
Duduk santai pada sebuah kursi kecil, wanita dengan balutan tunik warna coklat tua itu melemparkan segenggam makanan ikan ke arah kolam kecil. Seketika air tenang itu bergolak riuh sebab ikan-ikan di dalamnya berebut menyantapnya. Ia tersenyum tipis seraya melemparkan lagi makanan ikan berikutnya hingga beberapa kali.
Hanya ikan-ikan inilah tempat pengalihan paling ampuh dari rasa sepi yang menderanya. Taman bunga mini di area belakang dengan kolam kecil yang dihuni puluhan koi menjadi tempat paling favoritnya di rumah berlantai dua tersebut. Rumah mewah yang beberapa waktu lalu dihadiahi sang mantan suami sebagai penebus rasa bersalah. Anggap saja kemewahan ini ia terima sebagai ganti anak gadisnya yang kini berganti hak asuh pada sang papa. Berharap agar kelak hidup anak gadisnya tersebut lebih layak dan bahagia.
Jahatkah ia sebagai ibu? Entahlah. Yang ada di benak Wanda saat itu hanyalah masa depan Alisha dan masa depan Alisha. Ia lah yang bersikeras memaksa agar Alisha mau dirawat papanya. Wanda bahkan tak mempermasalahkan andaikata kelak ia harus terlunta hidup sendirian asalkan Alisha berkecukupan. Gadis itu layak bahagia, mengingat seumur hidupnya Alisha hanya bisa mengecap lara dan beratnya perjuangan hidup bangkit dari kemiskinan. Di mana, tak memiliki sepeserpun rupiah dan sakitnya menahan lapar sudah menjadi hal biasa bagi mereka.
Mendapatkan papa kaya raya dalam satu malam rupanya tak serta-merta membuat Alisha gelap mata. Ia mengajukan beberapa persyaratan untuk menyetujui ajakan sang papa dan Narendra pun mengabulkannya. Walaupun tanpa Alisha minta pun Narendra sudah merancang semuanya. Salah satunya adalah memuliakan Wanda dan mengangkat derajatnya.
Rasa cinta yang masih terpendam membuat Narendra tak ingin Wanda kesepian. Ia membeli sebuah hunian yang indah demi kenyamanan sang mantan, lengkap dengan fasilitas beserta pengurusnya. Bahkan membebaskan sang putri untuk mendatangi sang ibu kapan saja.
"Ibu ...!"
Panggilan ceria yang belakangan ini jarang didengarnya kini menyapa gendang telinga. Wanda buru-buru menoleh ke sumber suara dan tersenyum mendapati putrinya berdiri di sana.
"Alisha?" Ia tersenyum, kemudian menaruh tempat makanan ikan di tangannya ke atas meja lalu merentangkan tangannya demi mendapat pelukan hangat Alisha.
"Alisha kangen, Bu." Gadis itu seperti merengek dan bermanja di pelukan ibunya. Ia memejamkan mata, membiarkan Wanda mengusap kepalanya penuh kasih sayang.
"Ibu juga. Tapi Ibu yakin, pasti kamu sangat sibuk hingga beberapa hari belakangan ini tidak sempat datang kemari. Betul bukan?"
Alisha mengangguk mengiyakan. Tiba-tiba ada seseorang yang menyusul mereka, berjalan dengan senyuman sopan ketika mendekat. Wanda mengernyitkan dahinya. Ia sempat berpikir Alisha datang sendirian seperti biasanya, tetapi ternyata ada teman dan gadis itu hanya diam saja.
"Dante?" Wanda mengurai pelukannya pada Alisha, lalu menatap gadis itu seperti sedang memastikan. Alisha memberi tanda dengan anggukan kecil jika yang datang bersamanya memang benar-benar Dante.
"Apa kabar, Bibi?" sapa Dante. Dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Dan Wanda dengan hangat menyambutnya. Seketika jantungnya berdesir ngilu, seperti mengenang kembali masa itu, masa di mana ia selalu menemani Alisha setiap waktu. Sungguh, ia rindu masa itu.
"Kabar Bibi baik, Dante. Seperti yang kamu lihat. Kamu sendiri apa kabar?"
"Baik juga Bi."
"Syukurlah."
Keduanya diam untuk sesaat dengan tatapan saling beradu. Sama-sama memperhatikan lawan bicara dalam diam setelah beberapa waktu tak pernah lagi bertemu.
Di mata Wanda, Dante yang sekarang memang menakjubkan. Jauh berbeda dengan keadaan pemuda itu beberapa waktu lalu. Ia sama sekali tak pernah menyangka jika Dante terlahir dari keluarga kaya raya. Syukurlah, waktu itu ia tetap menerima pemuda itu dengan baik meski tak tahu menahu asal usulnya. Untuk kehidupan Dante yang sekarang, sedikit banyak ia tahu dari Alisha yang pernah sempat beberapa kali mencurahkan perasaan tentang Dante.
__ADS_1
Sementara di mata Dante, Wanda yang sekarang jauh lebih sehat dan segar dari sebelumnya. Kecantikan wanita paruh baya itu kian memancar di usia yang tak lagi muda. Tentu saja kehidupan yang jauh lebih layak sangat mempengaruhinya. Jujur, ia ikut bahagia untuk mereka.
Obrolan basa-basi tak berlangsung lama sebab Dante memilih pamit setelahnya. Pemuda itu sempat menatap Alisha sejenak sebelum benar-benar berlalu dari sana. Alisha hanya tersenyum ramah menanggapinya. Tak lupa pula ucapan terima kasih yang terucap tulus dari dalam hatinya.
"Ibu, ini bunga buat Ibu." Alisha memberikan buket itu setelah Dante pergi.
Wanda menerimanya dengan binar bahagia. "Terima kasih, Sayang. Bunganya sangat cantik," pujinya.
"Em, anu." Alisha sedikit salah tingkah. "Dante yang membelikannya untuk Ibu."
"Benarkah?" Wanda terperangah. Ia memandangi bunga itu lagi lalu tersenyum penuh arti. "Selera Dante bagus juga. Ibu suka."
Alisha tersenyum lega. "Syukurlah."
"Kemari, Alisha. Duduklah." Wanda menarik tangan putrinya dan mengajak anak gadisnya duduk di sebuah sofa. "Ibu ingin bicara sesuatu sama kamu."
"Bicara apa, Bu?" Melihat ekspresi serius sang ibu, pikiran Alisha jadi tak menentu.
"Bukan apa-apa, Sayang. Hanya masalah kecil." Wanda menenangkan Alisha karena melihat kecemasan di wajah anak gadisnya. Kemudian ia kembali melanjutkan bicara. "Ibu hanya ingin menyampaikan sesuatu hal. Ibu minta kamu jangan tersinggung, ya."
"Bagaimana bisa Dante yang mengantarmu kemari. Siapa yang menyuruh? Atau mungkin Alisha sendiri yang minta pada Dante?"
"Bukan Alisha, Ma. Tapi Papa yang memaksa."
Wanda mengangguk penuh pengertian. Ia membelai tangan Alisha yang sedikit meninggikan nada bicara.
"Kau masih mencintai Dante?"
Pertanyaan Wanda kemudian membuat lidah Alisha terasa kelu. Gadis itu hanya menatap mata ibunya tanpa bisa menjawab apa-apa. Sekeras apa pun ia berdusta, sang pintu surga pasti akan tahu perasaan yang sebenarnya.
"Sayang ...." Wanda memanggil putrinya dengan sangat hati-hati. Ia adalah ibu kandung Alisha. Ia tahu betul bagaimana anak gadisnya kini berusaha menahan sakitnya luka. Terlihat dari sepasang mata beningnya yang mulai berkaca-kaca.
"Ibu tahu, cinta memang tidak pernah datang pada orang yang salah. Cinta datang dengan sendirinya, tanpa bisa ditahan atau diminta. Tapi, bukankah kau tahu Dante itu adalah calon tunangan Lara?" Wanda menggenggam jemari Alisha dan menatap anak gadisnya penuh permohonan. "Ibu mohon, Nak, jangan jadi benalu dan merusak hubungan mereka berdua. Mengertilah akan batasanmu, Sayang. Berusaha tawakal. Jika memang Dante adalah jodohmu, maka dia akan datang kepadamu dengan sendirinya dan sesuai rencana Tuhan. Tahan dirimu dan jangan mendahuluiNya. Jadilah wanita yang baik agar kelak engkau dimuliakan. Jangan sampai dirimu dicap sebagai perebut kekasih orang, Sayang."
"Ibu–" Alisha membalas genggaman tangan ibunya. Ia beringsut semakin merapat lalu berusaha meyakinkan. "Alisha tahu apa yang Alisha lakukan. Alisha tak mungkin merusak hubungan mereka sekalipun cinta Alisha pada Dante begitu besar. Ini semua terjadi atas permintaan Papa, Bu. Lagipula, Dante ngantar Alisha juga terpaksa kok. Percayalah, hal yang Ibu takutkan tak akan pernah terjadi. Alisha akan berusaha menjauhi Dante."
__ADS_1
"Kamu memang putri Ibu yang berhati mulia, Nak. Kamu rela mengorbankan kebahagiaan demi saudara." Wanda mengusap pipi putrinya.
Alisha hanya bisa tersenyum getir.
"Alisha, Ibu ingin katakan satu hal lagi."
Alisha menatap lekat manik ibunya dan menunggu wanita itu bicara.
"Kau suka kupu-kupu?"
Gadis itu mengangguk.
Wanda tersenyum sebelum melanjutkan kata. "Cara ampuh mendapatkan kupu-kupu bukanlah dengan menangkapnya."
"Lalu?"
"Rawat saja kebun bungamu. Maka kelak, semua kupu-kupu yang indah akan datang dengan sendirinya. Kau mengerti maksud Ibu?"
Mendengar kata bijak ibunya membuat mata Alisha kembali menunjukkan binarnya. Gadis itu tersenyum kemudian mengangguk paham. "Alisha ngerti, Bu. Makasih." Keduanya lantas berpelukan dengan hangat.
Namun, mungkinkah Alisha bisa benar-benar menghindari Dante? Entahlah. Yang jelas, sore hari ketika dirinya bersiap untuk kembali ke kediaman sang papa, bel pintu rumah itu berbunyi pertanda ada tamu yang datang.
"Ada tamu, Bu. Siapa ya? Apa Ibu ada janji dengan seseorang?" Alisha menghentikan kegiatannya, menatap pintu sebentar, lalu menoleh pada Wanda.
Wanda terkekeh. "Ibu ini sudah tua, Alisha. Memangnya siapa yang mau ketemu sama Ibu, heum?"
"Ya siapa tau aja, Bu. Kalau itu sopir taksi online seperti nggak mungkin. Kan Alisha baru aja pesan."
"Sana, buka aja pintunya. Biar jelas siapa yang datang."
Alisha beranjak dari tempatnya, berjalan ringan ke arah pintu untuk membuka. Sementara Wanda yang sedang duduk di sofa panjang, memperhatikan putrinya dengan tenang. Dan keduanya pun tercengang mendapati siapa yang datang.
"Dante?" pekik Alisha tak percaya. "Ngapain kamu ke sini?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Alisha, Dante justru memilih menyapa Wanda.
__ADS_1
"Sore, Bibi. Saya kemari mau jemput Alisha atas perintah Om Narendra."