
"Al. Ini aku. Tenangkan dirimu." Seseorang berbisik di telinga Alisha ketika gadis itu mencoba meronta. Alisha yang semula nyaris putus asa, kini spontan membeku dengan pupil mata membesar. Dalam diamnya ia berusaha mencerna keadaan.
Dante? Mungkinkah ini Dante?
Tanpa menunggu lama, ia yang masih dalam dekapan orang itu mencoba menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang bicara dengan dia. Seketika ia merasakan angin segar ketika yang membungkam mulutnya adalah orang yang diharapkannya.
"Dante?" panggilnya seperti tak percaya.
Dante yang hanya menanggapi reaksi Alisha dengan senyuman itu dibuat terkejut saat Alisha berhambur memeluknya. Sangat erat, seolah-olah tak ingin melepasnya. Bahkan tangis gadis itu pecah di dadanya sambil menyebutkan namanya dengan sedu sedan.
Kendati bingung dengan penyebabnya, Dante tidak serta merta mendesak Alisha untuk mengatakan. Ia memilih diam membiarkan Alisha menjadikannya tempat bersandar.
Ia bisa merasakan aura ketakutan dari wajah gadisnya, dari tangisannya yang memilukan. Terlebih lagi ia mendapati gadis itu di sini hanya sendirian, bahkan hanya mengenakan pakaian rumahan.
Tanpa berniat memanfaatkan kesempatan, tangan kanan Dante mengusap lembut rambut Alisha, sementara tangan kirinya menepuk bahu gadis itu penuh sayang untuk menenangkan. Demi apa pun, ia lebih terluka andai Alisha terluka. Ia lebih sakit ketika Alisha kesakitan. Namun, ia tak bisa berbuat banyak lantaran Alisha yang menginginkan.
"Maaf, karena aku udah nangis nggak jelas di pelukan kamu," tutur Alisha setelah mengurai pelukannya. Kini ia merasa sedikit lebih tenang. Ia sengaja meminta maaf karena khawatir Dante merasa tidak nyaman. Bagaimanapun juga ia tak ingin menjadi manusia munafik. Kehadiran Dante sudah seperti oase di padang pasir. Dante sudah seperti pahlawan yang datang di waktu yang tepat.
"Nggak pa-pa. Nggak masalah." Dante menggeleng paham. Tanpa ragu ia mengusap wajah Alisha penuh kelembutan. Tangis gadis itu sudah reda, hanya tersisa sedikit isak dan napas yang tersengal. "Kamu ada masalah?" tanyanya kemudian dengan sangat hati-hati.
Alisha menatap Dante dengan lekat, lalu kemudian menggeleng pelan. "Enggak ada."
Dante tak kecewa meskipun Alisha berusaha menutupinya. Justru sebaliknya, ia melihat ke sekeliling lalu bertanya dengan hati-hati. "Kamu di sini sama siapa?"
Lagi-lagi Alisha tak mau terbuka dan hanya menggelengkan kepala.
"Mau aku antar pulang?" tawar Dante lagi dengan hati-hati. Di luar dugaannya, kali ini Alisha langsung mengangguk dengan mantap.
"Oke. Yuk, jalan. Mobilku ada di sana." Dante menunjuk ke arah kanan, sementara Alisha langsung mengikuti arah telunjuk Dante.
Rupanya Dante menaruh mobilnya agak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Keduanya masih perlu jalan kaki beberapa menit untuk sampai ke sana.
Tiba-tiba Alisha merasa tak yakin. Bagaimana jika nanti mereka bertemu Lara? Ia bukannya takut Lara akan menyerangnya sekarang. Alisha yakin selama dirinya bersama Dante semua akan baik-baik saja. Namun, bagaimana jika Lara salah paham? Berpikir jika dirinya yang secara sengaja memanggil Dante. Lalu kemudian Lara akan menuntut balas nanti di kemudian hari setelah dirinya lengah.
Astaga. Kenapa Lara sekarang sudah seperti momok menakutkan bagi Alisha? Wajah Lara yang marah jauh lebih mengerikan dari hantu jelek di film-film horor yang pernah ia tonton.
"Al, kok diam? Jadi pulang nggak?"
Dante bertanya heran lantaran Alisha hanya terbengong menatap jauh ke sana. Gadis itu menoleh padanya dengan wajah seperti mengiba.
"Hey, kok gitu. Kenapa?"
Bukannya menjawab, Alisha malah seperti mau menangis.
"Kamu capek? Mau digendong?" tebak Dante tanpa berniat menggodanya, dan untuk kesekian kalinya Alisha hanya menunduk sambil geleng kepala.
Dante mendesah pelan menatap gadis di depannya. Meski wajah Alisha polos tanpa riasan, tetapi gadis itu tetap saja terlihat memesona. Rambutnya yang dibiarkan tergerai itu menari bebas diterpa angin malam. Alisha mengusap lengannya sendiri yang tanpa balutan kain. Gadis itu hanya mengenakan setelan piyama sutra dengan atasan lengan pendek.
__ADS_1
Dante buru-buru melepas jaketnya dan memakaikan pada Alisha karena meyakini gadis itu kedinginan.
"Nggak usah, Dante. Nanti kamu kedinginan."
"Aku atau kamu yang kedinginan, Al?" Dante bertanya seperti meragukan. Dirinya tersenyum, Alisha menunduk malu. "Tuh, kamu menggigil gitu. Sedangkan aku, biasa aja kok. Aku tuh udah kebal sama rasa dingin kali, Alisha."
"Makasih, Dan." Hanya itu yang bisa Alisha ungkapkan.
"Yuk, aku antar pulang. Kalau bersamaku kamu pasti akan aman."
Alisha hanya bisa pasrah saat Dante menggandeng tangannya. Pemuda itu benar-benar membuatnya merasa aman dan nyaman. Entah mengapa, kata-kata Dante barusan itu terdengar seperti memahami jika ia sedang ketakutan. Padahal ia belum bilang apa-apa. Apa jangan-jangan karena tangisannya?
"Dan, kok kamu ada di sini?" Alisha bertanya setelah beberapa saat sama-sama diam. Mereka tetap berjalan ke arah mobil Dante sambil bergandengan tangan di tengah keramaian.
"Aku lagi nongkrong sama teman-teman di kafe langganan, Alisha. Terus pas aku mau beli di toko sana nggak sengaja aku lihat kamu. Terus aku hampiri deh. Aku pikir tadi kamu lagi main petak umpet, tau."
Andai kamu tau aku lagi ngumpet dari calon tunangan kamu, Dan, batin Alisha lemah.
"Tuh, temen aku lagi pada nongkrong di dalam. Ini mobilnya juga parkir jejeran." Dante menunjuk arah dalam kafe, lalu menunjuk deretan mobil sport mewah yang salah satunya Alisha hapal betul itu adalah mobil miliknya. Rupanya Dante benar-benar nongkrong di sana dengan teman komunitas mobil sportnya. Dasar anak orang kaya.
Alisha membiarkan Dante membukakan pintu untuknya sebelum kemudian naik setelah Dante mempersilahkan.
"Makasih," ucapnya ramah.
"Sama-sama," balas Dante pula. Pemuda itu kemudian berjalan mengitari mobil untuk duduk di belakang kemudi. Ia tersenyum saat memperhatikan Alisha yang mengenakan seat belt.
"Mau pizza?"
"Mau." Alisha mengangguk mantap. Tak mau membohongi diri dan juga Dante, kali ini ia benar-benar kelaparan.
Tanpa sungkan Dante mengambilkan sepotong untuk kemudian memberikan pada Alisha. Ia tidak mau sok-sokan romantis dengan menyuapi gadis yang bukan kekasihnya meski sebenarnya sangat ingin.
"Makasih." Lagi hanya itu kata-kata yang diucapkan Alisha. Memangnya apa lagi?
"Minum?" Dante buru-buru menyodorkan botol air mineral yang sudah dibuka untuk Alisha. Gadis itu juga dengan cepat menerimanya karena memang tenggorokannya kesulitan untuk menelan.
"Makasih." Tanpa pikir panjang, Alisha langsung menenggaknya.
Dante tersenyum lega melihat Alisha jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia menunggu dengan sabar Alisha yang makan dengan lahap seperti kelaparan. Alisha bahkan tak merasa sungkan terhadapnya. Ia senang, Alisha seperti kembali pada dirinya yang dulu.
"Dante."
Tiba-tiba saja Alisha menyebut namanya lirih seperti memanggil, maka buru-buru Dante menjawabnya dengan nada yang ramah.
"Ya?"
"Kamu yakin mau bertunangan dengan Lara?" tanya Alisha di sela makannya.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba tanya gitu?" Dante menautkan alisnya heran. Namun, meski begitu ia tetap menjawab pertanyaan Alisha. "Tentu saja. Bukankah kau sudah menolakku? Lantas apa lagi yang bisa kulakukan selain menerima perjodohan, bukan?"
Alisha terdiam memandangi Dante. Nada bicara pemuda itu lebih tenang dari sebelumnya. Dante bahkan tersenyum tulus seperti sudah ikhlas menerima semuanya.
Ah, tapi kenapa justru dirinya yang sekarang merasa berat melepaskan Dante untuk Lara. Dante adalah pemuda yang baik. Ia tak seharusnya dimiliki Lara.
Bukan dirinya merasa lebih baik, tetapi Dante bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dari Lara meskipun bukan dirinya. Ya Tuhan, memikirkan ini Alisha ingin menangis rasanya.
"Kenapa? Apa kau berubah pikiran?" tanya Dante kemudian yang seketika membuat Alisha terperanyak.
Demi mengusir rasa gugup, Alisha buru-buru buang muka lalu melanjutkan acara makanannya. Yang benar saja. Mana mungkin ia jadi perebut kekasih orang?
"Enak ya?" tanya Dante yang terus memandangi Alisha. Gadis itu menoleh, lalu menganggukkan kepala.
Tiba-tiba Alisha terperanjat. Ia menyadari sesuatu hal.
"Dante, yang aku makan ini pizza siapa?" tanyanya polos tetapi penuh rasa ingin tahu.
"Oh itu. Tadinya aku beli buat Mama. Mama katanya pengen makan pizza. Tapi karena kamu lapar jadinya aku kasih ke kamu aja."
Seketika Alisha melongo mendengar pengakuan Dante. Apa-apaan ini? Ia memakan pizza pesanan Tante Niken? Mendadak pizza yang ada di tenggorokannya seperti berubah jadi batu. Keras, susah ditelan.
"Dante! Kok nggak bilang-bilang sih kalau ini buat mama kamu!" Alisha menggeram kesal. Sedangkan Dante justru tertawa.
"Gimana mau bilang kalau kamu nggak nanya-nanya."
"Aaa ... gimana dong? Nanti mama kamu marah pizzanya aku abisin."
"Enggak, Al. Mama pasti seneng kalau tau kamu yang makan pizzanya."
Alisha mendengkus kesal. Ia memanyunkan bibirnya. Ia menatap nanar pada pizza di pangkuannya yang masih menyisakan dua potong.
"Habisin, Al. Tanggung, tinggal dua potong doang."
Bibir Alisha makin manyun lantaran kata-kata Dante seperti meledeknya.
"Aku rakus ya?" tanyanya tak enak hati.
"Enggak. Kamu lagi lapar. Aku suka lihat kamu makan lahap kayak gitu."
Alisha hanya diam dan tertunduk. Perlakuan Dante begitu lembut terhadapnya meskipun ia pernah menyakiti perasaan Dante, menolaknya hingga beberapa kali. Seharusnya Dante dendam. Seharusnya Dante membencinya. Tapi yang terjadi justru apa? Ini benar-benar membuat Alisha tidak rela Dante untuk Lara.
"Al, kamu ngerasa nggak kalau kamu jadi berubah. Kamu yang sekarang terlihat lemah dan mudah ditindas. Kau tidak seperti Alisha yang dulu aku kenal. Alisha yang kuat dan tegar. Alisha yang berani menghadapi masalahnya. Kamu yang sekarang lebih rapuh. Kamu seperti kehilangan jati diri."
Sontak Alisha menatap Dante dengan ekspresi yang sulit diartikan. Karena sejujurnya ia merasa seperti tertampar.
Kenapa? Kenapa kata-kata Dante selalu benar? Ia benar-benar seperti kehilangan jati diri. Apa ini karena Lara? Entahlah. Yang jelas Alisha tak bisa apa-apa jika itu menyangkut Dante dan juga Lara.
__ADS_1