
Setelah kepergian Marvin, Zara tersenyum hambar memperbaiki bajunya yang berantakan karena ulah Marvin tadi.
"Aku tidak boleh egois, merebut Azka dari Marvin begitu saja, bagaimana pun Azka sudah terbiasa dengan Marvin selama 7 tahun" ucap Kirani.
Kirani kemudian berjalan keluar, lalu membuka pintu kamar putrinya dan melihat Nela sedang asik bermain.
Kirani tidak jadi masuk, dia kembali menutup pintunya, "Nela sepertinya sangat bahagia mengetahui sudah mempunyai papah, tapi apa Nela bisa berbagi kasih sayang dengan Azka nantinya?" ucap Kirani bersandar di pintu kamar Putrinya.
Sementara itu Marvin setengah berlari mencari kamar rawat Azka dan langsung masuk saat menemukan ruangan Azka.
"Azka jagoan papah, tidak apa-apa kan?" tanya Marvin duduk di hadapan Azka, sementara Zara diam saja.
"Papah jahat" jawab Azka.
"Kok jahat, ada apa cerita sama papah?" tanya Marvin sedikit bingung.
"Papah sudah jarang di rumah dan jarang ada waktu dengan Azka" protes Azka.
Marvin langsung melihat Zara, membuat Zara menunduk kemudian berjalan keluar ruangan Azka.
Marvin berfikir sejenak dan menarik nafasnya, "Azka jagoan papah dengar yah, mulai sekarang Azka harus terbiasa dengan ketidak hadiran papah di rumah" ucap Marvin memberi pengertian pada Azka.
"Tapi pah... " Ucapan Azka terputus.
"Azka adalah anak laki-laki dan anak laki-laki itu adalah jagoan, jadi tidak boleh lemah dan cengeng kalau sudah besar harus jagain Mamah" sambung Marvin memberi nasehat pada Azka.
"Pasti papah akan lebih sering bersama Nela?" tanya Azka dan membuang pandangannya ke tempat lain.
Marvin tidak membalas pertanyaan Azka, "Azka istirahat yah, biar cepat sembuh papah keluar dulu" ucap Marvin lalu berjalan keluar.
Marvin berjalan lemah membuka pintu dan melihat Zara sedang duduk di luar, "Zara kamu di dini?" tanya Marvin kurang bersemangat.
"Marvin maafkan putra ku, dia masi kecil dan tidak tau apa-apa" ucap Zara merasa bersalah.
"Zara jagain Azka, aku tidak bisa bersama Azka seperti dulu lagi" ucap Marvin sambil mengusap pundak Zara.
"Iya Vin aku mengerti" balas Zara.
"Aku tidak biasa lama di sini Zara, aku pulang dulu" timpal Marvin kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
Zara menatap kepergian Marvin sampai tidak terlihat lagi, "Marvin kamu jangan khawatir, aku akan memberi pengertian pada Azka, habiskan waktu mu bersama keluarga kecilmu yang selama 8 tahun ini tidak kalian rasakan" ucap Zara.
**********
Elmira sedang bersama Ryan di sebuah restoran, sedang membahas tentang acara pernikahan mereka yang akan di gelar secara meriah.
"Sayang di acara kita nanti, aku ingin mengundang banyak orang" ucap Elmira.
"Tidak bisa sayang acara kita kan Outdoor nantinya" balas Ryan.
"Tidak sayang aku tidak mau tau, aku ingin Outdoor dan Indoor" timpal Elmira.
"Dasar yah wanita banyak maunya" keluh Ryan.
"Kak Ryan, belum apa-apa sudah mengeluh" timpal Elmira.
"Terserah kamu saja deh, kamu saja yang atur semua" balas Ryan.
"Kok gitu sih, kita kan yang nikah berdua, kok aku yang harus ngurus sendiri" ucap Elmira sedikit menaikkan suara.
"Habisnya semuanya harus mau kamu, aku kan jadi capek" ucap Ryan ketus.
"Elmira tunggu" cegah Ryan tapi tidak di pedulikan oleh Elmira.
"Kenapa jadi seperti ini sih" gumam Ryan setelah kepergian Ryan.
Elmira sedang mengemudikan mobilnya dengan kesal, "Kak Ryan kenapa sih, belum nikah saja udah banyak perbedaan jadi masalah" pikir Elmira.
Elmira pun menelpon Kirani dan janjian bersama untuk pergi ke klab malam ini, baru Elmira sedikit lega.
Malam hari telah tiba Kirani dan Elmira sudah berada di klab malam, mereka sedang duduk di ruang VIP.
Kirani dan Elmira sedang minum Wine bersama dengan santai dan mereka sudah setengah mabuk, bicara nya juga mulai ngelantur.
"Kamu tau Ra, pernikahan itu sangat menyedihkan dan banyak masalah" ucap Kirani.
"Kamu benar Ran, belem menikah saja sudah banyak masalah" sambung Elmira.
"Benarkah?" timpal Kirani.
__ADS_1
"Iya Ran, Bahkan aku berfikir untuk membatalkan pernikahan kami saja" ujar Elmira.
"Eh Jangan-jangan Ra selama kita masih hidup pasti akan selalu ada masalah" balas Kirani.
********
Sementara itu di rumah utama Marvin sudah pulang dan tidak melihat Kirani di kamar nya, "Di mana Kirani" ucap Marvin.
"Sudah lah mungkin Kirani bersama sahabatnya" pikir Marvin lalu bergegas ke kamar mandi.
Setelah mandi Marvin memakai jubah tidur yang memperlihatkan bagian dadanya yang atletis, sedang duduk di balkon kamar nya menikmati angin malam dengan menghisap rokoknya perlahan.
Cukup lama Marvin duduk di situ dan melihat jam tangan nya sudah menunjukkan pukul 11:30, "Aku harus mencari Kirani" ucap Marvin sambil berdiri dan masuk kembali ke kamar nya.
Marvin baru saja ingin melepas jubah tidurnya untuk mengganti bajunya, tiba-tiba pintu kamar di buka Kirani dengan berjalan tertatih karena pengaruh alkohol.
"Kirani kamu sudah datang" ucap Marvin sambil berjalan menolong Kirani yang hampir terjatuh.
"Marvin kamu sudah pulang, maaf yah aku dari klab bersama Elmira, soalnya sahabat ku itu membutuhkan ku" ucap Kirani sudah setengah mabuk.
Marvin tidak bicara, dia hanya memapah tubuh istrinya untuk berbaring di atas ranjangnya, tapi Kirani menahan tangannya.
"Marvin jangan tinggal kan aku" ucap Kirani setengah sadar.
Marvin tersenyum dia merasa sedang Dejavu, karena hal itu pernah terjadi di awal pernikahan mereka.
Marvin kembali duduk di samping istrinya dan mengusap kepalanya, "Sayang aku tidak akan meninggalkan mu dan aku akan membahagiakan kalian untuk membalas 8 tahun waktu yang terbuang sia-sia" janji Marvin, meski dia tau kalau Kirani tidak mendengarkannya.
Sebagai pria normal Marvin tidak bisa menahan gejolak panas yang perlahan menjalar di tubuhnya, melihat tubuh seksi istrinya yang sudah terbaring tak berdaya dan gelisah karena pengaruh alkohol yang di minumnya lumayan banyak.
Marvin perlahan melepas baju istrinya dan terlihat lah buah kenyal Kirani yang menantang, hanya tersisa benda segitiga yang melekat di bawah sana.
Marvin segera membuka jubah tidurnya dan terlihat tubuh kekar serta perut yang seperti roti sobek, di tambah senjatanya yang sudah tegap menantang siapa tempur.
Marvin langsung naik dia atas tubuh Kirani, lalu bermain-main di tempat favoritnya dan tentu Kirani dapat merasakan setiap sentuhan suaminya, karena dia masi setengah sadar.
Setelah pus bermain-main di buah kenyang Istrinya, Marvin naik ke bibir Kirani yang menjadi candunya, perlahan Kirani mengalungkan tangannya di leher Marvin dan mulai membalas ciuman suaminya dengan lebih agresif.
Marvin yang merasakan Kirani sudah terbuai dengan permainan nya, perlahan-lahan Marvin melakukan penyatuan dengan perlahan karena ini baru dua kali nya sejak mereka bertemu kembali.
__ADS_1