Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Bukan lagi calon tunangan


__ADS_3

Lara tertunduk dalam dengan mata berkaca-kaca. Ia benar-benar tak menyangka akan masuk ke dalam jebakan yang dibuat Dante untuknya. Ia bahkan tak bisa menerka-nerka dari mana pemuda itu tahu semua kejahatannya, bagaimana dirinya menindas Alisha hingga berakhir menculiknya.


Rekaman melalui kamera ponsel yang Dante tunjukkan padanya itu sudah merupakan bukti nyata. Dante merekamnya saat sedang mengintimidasi Alisha di restoran. Ia juga melihat rekaman videonya saat bicara berdua dengan Om Robby.


Kini Lara benar-benar kehilangan muka di hadapan Dante. Jangankan mengelak, mengangkat pandangan saja ia tak memiliki nyali.


"Kenapa diam seperti itu? Tunjukkan kehebatanmu ketika mengancam orang itu kepadaku, Lara. Apa kau tidak ingin melihat diriku ketakutan di bawah ancamanmu?"


Di tempatnya duduk, Dante menatap Lara dengan seringai jahatnya. Terlihat jelas wajah gadis itu memucat. Pelipisnya berkeringat, dan tangannya yang tengah memainkan jemari itu tampak gemetaran. Tawa Dante membahana di udara. Ia benar-benar menikmati ketakutan Lara.


"Enaknya kita apain aja nih anak? Laporkan ke polisi atau kita aniaya aja?"


Ucapan salah seorang teman Dante yang berdiri di belakang Lara itu membuat Lara membelalak. Dilaporkan ke polisi dan dianiaya itu sama mengerikannya. Ia tak mungkin sanggup merasakan keduanya.


"Jangan Dante! Aku mohon jangan lakukan itu." Tangis Lara pecah membayangkan keduanya. Ia berhambur mendekati Dante lalu duduk bersimpuh dan memohon kepadanya. Dengan bersimbah air mata, ia menangkubkan tangannya ke depan dada, berharap Dante merasa iba.


Dante yang tengah duduk dengan penuh wibawa kayaknya seorang penguasa itu hanya tersenyum remeh tanpa bersuara. Namun, sebaliknya. Salah satu teman lainnya yang merasa geram oleh perbuatan Lara akhirnya ikut buka suara.


"Enak saja bilang jangan. Harusnya lo bilang seperti itu ketika berniat menindas Alisha! Dia itu sodara lo! Bukannya dijaga malah mau dianiaya!"


"Aku nggak berniat menganiayanya, Dante! Demi Tuhan!" sahut Lara tak terima.


"Oh ya?" Senyum Dante tersungging sebelah seperti menyangsikan ungkapan Lara. Terang saja. Memangnya mana ada maling yang ngaku. "Terus maksud lo apa nyulik-nyulik Alisha kayak gitu? Tujuan lo apa, Bangsat!" Dante mulai berbicara kasar, sampai mengubah posisi duduknya untuk condong pada Lara dan menghentakkan kakinya ke lantai. Pemuda itu sepertinya telah habis kesabaran.


"Aku cuma ingin mengamankan Alisha saja, Dante. Aku nggak mau dia gangguin kita ...," jawab Lara di sela isaknya.


"Gangguin kita? Lara, Lara. Lo bener-bener nggak sadar apa? Yang selama ini gangguin hubungan gue sama Alisha itu elo! Alisha udah mati-matian jauhi gue! Bisa-bisanya lo mikir buruk kayak gitu."


"Maaf, Dante. Bukan gitu maksud aku," ujar Lara karena merasa dirinya salah ucap. Namun, ternyata itu percuma. Dante lebih memilih membuang muka.


"Jangan minta maaf ke gue. Minta maaf sama Alisha!"


"Iya, aku bakal minta maaf. Tapi kamu juga harus janji nggak bakalan bilang ke Papa dan laporkan aku ke polisi."


"Enak aja." Tawa Dante terdengar mengejek. "Gue udah susah-susah nangkap basah kejahatan lo, malah minta dirahasiakan. Situ sehat?"


"Dante ... masa kamu nggak ada kasihannya sama sekali, sih? Gini-gini aku calon tunangan kamu."

__ADS_1


"Heh, sorry ya. Mulai sekarang kita bukan lagi calon tunangan! Catat. Oh iya, perlu lo tau ya, Lara. Gue mau dijodohkan sebab cuma pengen bongkar kebusukan lo. Dan ternyata itu berhasil. Makasih ya, lo udah culik calon istri gue Alisha. Karena dengan bukti ini, gue bisa bikin lo mendekam lama di dalam penjara."


Seketika suara dua orang itu melengking bersamaan. Dante yang tertawa, sedangkan Lara menjerit histeris. Lara sangat ketakutan. Tangisnya pecah. Gadis itu bahkan meronta sebisanya ketika dua orang teman Dante membawa dia pergi ke suatu tempat.


***


Niken menatap Alisha dari kejauhan. Gadis itu duduk di taman samping rumah setelah selesai makan siang. Ia duduk termenung di tepi kolam mini yang dihuni ikan koi.


Entah apa yang sedang ia pikirkan, Alisha terlihat berbeda sejak Dante membawanya tadi. Meski selalu tersenyum dan bersikap ramah, tetapi Alisha lebih banyak diam dari biasanya. Dante juga belum memberi jawaban memuaskan ketika ia tanya. Sang putra justru buru-buru pergi setelah menitipkan Alisha pada dirinya.


Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Niken yang menyukai kepribadian Alisha jelas merasa senang dengan kedatangan gadis itu di rumahnya. Jelas ia akan menjaga Alisha dengan sebaik-baiknya sekalipun Dante tidak meminta.


"Alisha .... Lagi mikirin apa sih, kok melamun terus dari tadi?" Niken bertanya hati-hati setelah mendekati, membuat Alisha yang baru pulih dari lamunannya, langsung menoleh dan tersenyum.


"Nggak mikirin apa-apa kok, Tante. Cuma lagi lihat-lihat ikan koi aja," dusta Alisha. Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


"Bantuin Tante bikin kue mau, nggak?" ajak Niken. Barang kali saja itu bisa mengalihkan perhatian Alisha.


Gayung bersambut. Rupanya Alisha menanggapi baik ajakan Niken. Gadis itu menyahuti dengan penuh antusias. "Mau, Tante. Alisha mau banget!"


"Kalau gitu kita ke dapur, yuk. Kita bikin kue kesukaan Alisha."


"Nggak pa-pa. Kan Alisha tamu di rumah ini, jadi nggak ada salahkah kalau Tante menjamu dengan kue kesukaan Alisha."


"Ah ... Alisha jadi nggak enak nih Tante. Alisha udah ngerepotin Tante."


"Ah, siapa bilang? Tante malah suka, kok."


Keduanya lantas melangkah menuju ke dapur dengan posisi bersisian. Sampai di tempat yang dituju, Niken tanpa sungkan memakaikan celemek pada Alisha sambil keduanya mengobrol ringan, kemudian mengajak gadis itu membuat adonan bersama-sama.


Mungkin itu hanya kegiatan biasa sebab keduanya memang sudah terbiasa. Namun, bisa membuat kue bersama dengan orang yang dikagumi tentu saja akan terasa luar biasa. Begitulah pikir Alisha.


Sambil memegangi mikser yang masih menyala untuk mengaduk telur, diam-diam Alisha memperhatikan Niken yang sedang mencairkan cokelat. Wanita itu benar-benar mertua idaman. Aura keibuannya sangat kental dan hangat pada semua orang. Niken hatinya sangat lembut dan welas asih. Perlakuannya persis seperti sang ibu kandung. Entah siapa jodoh Dante kelak, Alisha bisa memastikan dia adalah menantu paling beruntung di dunia.


Sambil memutar miksernya membentuk lingkaran, Alisha mengusap telinga kanannya dengan bahu ketika merasakan sesuatu. Agak sejuk seperti ditiup. Dan itu membuatnya merasa geli. Hal itu terjadi bukan hanya satu kali. Alisha bahkan melakukannya berulang kali hingga ia merasa kesal lalu menoleh.


Seketika gadis itu terperanjat melihat sesuatu di belakangnya. Bagaimana tidak terkejut jika tiba-tiba ada seraut wajah tampan yang tengah menyungging senyum dengan jarak teramat dekat.

__ADS_1


"Dante!"


Alisha menarik kepalanya ke belakang untuk menciptakan jarak. Ia khawatir dengan jarak yang teramat dekat itu berpotensi terjadi sebuah ciuman. Bukannya ia tak suka. Hanya saja ....


Entah sejak kapan pemuda itu sudah kembali dan ikut nimbrung di dapur. Mungkinkah utusan Dante dengan Lara sudah di selesaikan?


"Ih, segitu kagetnya. Lagi ngelamun ya?" goda Dante tanpa bergerak dari posisinya. Ia malah menaruh tangan di tepian meja, tepat di sisi kiri dan kanan tubuh Alisha. Sedangkan tubuhnya sedikit membungkuk sebab kepalanya sedikit miring agar bisa menatap wajah Alisha.


Dengan posisi seperti dikurung seperti itu, bagaimana Alisha bisa tenang coba? Gadis itu makin tak karuan sebab jantungnya berdebar-debar. Mereka bukan siapa-siapa, tetapi Dante sudah bersikap seperti suaminya saja. Tentu saja Alisha hanya bisa berucap ketus untuk menyembunyikan rasa groginya.


"Apaan sih? Siapa juga yang melamun!"


"Kamu, lah."


"Enggak."


"Masa?"


"Iya."


"Tapi buktinya kamu kaget. Udah gitu langsung kikuk pula."


Sial. Ngapain pake diperjelas segala! rutuk Alisha.


"Ya gimana nggak kaget kalau tiba-tiba ada orang di belakang. Mana nggak ada suaranya, lagi." Akhirnya Alisha mengakui.


"Yakin, nggak ada suara?"


"Yakin, lah."


"Masa? Ini telinga kayaknya perlu ditiup deh. Soalnya aku udah panggil-panggil tapi kamunya tetep nggak denger?" Bukan hanya omongan, rupanya Dante benar-benar meniup telinga Alisha hingga gadis itu berjingkat dan refleks menyentuh telinganya. Bukan karena sakit, justru karena bulu kuduknya terasa merinding oleh perbuatan Dante.


Bukannya berhenti menggoda, Dante yang menyadari itu malah tertawa seenaknya.


"Dante minggir .... Nggak enak ada mama kamu," rengek Alisha. Namun, bukannya menyadari lalu pergi, Dante justru ngeyel pada Alisha.


"Ngapain harus ngerasa nggak enak, toh Mama nggak ada."

__ADS_1


Mendengar itu Alisha spontan mengarahkan pandangan ke tempat Niken berdiri, tetapi ia tanpa sadar membulatkan mata ketika tak mendapati Niken di sana. Memang ke mana perginya wanita itu?


__ADS_2