Marvin, membuat Nela langsung menatap Papah nya dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Mami setuju, Azka adalah pria yang sopan" sambung Kirani.
"Mam, Pah,... Azka ada sahabat ku, bagaimana kalian bisa berfikir untuk menjodohkan kami dan kalian tidak pernah memikirkan perasaan Azka sebelum nya" protes Nela.
Tiba-tiba Azka datang, "Tapi Azka nya setuju saja dan apa salahnya menikah dengan sahabat demi anak yang butuh figur seorang ayah" sahut Azka sambil duduk di samping Nela dengan santai.
Nela reflek memukul lengan Azka, "Azka apa yang kamu katakan" ucap Nela lalu melihat kedua orang tuanya.
"Mam, Pah aku harus bicara berdua dengan Azka" sambung Nela, kemudian menarik tangan Azka naik ke kamar nya, membuat Marvin dan Kirani saling menatap dan tersenyum.
"Sayang seperti nya, mereka sudah saling mencintai, hanya saja Putri kita tidak menyadari itu" ucap Kirani.
"Kamu benar sekali sayang" timpal Marvin sambil merangkul pundak istrinya.
**
Nela menarik tangan Azka, sampai di kamar nya dan baru melepaskan saat berada di dalam kamar.
"Azka aku tau kamu selalu menurut semua ucapan Papah tapi masalah perasaan, kamu harus berfikir dan kamu harus memperjuangan wanita pujaanmu itu" tutur Nela.
Azka kemudian berjalan santai mendekati Nela, lalu memegang kedua bahunya, membuat Nela langsung terdiam, "Nela apa kamu tidak ingin menikah dengan ku?" tanya Azka dengan serius.
Nela jadi terbawa suasana dan segera menjauhi Azka dan berjalan ke arah jendela, sambil melihat pemandangan di luar.
Azka pun mengikuti langkah Nela dan berdiri di samping nya, "Nela aku sangat menyayangi Gala dan aku bersedia menjadi Ayahnya" tutur Azka dengan tidak melihat Nela.
Nela melihat Azka dengan mata berkaca-kaca dan Azka menoleh melihat Nela, "Azka, kamu tidak perlu mengorbankan kehidupan mu demi Gala dan kamu berhak bersama wanita yang kamu cinta, bukan wanita yang kamu sayangi" jelas Nela.
Azka mengusap air mata Nela kemudian memeluknya, "Nela, aku tidak akan membicarakan tentang cinta, aku hanya ingin tau apa kamu nyaman saat bersama sahabatmu seperti ini" tanya Azka.
Nela semakin mempererat pelukan nya, "Azka, kanapa kamu mempertanyakan hal yang konyol, bukan kah kamu tau kalau aku selalu merasa nyaman bercerita semua hal padamu" jawab Nela.
Azka yang mendapat jawaban dari mulut Nela, perlahan melepas pelukannya, "Kalau begitu menikah lah dengan ku, cinta akan tumbuh secara sendirinya" balas Azka.
__ADS_1