
Alisha berlalu begitu saja saat berpapasan dengan Narendra. Entah tak melihat atau bagaimana, gadis itu berniat langsung masuk kamar setelah tiba di kediaman papanya.
"Alisha, kau baik-baik saja, Sayang?" Narendra akhirnya memutuskan bertanya lantaran heran. Ia yang semula berjalan sambil mengobrol dengan seseorang melalui sambungan telepon sampai-sampai menunda pembicaraan demi memastikan keadaan putrinya.
Jelas saja ia heran. Alisha tak seperti biasanya. Gadis itu tak menyapanya seperti biasa, sementara matanya juga terlihat agak sembab.
"Alisha baik-baik aja, Pa," jawabnya dengan senyum yang dipaksakan. Kemudian ia pamit sebelum beranjak. "Alisha ke kamar dulu, ya, Pa. Mau istirahat."
"Oke." Narendra mengacungkan ibu jarinya pertanda mengiyakan. Namun, pandangannya tak serta-merta beralih dari sang putri hingga menghilang di balik pintu. Ada sebuah tanya yang bercokol di benaknya. Tetapi ia tak ingin gegabah dan mendesak putrinya untuk bercerita. Sepertinya menunggu anak gadisnya tenang akan lebih baik. Oke. Ia berniat menunda sampai Alisha keluar kamar malam nanti.
Alisha mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan kasar. Tangannya refleks mengusap sudut mata saat cairan berwarna bening menetes dari sana.
Cengeng. Kenapa ia menangis? Bukankah beberapa saat lalu ia seperti orang hilang kewarasan dengan membuka baju untuk pemuda yang melukai perasaannya?
__ADS_1
"Jangan, Alisha!"
Tanpa diduga, Dante yang semula terlihat bringas tiba-tiba mati kutu di depannya. Pemuda itu langsung menutup mata meski sudah membuang pandangan ke arah samping. Kenapa? Kenapa Dante seolah-olah tak mau melihat aibnya?
Alisha tersenyum miring melihat reaksi Dante. Cepat sekali pemuda itu berubah moodnya? "Kenapa jangan? Bukankah kau menginginkan ini?"
Alisha seperti kehilangan akal sehat. Hanya untuk menunjukkan pembuktian atas tuduhan Dante, ia sampai-sampai melepaskan atasannya. Bahkan mungkin lebih parahnya lagi ia rela melepas keperawanan agar Dante percaya.
Tuduhan Dante benar-benar sangat kejam. Bagaimana mungkin Dante mengiranya adalah seorang pelacur sedangkan ia sendiri belum pernah bersentuhan dengan pria mana pun.
Dante mendekatinya dengan gerakan sangat cepat. Alisha bahkan sudah memasrahkan diri andai kata pemuda itu benar-benar menerkamnya.
Namun, ia dibuat terperangah karena Dante ternyata bukan hendak menyentuhnya, melainkan meraih selimut untuk kemudian melilitkan ke tubuhnya hingga sebatas leher dengan wajah berpaling dan mata terpejam.
__ADS_1
Alisha yang membelalak bisa melihat Dante mengetatkan rahangnya. Wajahnya merah padam. Benarkah Dante tidak serius dengan yang diucapkan dan hanya mengujinya saja?
Seketika, perasaan marah, benci, kesal dan juga kecewa yang menguasai Alisha menguap begitu saja. Lebih-lebih ketika Dante memeluknya dengan bahu yang berguncang, ia hanya bisa terbengong dengan mulut ternganga.
"Maaf," lirih Dante penuh sesal sementara dirinya masih menyandarkan dagu di bahu Alisha. Pelukannya sangat erat, hingga Alisha kesulitan bernapas dibuatnya.
"Kenapa minta maaf? Kau bahkan tidak salah," ujar Alisha dengan sisa tangisannya. Namun, kali ini nada bicaranya terdengar lebih tenang dan pelan dari sebelumnya. "Aku memang seorang pelacur. Aku bukan wanita baik-baik. Aku menghidupi diriku dengan uang haram hasil menjual diri. Aku tak pantas untuk pria baik hati dan sempurna seperti kamu–"
"Cukup, Alisha. Cukup!" Dante menggeram frustasi. Ia tak tahan mendengar Alisha bicara demikian, terlepas itu benar atau tidak.
Alisha terisak kembali sambil memeluk bantal guling di sampingnya. Tak ada yang lebih sakit dari memfitnah diri sendiri. Dan bodohnya lagi Dante percaya.
Meski begitu Dante masih membantunya mengenakan pakaian tanpa sedikitpun mau memandang. Ia mengantarnya dengan baik sampai di depan pintu rumah.
__ADS_1
Hanya saja, ia masih enggan berbicara dengan Dante meskipun pemuda itu berulang kali meminta maaf. Sampai-sampai ia hanya membisu di sepanjang perjalanan menuju pulang.