
Sesakit-sakitnya kehilangan, hidup akan terus berjalan. Yang hilang biarlah menghilang. Jika dia memang ditakdirkan menjadi milikmu, maka dia pasti akan menemukan jalan untuk pulang. Karena kehilangan bukan cuma tentang yang tidak lagi ada, tetapi tentang yang ada tapi tidak terasa, atau hadir tapi tak lagi bersama.
Akhirnya kita sampai pada titik bertemu tapi tidak saling sapa. Pernah dekat tapi seperti tidak saling mengenal.
Terkejut. Itulah yang dirasakan Dante ketika mereka bertabrakan di kampus pagi tadi. Dandanan ala gadis kota dan didampingi gadis yang memanggilnya nona.
Nona?
Batin Dante seketika bertanya-tanya dengan penasaran. Untuk apa dia dipanggil nona? Mungkinkah dia jadi anak sultan hanya dalam waktu semalam saja? Atau mungkin ada pria hidung belang yang rela menguliahkannya?
Ah sialan! Gara-gara kehadirannya aku harus pura-pura mesra kepada Lara. Aku membiarkan lara menggamit lengan ini dengan manja.
Satu tekad kuat yang membuatku rela gila karena menjadi pemuda bucin, ialah membuat Alisha menyesal telah memberiku penolakan dan membuat hati ini patah.
Mungkinkah ini nyata, atau hanya rasa percaya diriku saja saat menemukan masih adanya rasa cinta di matanya. Sikap tidak nyaman saat aku bersama Lara, yang kuyakini itu adalah kecemburuan. Sayangnya Alisha terlalu pintar menguasai keadaan. Ia bersikap biasa saja dan seolah dirinya baik-baik saja, tapi aku yakin dia memendam luka. Luka yang menganga.
Ternyata keterkejutanku bukan sampai di situ saja. Aku kembali menemui Alisha di kediaman keluarga Lara.
"Alisha, nggak pa-pa, Ma." Begitu gadis itu menyahuti Helena tadi.
Mama? Apa lagi ini? Mungkinkah dia anak haram Tante Helena bersama pria lain? Atau mungkin anak yang dibawa oleh Om Narendra dari istri sebelumnya? Jikapun keduanya memutuskan mengadopsi anak, kenapa harus Alisha pilihannya? Alisha yang notabenenya seorang kupu-kupu malam. Tidak adakah anak yatim-piatu lainnya yang masih bayi untuk kemudian mereka besarkan? Dan lagi-lagi aku hanya bisa bertanya-tanya dalam diam.
"Dante, makan bareng yuk." Ajakan Helena memulihkan Dante dari lamunannya. Pemuda menoleh pada Helena, kemudian menggeleng lemah.
__ADS_1
"Makasih, Tante. Tapi maaf aku nggak bisa. Tadi aku sama Lara udah makan siang di kantin, dan sekarang papa lagi nungguin. Lain kali pasti saya makan bareng di sini."
Lara dan Helena tersenyum bersamaan. Tentu saja hati keduanya dibuat meleleh oleh sikap sopan yang ditunjukkan seorang Dante. Helena seketika mendekat dan mengusap punggung kokoh Dante dengan lembutnya.
"Nggak pa-pa, Dante. Toh kalian juga sudah makan siang. Tapi janji loh, ya, lain kali makan di sini," ucap Helena penuh tuntutan. Telunjuk kanannya menuding Dante.
"Pasti, Tante." Dante pun membalas dengan mantap. Dan tentunya dengan senyuman ramah.
"Ya udah, pulang gih sana. Jangan buat papamu menunggu lama-lama," titah Helena.
"Makasih, Tante. Saya pamit dulu." Dante berbalik badan usai mencium punggung tangan Helena. Sayangnya pemuda itu lupa pamit kepada Lara. Lara yang sudah memasang senyum termanisnya dibuat kecewa lantaran tidak mendapat perhatian dari yang tercinta.
"Sial." Mau heran, tapi ini Dante.
***
Dante menggeleng lemah setelah beberapa saat. Entah demi apa ia melakukan ini? Bohong jika ia mengangumi kemewahan bangunan itu. Rumah papanya bahkan lebih megah dari ini. Apa mungkin demi gadis yang baru saja tinggal di sana? Entahlah. Ini sungguh perbuatan yang sia-sia.
Dante kembali membetulkan posisi duduknya dan bersiap menyalakan mesin mobil. Namun, saat sejenak menoleh kembali untuk memastikan, tiba-tiba ekor matanya menangkap sesosok penampakan. Ia sontak mengembalikan pandangan dan dibuat terpaku oleh pemandangan itu.
Di sana. Tepatnya di lantai dua. Di sebuah balkon yang ia yakini itu adalah kamar.
Tiba-tiba jantungnya berdetak cepat. Itu adalah gadis pujaannya. Gadis itu tengah termenung sendirian, tak menyadari keberadaan di sini.
__ADS_1
"Alisha." Lirih, Bibir Dante meloloskan nama itu. Ada denyah aneh setiap kali memandangnya. Sangat menyejukkan. Bahkan membuatnya tiba-tiba lupa caranya berkedip bagaimana.
Tanpa sadar bibir Dante menyunggingkan senyum. Mata itu memandang ke atas sana dengan penuh puja. Toh tak ada yang melihat. Tak akan ada yang tahu. Ia tak perlu menjaga image untuk memandangi wajah cantik itu berlama-lama.
Gadis dengan balutan tank top itu terlihat lebih anggun dari biasanya. Ia memegangi pagar pembatas balkon. Kadang sesekali menyugar rambutnya yang tergerai indah ke arah belakang. Sangat memesona.
Tiba-tiba suara ketukan di kaca mobil membuyarkan Dante dari keindahan. Ia terperanjat, lalu bergerak cepat menurunkan kaca mobilnya. Seorang pria berpakaian scurity langsung menyambutnya dengan kernyitan di kening.
"Ngapain lama-lama di tepi jalan? Sedang mengintai rumah itu ya!" Orang itu bertanya tegas seraya menunjuk rumah Lara.
Dante mengikuti arah tunjuk orang itu lantas menyadari suatu hal. Mungkin penjaga keamanan kompleks perumahan elit itu mengira dirinya mempunyai niatan buruk.
Astaga. Ia kedapatan sedang menguntit.
"Bukan, Pak. Ini saya sedang terima telepon dari teman. Makanya saya menepikan mobil dan berhenti. Memangnya Bapak tidak tahu siapa saya?" Dante balik bertanya dan itu membuat scurity tadi langsung memutar bola mata seperti mengingat-ingat.
"Mas yang biasanya antar jemput Nona Lara ya?"
"Nah itu tau." Dante sedikit meninggikan intonasi suaranya, bersikap seolah-olah tak terima. "Saya ini calon menantu keluarga itu, Pak. Mana mungkin saya memiliki niatan buruk!"
"Oh, maaf, Mas. Saya hanya menjalankan tugas untuk menjaga lingkungan tetap aman." Pria itu berucap penuh sesal.
"Lain kali lihat-lihat dulu ya, Pak. Jangan sampai salah sasaran!"
__ADS_1
"Maaf, Mas. Maaf." Scurity menangkubkan tangannya di depan dada.
Bersikap masih kesal, Dante menjalankan mobilnya tanpa sepatah kata. Namun, setelah jauh, barulah ia tergelak kencang. Siapa yang salah, siapa pula yang marah.