Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Luka yang paling hebat


__ADS_3

Alisha hanya bisa pasrah saat Dante mengajaknya pergi ke suatu tempat. Berdua, mereka berboncengan pada motor yang melaju dengan kecepatan sedang itu.


Jika biasanya ia akan patuh pada titah Dante untuk berpegangan, kini Alisha bersikap tak acuh meski kelak Dante akan menjatuhkannya di tengah jalan.


Beribu sesal dan kecewa menggayut di hatinya. Entah kesalahan apa yang telah dibuat Alisha hingga pemuda ini menyakitinya sedemikian rupa.


Dante masuk ke kehidupannya dengan tiba-tiba. Pemuda itu berhasil menempati bilik terdalam di palung hati. Menyita seluruh perhatian Alisha hingga gadis itu merasa tak ada pemuda yang lebih sempurna dari dirinya.


Dan kini, saat di palung hatinya telah berpenghuni satu nama, Alisha harus menelan kenyataan pahit jika pria yang membuatnya jatuh cinta itu telah menipunya mentah-mentah. Memalsukan asal-usulnya.


Kecewa. Sangat kecewa. Rasanya Alisha ingin menangis saja melihat pemuda di depannya. Dante bukan hanya pintar memainkan perasaan, tetapi juga mahir menyembunyikan kebohongannya. Parahnya lagi, ia bisa bersikap santai seperti biasanya layaknya manusia tanpa dosa.


"Al, kok diam aja. Kamu baik-baik aja, kan?"


Tak tahu harus menjawab apa, Alisha hanya diam seribu bahasa meski banyak pertanyaan yang berjejalan di otaknya. Jangankan bertanya, untuk menahan air mata agar tak tumpah saja ia harus berusaha sekuat tenaga. Jangan sampai Dante melihatnya menangis, atau pemuda itu akan menganggapnya wanita lemah yang tak bisa berdiri di atas kaki sendiri.


Alisha mengedarkan pandangan ke sekeliling saat tiba-tiba Dante membelokkan stang motornya ke suatu tempat. Rupanya pemuda itu membawanya ke taman kota. Tempat di mana danau buatan itu berada.


"Ngapain jauh-jauh ke sini, sih? Udah berpanas-panasan, eh taunya cuma diajak ke taman doang." Alih-alih merasa senang seperti biasanya, Alisha justru berucap ketus sambil menekuk wajah.


Terang saja Dante mengernyit heran melihat sikap tak wajar gadis itu. Ia memperhatikan Alisha sejenak, lalu berusaha keras menghalau pikiran negatif yang tiba-tiba mampir.


Ia memutuskan kembali fokus pada tujuannya awal mengajak Alisha kemari. Ia ingin bicara serius. Dari hati ke hati. Ia perlu memastikan suatu hal sebelum mengambil keputusan. Sebab imbasnya bukan hanya untuk waktu sekarang melainkan jangka panjang. Untuk masa depan mereka tepatnya.


"Al, kok kamu cemberut gitu sih? Kita ada di taman loh sekarang. Bukannya ini tempat favorit kamu untuk mencari ketenangan?" Dante berucap pelan dengan nada mengingatkan. Ia tak mungkin membuat mood Alisha semakin buruk dengan berbicara keras.


"Itu kan dulu, Dan. Beda sama sekarang," kilah Alisha. Gadis itu masih betah tak memandang pemuda yang mengajaknya.

__ADS_1


"Maaf .... Kukira kamu masih suka dengan tempat ini seperti kemarin."


Tanpa sepengetahuan Dante, Alisha memejamkan mata berusaha menahan lelehan bening yang sudah berdesakan. Tangannya mengepal kuat menahan sesak. Ia bahkan sudah berusaha memancing amarah Dante sedemikian rupa, tetapi pemuda itu justru menanggapinya penuh kesabaran. Layakkah pemuda sebaik itu mendapatkan gadis seperti dirinya?


Tuhan ... tolonglah hambamu ini. Beri hamba kekuatan untuk melakukan semuanya dengan baik. Kamu bisa, Alisha. Kamu pasti bisa. Ia berusaha menguatkan dirinya sendiri.


Demi apa pun, Dante adalah satu-satunya pemuda yang ingin ia pertahankan hingga akhir hayat. Dante lah salah satu alasan mengapa Alisha bisa setangguh itu menghadapi dunia yang kejam.


Namun, haruskah ia bersaing dengan saudari tirinya yang baru saja dijumpai? Haruskah ia bersikap ego dengan membawa Dante dalam kehidupannya yang menyedihkan?


Tidak.


Dante butuh bahagia.


Dante harus menikah dengan gadis yang sederajat dengan dia. Bukan Alisha. Gadis yang bahkan tak memiliki apa-apa. Seseorang yang mengenalkan diri sebagai papanya bahkan telah beberapa hari tak menampakkan batang hidungnya. Apalagi jika bukan karena menyesal telah memiliki titisan seburuk dirinya? Apa lagi yang tersisa darinya selain kehancuran?


"Alisha."


"Al ...."


Alisha tak bisa tidak terpesona setiap kali berhadapan dengan Dante. Tatapan matanya yang menghipnotis. Hangat jemari Dante yang selalu menggenggam tangannya seperti memberikan perlindungan, itu benar-benar meninggalkan candu yang sulit sekali dilepaskan. Ia hanya bisa membeku saat Dante bersikap manis dengan menyelipkan sulur rambutnya ke belakang telinga.


"Aku nggak tau sejak kapan rasa ini hadir kemudian tumbuh dan berkembang. Aku bahkan lupa sejak kapan mata ini merabun dan tak bisa melihat keindahan lain selain dirimu saja."


Dante menjeda ucapannya demi menyusun kata-kata yang tepat untuk menyatakan perasaannya.


"Alisha ... maukah kau menjadi satu-satunya orang yang mencintai dan dicintai aku? Kita menyongsong masa depan tanpa menoleh lagi ke belakang. Saling menerima apa adanya tanpa mengingat masa lalu yang sudah dilewati. Aku yakin kau juga merasakan hal yang sama sepertiku juga. Maka dari itu aku berani menyatakannya."

__ADS_1


Siapa yang tidak meleleh jika ada pemuda yang dicinta lebih dulu menyatakan perasaannya dengan kata-kata seromantis itu. Begitupun dengan Alisha yang nyaris terbang ke awan lantaran saking bahagianya.


Namun, wajah Lara dan papanya Dante seketika menari di pelupuk mata dan sukses menyadarkan Alisha dari mimpi indah yang semu. Gadis itu tersentak dan langsung menarik tangannya dari genggaman hangat Dante.


"Apa-apaan sih Dan! Pake pegang-pegang tangan segala!"


Suasana romantis yang sengaja dibangun Dante seketika ambyar oleh reaksi tak terduga Alisha. Dante terperangah hingga membulatkan matanya tak percaya.


Yang terjadi justru di luar ekspektasinya. Ia membayangkan mata Alisha akan berkaca-kaca lantaran terharu dan bahagia oleh pernyataan cinta tulus dari dirinya. Ia berpikir gayung akan bersambut karena yakin Alisha juga memiliki perasaan sama. Atau mungkin dirinya yang terlalu percaya diri? Mungkinkah Alisha terkejut dan merasa tertekan hingga menunjukkan reaksi yang demikian?


"Kenapa sih, Al? Bukankah sudah hal biasa kita berpegang tangan?" Dahi Dante mengernyit heran.


"Itu karena aku menghargaimu sebagai teman ya, Dan! Bukan hal lain!"


"Al, bisa nggak sih kamu ngomongnya agak lembut dikit. Seperti biasanya gitu. Hari ini kami agak beda deh."


"Beda?" Alisha mengulangi sepenggal kata dari ucapan Dante dengan nada menyangsikan. Bibirnya juga menunjukkan seringai meremehkan. "Nggak salah tuh? Bukannya kamu ya yang agak beda? Rada-rada aneh, malah!" ketusnya pula.


"Al, aku ini lagi nyatain cinta loh sama kamu. Aku udah berusaha seromantis mungkin dengan keterbatasan yang kumiliki. Aku udah bawa kamu ke tempat kesukaan kamu. Aku ini tulus cinta sama kamu, Al. Apa begini cara kamu nanggapin aku?"


"Nyatain cinta? OMG." Dua tangan Alisha kompak memegangi kepala seolah-olah merasa terkejut dan pusing seketika. Ia mengacung telunjuknya seperti meminta atensi Dante agar memberinya kesempatan untuk bicara. "Tunggu tunggu tunggu. Jadi ceritanya ini tadi kamu nembak aku? Dengan cara seperti tadi? Tanpa bunga ataupun cincin seadanya?"


Untuk kesekian kalinya Dante terperangah oleh kata-kata Alisha. Ia bahkan merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya sampai-sampai kembali bertanya untuk memastikan.


"Maksud kamu, Al?"


"Dante--" Alisha mengusap bahu Dante dengan ekspresi pengertian. "Kamu tahu kan, semua wanita itu menyukai yang berkilau. Bukan hanya kata-kata mutiara tapi dia butuh emas permata juga. Kamu tau kan, aku ini orang susah! Aku butuh uang banyak untuk mengubah keadaan dan mengangkat derajat ibu. Lantas, bila aku mendapatkan orang seperti dirimu, apa yang kuandalkan agar bisa merealisasikan itu! Dari sini kamu paham, kan?" Ia mengakhiri kata-kata itu diiringi tepukan pelan pada bahu Dante sebagai bentuk dukungan. Sebuah seringai mencemooh bahkan tak lupa ia sematkan di bibirnya yang merah jambu.

__ADS_1


Sayangnya, Dante yang sudah kadung meradang tak melihat setitik kristal yang jatuh dari pelupuk mata saat Alisha berbalik badan. Pria itu tak tahu hatinya lebih sakit dari apa dirinya rasakan.


Luka yang paling hebat adalah saat kita melukai hati orang yang dicintai dengan sengaja.


__ADS_2