
Alisha terperangah setelah sampai di luar rumah. Sebuah mobil dengan warna cat masih mengkilat sudah menyambutnya di halaman. Di saat dirinya masih terpaku, Lisa malah sudah bergerak cekatan membukakan pintu.
"Masuk, Nona." Lisa menyuruhnya sopan.
"I-iya." Alisha tergagap, lalu bergerak cepat naik ke mobil di kursi depan.
"Maaf." Lisa meminta izin memasangkan sabuk pengaman pada Alisha. Sang nona yang awalnya sempat terkejut kini tampak memasrahkan diri diperhatikan oleh maid-nya. Alisha berusaha memahami jika memastikan keamanan dirinya adalah bagian dari tanggung jawab Lisa.
Lisa tersenyum seraya menutup pintu, lalu berjalan mengitari mobil dan duduk di belakang kemudi.
Alisha memperhatikan gerak-gerik Lisa yang begitu lihai mengendarai mobil. Ah, kenapa ia jadi meragukan pekerjaan Lisa sebagai pelayan? Mungkinkah ada pelayan dari kalangan atas hingga gadis itu menguasai seluruh pekerjaan?
Lisa bukanlah gadis biasa. Gadis itu multi talenta. Baru sehari bersama saja Lisa sudah menunjukkan jika keterampilannya melebihi orang-orang biasa. Bagi Alisha gadis itu bukan hanya guru privat, melainkan terapis kecantikan, pengamat penampilan, bahkan yang terakhir sopir dan entah nanti apa lagi.
"Lisa?" panggil Alisha pelan setelah beberapa saat keduanya diam.
"Ya, Nona."
"Berapa papaku menggajimu?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu meluncur dengan lancar. Alisha memang penasaran. Berapa papanya menggelontorkan dana untuk membayar bodyguardnya.
Pekerjaan Lisa bukanlah hal remeh. Alisha tahu itu. Ia meyakini jika gaji Lisa sangat besar. Tentunya harus sepadan dengan pekerjaan.
"Kenapa memangnya? Apa Nona ingin memberi saya tip juga? Ah, pasti karena pekerjaan saya sangat bagus, bukan? Apa Anda puas?" Alih-alih menjawab tanya, Lisa justru malah balik bertanya. Yang terakhir ia malah menggoda Alisha sambil memainkan alisnya.
"Ih apaan sih? Ya nggak lah!" elak Alisha sambil memalingkan muka. Yang benar saja. Aku mana ada uang sebanyak itu.
Lisa yang menggoda hanya cengar-cengir sambil menatap jalan raya. Sepertinya diamnya sang nona barusan bukanlah diam sembarangan. Namun, sedang mengira-ngira pekerjaan serta gajinya.
Suasana kembali hening untuk beberapa saat. Tak ada percakapan. Hanya suara deru mesin mobil baru yang terdengar halus dan lembut.
"Nona." Tiba-tiba Lisa menyebut namanya. Membuat Alisha yang tengah antusias menikmati keramaian jalanan kota melalui kaca jendela langsung menoleh menatap Lisa.
"Apa?"
"Apa sebelumnya Anda pernah kuliah?"
"Tidak."
"Jadi sama sekali belum pernah merasakan suasana kampus bagaimana?"
__ADS_1
"Tentu saja belum, Lisa. Kecuali aku pernah jadi tukang pel lantai di sana, pasti aku pernah merasakannya! Atau paling tidak jadi tukang sapu lah." Alisha menggemertakkan giginya menahan gemas. Sedangkan Lisa justru terbahak mendengar penuturan Alisha.
"Agar Nona tidak melongo saat sampai nanti, bagaimana jika saya beri sedikit gambarannya selagi kita masih di jalan?"
"Hey, aku nggak se-norak itu, ya!" protes Alisha kesal. Entah kenapa meski Lisa sudah memperhalus kata-kata, masih saja terasa menyinggung perasaannya. Ya, walaupun jika dipikir-pikir, kata-kata Lisa selalu ada benarnya.
Entah didengarkan atau tidak oleh Alisha, Lisa tetap menjelaskan bagaimana kampus yang kelak akan menjadi tempat kuliah sang nona. Bagaimana kurikulumnya dan lain-lain.
Awalnya Alisha hanya tak acuh saat suara renyah Lisa menjelaskan padanya dengan lugas. Namun, lama-lama ia jadi antusias. Lisa sendiri memiliki pembawaan yang tenang. Bahasanya ketika menjelaskan pun mudah dipahami oleh Alisha yang notabene-nya sudah pernah break sekolah selama beberapa waktu. Lisa yang tampak terlatih dan sudah berpengalaman membuat Alisha ragu jika mereka itu seumuran. Sayangnya, Lisa enggan mengatakan dari mana dirinya berasal.
Alisha juga tak ingin memaksa. Itu hak Lisa dan dia tidak berhak mengusiknya. Yang jelas papanya pasti tahu siapa sebenarnya gadis yang diperkerjakan menjaganya itu.
"Nona, kita sudah sampai."
"Oh ya?" Alisha sontak mengalihkan pandangan ke luar jendela. Benar saja, mobil yang membawanya bergerak melewati gerbang besar bertuliskan Sebuah perguruan tinggi swasta ternama. Alisha setengah tak percaya jika dirinya benar-benar akan kuliah di sana. Ini seperti sebuah mimpi yang menjelma menjadi nyata.
"Lisa, benarkah aku akan kuliah di sini? Jangan-jangan ini mimpi." Ia menoleh pada Lisa, bertanya memastikan dengan wajah sedikit pucat. Gadis ditanya sampai harus mengatupkan bibir menahan tawa. Bisa-bisanya Alisha merasa tak yakin dengan semua yang tampak di depan mata.
"Turun, Nona." Bahkan sampai Lisa turun dan membukakan pintu untuknya, Alisha masih belum berhenti terperangah.
"Lisa, bagaimana dengan penampilanku? Cantik, tidak?" Ia merapikan rambut dan pakaian yang sebetulnya tidak berantakan. Sedangkan Lisa dengan sabarnya menjawab tanya Alisha dibarengi dengan pujian.
"Nona tetap cantik. Bahkan sangat cantik."
Dasar aneh. Dia yang bertanya, tetapi begitu dikasih jawab malah bilangnya lebay. Lisa hanya menggeleng tak habis pikir sambil mendorong pintu mobil.
Ternyata memang benar kata orang jika uang dan kekuasaan berada di genggaman, maka semua urusan akan berjalan lancar. Alisha kini mengalaminya. Ia hanya duduk manis tiba-tiba sudah tercatat sebagai mahasiswi di sebuah universitas ternama.
Entah Narendra mengutus siapa untuk mengurus semuanya. Bahkan di hari pertama kuliah pun sengaja mengutus Lisa untuk menemani Alisha.
Alisha berjalan beriringan dengan Lisa menyusuri koridor. Bagi orang awam keduanya terlihat seperti dua gadis yang berteman. Sebagai orang baru tentunya kehadiran keduanya menarik perhatian orang-orang yang kebetulan berpapasan, sehingga tak jarang ada mahasiswa yang memandangi keduanya tanpa berkedip. Entah apa yang mereka semua pikirkan. Meski tak mengungkapkan dengan kata, tetapi bahasa tubuh Alisha tak bisa berbohong jika dirinya merasa kurang nyaman.
"Apa lihat-lihat!" Lisa yang menyadari itu segera bertindak dengan memberikan peringatan tegas pada siapa saja. Alisha yang terkejut bahkan sampai membelalak. Tak menyangka jika Lisa seberani itu hanya untuk melindunginya.
"Lisa, sudah. Jangan galak-galak," bisiknya pada Lisa yang masih memelototi seorang pemuda.
"Saya nggak bisa biarkan mereka gangguin Nona." Lisa beralasan.
"Yuk, ah pergi." Alisha menyeret tangan maidnya lantaran tak nyaman keduanya jadi pusat perhatian.
__ADS_1
"Nona ... mereka harus diperingatkan!" rengek Lisa setengah geram. Ia masih belum rela Alisha mengajaknya pergi dari sana. Namun, meski begitu tetap berjalan mengikuti nonanya.
"Bukan begitu caranya mengingatkan." Alisha berucap penuh penekanan tanpa melepaskan tangan Lisa. Ia sengaja mendekatkan bibir ke telinga Lisa lantaran berbicara pelan. "Kau bisa saja membuat kesal semua orang. Mereka punya mata. Jadi terserah mereka mau menatap siapa."
"Tapi Nona kelihatan tidak suka," sahut Lisa.
"Iya, memang. Aku memang nggak nyaman, tapi cara kamu menegur mereka juga nggak benar."
Alisha mengajak duduk maidnya di sebuah kursi. Duduk bersisian dengan posisi menyerong sehingga keduanya saling berhadapan. Alisha kembali menuturkan alasannya.
"Pikirkan juga imbas dari ini, Lisa. Bagaimana jika diam-diam ada yang dendam? Kamu mau, jija kelak ada orang yang berniat buruk kepadaku di lain waktu? Atau mungkin lebih parahnya lagi tidak ada satu pun dari mereka yang mau kujadikan teman?" Alisha meraih tangan Lisa dan menggenggamnya dengan erat. "Lisa, aku nggak mungkin ngandalin kamu selamanya! Aku juga harus belajar mandiri demi kebaikanku sendiri. Apa kau mengerti?"
Lisa terdiam. Ia membalas tatapan Alisha yang terlihat tulus kepadanya. Kemudian bertindak cepat membungkukkan badan dengan penuh penyesalan.
"Maafkan saya, Nona. Saya bersalah. Saya menyesal."
Terkejut dengan tindakan tiba-tiba maid-nya, sejenak Alisha hanya bisa terdiam. "Jangan gitu, Lisa. Tidak enak dilihat orang." Ia berucap demikian lantaran Lisa tak bergerak dari posisinya. Alisha meminta Lisa menegakkan badannya seraya melihat ke sekeliling, memastikan jika tidak ada orang yang melihat. "Jangan begitu lagi. Kau ingat, di sini kita berteman?"
Lisa mengangguk. "Saya hanya melakukan tugas dari Tuan agar menjaga Nona dengan baik. Memastikan keamanan Nona. Cuma itu." Kali ini Lisa berucap lemah.
"Iya. Aku tau," balas Alisha tulus sambil menepuk bahu Lisa pelan. Keduanya saling pandang dengan bibir sama-sama menyunggingkan senyum.
Melihat kondisi Lisa yang tampaknya sudah siap kembali menjalani tugas, ia segera bangkit dari duduk.
"Yuk, antar aku ke kelas," ajaknya penuh semangat. Bahkan saking bersemangatnya, Alisha sampai menabrak seseorang ketika berbalik badan.
Bruukk
"Aoww!" Alisha memekik. Ia nyaris limbung andaikata Lisa tidak menahannya tepat waktu.
"Kalau jalan hati-hati ya, Mas! Anda bisa melukai Nona saya!" hardik Lisa pada seorang pemuda setelah membantu nonanya berdiri dengan benar. Namun, tindakannya itu justru mendapat protes keras dari sang nona.
"Lisa." Alisha memperingatkan. Ia tak mau maid-nya itu bertindak seperti sebelumnya. Ia menepikan Lisa, lalu mendekati sang pemuda. Tanpa memandang muka, tanpa mengurangi rasa hormat, ia membungkuk sopan di depan si pemuda seraya menyesali kesalahannya. "Maaf, Mas. Saya yang salah."
Namun, balasan dari si pemuda justru di luar dugaannya.
"Elo!" ucap si pemuda seperti tak percaya.
Suara itu?
__ADS_1
Alisha sontak mengangkat pandangan, lalu membulatkan matanya seperti tak percaya.
"Dante?"