Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Siapa yang kau cinta?


__ADS_3

Lara langsung menghampiri Alisha begitu tahu gadis itu datang. Bukan dengan wajah ramah seperti biasanya, melainkan tatapan menghunus dari mata serupa bilah pedang yang siap menancapkan.


Bagaimana dirinya tidak meradang! Pasalnya sang saudari tiri itu pulang dengan keadaan wajah berseri-seri. Menumpangi mobil mewah yang ternyata milik calon tunangannya. Sebenarnya apa yang Alisha lakukan sehingga Dante mau datang dan sampai-sampai bersedia mengantarnya pulang?


Lara tak menyangka, niatannya memerangkap Alisha di butik milik Selena justru berakhir manis untuk Alisha. Siapa juga yang menyangka jika akhirnya Dante memutuskan datang juga ke sana.


Ini semua karena si sialan David itu! Gara-gara dia aku meninggalkan butik Tante Selena dan melewatkan kesempatan fitting baju bersama Dante.


Namun, bukanlah itu poin penting yang membuat Lara cemas. Memberi Alisha dan Dante kesempatan bersama adalah sebuah kesalahan fatal. Lebih-lebih lagi Dante akan semakin hilang respect terhadapnya. Sudah pria itu tidak cinta, kelalaiannya ini semakin memperburuk keadaan saja.


"Lara?" Alisha terkejut saat tiba-tiba Lara menghalangi jalannya. Ia sontak menghentikan langkah, lalu mematung di tempatnya.


"Sini lo." Lara meraih pergelangan tangan Alisha tanpa peringatan, lalu kemudian menyeret gadis itu tanpa perasaan.


Alisha yang merasa bersalah tak berniat membantah keinginan saudari tirinya. Ia hanya bisa patuh kemanapun gadis itu membawanya.


Sampai di area samping rumah, Lara menghentikan langkah lalu menghempaskan tubuh Alisha hingga membentur dinding pembatas.


"Sakit, Ra. Salah aku apa?" protes Alisha sambil mengusap lengan kanannya.


"Sakit? Mau aku kasih yang lebih dari ini?" tanya Lara dengan tatapan mengintimidasi.


"Nggak mau." Alisha menggeleng cepat.


Lara menatap Alisha yang tertunduk itu dengan wajah geram. Giginya menggemertak. Gadis sok lugu ini benar-benar ancaman bagi dirinya. Selama ini ia masih kuat bertahan dan berpura-pura baik-baik saja. Namun, sepertinya tidak lagi untuk sekarang. Kali ini ia harus tegas. Gadis itu harus diberi pelajaran. Sehingga, seketika sebuah kalimat bentakan pun terlontar dari mulutnya.


"Ngapain kamu deket-deket Dante? Ngapain kamu mau pulang diantar dia!"


"Tante Selena yang minta, Ra. Aku dan Dante nggak bisa menolaknya," jawab Alisha takut-takut. Namun, hal itu sama sekali tak mampu membuat kemarahan Lara mereda.


"Pinter nge-les kamu ya! Ngapain bawa-bawa Tante Selena! Ngapain juga wanita itu harus ngatur-ngatur kalian!" Lara mendengkus kasar. "Kamu denger nggak sih tadi aku suruh apa? Cuma fitting baju! Bukannya ketemuan sama Dante, apalagi sampai barengan pulang!"


"Aku denger, Ra. Maaf ...." Alisha meringis lantaran Lara mencengkeram lengan kirinya. Bahkan ia bisa merasakan kuku-kuku runcing gadis itu menancap di sana.


"Maaf doang nggak bisa ngebalikin keadaan, Alisha," tutur Lara tanpa melepaskan cengkeramannya. Matanya juga masih menatap Alisha tajam, dan rahangnya juga mengetat.


"Aku ... aku janji nggak akan ngulangi lagi. Aku akan jaga jarak dari Dante sebisa mungkin."


"Bisa aku pegang kata-kata kamu?"


Alisha mengangguk mantap. "Pasti."

__ADS_1


"Bagus."


Lara akhirnya melepaskan cengkeramannya, kemudian berlalu meninggalkan Alisha dengan seringai jahat di bibirnya.


Sementara itu di tempat lain, Niken tampak duduk di sebuah sofa sambil asyik memainkan ponselnya. Suara decitan sepatu yang beradu dengan lantai granit akhirnya menarik atensinya. Wanita itu mengangkat pandangan lalu tersenyum melihat putranya datang.


"Dante. Kamu sudah pulang?" tanyanya kemudian. "Sini, Sayang. Ada yang mau Mama bicarakan sebentar." Ia melambaikan tangan.


"Ada apa, Ma?" Dante mendekat. Ia duduk mengambil posisi di sebelah mamanya, kemudian menatap pintu surganya itu lekat-lekat.


"Gimana fitting baju tadi? Lancar nggak?"


Dante mengangguk. "Lancar, Ma."


"Gaun Lara gimana? Cantik?"


"Dante mengangguk lagi. "Cantik banget."


"Kamu suka?"


"Suka."


Dante hanya menjawab pertanyaan mamanya sesuai dengan apa yang ia pikirkan tanpa berniat menjelaskan kejadian sebenarnya. Biarlah itu menjadi rahasia dirinya, Alisha dan juga Tante Selena.


Dante hanya mengulum senyum. Andai saja sang mama tahu yang membuat hatinya senang adalah Alisha ....


"Mama panggil Dante cuma mau tanya itu?" Kali ini wajah Dante terlihat lebih serius saat bertanya.


"Gini Dante, tadi Tante Helena meminta Mama memilih kue untuk acara tunangan kalian. Kira-kira kamu ada saran nggak, kuenya yang mana aja?" Niken minta pendapat. Ia menunjukkan layar ponsel yang menunjukkan foto bermacam-macam kue.


Namun, bukannya memberikan masukannya, Dante justru menolak sembari menahan tangan mamanya. "Jangan minta pendapat Dante, Ma. Dante nggak ngerti masalah kayak gitu."


"Kamu kan bisa request kue kesukaan kamu. Atau kalau perlu kue kesukaan Lara."


Dante berpikir sejenak, kemudian geleng kepala. "Aku nggak tau kue kesukaan Lara apa."


"Nggak tau? Masa iya sih Dante. Kalian bersama udah berbulan-bulan loh."


"Mau berbulan-bulan, mau berminggu-minggu, kalau Dante nggak tau ya nggak tau, Ma!"


Niken mendesah pelan menanggapi ungkapan bernada tinggi putra tunggalnya. "Ya udah, kalau memang nggak tau ya udah, Mama nggak maksa kok. Biar Mama sendiri aja yang pilih kuenya." Niken memanyunkan bibirnya saat melirik Dante. Ia pun kemudian memfokuskan perhatian pada beberapa jenis kue yang tampak di layar.

__ADS_1


Dante yang awalnya mendengkus lirih akhirnya tertarik untuk melirik. Tiba-tiba ada ketertarikan di hatinya untuk melihat kue yang cantik dan terlihat lezat itu walaupun setengah mengintip.


Niken yang menyadari itu langsung menegurnya dengan sinis. "Apa lihat-lihat!"


"Ish, Mama. Cuma mau ngintip doang enggak boleh."


"Ngapain mesti ngintip? Mau ikut milih juga boleh." Niken melihat sebuah desain kue yang begitu menarik perhatian. Matanya berbinar. Refleks ia mendekatkan ponselnya ke arah Dante sambil bertanya. "Yang ini lucu nggak sih, Dan? Kira-kira Lara suka nggak?"


Dante melihat itu kemudian berpendapat. "Aku nggak tau kalau Lara. Tapi kalau Alisha pasti suka. Dia suka kue yang manis dan lembut gitu. Kayak yang ini, yang ini, dan yang ini." Dante menunjuk beberapa gambar kue bergantian. "Nah, yang ini juga Alisha suka banget tuh Ma. Ada toping kejunya. Alisha bisa habis banyak kalau makan itu."


Seketika Niken menatap wajah Dante dengan ekspresi heran. Entah apa yang sedang dipikirkan Dante sekarang? Bisa-bisanya pemuda itu menyebutkan nama Alisha beberapa kali untuk acara pertunangannya dengan Lara.


Dante yang tidak menyadari malah balas menatap mamanya dengan ekspresi tak mengerti. "Kok lihatin Dante nya kayak gitu Ma? Ada yang salah?" tanyanya dengan wajah polos.


"Jelas ada yang salah, Dante! Sebenarnya kamu ini mau tunangan sama siapa, sih? Alisha atau Lara?"


"Ya sama Lara, Ma! Bukannya kalian jodohkan Dante sama Lara."


"Tapi kenapa kamu lebih mengenal Alisha ketimbang Lara? Kenapa kamu lebih mengerti Alisha ketimbang Lara!"


Dante hanya bergeming. Namun, otaknya ikut berpikir. Kata-kata sang mama memang ada benarnya. Apa-apaan dia ini? Bagaimana mungkin ia lebih mengenal calon iparnya ketimbang calon tunangannya. Ia bahkan lebih mengerti tabiat Alisha ketimbang Lara. Dan ia juga lebih paham kesukaan Alisha ketimbang Lara.


Ternyata meskipun hendak bertunangan, sejatinya ia belum mengerti apa pun tentang Lara. Bagaimana mau mengerti jika mengenal saja ia masih enggan?


"Dante ...." Niken mengusap punggung putranya penuh perhatian. Dante yang awalnya terlihat gusar kini menoleh menatapnya dengan ekspresi yang sulit dipahami. "Boleh Mama tau? Sebenarnya siapa yang kau cinta, Nak?"


Dante mendesah kasar lalu menggelengkan kepalanya. "Kenapa Mama tanya gitu sih?"


"Ini sangat penting untuk masa depan kamu, Dante. Mama perlu tau." Niken menjeda ucapannya sejenak. "Dante, asal kamu tahu, Sayang. Kami memang menjodohkan kalian, tetapi itu juga berjalan atas kemauan kalian. Kalau sejak awal kalian menolak, kami juga angkat tangan dan tak akan melanjutkan perjodohan. Kamu tahu bahayanya orang menikah tanpa cinta? Selamanya rumah tangga mereka akan berjalan tanpa cinta. Imbasnya apa? Setiap hari selalu cek-cok. Selingkuh. Ujung-ujungnya perceraian. Dan terkadang anak yang jadi korban. Apa kamu mau seperti itu?"


Dante sontak membelalak dan menggeleng kuat-kuat. "Ya nggak mau lah, Ma."


"Maka dari itu, kejarlah cinta sejatimu, Nak."


Sepasang Mata Dante membeliak. Ia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Barusan Mama ngomong apa?"


"Masih kurang jelas, ya?" Niken mendekatkan mulutnya ke daun telinga sang putra. Lalu kemudian ia berucap dengan intonasi lambat agar Dante bisa mendengarnya semakin jelas. "Ke-jar-lah cin-ta se-ja-ti-mu! Sudah jelas?"


Dante memegang telinganya sambil tertawa terbahak-bahak. Bagaimana telinganya tidak pengang jika sang mama berteriak. Namun, rasa pengang itu berganti senang lantaran ia sudah mendapatkan dukungan dari sang Mama. Buru-buru saja ia memeluk wanita di sampingnya itu sambil menghujani ciuman.

__ADS_1


"Makasih banyak, Ma. Makasih ... banyak. Mumpung masih ada waktu aku akan kejar cinta sejati ku."


"Semangat!" Niken memberi dukungan dengan mengepalkan tangan yang terangkat seperti bentuk siku."


__ADS_2