Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Dalam persembunyian


__ADS_3

Namun, saat berbalik badan, Alisha dibuat membelalak dengan apa yang dilihatnya. Ia langsung membeku melihat Lara berjalan mendekat. Gadis itu tak sendirian. Di sisinya ada seorang pemuda tampan. Dan mereka berjalan bergandengan.


Untuk sementara Alisha bisa bernapas lega lantaran Lara tidak melihatnya. Lara tampak sedang mengobrol dengan si pemuda dan saling berpandangan satu sama lainnya. Rupanya Lara belum masuk setelah memarkirkan mobil di area khusus.


Untuk sejenak Alisha bingung harus berbuat apa. Ia hanya bisa berbalik badan sambil menutupi wajahnya dengan tangan. Jika terus melangkah maju tentu mereka akan berpapasan. Jikapun tetap di tempat ia khawatir kembali mendapatkan pengusiran. Alisha memang berniat pulang, tetapi tak perlu menunjukkan diri kepada Lara. Lara tak boleh tahu ia mengikutinya.


Jantung Alisha kian berdetak cepat seiring langkah Lara yang semakin dekat. Derap langkahnya semakin terdengar di telinga. Ia berpikir harus pergi sekarang juga sebelum Lara benar-benar memergokinya.


Alisha berjalan pelan tanpa melihat jalan. Ia hanya perlu sedikit hati-hati untuk pergi. Toh Lara sedang sibuk sendiri dan tidak memperhatikan area sekitar. Sepertinya ini kesempatan bagus untuk pergi. Apalagi sekarang Lara sudah berhadapan dengan para penjaga. Gadis itu terlihat menyerahkan sesuatu pada pria gempal itu. Mungkin tiket masuk kelab.


Bugh!


Sial. Karena tidak memperhatikan jalan, Alisha membentur tubuh seseorang. Entah dia siapa, yang jelas tubuh Alisha terpental karenanya, sehingga limbung dan jatuh terduduk di lantai. Ia memekik lantaran bokongnya terasa nyeri terbentur marmer.


"Maaf, aku benar-benar nggak sengaja. Kau tidak apa-apa? Mari kubantu bangun." Pemuda berjaket warna hitam itu membungkuk sambil mengulurkan tangan. Alisha yang semula meringis bergerak cepat menggelengkan kepala.


"Terima kasih. Aku baik-baik saja. Maaf, aku yang kurang berhati-hati." Alisha balik meminta maaf lantaran menyadari ini salahnya. Ia merasa bisa bangun sendiri makanya menolak menerima bantuan. Yang ia perlukan hanyalah pergi dari sini secepatnya.


Namun, sepertinya hal Itu tak segampang yang dipikirkan. Si pemuda memaksa menolong karena melihat wajah ayu yang dimiliki Alisha.


"Dari caramu meringis, sudah menunjukkan kalau kau tidak baik-baik saja, Sayang. Kau kesakitan, dan itu karena salahku. Come on. Biarkan aku mengantarmu pulang. Mungkin kau tersesat sampai ke sini sampai-sampai bingung begini."


Alisha tertunduk malu dengan gigi mengapit bibir mendengar kata-kata pemuda itu, melihat bagaimana pemuda itu menertawakannya. Ia bukan menyalahkan pemuda itu tertawa. Memang dirinya saja yang aneh. Pergi ke kelab malam dengan pakaian di atas ranjang.

__ADS_1


Sialnya lagi gara-gara kejadian ini ia jadi pusat perhatian orang-orang. Beberapa orang tampak menegur si pemuda dengan ekspresi aneh memperhatikan Alisha. Mungkin mereka adalah teman. Sejenak Alisha lupa jika di belakangnya ada sepasang mata yang ikut memperhatikan dengan kepala miring ke kanan.


"Ayo kubantu. Jika tak bisa bangun juga aku bahkan kuat menggendongmu."


"Lepas!" Alisha menepis tangan si pemuda yang tanpa izin memegangi lengannya. Ia tak suka cara pemuda itu memperlakukannya. Lebih-lebih lagi dari mulutnya, tercium aroma alkohol saat bicara.


"Kurang ajar." Pemuda itu mulai geram. Ia menatap Alisha dengan sorot tajam.


Alisha menyadari bahwa sikapnya barusan telah mengundang kemarahan. Ini salahnya. Seharusnya tidak perlu demikian.


"Maaf, tapi saya bisa sendiri. Tanpa mengurangi rasa hormat, biarkan saya pergi." Alisha buru-buru bangkit dan berdiri. Ia sudah bersiap-siap untuk pergi, tetapi pemuda itu malahan nekat menahannya dengan mencekal pergelangan. Terang saja Alisha tak terima, hingga dirinya refleks mengempaskan tangan si pemuda. "Tolong lepas!"


Alisha kelepasan sampai berteriak. Ia menyadari kesalahannya lalu buru-buru membungkam mulut. Benar saja. Saat menoleh ke belakang, ia mendapati Lara yang tengah memperhatikannya, lalu kemudian membulatkan mata dengan ekspresi tak percaya.


Alisha tergagap. Demi apa pun, ketahuan oleh Lara membuat tubuhnya gemetaran. Tak ingin terlibat apa pun dengan urusan Lara, ia hanya bisa ambil ancang-ancang lalu kabur dari sana. Ia berharap semoga saja Lara tak mengejarnya, dan itu memang benar. Sebab saat berlari tadi ia mendengar suara Lara berteriak lantang.


"Kejar dia, David! Dia ngikutin aku sampai ke sini!"


Alisha terus berlari sekuat tenaga. Ia tak berani menoleh ke belakang atau pun beristirahat barang sebentar.


"Woy! Tunggu lo!"


Teriakan itu membuat Alisha kian ketakutan. Itu pasti suara David, pemuda yang diperintahkan Lara untuk mengejarnya. Pemuda yang tadi sempat bergandengan tangan dengan Lara. Dalam keadaan genting sekalipun, benak Alisha masih bertanya-tanya, memangnya siapa dia?

__ADS_1


Entah sudah seberapa jauh Alisha berlari. Ia juga tak tahu arah. Alisha hanya menyusuri jalan lurus. Trotoar yang dilewati banyak pejalan kaki.


Rupanya keramaian tempat ini sangat membantunya menyelamatkan diri. Lantaran kelelahan dan nyaris kehabisan tenaga, Alisha terpaksa berhenti untuk beristirahat. Sambil meraup udara sebanyak-banyaknya, ia menoleh ke belakang untuk mencari sosok tinggi yang sempat diketahuinya bernama David itu. David tidak ada, dan itu membuatnya bernapas lega.


Alisha menelan ludah dan napasnya terengah-engah. Ia berjalan pelan mencari tempat aman. Ia hanya ingin beristirahat sebentar sebelum memutuskan untuk pulang. Ia juga perlu memantau situasi, takutnya bila ternyata David masih di sana dan bersembunyi.


Duduk di bawah pohon besar, Alisha menyandarkan tubuhnya dengan lemas. Mungkin kali ini ia bisa selamat dari kejaran Lara, tetapi besok dan selanjutnya?


Ah sial. Lagipula kenapa tadi dia seberani itu membuntuti. Juga kenapa saat kepergok tadi harus berlari? Bukankah seharusnya tetap di sana dan menghadapi.


Jika memang merasa benar kenapa harus setakut itu? Toh Lara adalah saudaranya, tak mungkin juga Lara akan dengan kejam membunuhnya. Mungkin Lara hanya akan mengancamnya saja agar mau tutup mulut. Bukankah Lara sudah terbiasa seperti itu?


Baru juga tenang sebentar, Alisha sudah kembali dibuat ketakutan. Bagaimana tidak? Rupanya David kembali mencarinya. Dan kali ini pemuda itu tak sendirian. Ia bersama dengan Lara. Keduanya berjalan dengan pandangan jeli menyisir ke sekitar. Alisha bisa melihat mereka dengan sangat jelas dari tempat persembunyiannya.


Lagi-lagi tubuh Alisha gemetaran. Bulu kuduknya juga ikut meremang. Bukan hanya panik, tapi dia benar-benar ketakutan. Ia merapatkan tubuh dengan batang pohon dan bergeser pelan-pelan agar tidak kelihatan.


Beragam prasangka bercokol di benaknya. Bagaimana jika Lara mengerahkan teman-temannya untuk memburunya. Bagaimana jika dirinya kelak akan disiksa sampai tiada? Oh tidak! Bagaimanapun ia masih ingin hidup lebih lama. Banyak impian yang belum dicapainya. Ia juga ingin menikah dengan orang yang dicintai dan membangun rumah tangga.


Tanpa sadar, air mata menetes berjatuhan tanpa suara. Seraut wajah tampan yang selalu ada di hati tiba-tiba menari-nari di pelupuk mata, hingga tanpa sadar pula bibir Alisha menyebutkan namanya.


"Dante ... tolong aku." Alisha terisak lirih sambil menggigit ujung jarinya. Ia benar-benar merasa sendirian sekarang. Lebih-lebih merasa terancam.


Dalam keadaan seperti itu, sesuatu pun terjadi di luar dugaan. Mata Alisha membola saat merasakan sentuhan dari belakang. Bukan hanya sentuhan, tetapi seseorang membekap mulutnya dari belakang.

__ADS_1


Oh Tuhan, mungkinkah ini hari terakhir hamba?


__ADS_2