Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Benarkah ujian datang untuk mengangkat derajat makhluk Tuhan?


__ADS_3

Wanda langsung tersenyum menyadari kedatangan Alisha. Tapi ada yang berbeda di wajah gadis itu saat meraih tangannya bersalaman lalu mencium punggung tangan. Mata Alisha terlihat sembab. Senyuman ceria yang biasanya selalu tersungging itu kini tidak nampak.


Menangiskah dia?


"Al, kamu baik-baik saja?" tak tahan diperam heran, Wanda akhirnya memutuskan untuk bertanya.


Alih-alih berkata jujur, Alisha malah menggeleng lemah serta memberikan penyangkalan. "Alisha baik-baik aja, Bu. Tadi memang sempet kelilipan pas di jalan, tapi sekarang udah nggak pa-pa, kok." Tanpa menunggu tanggapan Wanda, ia bergegas pamit ke kamar. "Alisha istirahat dulu ya, Bu. Alisha agak capek."


Wanda hanya bisa tertegun memandangi sosok sang putri yang bergerak menjauh, hingga gadis itu menghilang di balik pintu kamar.


"Ada apa dengan Alisha, ya? Bukannya tadi baik-baik aja? Masa iya kelipipan sampai sembab gitu?" Merasa alasan putrinya tidak masuk akal, Wanda bergegas menyusul Alisha di kamarnya. Benar saja, Alisha kini tengah tertelungkup di atas kasur dengan bahu yang berguncang.


"Alisha, kamu kenapa, Nak? Bilang sama Ibu!" Panik, Wanda langsung mendekat dan mendekap erat tubuh putrinya. Karena Alisha tak bereaksi, ia mengguncang-guncang tubuh ramping itu. "Alisha! Bilang sama Ibu!"


Memandang wajah ibunya sejenak, tangis Alisha langsung pecah di dada wanita itu. Jujur, ia sudah berusaha menyembunyikan, tetapi naluri seorang ibu memang tidak bisa ditipu. Meski sudah menangis sepanjang jalan, rupanya sesak di dada Alisha belum juga terasa lega.


Cemburukah dia? Atau mungkin iri pada saudara tirinya? Apa pun alasannya, nyatanya dua hal itu benar-benar membuatnya sakit.


Ingin rasanya Alisha memprotes pada Tuhan, kenapa Dia menciptakan rasa cinta? Kenapa harus ada iba dan selalu ada kebetulan?


Kenapa harus pada Dante ia menjatuhkan rasa cinta yang konon katanya adalah anugerah Sang Pencipta? Kenapa pula dia harus punya hati dan memiliki rasa iba terhadap Lara? Lalu kenapa juga harus sang saudara tiri yang kelak akan menjadi pendamping cinta sejatinya? Itukah yang namanya kebetulan? Jika memang iya, ini adalah kebetulan yang menyakitkan.


Masih belum cukupkah Tuhan memberinya sebuah ujian? Hingga detik ini, ia bahkan telah bertubi-tubi mendapatkan ujian! Ujian baginya sudah seperti makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari.

__ADS_1


Katanya, ujian selalu dinanti-nanti oleh orang yang sedang belajar. Lalu, kapan dirinya akan naik kelas?


Alisha sedang menunggu waktu itu tiba. Mungkinkah kelak Tuhan akan mengangkat derajatnya?


***


Deru mesin mobil Dante terdengar melemah seiring dengan menghilangnya mobil itu dari pandangan. Lara mendengkus kesal, lalu menyeret langkahnya masuk ke dalam rumah.


Helena yang menyadari kedatangan putrinya langsung menyambut gadis itu dengan senyuman.


"Hai, Sayang? Gimana kencan pertamanya? Seru nggak?"


"Mama huaaaa!" Alih-alih menjawab pertanyaan mamanya dengan kata, Lara malah berhambur memeluk Helena dengan bersimbah air mata.


"Loh, kok nangis?" Helena membeliak dengan ekspresi heran. Ia mengangkat wajah sang putri yang bersembunyi di dadanya, lalu memaksa gadis itu untuk membalas tatapannya. "Lara Sayang, ada apa ini? Cerita sama Mama!"


"Lara! Jangan bilang kalau Dante udah perkos* kamu, ya!"


"Ma!" sahut Lara marah. "Boro-boro diperkos*! Dante ngelihat wajah aku aja, enggak! Huhu ... Lara kesel, Ma! Cewek secantik aku dicuekin, huuu ...!" Memeluk Helena dan tersedu lagi di sana.


Mendengar itu Helena hanya mengembuskan napas seraya memutar bola mata. "Owalah. Cuma itu?"


"Kok cuma itu sih, Ma?" Lara sontak mengangkat wajah dan menatap mamanya dengan sebal. "Ini Lara lagi kesel loh, Ma. Bukannya ngebela, Mama malah bikin Lara tambah kesel!"

__ADS_1


"Terus mau kamu apa? Mama harus gimana?" Helena mendesah pelan lalu mengusap puncak kepala anaknya dengan penuh sayang. "Namanya perjodohan itu memang wajar kalau belum ada rasa cinta. Papa ke Mana dulu juga gitu, kok. Itu tugas kamu, bagaimana caranya bikin Dante cinta dan bertekuk lutut sama kamu."


"Susah, Ma. Dante cintanya bukan sama aku," keluh Lara sedih. Ia menyebik lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa.


Helena yang melihat tingkah putrinya malah bersedekap dada seraya menatap putrinya dengan mata memicing.


"Memang cintanya sama siapa, sih di Dante itu? Mama jadi penasaran deh, tipe cewek seperti apa yang dicinta oleh Dante. Harusnya kamu bisa niru dia dong, Lara. Bukannya putus asa seperti ini!"


"Ma! Yang dicintai Dante itu cewek miskin seperti Alisha!"


Helena sontak melepas jalinan tangannya sembari membelalak. Ia mendekati putrinya lalu bertanya dengan nada tak percaya.


"Alisha? Alisha yang katanya anak papa kamu itu?"


"Iya, Ma! Gimana Lara nggak sebel, coba! Apa bagusnya cewek miskin itu dibandingkan Lara, Ma!" Lara memberengut sambil melipat tangannya di depan dada, lalu berucap dengan nada yang agak pelan. "Malahan tadi Dante bikin Lara tambah sakit hati. Masa Dante baikin Lara cuma di depan Alisha doang! Sakit hati ini, Ma. Sakit!" geramnya kesal sambil menepuk dadanya berulang-ulang. Kemudian kembali menangis sambil menjatuhkan kepalanya pada lengan sofa.


Helena diam sejenak sembari memikirkan sesuatu. Ia memang merasa sedih putrinya diperlakukan seperti itu, tetapi Helena lebih berpikir logis dengan merancang sebuah rencana untuk menghibur hati putrinya.


"Lara, dengerin Mama, Sayang," tegasnya. "Stop. Berhentilah menangis dan membuang air matamu yang tidak berguna itu. Dengerin Mama. Mama punya rencana yang bagus untuk kamu.


Karena ditarik oleh Helena, Lara terpaksa bangkit dari posisinya dan menatap mamanya sembari mengusap air mata. "Rencana apa, Ma?" tanyanya lirih dengan suara parau.


"Sini, Mama bisikin."

__ADS_1


Meskipun agak ragu, tetapi Lara akhirnya menyerah dan membiarkan Helena berbisik di telinganya.


Entah apa yang Helena bisikkan, tetapi hal itu sukses membuat mata Lara kembali berbinar.


__ADS_2