
Aku sudah berusaha untuk lupa. Namun, entah mengapa semesta selalu memiliki cara untuk membuatku ingat kamu secara tiba-tiba.
Alisha mendesah pelan seraya menengadahkan kepalanya. Tangannya kompak meremas pagar pembatas balkon tempatnya berpegangan.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. Meniup rambutnya perlahan seolah-olah menyisir dengan gerakan pelan.
Ada yang sakit tapi tidak terluka. Ada yang luka tapi tidak berdarah. Ialah hati yang patah. Manakala melihat bagaimana ekspresi Dante terhadapnya. Sekeras apa pun Alisha berusaha bersikap baik-baik saja, sayangnya segumpal darah di dalam dada masih enggan bekerja sama.
Mungkin ceritanya akan berbeda jika orang yang bersama Dante adalah gadis yang belum pernah ia kenal. Tapi mengapa harus Lara, saudari tiri yang juga tinggal seatap dengan dia. Sakit yang diderita akan terasa berlipat ganda lantaran setiap hari harus menjadi saksi mata. Alisha bahkan tak tahu sampai kapan dirinya bisa bertahan.
"Terkadang Tuhan menunda sesuatu yang indah untuk menjadikannya lebih indah. Mungkin kita hanya perlu menambah kuota sabar agar kelak menikmatinya."
__ADS_1
Alisha terpaksa menoleh saat sebuah suara terdengar dari arah belakang. Rupanya Lisa sedang berdiri di belakangnya sembari mengulas senyum yang sulit ia artikan.
Alisha hanya mendengkus lirih seraya mengembalikan pandangan. Ia tahu, sang maid tengah melontarkan petuah bijak untuk memberinya suntikan semangat, tapi sayangnya itu tak berarti apa-apa sebab kini ia sedang tidak berselera.
Namun, meski begitu ia masih meloloskan sebuah kalimat agar maid-nya itu tak merasa diabaikan.
"Kamu nggak ngerti aja gimana rasanya mencintai orang yang tidak mungkin lagi bisa kumiliki."
"Kata aku, lah! Mana mungkin aku merebut kekasih saudari tiriku sendiri."
"Jodoh itu misteri. Dijodohkan tak menjamin keduanya akan naik pelaminan. Barangkali saja Nona Lara hanya dijadikan persinggahan Tuan Dante semata. Nona tak bisa menolak jika ternyata ditakdirkan menjadi tempat berlabuh hati Tuan Dante selamanya."
__ADS_1
"Itu nggak mungkin, Lisa. Dante membenciku hingga ke tulang-tulang."
"Benarkah?" Lisa mengangkat sebelah alisnya lalu tersenyum meragukan. "Saya bahkan berani bertaruh jika Tuan Dante masih mencintai Nona."
Alisha tergelak kencang mendengar penuturan Lisa. Namun, tawa itu terdengar hambar dan penuh kesedihan. Masih belum berhenti tertawa, gadis itu sedikit menoleh lalu memberikan sebuah alasan.
"Apa kau tidak melihatnya bagaimana ekspresi Dante saat kami jumpa? Dia sangat dingin dan enggan menatapku. Boro-boro menatap! Menganggap aku ada saja tidak," desis Alisha. Namun, bukan Lisa namanya jika tidak bisa membalas.
"Itu bukanlah kebencian, Nona. Melainkan kemarahan." Lisa diam sejenak demi memperhatikan perubahan air muka Alisha. "Saya yakin Nona cukup cerdas hanya untuk sekadar membedakan antara rasa benci dan rasa marah. Seperti yang kita tahu, benci adalah emosi yang sangat kuat. Bahkan sama kuatnya dengan cinta dan melambangkan ketidaksukaan, permusuhan, atau antipati terhadap seseorang. Sebuah hal, barang, atau fenomena. Merupakan sebuah keinginan untuk menghindari, menghancurkan, atau bahkan menghilangkan.
Jelas, rasa benci itu jauh berbeda dengan marah. Di mana rasa marah itu merupakan emosi yang menunjukkan ketidaksukaan atas perlakuan yang diterima. Rasa marah ini masih manusiawi. Kemarahan membantu seseorang memahami bahwa dirinya merasa dirugikan dan memberi dorongan untuk bertindak atau memperbaiki keadaan. Tidak menampik juga jika dirinya masih mengharapkan. Dari sini Anda paham, Nona?" Lisa melontarkan sebuah pertanyaan bernada memastikan di akhir penjelasannya yang panjang dan lebar.
__ADS_1
Alisha terdiam. Meski tak merespon kata-kata Lisa dengan perilaku ataupun kata-kata, tetapi tak bisa dipungkiri jika gadis itu membuatnya tersenyum dan kembali menaruh harap. Meski ... hanya semu belaka.