
"David!"
Pemuda yang sedang berendam di jacuzzi itu tersenyum samar mendengar namanya disebutkan. Meski begitu ia sama sekali tak mengubah posisinya. Matanya tetap terpejam di balik kaca mata warna hitam yang tersemat. Tubuhnya menyandar dengan nyaman sambil menikmati hangatnya air dan sensasi pijat dari sistem jet bawah air jacuzzi itu sendiri.
Gadis yang memanggilnya itu terdengar menggeram dari arah belakang. Tak lama kemudian terdengar entakan kaki yang bergerak mendekat.
"Bangun! Aku tau kamu nggak tidur!" Gadis itu kembali berteriak.
Melebarkan senyumnya, David menoleh ke arah kanan. Pandangannya menangkap sosok cantik yang tengah mengepalkan tangan. Ada kilatan kemarahan ketika mata bulat itu menatapnya. Rupanya si gadis terpengaruh oleh pesan ancaman yang beberapa waktu lalu ia kirimkan.
"Hai Lara. Apa kabar?" Seperti tak terjadi apa-apa, David bertanya dengan ekspresi tanpa dosa. Senyuman lebar, mereka indah di bibirnya.
Gadis yang dipanggil Lara itu mendengkus lirih sembari memalingkan muka. Alih-alih menjawab pertanyaan, ia justru kembali menatap dan melontarkan sebuah pertanyaan dengan garang.
"Apa maksud kamu kirim-kirim foto seperti ini, hah! Mau ancam aku!"
David mengedikkan bahunya bersikap tidak paham. "Kau ini bicara apa, Lara? Aku hanya mengirimkan gambar momen kita berdua saja? Memangnya apa yang salah?"
"Apa yang salah kau bilang?" Lara mengulang kalimat terakhir David barusan, kemudian melanjutkan kata dengan nada geram. "Kau mengirim gambar kita berdua di atas ranjang! Kita sama-sama di bawah selimut! Kau memelukku dari belakang!" Napas Lara terengah-engah. "David ... walaupun kita tidak melakukan apa-apa, walaupun aku masih berpakaian lengkap, walaupun aku dalam keadaan tidur lelap, tapi tetap saja! Semua orang yang melihat foto itu pasti akan berpikiran buruk! Mereka pasti mengira kita baru saja melakukan hal-hal yang tidak pantas!"
"Tidak pantas bagaimana, Lara? Memangnya apa peduli mereka?"
Lara mengepalkan tangannya berusaha menahan kesal. Pemuda di depannya benar-benar menguji kesabaran.
"Sebentar lagi aku akan bertunangan, David. Aku akan menikah! Dengan beredarnya foto ini sudah barang pasti akan menghancurkan semuanya! Bukan hanya aku yang akan malu! Tapi keluargaku juga! David ... aku mohon. Jangan ganggu aku lagi."
David terdiam sejenak. Ia menatap wajah Lara yang kini berjongkok di sisi jacuzzi. Tatapan gadis itu seperti memelas kepadanya.
Sesaat kemudian pemuda yang berendam dengan hanya memakai kolor hitam itu mendengkus lirih seraya membuang muka. Tetapi kemudian kembali menatap wajah Lara dengan sorot kesedihan.
"Lalu bagaimana dengan aku? Perasaanku?"
"Maksudmu?" Lara mengerutkan keningnya. Tidak paham dengan apa yang David tanyakan.
__ADS_1
"Aku masih mencintaimu, Lara. Cintaku padamu masih sama seperti dulu."
Lara sontak menggeleng. "Enggak! Aku nggak mau!"
"Kenapa?"
"Kau brengsek! Kau yang sudah mengenalkanku pada dunia malam! Kau yang sudah mengajariku berbagai macam keburukan! Dan di saat aku jadi liar, kau malah pergi meninggalkan! Aku benci padamu David. Aku benci!"
David menghela napas berat. Ia hanya bisa diam sembari menatap punggung ramping Lara yang bergerak jauh. Pergi meninggalkannya.
***
Membawa secangkir kopi dan sepiring kue, Niken menghampiri Robby yang sedang duduk pada kursi santai di balkon kamar mereka. Awalnya wanita itu tersenyum. Namun, karena Robby tampak melamun, senyuman itu pun memudar berganti kerutan di kening selagi mengamati suaminya. Sepertinya pria itu tak menyadari akan kehadirannya.
"Sayang," panggilannya pelan. Ia tak mengalihkan pandangan sang pria selagi duduk mengambil posisi di sampingnya. Agak rapat.
Robby seperti terkejut. Pria itu segera tersenyum demi menyambut istrinya.
"Ya Sayang."
Robby tersenyum lembut. "Hanya soal pekerjaan."
"Yakin?"
"Hu'um." Robby mengangguk. Tak mungkin juga ia bicara jujur jika tengah memikirkan gadis yang pernah diancamnya. Alisha. Entah apa kata istrinya nanti jika suatu saat tahu apa sebenarnya yang terjadi.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya. Aku baik-baik saja. Kau tak perlu mencemaskan."
Niken menganggukkan kepala, berusaha untuk percaya. "Baiklah. Jangan sungkan-sungkan berbagi keluh kesahmu denganku, ya."
"Pasti." Robby tersenyum meyakinkan pada istrinya. Dan kini keduanya saling pandang dalam diam dan senyuman. Kemudian tiba-tiba Niken meraih jemarinya dan memanggil dengan nada lembut seperti biasanya. Seolah-olah wanita itu ingin bicara hal yang serius tapi dalam keadaan tenang.
__ADS_1
"Sayang," panggil Niken. Robby langsung menyahutinya dengan pandangan penasaran.
"Alisha cantik, ya. Cantiknya lebih alami daripada Lara."
"Terus?" Robby seperti tak sabaran. Jantungnya mulai berdetak kencang dan mengira-ngira ke mana arah pembicaraan istri tercintanya.
"Sama-sama putri dari Narendra juga."
"Iya."
"Kita memang sepakat menjodohkan Dante dengan Lara. Tapi kenapa Dante sepertinya lebih menyukai Alisha dibandingkan Lara? Kau bisa lihat sendiri bagaimana binar di mata Dante saat menatap Alisha tadi, bukan? Itu tatapan penuh cinta, Sayang, bukan tatapan biasa seperti calon saudara ipar. Lagi pula gelagat mereka seperti menunjukkan jika keduanya sudah pernah saling kenal. Sayang ...." Niken beringsut kian merapat pada suaminya. "Kenapa aku merasa kalau–"
"Jangan bicara yang tidak-tidak, Sayang. Barangkali saja Dante bisa begitu lantaran ingin mengambil hati Alisha sebagai calon saudara ipar saja," potong Robby sebelum Niken menyelesaikan kata-katanya. "Kita tahu sendiri jika Dante ini memang sikapnya dingin sama cewek, begitu juga dengan Lara. Menurutku itu wajar. Untuk apa juga ia berusaha memikat Lara jika memang kelak akan menjadi istrinya. Dante bersikap dingin pada Lara begitu pasti karena suatu hal. Mungkin agar gadis itu makin penasaran."
"Memangnya begitu ya?" Niken yang sejak tadi mendengar penjelasan Robby malah mengerutkan kening dan bertanya ragu. Entah mengapa ia merasa jika penjelasan suaminya itu tidak masuk akal.
Sementara Robby yang menangkap ekspresi tak puas istrinya mulai merasa resah. Selama ini ia tak pernah berbohong ataupun menyembunyikan sesuatu dari istrinya. Namun, perkara ia mengancam Alisha untuk menjauhi Dante itu beda. Itu adalah rahasia yang hanya dirinya dan Lara yang tahu saja.
Entah bagaimana bisa dulu ia mau saja mengikuti keinginan Lara. Lagipula siapa yang mengira kalau gadis itu ternyata anak dari Narendra juga? Kini Robby benar-benar menyesal setelah tahu bagaimana perasaan Dante pada gadis itu sama sekali tak berubah. Tetap cinta, walaupun Dante menutupnya dengan sikap ketus yang dibuat-buat.
Ia juga jadi sungkan terhadap Alisha. Gadis itu ternyata gadis yang baik. Bukan seperti Lara. Ia bisa menarik kesimpulan jika Lara adalah tipe gadis yang rela menghalalkan cara demi menggapai impiannya.
Bodohnya Robby yang baru sekarang menyadari itu. Ia tak mungkin rela membiarkan putra kesayangannya beristrikan wanita ular seperti itu. Waktu itu Lara pasti tahu jika Alisha adalah saudari tirinya. Gadis licik itu memanfaatkan situasi untuk merebut Dante dari Alisha. Mengarang cerita agar dirinya membenci Alisha.
Tapi ... jikapun ia ingin memperbaiki semuanya, apa yang kelak akan dikatakan Narendra pada dirinya? Mau ditaruh di mana pula muka malunya? Narendra pasti akan sangat marah karena Alisha diperlukan seperti itu. Sudah barang pasti Narendra tak akan terima begitu saja. Lebih-lebih lagi wanita di sampingnya.
Mengingat itu Robby sontak menoleh ke arah samping dan menatap wajah wanita yang tengah tersenyum itu dengan perasaan tidak enak.
"Sayang, kau tahu apa yang sedang aku pikirkan?" Niken bertanya setengah memberi tebakan?
"Apa?" Robby langsung bertanya. Ia enggan menerka-nerka walaupun sudah bisa membaca arah pembicaraan istrinya.
"Bagaimana kalau kita bernegosiasi dengan Narendra? Minta Alisha saja yang menjadi menantu kita. Bagaimana?"
__ADS_1
Glek. Robby menelan ludahnya susah payah.