Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Tak kusangka


__ADS_3

Jantung Alisha berdegup kencang setelah mobil berhenti di sebuah pelataran. Sejak Narendra mengatakan tujuan mereka akan ke mana, ia langsung bungkam seribu bahasa.


Ke rumah Dante?


Demi apa pun, ia tidak siap untuk itu. Entah bagaimana penampilannya sekarang. Alisha bahkan tidak ingat bercermin dahulu sebelum berangkat. Bahkan seingatnya tadi, dirinya baru bangun tidur siang dan turun ke lantai bawah untuk mengambil minuman dingin. Jangankan tancap, menyisir rambut saja tidak.


Pandangannya mengedar ke sekeliling setelah turun dari mobil. Entah perasaannya saja atau bagaimana, ia merasa tempat ini seperti tidak asing. Rumah megah bergaya modern itu dijaga oleh scurity dan beberapa orang berbadan kekar di beberapa sudut bagian depan. Mereka berdiri seperti patung dengan kaca mata hitam bertengger di atas hidung.


Tanpa rasa curiga, Narendra tersenyum dan mengajaknya berjalan ke arah teras. Langkah Alisha kian terasa berat saat melihat mobil kesayangan Dante terparkir cantik di halaman. Entah nanti akan bertemu dengan dia atau tidak, tetap saja ia tidak siap. Belum lagi ia harus mempersiapkan diri jika nanti bertemu dengan Robby. Pria yang waktu itu pernah berniat menyuapnya dengan segepok uang agar mau meninggalkan Dante. Orang itu tak lain adalah papanya Dante.

__ADS_1


Mungkin begini jadinya jika orang tua terlalu sayang pada anaknya. Berlaku demikian agar anaknya tidak salah memilih pendamping. Dengan memisahkan anaknya dari orang yang dicinta, apakah itu bisa menjamin darah dagingnya bahagia? Seburuk itukah dirinya di mata orang saat tidak memiliki uang? Dalam hati Alisha berdecih. Kira-kira bagaimana reaksi Robby nanti jika tahu dirinya adalah anak kandung seorang Narendra? Alisha benar-benar penasaran. Perasaannya bercampur aduk dalam satu waktu. Di satu sisi tidak percaya diri, tetapi di sisi lain, ia ingin menampakkan diri.


Seorang berpakaian formal serba hitam datang menyambut keduanya dengan sopan. Alisha bisa memastikan itu adalah salah satu dari pengawal keluarga Dante. Pakaiannya juga tak jauh beda dengan pengawal orang tuanya. Hanya saja untuk kali ini Narendra tidak membawa seorang pengawal ataupun Jonathan. Hanya seorang sopir yang bertugas mengendarai mobil. Namun, sopir itu juga bukan hanya sekadar sopir.


Tak lama kemudian, seorang pria tampak muncul dari pintu masuk. Dari jarak beberapa meter Alisha langsung bisa mengenali jika itu adalah Robby. Pria itu tampaknya hanya fokus pada Narendra dan masih mengembangkan senyumnya. Alisha sangat menantikan bagaimana perubahan ekspresi wajah Robby setelah nanti mengenalinya. Terkejutkah? Atau mungkin tidak mengenalinya lagi?


Jantung Alisha berdetak kian cepat seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat.


"Narendra! Dikunjungi oleh orang sibuk sepertimu sungguh ini sebuah kehormatan." Robby menyambut Narendra dengan senyuman lebar. Tangannya merentang demi mendapatkan sebuah pelukan. Sahabat sekaligus rekan bisnis itu saling berpelukan dan menepuk pelan bahu lawan.

__ADS_1


Senyum cerah masih mewarnai wajah Robby ketika mengurai pelukan mereka. Namun, saat menoleh ke arah Alisha, senyum manis itu seketika memudar berganti keterkejutan yang berusaha ditutupinya.


Robby sempat mengira jika yang datang bersama Narendra itu adalah Lara. Namun, siapa sangka jika ternyata gadis dengan balutan dress santai sepanjang lutut itu adalah Alisha, gadis yang beberapa waktu lalu menolak mentah-mentah uang suapnya demi mempertahankan harga diri.


"Ini adalah Alisha. Anak pertamaku dari istri terdahulu." Narendra yang menangkap keterkejutan di wajah Robby akhirnya angkat bicara memberi penjelasan. Ia merangkul putrinya penuh sayang lalu mengusap puncak kepalanya penuh kelembutan.


Untuk sejenak Robby sempat terperangah mendengar kata-kata Narendra, akan tetapi tawa penuh kekaguman akhirnya ia loloskan juga.


"Rupanya kau memiliki dua putri yang jelita, Rendra. Tak kusangka."

__ADS_1


Meski dalam hati ingin tertawa, tetapi Alisha tetap bersikap ramah dengan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Robby menyambut dengan baik dan tersenyum. Ada sesal mendalam yang terbesit di benaknya. Andai kelak Narendra tahu perbuatannya waktu itu, entah bagaimana reaksi pria itu nanti.


__ADS_2