
Hari ini Marvin dan Karin akan berangkat ke luar kota, dan Marvin di dampingi sekertaris nya yaitu Siska.
Mereka menginap di salah satu hotel Jansen group yang ada di luar kota, mereka masing-masing masuk di kamar suite yang sudah di sediakan sebelum nya.
Karin langsung membaringkan tubuhnya terlentang di atas ranjang king size, "Rasanya nyaman sekali" ucap Karin.
Tiba-tiba HPnya berdering, Karin segera melihat nya dan ternyata Nela yang melakukan panggilan Video.
"Halo sayang" ucap Karin saat melihat wajah putrinya
"Halo juga Mam, apa Om tampan ada di situ?" tanya Nela.
"Sekarang yang di tanyakan Om tampan, bukan menanyakan mami terlebih dahulu" ucap Karin pura-pura ngambek.
"Opss Maaf Mam, abisnya Nela kangen ama Om tampan" balas Nela polos.
"Yah sudah matiin dulu panggilannya, mami ke kamarnya Om Marvin dulu" ucap Karin lalu mematikan panggilannya.
Karin langsung menarik nafasnya berat, "Aku gak boleh egois, aku tidak tega menghalangi ikan batin antara anak dan bapaknya" ucap Karin lalu keluar dari kamarnya.
Karin kemudian menuju kamar Marvin yang tinggal berdampingan dari kamarnya, Karin kemudian mengetuk pintu kamar Marvin.
Pintu pun terbuka Marvin, hanya memakai handuk yang di lilit di pinggangnya dan memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang atletis, "Karin" ucap Marvin.
Karin langsung memejamkan matanya sejenak lalu melihat ke sembarangan arah, "Maaf" ucap Karin.
"Masuk lah dulu Karin, aku akan pakai baju" ujar Marvin sambil memberi jalan pada Karin.
Karin pun berjalan masuk dan Marvin memakai baju kaos ketat dan celana pendek yang membuatnya terlihat muda dan segar di tambah rambutnya yang basa.
"Marvin boleh mengganggu waktu mu sebentar, Nela ingin bicara" ucap Karin sedikit ragu.
"Apa Nela mau bicara, berikan padaku" balas Marvin bersemangat.
Karin melakukan memanggil video dan memberikan HPnya pada Marvin.
"Halo Om tampan" ucap Nela saat melihat wajah Marvin.
__ADS_1
"Halo juga gadis manis" balas Marvin.
"Om aku kangen sama om" ucap Nela dengan ceria.
"Om juga sangat kangen sama Nela" ucap Marvin.
"Om tampan, jagain mami Nela om" ucap Nela dengan polos, membuat Marvin menatap Karin.
"Siap bos kecil, om janji akan jagain mami" ujar Marvin sambil mengangkat tangannya hormat.
"Tapi om mau tau rahasia gak, tapi jangan tanya mami yah" Nela terus saja bicara.
"emmm apa yah?, kasi tau om dong" ucap Marvin lalu berjalan duduk bersandar di ranjang.
Karin yang melihat putrinya begitu ceria bicara dengan Marvin, membuat matanya berkaca-kaca karena terharu melihat kedekatan bapak dan anak.
"Om sini dekat kan telinganya, nanti mami mendengarnya, hati-hati mami itu galak loh" ucap Nela berbisik.
"Masa sih, orang sering marah-marah cepat tua loh" balas Marvin tapi matanya melihat Karin yang sedang tersenyum kecut.
"Lihat saja kecamatan nya itu om, kaya nenek-nenek" ucap Nela lagi.
"Yah sudah om tampan, Nela makan dulu yah" pamit Nela.
"Siap, gadis manisnya om" kemudian panggilan di matikan Nela.
Marvin pun berdiri untuk menyerahkan HP Karin, "Marvin maafkan Nela dia masi kecil dan tidak mengerti apa-apa, Nela memang anaknya suka berbicara" tutur Karin sambil mengambil HPnya.
"Dan sangat persis dengan mu" timpal Marvin.
Karin tidak marah dia hanya tersenyum, dia masi terharu melihat putrinya begitu terbuka dengan seseorang, yang tidak pernah di lihat sebelumnya.
Marvin kemudian menggenggam kedua tangan Karin, "Karin aku benar serius mengatakan ini dan jangan menganggap nya bercanda, hidup lah bersama ku, aku yakin Nela juga akan bahagia" ucap Marvin dengan nada yang berat tapi sangat lembut.
Karin meneteskan air mata nya mendengar permintaan Marvin yang terlihat tulus, "Marvin jangan katakan itu, saat ini semuanya sudah berbeda" timpal Karin.
Marvin melepas tangan Karin, "Apa salahnya kita menjalin sebuah hubungan, suami kamu juga di luar negri tidak bisa di jamin kesetiannya" pendapat Marvin sudah mulai egois.
__ADS_1
Karin tidak menanggapi ucapan Marvin, dia langsung meninggal kamar Marvin tampa bicara apa-apa.
"Dia tidak ada komentar saat aku menjelekan suami nya, aneh" gumam Marvin.
Karin langsung lari ke ruangan yang terbuka, "Apa salah kalau mencintai suami orang lain" ucap Karin di selah isak tangisnya.
**********
Malam hari telah tiba, setelah kunjungan kerja tadi siang sampai sore, Marvin dan Karin masuk dalam kamarnya untuk istirahat.
Karin menikmati pasilitas kamar hotel suite tersebut, Karin berendam di Bathtub dengan air hangat di tambah sejumlah bunga.
Setelah beberapa saat Karin keluar dengan jubah mandi hotel dan rambut yang basa dan tidak memakai softlens yang menjadi identitas Karin selama ini.
Betapa kagetnya Karin saat keluar dari kamar mandi, terlihat Marvin duduk bersandar di ranjangnya dengan jubah tidur yang memperlihatkan dadanya yang terbuka.
"Marvin apa yang kamu lakukan di kamarku?" tanya Karin dengan suara yang sedikit keras.
"Tidak aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu" balas Marvin santai.
Karin langsung mendekati Marvin, "Hey Marvin kamu jangan seenaknya, mentang-mentang kamu yang punya hotel ini dan seenaknya masuk kamar orang tampa seizinnya, itu perbuatan tidak terpuji" tutur Karin menaikan telunjuknya di hadapan Marvin, tapi Marvin bersikap masa bodoh.
Marvin kemudian berdiri dan menepis tangan Karin dengan lembut, "Bukankah kata orang cinta itu buta dan tidak ada yang salah kalau berbicara tentang cinta" ucap Marvin.
Karin memalingkan wajahnya pertanda tidak menyukai perkataan Marvin, tapi membuat Marvin tersenyum.
"Lihat wajah mu itu Karin sangat polo tampa softlens, dan inilah Kirani ku yang sesungguhnya dan kamu sangat wangi" bisik Marvin sambil menghirup wangi tubuh Karin yang beraroma kan bunga.
Karin menutup matanya sejenak, "Marvin hentikan" dengan nafas yang sesak.
"Berhenti menolak diriku Karin, semakin kamu menghindar semakin jelas kalau kamu masi sangat mencintai ku" balas Marvin sedikit mengeraskan suaranya.
"Marvin aku mohon keluar lah, aku tidak ingin merusak rumah tangga seseorang" pinta Karin dengan menyatukan kedua tangannya, dengan suara bergetar dan air mata yang jatuh di pipi mulusnya.
Marvin mengusap air mata Karin di pipinya dan menggenggam tangan Karin, "Selama delapan tahun telah berlalu, tapi nama Kirani masi terukir rapi di sini" ucap Marvin sambil meletakkan tangan Karin di dadanya.
Pengakuan Marvin membuat Karin makin terisak, dan Marvin menyatukan dahi mereka hingga jarak di antara wajah mereka tinggal beberapa senti saja.
__ADS_1
Karin berusaha menghindar tapi Marvin menangkap tangannya dari belakang, kemudian naik mengusap lengan Karin, lalu mencium leher jenjang Karin dari belakang, membuat Karin memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan Marvin.
"Karin jangan pernah menutupi perasaan kamu itu" bisik Marvin di telinga Karin, membuatnya tersadar dan membuka matanya.