Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Jaga dia dengan baik


__ADS_3

Wanda berdiri dari duduknya ketika melihat Alisha pulang dengan langkah gontai. Wajah gadis itu jauh dari ekspresi ceria, dan penampilannya terlihat berantakan. Rambutnya basah terkena air hujan.


Terang saja penampilan kacau sang putri itu menimbulkan pertanyaan besar di benaknya. Ini benar-benar jauh dari ekspektasi yang sempat ia harapkan.


"Alisha? Kamu baik-baik saja, kan?" tanyanya cemas sembari mendekati Alisha. Ia celingukan ke arah belakang sang putri seolah-olah tengah mencari seseorang. "Kamu sama siapa? Papa kamu mana?"


Wanda jelas mengetahui rencana pertemuan Alisha dengan Narendra. Ia memang turut andil dalam terlaksananya pertemuan itu. Salahkah jika ia berharap bisa mendengar kabar baik tentang hubungan ayah dan anak itu selanjutnya? Namun, dengan kepulangan Alisha yang hanya seorang diri dengan raut sedih seperti ini jelas membuatnya merasa kecewa.


Mungkinkah Narendra kurang pandai membujuk putrinya? Atau justru Alisha yang masih sulit menerima keberadaan Narendra?


"Dia sudah pulang, Bu. Aku yang memintanya untuk segera pergi." Alisha berkata demikian demi menghalau kecemasan ibunya. Ia pun buru-buru pamit istirahat sebelum Wanda mencecarnya dengan banyak pertanyaan.

__ADS_1


"Baiklah. Ganti bajumu dulu sebelum tidur ya. Ibu nggak mau kamu sampai masuk angin."


Alisha mengangguk, lalu melangkah memasuki kamarnya. Alih-alih melakukan apa yang diperintahkan ibunya, Alisha justru duduk di atas kasur sambil memeluk lutut.


Dua kejutan yang datangnya beriringan membuat perasannya kacau balau. Sejak awal ia tak menyangka jika kedekatannya dengan Narendra dan Lara rupanya memiliki keterikatan. Pantas saja ia merasakan kenyamanan dalam setiap kebersamaan, ternyata mereka sedarah.


Perjalanan hidup seseorang memang tak lepas dari cobaan. Akan selalu ada lika-liku dan medan yang terjal. Namun, justru cobaan itulah yang menjadikan hidup terasa lebih berwarna dan penuh tantangan. Lalu ketika pada akhirnya sampai di puncak kita bisa tersenyum bahagia sembari menatap keindahan.


Sedikit banyak Alisha telah memahami bagaimana karakter seorang Lara. Wajar jika Lara shock mendengar fakta yang tak pernah dia sangka. Gadis itu lahir dan dibesarkan oleh orang tua yang kaya raya. Apa pun yang dia mau akan tersedia di depan mata, bahkan hanya dengan sekali tunjuk saja. Lara tak terbiasa hidup susah. Lara tak sekuat dirinya yang telah memiliki mental baja semenjak balita.


Alisha memahami betul kemarahan yang ditunjukan oleh Lara. Semoga itu hanya reaksi sesaat dari keterkejutan yang menghantam. Namun, kemarahan Lara tak sebrutal dirinya yang sempat berpikir ingin membunuh ayahnya beberapa hari lalu. Penderitaan sang ibulah yang menjadi landasan kuat. Beruntung, ia masih kuat iman hingga bisa meredam amarah yang terus bergolak.

__ADS_1


Sungguh, Alisha membenci situasi ini. Persahabatan yang mereka jalin harus rusak karena terkuaknya fakta tentang masa lalu. Namun, ada hal manis di balik pingsannya Lara yang membuat jiwanya sebagai putri merasa dikasihi.


"Alisha, ikutlah Papa mengantar Lara ke rumah sakit." Narendra mengulurkan tangannya demi mendapat sambutan Alisha, sesaat setelah Lara dimasukkan ke dalam mobil.


"Tidak." Alisha menggeleng. "Saya tidak mau membuat Lara semakin menderita."


Narendra mengembuskan napas berat. "Itu tidak benar, Alisha. Papa yakin Lara hanya terkejut saja."


"Tidak. Terima kasih." Alisha bersikukuh. "Tolong Anda jaga dia dengan baik." Dia berpesan sebelum benar-benar pergi meninggalkan. Narendra hanya bisa menatap getir pada punggung putrinya yang bergerak semakin jauh menembus gerimis malam.


Kerumunan orang-orang pun bubar seiring kepergian mobil Narendra yang membawa Lara. Pandangan miring semua orang pada Alisha pun terbantahkan melalui bukti nyata.

__ADS_1


__ADS_2