Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
David?


__ADS_3

Alunan musik disko dari DJ ternama ibu kota menenggelamkan Lara dalam sebuah kelab malam. Gadis dengan balutan tank top dan rok mini itu terlihat asyik menggoyangkan kepala sambil memejamkan mata. Sesekali meneguk minuman beralkohol dengan kadar tinggi yang terhidang di mejanya.


Kekecewaan pada Dante serta kecemburuan pada Alisha membuatnya kembali pada dunianya yang semula. Lara berdalih menginap di rumah teman dengan kepentingan tugas kuliah agar bisa keluar rumah menyambangi tempat-tempat semacam ini setiap malam. Ia tertawa senang lantaran selama beberapa hari belakangan ini tak ada orang rumah yang mencurigai.


Sebuah tangan kokoh bergerak menahan lengan Lara saat hendak meneguk lagi minuman beralkoholnya. Gadis itu menoleh marah, lalu menatap pemuda di sampingnya dengan mata memicing. Meski pencahayaan remang-remang ditambah dirinya yang sudah dalam keadaan setengah mabuk, tetapi Lara bisa mengenali pemilik wajah tampan yang saat ini tengah menyunggingkan senyuman.


"David?"


Senyum pemuda itu kian lebar setelah mendengar namanya disebutkan. Perlahan, ia mengambil alih gelas kaca dari tangan Lara sebelum kemudian menaruhnya di atas meja.


"Seberapa berat masalah yang kau hadapi sekarang, heum? Aku bisa jadi pendengar yang baik buat kamu." Seolah-olah paham dengan kondisi yang menjebak Lara hingga sampai kemari, pemuda itu dengan Pd-nya menawarkan diri.


Alih-alih menerima tawaran David dengan senang hati, Lara justru mendengkus lirih dan menghempaskan tangan David yang masih memegangi tangannya.


"Siapa kamu sampai saya harus cerita segala masalah saya?"


David hanya bisa menghela napas melihat sikap angkuh yang berusaha Lara tunjukkan. Gadis itu tetap meneguk minuman tanpa memedulikan larangannya. Entah berapa botol yang sudah ditenggak Lara, David sendiri tak tahu pasti. Yang jelas ada beberapa botol kosong di atas meja, padahal Lara hanya duduk seorang diri. Tubuh Lara akhirnya tersandar pada bahu sofa tanpa kesadaran. Entah pingsan, entah ketiduran.

__ADS_1


***


Sesosok tubuh berbalut selimut lembut warna putih salju mulai menunjukkan pergerakan. Lara menggeliat, kemudian membuka kelopak mata yang masih terasa berat. Setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling ia berjingkat saat mendapati diri terbaring di atas ranjang yang bukan merupakan kamar tidurnya.


Hotel? Bagaimana aku bisa ada di sini?


Ia hendak bangkit, tetapi kepalanya masih berdenyut nyeri. Sembari memijat pelipisnya, Lara berusaha mengingat-ingat kejadian semalam.


Ya, pada akhirnya Lara ingat jika semalam dirinya berada di kelab malam. Ia minum lebih banyak dari biasanya. Mungkin itu yang membuatnya tak sadarkan diri lantas tak ingat apa-apa lagi. Entah ketiduran atau pingsan, ia sendiri pun tidak yakin.


Ketika ingatannya sampai pada David, ia dibuat berjingkat karena bersamaan dengan itu tiba-tiba pintu toilet terbuka. Sesosok pemuda rupawan dengan rambut setengah basah itu keluar dari sana.


"Kamu sudah bangun rupanya. Tenang saja, aku tidak melakukan apa pun terhadapmu meski semalam kita hanya berdua." Dengan senyuman tanpa dosa, David berucap demikian pada Lara. Seringai dan kata-katanya barusan sudah menunjukkan jika ia bisa membaca pikiran Lara, apa yang tengah gadis itu pikirkan mengenai dirinya. Pemuda berkulit cerah itu bergerak perlahan mendekati dengan tatapan lurus ke depan, tepat ke arah Lara yang duduk tegang di tengah ranjang.


Secara refleks, gadis itu beringsut mundur. Aura tidak suka begitu kental di wajahnya. David adalah orang yang memperkenalkannya pada gemerlap dunia malam. Mengajarinya menikmati kebebasan dunia luar. Lantas, di saat dirinya mulai merasakan candu, pemuda itu malah menghilang begitu saja seperti ditelan bumi, meninggalkannya seorang diri. Dan ketika dia kembali lagi, haruskah Lara memaafkannya begitu saja?


Tidak.

__ADS_1


Lara memilih tak menanggapi kata-kata David. Yang terlintas di benak saat ini adalah Dante dan orang tuanya. Jangan sampai mereka memergoki dirinya dengan kondisi seperti ini. Di dalam kamar hotel hanya berdua dengan seorang pemuda. Bisa rusak semua rencananya.


"Aku sudah menghubungi orang tua kamu." Kata-kata David membekukan tubuh Lara yang saat itu tengah berusaha menggapai ponselnya yang diletakkan di atas nakas. Gadis itu sontak menoleh ke arahnya dengan tatapan sinis.


"Maksud kamu?" Nada marah mewarnai pertanyaan Lara. Gadis itu menelan ludah. Sekelebat bayangan buruk langsung berkelindan di benaknya.


"Kenapa takut gitu?" David menjeda kalimatnya dan tersenyum jahil. "Aku hanya membalas pesan mamamu dengan kalimat yang benar. Setidaknya itu membuat beliau merasa tenang karena putri kesayangannya baik-baik saja."


Tak ingin berlama-lama dibuat penasaran, Lara bergegas meraih ponselnya dan membuka aplikasi pesan yang tertera di layar. Rupanya David memang membalas pesan mamanya dengan permintaan izin untuk langsung pergi ke kampus. Persis seperti caranya mengetik pesan. Ah, rupanya pemuda itu masih hapal betul bagaimana karakter ketikan pesannya.


"Bagaimana. Aku jenius, bukan? Dengan begini tidak akan ada bodyguard papa kamu yang dikerahkan untuk mencari nona muda mereka yang hilang."


Lara hanya mendengkus menanggapi kata-kata David. Sementara David sendiri tetap tersenyum tenang di tempatnya.


Mengabaikan sikap tidak suka Lara, David kembali berceloteh dengan ekspresi bangganya. "Aku nggak nyangka kamu masih memakai ponsel pemberianku. Kamu bahkan masih menyimpan dengan baik semua tentang kita. Termasuk foto-foto kita bersama." David tersenyum malu-malu dan itu membuat mata Lara memicing menatapnya.


"Lancang! Siapa yang kasih izin kamu buat otak-atik HP aku!" Marah, Lara meremas ponselnya dan menatap David dengan tajam. Tapi bukan David namanya jika tidak menanggapi kemarahan Lara dengan kekehan. Lara ketika marah benar-benar menggemaskan di matanya.

__ADS_1


Lara mendengkus kesal. David benar-benar membuatnya merasa jengah. Berlama-lama dengan pemuda ini ia takut imannya goyah. Maka, buru-buru saja ia bangkit. Keluar hotel dengan wajah bantal itu lebih baik daripada lama-lama berduaan. Sebelum menutup pintu, Lara bahkan bisa mendengar suara tawa David dari arah ranjang. Sepertinya pemuda itu menertawainya yang pergi tergesa-gesa dengan keadaan kacau.


Sialan.


__ADS_2