
Saat ini Kirani dan Marvin sedang berada di salah satu tokoh oleh-oleh, dan terlihat Kirani memborong barang hingga tidak bisa membawanya.
Kirani kemudian menyodorkan barang yang di pilihnya ke tangan Marvin, membuat Marvin terkejut karena sebelumnya dia tidak pernah membawa barang belanjaan.
"Hei apa-apaan ini" protes Marvin.
"Om bantuin dong, om kan janji mau temenin aku hari ini" ucap Kirani sambil memilih barang yang mau dia beli.
"Memangnya teman kamu sebanyak ini" tanya Marvin sambil berjalan mengikuti langkah Kirani.
Marvin susah payah membawa barang belanjaan yang di pilih Kirani, dia kemudian mengambil HPnya dan menelpon seseorang.
Tidak lama kemudian datanglah dua orang pengawal, langsung mengambil barang yang di bawa bosnya.
"Maafkan kami bos" ucap pengawal itu.
"Simpan semua barang ini di mobil dan ikuti kami" perintah Marvin.
"Baik tuan" ucap pengawal itu dengan menunduk hormat.
Kirani yang diam-diam melihat suaminya hanya tersenyum dan melanjutkan memilih barang yang mau dia beli.
Setelah selesai belanja Kirani mengajak Marvin untuk makan, tapi Kirani yang memilih tempatnya dan Kirani membawa suaminya makan di pinggir jalan.
"Kamu yakin mau makan di sini Rani?" tanya Marvin, sedikit risih dengan tempat itu.
"Iya kita makan di sini, emang napa ada yang salah?" tanya Kirani sambil duduk di kursi.
Marvin ikut duduk di samping Kirani, "Apa sebaiknya kita makan di restoran saja yang jelas-jelas higenis?" ucap Marvin mencoba membujuk Kirani supaya berubah pikiran.
"Jadi maksud om di sini tidak higenis, gitu?" tanya Kirani.
"Sssssttt... jangan ribut, maksud aku gak seperti itu Kirani sayang" ucap Marvin memelankan suaranya.
"Terus maksudnya apa?" tanya Kirani lagi.
"Iya sudah kita makan di sini" jawab Marvin pasrah.
Marvin melihat sekeliling karena ini yang pertama baginya makan di pinggir jalan.
__ADS_1
Sementara itu Kirani tersenyum penuh kemenangan, karena membuat pria angkuh itu bisa makan di pinggir jalan.
Setelah makanan sudah siap, keduanya menikmati makanannya begitu pula Marvin makan dengan santai, tapi tetap dengan gayanya yang berwibawa.
Setelah makan Marvin dan Kirani sedang berjalan di pinggir pantai, menikmati matahari sore yang hampir tenggelam.
"Kamu bahagia Kiran?" tanya Marvin dengan melihat ke arah laut.
Kirani menatap Marvin dan tersenyum, "Gue bahagia om, apa lagi hari ini belanja banyak" jawab Kirani.
"Dasar wanita, memang dasarnya suka uang" ucap Marvin.
"Berhenti mengatai wanita om, atau..." ucapan Kirani terhenti, ketika Marvin menatap tajam ke arahnya.
"Atau apa Kirani, bukan kah kamu mau menikah dengan ku karena uang, kalau aku miskin mana mau kamu menikahi om-om seperti aku?" ungkap Marvin.
"Terserah om deh mau berfikir apa tentangku, karena itu hak om, tapi ada alasan lain yang membuat gue mau menikah sama om" ucap Kirani dengan nada sedih.
"Hei kenapa kamu jadi sedih, aku kan cuma mengatakan fakta" sambung Marvin.
"Tapi fakta yang tidak akurat" ucap Kirani ketus sambil berjalan duluan dengan cepat.
"Tunggu Kirani, dasar yah wanita susah di mengerti" ucap Marvin sambil mengejar Kirani.
Kirani diam-diam memperhatikan Marvin yang serius melihat ke leptopnya, membuat Marvin terlihat lebih tampan dengan memakai kaca mata baca yang pas di hidung mancungnya.
Marvin menyadari kalau Kirani memperhatikannya, tapi dia pura-pura tidak mengetahuinya.
"Om Marvin kalau di lihat-lihat, tampan juga yah" ucap Kirani terus terang.
Marvin yang mendengan pujian Istrinya langsung menutup leptopnya dan menatap Kirani tampa berkedip.
"Kamu salah bukan di lihat-lihat, tapi kenyataanya memang tampan" protes Marvin, kemudian berbaring dengan menjadikan satu lengannya bantal.
Kirani juga menatap Marvin, membuatnya salah tingkah, dia tidak membalas ucapan Marvin, Kirani segera memencet HPnya dan membalas pesan Elmira.
Marvin tersenyum melihat tingkah lucu istrinya, "Dia yang memulai, dia yang salah tingkah" batin Marvin.
Mata Marvin kemudian tertuju pada belahan dada Kirani yang sedang tengkurap, terlihat sangat jelas ingin melompat dari tempatnya, di tambah balon kembar Kirani itu terlihat putih mulus, membuat jiwa ke lelakian Marvin bangkit.
__ADS_1
"Sayang kamu bisa baring di sini agar bisa menikmati dengan jelas wajah tampanku ini" ucap Marvin sambil menepuk lengannya.
Kirani kembali menatap Marvin sambil tersenyum kecut, "Gak mau, nanti om berbuat macam-macam lagi ama gue" tolak Kirani.
Tapi Marvin tidak mempedulikan penolakan Kirani, secepatnya Marvin menarik tubuh Kirani dan mendekapnya dalam pelukannya.
"Tidur lah kancil kecilku, pasti hari ini kamu capek seharian jalan-jalan" ucap Marvin dengan lembut sambil mengelus-elus rambut Kirani.
Kirani yang di tarik tiba-tiba sangat kaget, apalagi sekarang wajahnya merapat di dada kekar suaminya.
Entah kenapa Kirani tidak melawan dan merasa nyaman, di tambah bau maskulin tubuh suaminya membuat mata Kirani terpejam perlahan-lahan.
Marvin yang menyadari bahwa Kirani sudah tidur, membuatnya bernapas panjang dan menghembuskan nya perlahan, karena akan di pastikan malam ini Marvin tidak bisa tidur dengan nyenyak, di sebabkan juniornya di bawa sana akan menegak semalaman.
*******
Bulan madu telah berakhir, Marvin tidak pernah memaksa Kirani lagi untuk melayaninya, karena Marvin melihat Kirani belum siap untuk melakukanya lagi.
Sore itu Kirani sedang berada di rumah Elmira, dan saat ini Kirani sedang duduk membaca buku di ranjang Elmira, sementara Elmira sedang mencoba beberapa pakaian yang di belikan sahabatnya dari Bali.
"Ngomong-ngomong gimana bulan madunya, lancar Kirani?" tanya Elmira sambil mengamati dirinya di cermin.
Kirani menutup bukunya, "Makanya sini dulu, gue mau cerita" ucap Kirani.
Elmira secepatnya duduk di samping Kirani, "Jadi gimana suami yang selalu elo panggil om itu, apa dia perkasa di atas ranjang seperti yang terlihat dari badannya yang atletis itu" tanya Elmira antusias.
"Jangan terlalu memuji suami orang Ra" ucap Kirani bercanda.
"Elo cemburu ama gua Rani" balas Elmira pura-pura ngambek.
Kirani lalu memeluk sahabatnya, "Engga Ra, gue gak cemburu, Elo tau gak kalau om CEO itu benar-benar perkasa, sampai-sampai gue gak bisa mengendalikan diri" jelas Kirani sambil melepas pelukannya.
"Adu adu sahabat aku uda gak virgin lagi, dan harus melepas keperawanannya sama pria yang tidak mencintainya" ledek Elmira.
"Harus gimana lagi, dia benar-benar mengendalikan diriku" sambung Kirani pasrah.
"Terus-terus dia bisa main berapa kali tiap malam?" tanya Elmira penasaran.
"Tau gak sih dia itu, cuma melakukannya sekali meski kami selalu tidur di ranjang yang sama" ungkap Kirani.
__ADS_1
"Masa sih, kok bisa yah?" pikir Elmira.
Kedua sahabat itu pun berfikir, tapi tidak ada yang mengetahui jawabannya.