Gadis Virgin Milik CEO

Gadis Virgin Milik CEO
SAYA ISTRI NYA DOK


__ADS_3

Nela sedang berada di kamar nya dan tiba-tiba foto Arga yang di atas meja terjatuh, membuat Nela terkaget, lalu menoleh melihat nya.


"Arga!" ucap Nela dengan perasaan cemas.


Nela berjalan untuk mengambil poto Arga dan memungut pecahkan kaca yang berhamburan.


"Ahhhh...." rintihan Nela, ternyata Nela terkena pecahan beling.


HP Nela langsung berdering dan Nela segera melihat, ternyata panggilan dari Azka.


Nela secepatnya mengangkat panggilan itu dan Azka memberikan kabar yang menimpa Arga, membuat HP Nela terjatuh di lantai, dengan air mata yang sudah menetes di pipinya dan benar-benar shock mendengar kabar suaminya.


Nela mengusap air matanya kemudian langsung berjalan keluar kamar dan berpapasan dengan Vani yang mengendong Gala.


Nela berhenti melihat putranya dengan air mata yang tidak pernah berhenti menetes di pipinya, “Vani tolong jaga Gala, saya ingin ke rumah sakit sekarang” ucap Nela dan berlalu pergi.


Nela mengemudikan sendiri mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi dan menghubungi Azka untuk menanyakan rumah sakit mana Arga di bawa.


Setelah sampai di rumah sakit Nela langsung menemui Azka yang sedang menunggu di depan ruang UGD.


“Azka, bagaimana keadaan Arga sekarang?” tanya Nela dengan terisak.


“Nela kamu tenang, Arga sedang di tangani dokter” jawab Azka.


Pintu UGD di buka oleh dokter yang menangani Arga dan Nela segera menghampiri nya.


“Keluarga pasien mana?” tanya dokter itu.


“Saya istri nya dok” jawab Nela dengan terisak.


“Pasien harus segera di operasi, jadi segera tanda tangani surat persetujuan nya” ucap dokter itu.


“Baik dok, lakukan yang terbaik untuk suami saya” balas Nela dengan nafas yang susah di atur.


“Sus siapkan berkas untuk di tanda tangani” perintah dokter itu pada perawat yang berdiri di samping nya.


***


Lampu merah di ruangan di mana Arga berada sudah menyala, pertanda operasi pun mulai berlangsung.

__ADS_1


Nela dan Azka sedang menunggu di depan ruang operasi, wajah khawatir Nela semakin terlihat dan matanya tidak pernah kering oleh air mata, sementara Azka yang melihat ke khawatir Nela, berjalan menghampiri nya.


Azka kemudian menarik Nela dalam pelukan nya untuk menenangkannya, "Nela tenanglah, Arga akan baik-baik saja" ucap Azka lembut, meski dia juga sangat khawatir dengan keadaan Arga. Nela tidak menjawab, dia hanya terisak.


Sementara itu di dalam ruangan operasi, beberapa dokter ahli bedah sedang sibuk melakukan tugas nya.


Setelah beberapa saat lampung operasi berhenti menyalah dan di susul dokter keluar dari ruangan operasi, dengan bercucuran keringat dan wajah tegang.


Nela dan Azka langsung menghampiri dokter itu. *Deng... deng... deng* ketiganya terlihat tegang.


"Dok apa operasinya berjalan dengan lancar?" tanya Nela yang berlinangan air mata.


*Deng... deng... deng... * Nela sangat tegang menanti jawaban dokter yang tidak langsung menjawab.


Dokter itu menundukkan pandangannya, "Maaf kan kami Nyonya, kami sudah melakukan yang terbaik sekuat tenaga kami, tapi nyawa Tuan Arga tidak bisa di selamatkan" ungkap dokter itu, dengan penuh rasa penyesalan karena tidak bisa menolong pasien nya.


Nela bagaikan tersambar petir mendengar penyataan dokter itu dan menutup mulutnya tidak percaya, "Dok itu tidak mungkin" balas Nela menggeleng, belum bisa menerima kenyataan.


Sementara itu Azka menutup mata nya sambil menggeleng tidak percaya dan duduk dengan lemas di kursi tunggu.


"Semoga keluarga yang di tinggal kan, bisa di beri ketabahan" ucap dokter itu.


Terlihat beberapa perawat sedang sibuk melepas peralatan medis yang melekat di tubuh Arga dan perlahan menutupnya dengan kain.


"Sus tunggu, ini tidak mungkin, suaminya saya pasti bisa bertahan" ucap Nela menghentikan perawat yang melakukan tugasnya.


"Sayang bangun, ini tidak mungkin" ucap Nela mengguncang tubuh Arga, sambil menangis histeris.


Salah satu dokter yang berada di situ, mengisyaratkan perawat untuk meninggalkan ruangan dan mereka pun berjalan keluar.


Nela menangis di atas tubuh Arga, "Sayang kamu janji, kita akan merawat Gala bersama dan melihat nya tubuh sampai dewasa" tutur Nela sambil mengusap wajar Arga yang sudah pucak.


*****


Tidak ada yang bisa mengubah takdir, kesempurnaan dalam kebahagiaan yang di miliki Nela, lahir dari keluarga kaya dan orang tua yang masih lengkap, di tambah karir yang sukses, suami yang sangat mencintai nya dan anak laki-laki yang lucu, tapi Nela haru menelan pil pahit di tinggal untuk selamanya, oleh pria yang sangat di cinta nya.


Pemakaman Arga berlangsung dengan penuh kesedihan, air mata Nela tidak pernah berhenti selama pemakaman berlangsung dan matanya sudah bengkak karena terlalu banyak menangis.


Satu persatu orang meninggalkan pemakaman tersebut, tinggal lah Nela dan Azka, juga Marvin dan Kirani.

__ADS_1


Nela sedang duduk bersimpuh di Nisan suaminya, masi dengan tangisannya, sementara Marvin dan Kirani berjalan hendak meninggalkan pemakaman tersebut.


Marvin singgah di depan Azka dan menepuk pundak Azka dan di balas anggukan oleh Azka, kemudian Marvin dan Kirani melanjutkan langkah nya pergi.


Azka yang sedang memakai kacamata hitam, kemudian melepas kacamatanya dan mengusap air mata yang menetes di sudut matanya.


Azka menatap Nela yang benar-benar terpukul dengan musibah yang menimpah nya, kemudian berjongkok untuk mengangkat Nela berdiri.


"Nela, ayo kita pulang" ucap Azka.


Setelah Nela berdiri Azka kemudian memeluknya, "Nela kamu yang tabah" ujar Azka.


"Azka, kenapa ini terjadi padaku" balas Nela di sebelah isak tangis nya.


Azka tidak menjawab, dia hanya mengusap kepala Nela untuk menenangkannya dan memapah Nela berjalan ke mobil, kemudian mengantar nya pulang.


******


Berapa hari setelah kematian Arga, Nela masi terpukul bahkan dia belum bisa mengurus Gala, yang membuatnya tinggi di rumah orang tuanya.


Nela lebih sering duduk melamun dan terlihat sangat kurus karena makannya yang tidak stabil.


Sementara ke adaan Jansen Group sedang tidak baik-baik saja setelah Arga meninggal, karena kepemimpinan Jansen group di pertanyaan, sebab tidak mungkin Marvin yang kembali terjun ke perusahaan, karena beliau sudah mencapai masa pensiun nya.


Ke adaan Jansen Group sedang kacau sekarang, beberapa orang berlomba-lomba ingin menduduki jabatan Arga sebelumnya.


Azka sedang duduk di ruangan nya dan sedang memikirkan nasib Jansen Group kedepannya, "Aku harus segera bertindak sebelum semuanya terlambat" ucap Azka menarik nafasnya berat, sambil bersandar di kursi kebesaran nya.


****


Malam hari di kediaman Marvin, Marvin sedang duduk bersandar di ruang kerjanya, Marvin sedang memikirkan nasib perusahaan nya yang susah payah dia bangun dan pertahanan selama bertahun-tahun.


"Apa aku harus merelakan Jansen group di pimpin oleh orang lain kali ini" pikir Marvin sambil menghisap rokok nya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.


Tiba-tiba pintu ruangan di ketuk seseorang, "Masuk" ucap Marvin.


Pintu pun terbuka, ternyata Azka yang datang, "Azka, ternyata kamu yang datang?" tanya Marvin.


"Iya pah" jawab Azka sambil berjalan dan duduk di depan Marvin.

__ADS_1


__ADS_2