Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Kamu percaya sama aku, kan?


__ADS_3

Dante bisa melihat wajah Alisha yang memucat. Gadis itu mengira mamanya masih ada di tempat, padahal ia melihat Niken keluar beberapa saat lalu untuk menerima panggilan dari ponselnya. Entah karena melamun atau saking seriusnya mengaduk adonan, Alisha sampai-sampai tak menyadari itu.


"Dante .... Aku bukan siapa-siapamu. Plis, jangan seperti ini." Kali ini Alisha memohon dengan nada pelan. Gadis itu seperti mengiba tapi enggan menatap wajahnya. Alisha meliriknya kebelakang dan cenderung menghindari tubuh mereka bersentuhan.


Di dalam dapur luas itu bukan hanya ada mereka berdua saja. Ada beberapa orang asisten rumah tangga Niken di sana. Sayangnya mereka terkesan tak mau tahu dan tak mau mencampuri urusan orang. Melihatnya seperti ini malahan mereka pura-pura tidak melihat.


Dante tersenyum menanggapi sikap gadis itu. Ia faham Alisha bukannya tidak cinta. Hanya saja sedang menjaga martabatnya sebagai wanita. Dante sangat suka. Lagi pula ia tidak benar-benar menginginkan bermesraan dengan Alisha. Ia hanya menguji gadis itu saja. Dan ia sudah mendapatkan jawaban yang memuaskan.


Cukup sudah menggoda Alisha dengan kenakalan. Ia pun memutuskan fokus pada tujuannya menghampiri Alisha di dapur.


"Maaf sudah membuatmu takut." Dante mundur untuk menciptakan jarak. Namun, tatapannya sama sekali tak terlepas dari gadis itu. Dengan posisinya menyandarkan tubuh pada tepian meja, Dante bisa melihat jelas wajah ayu Alisha yang bersemu malu.


"Nggak pa-pa." Alisha menjawab tanpa memandang Dante. Untuk menutupi grogi ia kembali mengaduk adonan yang sempat terhenti.


"Bisa kita bicara?"


Seketika Alisha mengangkat wajahnya, menatap Dante dengan seksama. Pemuda itu terlihat serius kali ini.


"Apa itu tentang Lara?"


"Ya."


"Tentu saja aku bisa. Katakan saja." Wajah Alisha terlihat antusias.


Dante mengalihkan pandangan pada beberapa asisten mamanya, lalu memanggil salah satu di antara mereka.


"Mbak Neti, bisa bantu Alisha?"


Wanita bernama Neti itu menoleh lalu menjawab dengan sigap. "Tentu, Mas."

__ADS_1


"Makasih, Mbak," ucap Dante ramah, lalu menarik tangan Alisha dengan lembut setelah melepaskan kain celemek gadis itu.


"Apa yang mau kamu katakan tentang Lara, Dante. Apa kau sudah menemui dia?" Alisha tak bisa lagi menahan diri untuk bertanya. Ia langsung menyerang Dante dengan pertanyaan itu setelah mereka duduk di sofa.


"Sudah. Bahkan bukan hanya menemuinya," jawab Dante yang seketika membuat Alisha membelalak.


"Maksud kamu?" Mata Alisha menyipit menatap Dante. Entah mengapa kata-kata Dante barusan itu seperti menyiratkan sebuah makna. "Kamu sudah apain dia, Dante? Jangan bilang kalau kamu balik menculiknya!" desaknya penasaran.


"Aku nggak nyulik dia, Alisha. Dia sendirian yang dengan percaya dirinya datang menemui aku."


Alisha sejenak terdiam. Gadis itu mengembuskan napas berat. Dante mengatakan itu dengan wajah serius, ia tentu percaya. Lagi pula Lara juga sepertinya sangat terobsesi pada Dante, tentunya gadis itu sangat percaya meski Dante hanya mengelabuinya saja.


"Al ...." Dante meraih tangan Alisha dan menggenggamnya penuh kelembutan. "Hati kamu itu terbuat dari apa sih? Lara itu sudah jahat sama kamu, tapi kenapa kamu sama sekali nggak ngizinin aku balas perbuatan buruk dia."


"Bukan tidak mengizinkan, Dante. Aku hanya takut akan berimbas ke nama baik Papa."


Dante mengangguk paham lalu tersenyum mantap. "Oke. Aku akan lakukan pembalasan yang tidak akan menyangkut kehormatan Om Narendra."


"Kamu percaya sama aku, kan?" Bukannya menjelaskan, Dante malah menanyakan itu seperti meminta persetujuan. Ada ketenangan di hati Alisha ketika bersitatap dengan bola mata tegas tapi meneduhkan itu. Hingga akhirnya, mau tak mau Alisha mengangguk setuju meski hatinya diperam penasaran.


***


Saat membuka mata, Lara terkejut bukan main ketika mendapati diri berada di ruangan gelap gulita dalam keadaan duduk. Matanya mengedar ke seluruh penjuru, tetapi yang ada hanya kegelapan dan udara yang pengap menusuk indera penciuman. Ia berusaha mengingat-ingat bagaimana bisa dirinya sampai di sini, bukankah sebelumnya ia berdebat dengan Dante lantaran dirinya menculik Alisha?


Lara enggan mengingat hal itu. Ia juga tak tahu berapa lama dirinya dalam keadaan tak sadarkan diri. Ada hal yang lebih penting dibanding mengingat hal yang sudah lalu, terlebih lagi jika itu menyangkut seseorang yang paling ia benci, yaitu Alisha. Ia harus secepatnya mencari jalan keluar untuk pergi dari sini, sebelum seseorang menyadari dirinya terjaga.


Saat hendak bangun, mendadak pergerakannya terhenti sebab tubuhnya seperti tertahan. Lara menunduk, lalu spontan membulatkan bola mata saat menyadari sesuatu hal.


Sialan. Rupanya selain menyekap, anak buah Dante juga mengikatnya. Lara bisa merasakan ikatan itu sangat kuat, terbukti dari ruang geraknya yang terbatas. Bukan hanya tangan, tetapi kaki juga.

__ADS_1


Panik dan takut tanpa sadar membuat Lara ingin berteriak. Sayangnya lagi, bibirnya terasa kelu dan kaku.


Dante sialan! Berani sekali dia memperlakukanku seperti ini! pekiknya dalam hati. Lara meyakini seseorang telah memplester mulutnya dengan lakban. Untuk apa? Apakah supaya dirinya tak berteriak? Atau mungkin ini upaya mereka agar penderitaannya semakin lengkap?


Jujur, Lara bukan hanya panik dan ketakutan. Namun, ia juga sangat-sangat tersiksa. Ia tak pernah menderita seperti ini sebelumnya. Memangnya salah dia apa sampai-sampai Dante sebegitu murka? Ia hanya berniat mengamankan Alisha agar pertunangan mereka lancar, memangnya itu salah?


Bukan hanya marah, tetapi ia juga kecewa pada Dante. Sebagai calon tunangan, seharusnya Dante membelanya, bukan malah melindungi Alisha!


Lara berpikir tidak bisa selamanya berada di sini. Ia harus keluar bagaimanapun caranya. Ya, satu-satunya cara ia harus menciptakan sebuah suara untuk menarik perhatian semua orang di luar sana. Lara berusaha berteriak meski tidak jelas, berusaha memberontak meski kursi besi yang menopangnya juga ternyata sangat berat.


Entah tak ada orang yang mendengar atau memang dirinya diabaikan, Lara benar-benar frustasi saat tak ada seorangpun yang datang. Gadis itu mulai menangis sangat kencang. Air mata bercampur peluh membasahi wajahnya yang ketakutan.


Hingga, suara pintu yang terbuka dari luar, akhirnya menginterupsi tangisan Lara.


"Berisik! Bisa diam, nggak?" kata seseorang yang berdiri di bawah bingkai pintu. Lara menatap sosok itu dengan mata memicing. Di ruangan itu sangat gelap, sementara di luar sana sangat terang benderang. Lara harus mengerjapkan-ngerjapkan mata berulang-ulang untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Sayangnya, ia harus menelan rasa kecewa lantaran tak mengenali sosok pria yang menegurnya itu.


Lara ingin berteriak minta dilepaskan, tetapi lakban yang membekap mulutnya itu membuat suaranya jadi tenggelam. Namun, ada hal positif yang ia peroleh dari lakban laknat itu. Pemuda itu akhirnya bergerak mendekat. Mungkin hendak membuka lakban agar bisa mendengar suaranya dengan jelas.


Dugaan Lara tidak meleset. Pria itu memang membuka lakban di mulutnya, akan tetapi bukan dengan cara yang pelan melainkan sebuah tarikan. Sontak Lara memekik sebab area mulutnya merasakan nyeri oleh kuatnya tarikan dari lakban itu sendiri.


"Kurang ajar! Kamu nggak tau aku siapa! Berani-beraninya memperlakukanku seperti ini!" pekiknya di sela tangisan.


"Bodo amat kamu siapa! Yang jelas, selama di sini kamu adalah tawanan kami!" balas orang itu dengan lantang.


"Aku akan bikin kamu lebih menderita!"


"Silahkan jika kamu bisa!" balas pemuda itu seperti menantang. "Sok-sokan mengancam. Melepaskan diri dari ikatan saja nggak bisa."


Alisha mendesah putus asa. Ia menatap punggung si pria dalam remang-remang dengan putus asa, hingga sebuah ide gila berkelebat di benaknya.

__ADS_1


Hey, bukankah semua orang butuh uang? Memangnya siapa yang menolak tawaran uang, apalagi dalam jumlah besar. Itulah yang akan ia lakukan pada pria itu. Memberikan sebuah penawaran yang akan menguntungkan kedua belah pihak.


"Tunggu!" pekik Lara, yang seketika menghentikan langkah pria itu.


__ADS_2