
Bulan beranjak naik pertanda malam semakin larut. Alisha dan Lara sudah masuk ke kamar masing-masing ketika Helena masuk ke kamarnya sendiri.
Hari ini mereka melewati makan malam hanya bertiga tanpa Narendra. Pria itu terpaksa melewatkan kebersamaan lantaran masih berada di perjalanan dari luar kota.
Tahu jika sang suami sebentar lagi sampai rumah, Helena buru-buru merias wajah. Rambut panjang dibiarkan tergerai, lingerie seksi warna merah menyala kini melekat di badannya. Pakaian transparan berbahan sutra itu memperlihatkan keindahan lekuk tubuhnya dengan sangat jelas. Sebuah senjata mematikan yang membuat mata pria tak mampu berkedip saat menatapnya.
Ia mempersiapkan diri sedemikian rupa hanya untuk suami tercinta. Sadar jika keberadaannya sudah tak lagi aman, Helena ingin memperbaiki segalanya. Cinta, perhatian, serta kasih sayang yang dulu sempat ia remehkan.
Kini ia ingin mulai semuanya dari awal. Menjadi diri yang baru dan mengemis cinta pada Narendra. Sangat memalukan, memang. Tapi ini demi keutuhan rumah tangga mereka. Untuk Lara juga. Selagi Narendra yakin jika Lara adalah anak kandungnya, maka semuanya akan baik-baik saja.
Suara deru mobil di bawah sana menandakan Narendra telah tiba. Senyuman di bibir Helena mengembang setelah memberikan sentuhan terakhir pada riasan. Yang dinanti sudah datang, sementara persiapannya juga telah matang.
"Aku yakin. Kau tak akan pernah bisa melupakan malam ini seumur hidupmu, Sayang," gumamnya penuh kebanggaan.
Ia buru-buru naik ke atas ranjang. Mengambil posisi tepat di tengah-tengah, Helena berpose dengan gaya yang sensual. Bukan perkara sulit sebab ia sering melakukan hal yang sama terhadap beberapa pria yang pernah berpacu menciptakan keringat bersamanya. Diraihnya pula sebuah majalah yang berada di nakas, lalu bersikap seolah-olah sedang membacanya dengan posisi setengah merebah dengan gaya yang cantik.
__ADS_1
Pintu dibuka dari luar, lalu sosok gagah dengan balutan kemeja putih kemudian muncul dari sana.
"Sayang, kau sudah pulang?"
Ada keterkejutan di wajah Narendra mendengar suara lembut yang menyambutnya. Pria yang menyampirkan jasnya di lengan kiri itu tertegun sejenak sebelum kemudian melangkah mendekati ranjang dengan kening yang berkerut.
"Kau belum tidur?"
Menutup lembaran majalah di tangan, Helena menggeleng pelan. "Belum. Aku sengaja nungguin kamu." Ia menaruh majalah tadi kemudian bangkit untuk duduk.
"Menungguku? Tumben. Untuk apa? Anak-anak mana? Apa mereka sudah tidur?" Alih-alih terpesona dengan penampilan istrinya, Narendra justru mencecar Helena dengan beberapa tanya. Seolah-olah tak membutuhkan jawaban atas pertanyaan itu, ia bergerak memutar badan, membelakangi Helena lalu membuka satu persatu kancing kemejanya.
Tubuh Narendra tiba-tiba menegang saat merasakan sentuhan lembut merambat di permukaan kulitnya. Ia menundukkan kepala dan mendapati jemari Helena menyatu di perutnya. Rupanya wanita itu memeluknya dari belakang setelah memberikan denyar memabukkan melalui sentuhan lembut serta belai manja pada pinggangnya dengan gerakan sangat ringan.
Bulu kuduknya langsung meremang. Meski merasakan sesak di celana, tetapi Narendra hanya bergeming. Ia hanya pria normal meski usianya hampir menginjak kepala lima. Merupakan hal lumrah jika naluri kelelakiannya menuntut lebih saat mendapatkan sebuah rangsangan. Juniornya di bawah sana meronta-ronta ingin dilepaskan. Sayangnya, rasa kecewa masih berkuasa hingga benaknya berusaha menghalau keinginan dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
Padahal, sebagai pria sejati ia sudah membayangkan nikmatnya memainkan dua gundukan kenyal itu sejak pertama melihat tadi. Membayangkan bagaimana syahdunya membuat Helena menjerit penuh kenikmatan ketika wanita itu mencapai puncak. Lalu ia akan terkulai lemas setelah menumpahkan lahar panas.
"Kenapa menanyakan mereka? Bukankah sudah ada aku di sini?" Helena sengaja menggesekkan dadanya yang tak mengenakan bra itu pada tubuh bagian belakang suaminya.
Terang saja itu membuat fantasi Narendra semakin liar saja. Pria itu mendongakkan kepala seraya memejamkan mata. Tangannya mengepal kuat dan gerahamnya menggemertak.
Helena bisa merasakan tubuh Narendra kian menegang. Bibir dengan polesan lipstik warna merah itu menipis selagi membenamkan pipi pada punggung lebar Narendra. Seperti mendapat perintah langsung dari otaknya, jemari lembut dengan kuku panjang bercat merah itu bergerak pelan meraba area dada bidang dengan bulu-bulu halus di tengahnya.
"Sayang ... aku merindukanmu."
Sebuah kalimat pendek tetapi mampu meruntuhkan pertahanan Narendra. Pria itu berbalik badan dan langsung menerkam Helena. Menyambar lengkung merah itu dan menikmatinya dengan rakus.
Meski sekuat tenaga berusaha menahan, tetapi pada akhirnya ia tetap tumbang. Helena memiliki daya tarik luar biasa. Mahir mencumbui lelaki dengan kemampuan yang mumpuni. Ia menyerang titik-titik kelemahan Narendra, membuat pria itu tak mampu berkutik di depannya.
Ia hanya pria malang yang haus kasih sayang. Sejak bertemu Alisha, Narendra tak pernah lagi pergi ke tempat hiburan malam. Helena juga sibuk dengan urusannya. Tak ada tempat untuk mencurahkan kasih sayang. Rasa bahagia telah menemukan putri kandungnya membuat Narendra mengesampingkan nafsu dunianya.
__ADS_1
Selanjutnya, pertempuran panas penuh keringat dan lenguhan sensual mewarnai malam indah keduanya. Membuat ranjang berderit dengan posisi sprei yang tidak lagi pada tepatnya semula.
Narendra dan Helena sejatinya memiliki kesamaan. Sama-sama mengkhianati pasangannya. Yang membedakan, Narendra bisa menyimpan rapat dosanya itu dari Helena.