Gadis Virgin Milik CEO

Gadis Virgin Milik CEO
FLASHBACK ON


__ADS_3

"Berjanjilah dan percaya padaku sayang" ucap Marvin sambil mengusap pipih Kirana, Kirani hanya mengangguk lemah.


"Jaga dirimu, aku ada kerjaan dua tiga hari ini di luar" ucap Marvin.


Kirani baru saja mau bertanya, tapi Marvin tidak memberinya waktu bicara, "Sayang aku pergi dulu" ucap Marvin lalu meninggal kamarnya.


Setelah kepergian Marvin, Kirani tersenyum hambar, "Bagaimana aku bisa percaya padamu, sedangkan kamu sendiri tidak percaya padaku untuk menceritakan idintitasmu itu" ucap Kirani dengan meneteskan air mata nya.


Kirani secepatnya mengusap air matanya dan segera turun kebawa, dia melihat mobil Marvin melaju dengan kencang pergi meninggalkan halaman rumah.


Kirani langsung menuju dapur dan melihat bik Ira, bik Narti dan bik Yati di dapur, "Bik boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Kirani.


"Selagi kami bisa menjawab, kami akan menjawab non" sahut bik Narti.


Kirani lalu mengambil air minum kemudian duduk di kursi meja makan, "Bik, apa kalinya mengetahui sedikit saja tentang suami saya" tanya Kirani dengan serius.


Ketiganya saling melihat lalu bik Yati mulai bicara mewakili semuanya, "Non kami tidak banyak tau, yang kami tau cuma Nona Zara dan ayahnya yang bernama tuan Bram Wijaya, cuma mereka yang paling dekat dengan tuan Marvin selama ini" ungkap Bik Yati menjelaskan.


"Bram Wijaya...." gumam Kirani.


"Yah sudah Bik, makasih infonya" ucap Kirani lalu kembali naik ke kamarnya.


Setelah sampai di kamar, secepatnya Kirani mengambil leptop dan mencari biodata Bram Wijaya, Dan Kirani benar-benar terkejut siapa sebenarnya Bram Wijaya.


"Apa?, dia kan musuh bebuyutannya papah, ada apa sebenarnya ini, gue harus cari tau?" pikir Kirani semakin penasaran.


Sementara itu Marvin melajukan mobilnya ke suatu tempat, masi dengan kecepatan tinggi, beberapa saat kemudian mobilnya sampai di pemakaman umum.


Marvin turun dari mobilnya dan berjalan menuju sebuh makam yang berdampingan, terlihat makam itu adalah pasangan suami istri.


Ternyata makam tersebut, adalah makam kedua orang tua Marvin, Marvin kemudian menyimpan sebuah bunga di makam kedua orang tuanya.

__ADS_1


Marvin yang mengenakan kacamata hitam, terlihat melepas kacamatanya dan mengusap air mata yang menetes di sudut matanya.


"Pah, mah, sekarang anakmu sudah menjadi pria yang sukses dan perusahaan papah sudah menjadi milikku" ucap Marvin mengungkapkan semua di hadapan makam kedua orang tuanya, kemudian menatap lurus ke depan.


Flashback on


Seorang anak laki-laki yang berusia 10 tahun sedang bermain bola dan anak laki-laki tersebut adalah Marvin kecil.


Tiba-tiba bola Marvin kecil terlempar di kamar Paman dan Tante nya yang tinggal di rumahnya saat itu dan Marvin kecil tidak sengaja mendengar percakapan mereka.


"Sayang kamu jangan marah-marah dong" suara seorang pria dan pria itu adalah Paman Marvin.


"Apa kamu sudah melakukan rencana kita?" suara seorang wanita dan itu adalah istri dari paman Marvin.


"Tenang sayang aku sudah menyabotase rem mobil kakakku dan setelah mereka meninggal semua hartanya akan menjadi milik kita" ucap Paman Marvin.


"Ha... ha... ha... " dan keduanya tertawa penuh kemenangan.


Marvin kecil begitu terkejut syok, dia segera berlari keluar melihat mobil kedua orang tuanya, tapi mobil itu telah berangkat melaju keluar pagar.


Berulang-ulang kali Marvin kecil memanggilnya papah sambil mengejar mobil papahnya, tapi papahnya tidak mendengarkan teriakkan nya, hingga akhirnya mobil papahnya sudah melaju keluar jalan raya dan Marvin kecil cuma bisa berlutut di halaman rumah, tenaganya tidak bisa mengejar lajunya mobil.


"Papah... mamah.... semoga kalian baik-baik saja" ucap Marvin kecil dengan suara bergetar menahan tangisnya.


Beberapa saat telah berlalu, ternyata kecelakaan maut itu tidak bisa di hindari, berita tentang kecelakaan mobil pengusaha ternama sudah tersebar di berbagai media.


Dan kecelakaan maut itu membuat kedua orang tua Marvin Kecil meninggal dan pemakaman berlangsung penuh dengan tangis, termasuk tangis Paman dan Bibi Marvin yang penuh dengan kepalsuan.


Setelah pemakaman berlangsung pengacara keluarga membacakan surat wasiat yang di tulis Papah Marvin kalau semua aset perusahaannya akan di berikan pada anaknya, ya itu Marvin jansen.


Tapi pengacara itu menjelaskan, karena Marvin sebelum menginjak usia 18 thun, jadi Marvin kecil belum bisa mengelola aset perusahaan, jadi semua aset Marvin untuk sementara di wakilkan Paman kandungnya.

__ADS_1


membuat Paman dan Bibi Marvin diam-diam tersenyum saling menatap penuh kemenangan. Marvin kecil hanya menatap Pamannya dan Bibinya penuh kebencian, karena usianya saat itu masih kanak-kanak, jadi dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengungkap kejadian yang sebenarnya.


Marvin kecil benar-benar muak melihat paman dan bibinya yang belanja sepuasnya dan tidak pernah memberinya uang untuk kebutuhan nya.


Marvin kemudian mendekati Paman dan bibinya yang baru saja pulang dari belanja,


"Paman berhenti menghambur-hamburkan uang Papah, karena Paman penyebab kecelakaan papah dan mamah kan" ucap Marvin kecil dengan nada tinggi.


Bibi dan Pamannya begitu terkejut mendengar pernyataan keponakannya, mereka saling bertukar pandang dan saling mengangguk.


Bibinya langsung menyeretnya masuk kedalam gudang dan mengancamnya, "Kamu jangan berani macam-macam atau kamu akan mati di tangan kami, seperti kedua orang tuamu" ucap bibinya lalu mendorongnya ke lantai, kemudian bibinya mengunci gudang itu.


Berbulan- bulan Marvin kecil di sekap di gudang tersebut dan dia hanya di beri makan seadanya, membuat kebencian besar mendarah daging dalam hati dan pikiran Marvin, untuk balas dendam di kemudian hari.


Karena rasa trauma dan dendam itu lah yang membentuk karakter Marvin menjadi arogan dan tak punya belas kasih, sebelum mengenal Kirani.


Hari itu Marvin kecil berusaha untuk melarikan diri, dia sudah tidak sanggup lagi hidup seperti itu terus.


Upaya melarikan diri nya di ketahui pamannya dan dia berlari sekencang-kencangnya, lalu Marvin kecil masuk dia salah satu mobil mewah kala itu, agar pamannya tidak melihatnya.


Ternyata mobil itu milik seorang pria yang berperawakan tegas dan berwibawa, pria itu adalah Bram Wijaya.


"Hey sedang apa kamu di sini" tanya Bram.


Dengan ekspresi ketakutan karena di kejar pamannya, Marvin kecil menjawab dengan mulut bergetar, "Paman tolong aku" cuma kata itu yang bisa di ucapkan Marvin, sambil melihat pamannya di luar mobil sedang mencarinya.


Bram kemudian menyuruh sopirnya untuk menjalankan mobilnya, mobil pun melaju pelan meninggal Paman Marvin yang sedang berdiri di samping mobil tersebut.


Beberapa saat kemudian mobil Bram sampai di kediamannya dan membawa Marvin kecil masuk rumahnya, di dalam rumah itu sudah ada anak perempuan yang seumuran dengan Marvin, Anak perempuan itu adalah Zara kecil.


Zara kecil kemudian menghampiri papahnya dan Marvin, "Pah siapa anak ini?" tanya Zara.

__ADS_1


sikap dingin dan arogan Marvin sudah terbentuk mulai saat itu, Marvin bersikap tidak bersahabat, tapi sikap Marvin itu lah yang di sukai Bram, hingga memutuskan membawanya pulang.


Flashback bersambung......


__ADS_2