Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Terbongkarnya rahasia Helena


__ADS_3

Pagi sekali hidangan lezat sudah tersaji di atas meja makan keluarga Narendra. Sebelumnya, Narendra memang sengaja memerintahkan pada koki yang bertugas untuk memasak beberapa menu sarapan. Hari ini empat anggota keluarga akan menyantap makanan itu bersama-sama. Tentunya, ia ingin segalanya terasa sempurna.


Narendra menghampiri meja itu dengan penampilan rapi. Ia pun terlihat segar seperti biasanya. Koki dan beberapa pelayan yang ada di sana menyambutnya dengan hormat.


"Tuan, saya sudah menyiapkan semuanya yang Anda minta." Koki memberikan laporan. "Silahkan dicek. Barangkali masih ada yang membuat Anda tidak berkenan?"


Narendra sebagai orang pertama yang datang ke ruang makan itu memindai hidangan dengan seksama. Tak lama kemudian, pria matang berwajah tegas dan tampan itu menyunggingkan senyuman.


"Sempurna." Dia memuji sang koki. "Terima kasih atas semua masakan yang kau buat. Aku menyukainya."


Sang koki tersenyum penuh haru meski bukan yang pertama kali Narendra melakukan hal semacam itu. Apresiasi. Narendra selalu memberikan itu pada seluruh pekerja sebagai tanda terima kasih.


Kepala pelayan menarik satu kursi untuk Narendra tempati. Wanita paruh baya yang masih terlihat bugar itu kemudian menawarkan.


"Apa Tuan ingin sarapan sekarang?"


"Tidak, Saras. Aku menunggu Helena, Alisha dan Lara," jawab Narendra, dan dibalas anggukan sopan oleh Saras. Wanita itu lalu berdiri siaga di belakang kursi Narendra.


Beberapa saat kemudian, Helena muncul disusul Lara. Keduanya sama-sama terlihat cantik dengan pakaian casual oleh Lara dan pakaian formal ala sosialita oleh Helena.


"Pagi, Ma. Pagi, Pa." Lara menyapa. Ia mencium pipi orang tuanya bergantian, kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. "Loh, Alisha mana? Belum turun, ya?" tanyanya dengan wajah polos.


"Mungkin sebentar lagi." Narendra menyahut, sedangkan Helena justru mendengkus.


"Baru juga sarapan hari pertama, sudah telat aja."


"Helena!" sambar Narendra. Pria itu menatap Helena penuh amarah.


"Kenapa?" Helena mengangkat dagunya seperti menantang. "Memang benar begitu, kan?"


"Mama, Papa, plis, jangan ribut di hari pertama Alisha ada di sini." Lara memperingatkan dengan ekspresi memohon. Gadis bermata bulat itu menatap orang tuanya bergantian. "Jangan tunjukkan pada Alisha bagaimana hubungan kalian yang sebenarnya! Apa Papa mau, Alisha minta pulang ke rumah ibunya lantaran tidak tahan melihat sikap kalian?"

__ADS_1


Narendra dan Helena saling pandang dalam diam. Keduanya terlihat samar-samar geram, tetapi berusaha menahan. Helena memilih meneguk jus jeruk yang ada di sebelah kanannya, sedangkan Narendra kembali menekuri majalah bisnis keluaran terbaru dengan sampul bergambar dirinya yang tengah tersenyum manis.


Beberapa saat kemudian suara ketukan high heels menggema di tengah keheningan. Semua orang yang ada di meja makan langsung mengalihkan pandangan ke arahnya.


Seorang gadis dengan balutan mini skirt melangkah anggun menuruni tangga. Di belakangnya, seorang gadis dengan pakaian khas pelayan berjalan mengikutinya.


Alisha tampak cantik dengan rambut digerai bebas yang hanya dipermanis jepit kecil berwarna merah. Ia yang tidak suka pakaian terbuka memilih mengenakan blazer warna terang untuk menutupi tank top warna senada pilihan maid-nya.


Baik Narendra, Lara dan Helena tampak terperangah melihat penampilan baru Alisha. Gadis itu sangat cantik dan anggun. Jauh berbeda dengan kemarin saat pertama kali datang ke tempat itu.


"Kemari, Sayang. Duduk dan sarapan bersama kamu." Narendra memerintahkan. Ia melirik kursi kosong di sisi Lara untuk Alisha tempati.


Alisha yang sempat berhenti di tangga terakhir mengangguk patuh lalu berjalan pelan mendekati kursi. Agak kikuk gadis itu menduduki. Namun, senyuman Lara sebagai sambutan di pagi hari lumayan membuatnya senang hari ini.


Acara sarapan pagi pun di mulai. Tidak ada suara percakapan, hanya denting sendok yang beradu dengan piring.


Ini kedua kalinya Alisha duduk di sana dan pertama kalinya sarapan bersama. Ia mulai terbiasa menyantap hidangan dengan cara elegan. Meski hanya dalam waktu singkat, setidaknya yang diajarkan Lisa kemarin tentang cara makan yang baik membuatnya tidak terlihat kampungan saat berada satu meja makan dengan orang-orang golongan high class seperti keluarga Narendra.


Loh, kemana dia? Alisha terkejut saat mendapati Lisa sudah tak ada di tempatnya. Padahal tadi dia berdiri tak jauh dari dia. Alisha bertambah panik saat Lara berpamitan usai meneguk jus jeruk dan mengusap mulutnya dengan tisu.


"Ma, Pa, Lara jalan duluan ya." Ia bangkit dari kursi dan mencium pipi orang tuanya bergantian.


"Hati-hati, Sayang." Helena berpesan.


"Tentu." Lara menatap Alisha lalu tersenyum. "Aku duluan ya, Al."


"Oke." Alisha menjawab lirih sekalipun dirinya masih bingung. Ini adalah hari pertama kuliahnya. Seharusnya ia bisa merasa lebih tenang saat Lara menemaninya. Sekarang saudari tirinya itu malah sudah berangkat duluan.


Roti tawar berselai yang dikunyahnya mendadak sulit ditelan. Ia hanya sendirian sekarang. Berada di kampus besar itu sendirian, bisa dipastikan ia seperti anak hilang. Mondar-mandir ke sana kemari mencari ruangan yang belum ia ketahui. Orang-orang kaya di sana mana mungkin mau membantunya yang berasal dari kalangan bawah.


Yang terjadi, terjadilah. Alisha merasa tak perlu takut dengan apa yang terjadi nanti. Toh ia memiliki Tuhan yang pasti akan tetap menjaganya.

__ADS_1


"Pa, Alisha berangkat ke kampus dulu. Alisha sudah pesan ojek online untuk mengantar."


"Apa? Ojek online? Dengan pakaian seperti ini?" Pertanyaan dengan nada tinggi itu bukan terlontar dari bibir Narendra, melainkan dari mulut Helena. Wanita itu menatap Alisha tak percaya lalu berdecak remeh.


"Helena!" Narendra menatap istrinya sinis. Tak suka putrinya diremehkan. Ia mengalihkan pandangan pada Alisha dengan ekspresi yang lembut. "Mobil yang akan mengantarmu sudah siap di depan. Kau akan ke kampus bersama Lisa selama beberapa hari."


"Li-Lisa?" tanya Alisha seperti tak percaya.


"Iya." Narendra mengangguk. Kemudian mengalihkan pandangan ke arah belakang Alisha bersamaan dengan suara langkah kaki yang mendekat. "Itu, Lisa sudah siap."


Alisha spontan mengikuti arah pandang Narendra lalu tergemap. Bagaimana tidak? Kini ia mendapati sosok Lisa tengah tersenyum kepadanya. Bukan senyuman itu yang membuatnya tak bisa berkata-kata. Ialah perubahan penampilan Lisa yang terjadi begitu cepat. Entah menghilang ke mana baju pelayanan tadi. Berganti outfit ala kampus jaman sekarang yang begitu cocok dikenakan.


Dengan begini Lisa tidak terlihat seperti pelayan. Malahan saat bersanding dengan Alisha mereka terlihat seperti kawan.


"Mari, Nona. Saya akan menjadi teman Nona untuk beberapa hari ke depan," tutur Lisa dengan senyuman.


***


"Aku ingin bicara." Narendra menghentikan Helena yang hendak beranjak dari kursinya. Dua anak gadis mereka sudah bertolak menuju kampus dengan kendaraan yang berbeda. Kini hanya ada mereka dan beberapa orang pelayan yang sudah biasa mengunci rapat mulut mereka.


"Katakan. Waktuku tidak banyak." Helena membalas dengan sikap angkuhnya.


Tanpa sepatah kata, Narendra mengeluarkan sesuatu dari dalam amplop warna coklat yang memang sudah dipersiapkannya sejak tadi. Sedikit melempar hingga benda berupa foto itu teronggok di atas meja makan.


Helena sontak membelalakkan mata. Diraihnya keras bergambar dirinya dengan seorang pria muda itu dengan tangan gemetaran.


"Da-dari mana kau mendapatkan foto ini? Ini semua tidak benar! A-aku bisa menjelaskan semuanya!" Helena tergagap dengan wajah yang memucat. Sedangkan Narendra hanya menanggapi reaksi istrinya dengan tatapan sinis.


"Perlakuan Alisha dengan baik atau kau yang akan kutendang dari rumah ini."


Helena tercekat. Ia lengah. Perbuatan berselingkuhnya sudah diketahui oleh Narendra meski telah disembunyikan dengan rapat. Ini adalah foto kebersamaan terakhir mereka saat di Bali beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Sebuah pilihan yang berat. Namun, Helena tak ingin ditendang dari rumahnya sendiri dan kehilangan harta benda. Mau tak mau, ia harus memperlakukan Alisha layaknya putri sendiri meski dengan hati terpaksa.


__ADS_2