
Marvin duduk di kursi kebesarannya dan masi memegang bunga mawar itu sambil tersenyum menatapnya, persis seseorang yang sedang jatuh cinta.
Karena terlalu fokus dengan perasaannya, hingga Marvin tidak merasakan kehadiran Ryan di samping nya sedang duduk di mejanya.
"Setelah sekian lama, ternyata ada yang lagi jatuh cinta kembali" ledek Ryan.
Membuat Marvin terkejut dan menutup matanya, lalu menatap Ryan, "Ryan sejak kapan kamu di sini?" tanya Marvin dan menyimpan bunga mawar itu di atas meja.
"Dari tadi bos" jawab Ryan.
"Ada apa?" tanya Marvin berubah serius.
"Ini bos hampir saya lupa katakan" jawab nya sambil memberikan berkas pada Marvin.
"Apa ini?" Marvin kembali bertanya sambil membuka berkas tersebut.
"Itu berkas permintaan wawancara kepada anda, di salah satu media ternama, tinggal bos yang belum memberi konfirmasi" ujar Ryan.
"Kamu sudah tau kalau saya akan menolaknya, kenapa masi bertanya" balas Marvin sambil menutup berkas itu.
"Tapi bos kali ini bukan wawancara tunggal, melainkan wawancara yang melibatkan beberapa pengusaha dan desainer ternama, dan di hadiri desainer terkenal saat ini, yang jarang memperlihatkan dirinya" jelas Ryan.
"Maksud kamu Miss Karin yang tinggal di luar negri?" tanya Marvin serius.
"Benar bos, tapi menurut kabar yang beredar, beliau akan menetap di indo" jawab Ryan.
"Baik lah, sediakan semuanya kita akan ke acara tersebut" ucap Marvin.
"Bos boleh tau gak, siapa yang ngasih bunga mawar ini?" tanya Ryan sebelum keluar.
"Anak perempuan yang berumur 7 tahun" jawab Marvin.
"Ya ilah bos, kirain tadi seorang wanita" ujar Ryan.
"Tapi percaya gak sih, saya melihat sosok Kirani di mata anak itu" jelas Marvin.
"Bos bos...itu karena bos terlalu merindukan Kirani saja" balas Ryan.
"Sepertinya begitu" gumam Marvin, "Yah sudah lupakan, kamu bisa keluar" perintah Marvin.
__ADS_1
Sore hari Marvin sudan pulang dan masi di dalam mobil perjalanan pulang, "Pak kita ke rumah utama dulu sebelum pulang" perintah Marvin pada sopirnya.
"Baik tuan" jawab sopir itu dengan hormat.
Marvin ingin ke rumah di mana dirinya dan Kirani tinggal 8 tahun yang lalu, karena dia tidak ingin Zara tinggal di sana, di mana banyak kenangan indah bersama Kirani.
Beberapa saat kemudian mobil Marvin sudah sampai di rumah utamanya, rumah itu masi sangat bersih meski dia tidak tinggal di situ, karena ketiga ARTnya dan mang ujang masi di pekerjakan di rumah itu, karena Marvin selalu berharap kalau Kirani akan kembali suatu hari nanti. Jadi jika dia merindukan Kirani seperti saat ini, dia selalu datang kerumahnya itu.
Marvin langsung ke kamarnya dan melihat setiap sudut kamar itu, dan membayangkan kebersamaannya bersama Kirani di kamar itu.
Marvin melepas jasnya dan menyimpang nya di atas kasur, lalu berjalan melihat foto dirinya bersama Kirani di atas meja samping ranjang nya.
"Sayang kamu mau tau, tadi aku melihat sosok dirimu pada anak perempuan yang pertama kali aku temui" curhat Marvin pada foto Kirani.
Hingga akhirnya Marvin tertidur di ranjangnya, sambil memeluk foto Kirani dan terlihat air mata mengalir di sudut matanya.
*******
Malam harinya di sebuah apartemen yang sangat mewah, seorang wanita baru saja pulang dan terlihat sangat kecapean. Wanita itu adalah Elmira yang baru saja pulang dari syuting, Karena Elmira sukses menjadi seorang model dan aktris terkenal.
Elmira baru saja selesai mandi dan memakai baju tidur nya, tiba-tiba bel apartemen berbunyi, "Siapa yah, seperti aku tidak ada janji dengan seseorang" gumam Elmira lalu berjalan keluar kamarnya.
"Surprise..... " ucap Karin.
"Kirani aku gak salah lihat kan, kamu di indo sekarang" Seru Elmira kegirangan.
Karin langsung memeluk sahabatnya dan di balas dengan erat oleh Elmira, "Aku sengaja memberimu kejutan, karena besok hari kasi sayang" ucap Karin masi memeluk Elmira.
"Ayo masuk, aku kangen banget tau gak sih" ajak Elmira sambil melepas pelukannya.
Karin dan Elmira kemudian berjalan masuk, "Wah apartemen kamu sangat mewah sekarang" ucap Karin sambil melihat sekeliling.
Elmira tidak menjawab, tapi berjalan ke dapur untuk mengambil minuman dingin dan cemilan, "Kita ke kamar saja Kirani" ajak Elmira sambil berjalan masuk kamarnya dan di susul Karin.
Karin langsung duduk di ranjang Elmira dan melepas kacamatanya, lalu memijat pangkal hidungnya, sementara Elmira menyimpan makanan dan minuman yang dibawanya di atas meja.
"Kirani" panggil Elmira sambil berjalan lalu duduk di samping sahabatnya.
"Elmira jangan panggil aku dengan nama Kirani lagi, karena aku merubah semua identitas ku menjadi Karin" jelas Karin.
__ADS_1
"Apa? nama kamu Karin sekarang, pantas penampilanmu seperti ini, aku bahkan hampir tadi tidak mengenalmu" ujar Elmira.
"Kenapa kamu memilih seperti ini? merubah identitas mu" tanya Elmira.
"Aku ingin menyembunyikan masa lalu ku pada putriku" ungkap Karin.
"Apa putri, kamu punya anak Karin?" tanya Elmira sangat terkejut, lalu menutup mulutnya.
"Iya Ra, namanya Nela" balas Karin.
"Gak nyangka ya Rin, kamu bisa terlibat pergaulan luar dan bisa menghasilkan anak" ucap Elmira bersimpati.
"Kamu uda gila Ra, itu putrinya Marvin" jelas Karin.
"Terus, apa Marvin tau semuanya atau putri kamu tau siapa Papahnya" tanya Elmira serius.
"Keduanya tidak ada yang mengetahui nya" ujar Karin.
"Oke menyembunyikan dari Marvin mudah, tapi kamu tidak mungkin menyembunyikan terus pada putrimu kan" tutur Elmira.
"Iya Ra, itu yang membuat ku berfikir keras saat ini, karena sebelumnya di luar negri, status sosial tidak lah penting, tapi hari ini aku baru menyadari semuanya ketika pertama kalinya, putriku sendiri yang menayangkan siapa papahnya" cerita Karin lirih.
"Jadi apa yang ingin kamu lakukan selanjutnya, apa kamu akan mengatakan pada Marvin sebenarnya?" tanya Elmira penasaran.
"Entah lah, saat ini aku benar-benar bingung, harus ngapain" ujar Karin.
Elmira kemudian menatap Karin penuh iba, "Karin maafkan aku yah tidak bisa jujur, kalau sebenarnya Marvin sudah menikah dengan Zara, kamu akan tau sendiri nantinya" batin Elmira lalu memeluk sahabatnya.
Setelah menemui Elmira, Karin langsung pulang kerumahnya, kemudian masuk dikamar putrinya dan melihat Nela sudah tidur.
Karin berjalan keranjang Nela lalu duduk di sampingnya dan melihat sebuah kertas yang di peluk putrinya.
Karin pelan-pelan mengambil gambar itu, terlihat gambar keluarga yang lengkap, ayah dan ibu sedang bersama anak perempuan.
Mata Karin langsung berkaca-kaca melihat gambar putrinya dan segera berlari keluar lalu masuk kamarnya.
Karin meluapkan tangisannya di balik pintu kamarnya, "Hiks... hiks.... hiks.... " tangis Kirani, disertai kilat petir di balik jendela kamarnya yang terbuka.
Karin mengusap air matanya dan segera berjalan mengambil sebuah kotak kecil di laci meja samping ranjangnya, Karin membuka kotak itu yang berisi kalung pemberian Marvin, kemudian menatap ke depan penuh arti.
__ADS_1