
Dante buru-buru ke kamar untuk menukar jubah mandinya dengan pakaian santai kesayangan. Tak ketinggalan menyisir rambut dan memakai pomade, juga menyemprotkan parfum mahal kebanggaan.
Saat dirasa penampilannya sudah sempurna dan tak terlihat berlebihan, ia segera keluar dari kamar. Awalnya ia terlihat tegang lantaran jantungnya berdegup kencang. Namun, begitu mendekati dapur, ia mulai berusaha bersikap tenang.
Sambil pasang wajah dingin seperti biasanya, pemuda dengan balutan kaus polo warna hitam dengan celana jeans panjang selutut itu memberikan kotak obat pada Niken yang tengah duduk sambil mengompres dahi Alisha dengan kantong berisi es batu.
"Nih," ucapnya dengan posisi setengah membungkuk saat menyodorkan. Dengan posisi seperti itu jarak dirinya dengan Alisha menjadi sangat dekat. Namun, lantaran Niken hanya menatapnya dengan kening berkerut heran tanpa berniat menerima, ia pun memutuskan menaruh kotak obat itu di atas meja. Masih dengan ekspresi datar, ia lantas menjatuhkan tubuhnya duduk pada sofa lain .
"Kok ditaruh situ?" protes Niken. "Buruan ambil salep terus oleskan ke dahi Alisha, Dante. Entar keburu memar!"
"Ya ampun, Ma, cuma oles-oles salep gitu doang. Nih anak juga bisa sendiri, kali! Ngapain suruh-suruh Dante, sih?"
"Tolongin orang nggak ada salahnya, Dante. Buruan!"
"Nggak usah, Tante. Alisha bisa sendiri kok." Alisha tiba-tiba menyahuti. Jelas ia tak enak hati lantaran jadi penyebab dua ibu dan anak ini berdebat.
"Nggak pa-pa, Alisha. Maafin anak Tante, ya. Dante itu memang gitu orangnya. Sukanya ngomong kasar sama cewek. Tapi sebagai ibu kandungnya, Tante tau dia itu aslinya baik."
Alisha hanya tersenyum rikuh menanggapi kata-kata Niken, tetapi lain cerita dengan Dante.
"Ma!" sahut Dante tak suka. "Ini Dante masih di sini, loh Ma. Bisa-bisanya ya ghibahin orang di depan mata!" Ia mendengkus kesal. Tetapi mamanya justru malah tertawa.
"Daripada ghibahin orang di belakang ya kan."
Lagi-lagi Dante mendengkus. Namun, tentunya ia hanya pura-pura kesal demi menutupi kebahagiaan. Ia akhirnya pura-pura terpaksa menuruti perintah mamanya, tetapi pada saat menyentuh tutup kotak obat, tiba-tiba tangannya seperti tersengat.
__ADS_1
"Biar saya sendiri aja, Tante." Alisha berniat membuka kotak obat bersamaan dengan Dante yang bergerak. Alhasil, tangan mereka menyentuh tempat yang sama hingga terjadilah kontak fisik yang tak disengaja.
Refleks keduanya terdiam dan saling berpandangan. Sama-sama terpesona hingga membuat mereka lupa caranya berkedip bagaimana. Hingga, suara dehaman Niken sukses membuyarkan pertautan mata dan tangan keduanya.
Jika Alisha buru-buru menarik tangan dan menunduk dalam, Dante justru berkata ketus demi menutupi rasa kikuk.
"Tuh kan Ma! Orang dia bisa sendiri."
Niken hanya menggeleng berusaha sabar sambil memandangi putranya yang buang muka kemudian menyandarkan punggung pada sandaran sofa. Wajah pemuda itu tampak memerah, tetapi ekspresinya terlihat marah.
Sambil bersikap acuh tak acuh, Dante mengambil ponselnya dari saku celana dan mulai memainkannya. Sangat tidak beretika pada tamu yang bertandang ke rumah mereka. Tapi mau bagaimana lagi. Mereka akan terus berdebat jika Niken terus saja menegurnya. Alhasil, wanita itu memilih mengabaikan dan fokus pada Alisha.
Baru Niken sadari jika Alisha tengah menunduk dalam dengan ekspresi tidak tenang. Mungkinkan gadis itu tersinggung dengan perlakuan putranya? Sangat wajar jika memang demikian. Niken benar-benar tidak enak hati pada gadis penolongnya yang satu ini. Entah apa buruknya Alisha sehingga Dante begitu membencinya? Begitu pikir Niken.
"Biar Tante yang oleskan ya, Nak. Jangan hiraukan kata-kata Dante." Niken berucap lembut pada Alisha seraya mengambil salep lalu mengoleskannya pelan. Ia melirik Dante yang ternyata juga tengah meliriknya dengan ekspresi sebal. Lalu kemudian ia menghardik putranya dengan ketus pula. "Apa lihat-lihat?"
"Aneh." Niken menggerutu. "Pergi kamu sana. Gangguin perempuan-perempuan lagi me time aja."
"Nggak mau. Orang aku maunya di sini."
Lagi-lagi Niken menghela napas berusaha sabar. Ia merasa putranya sangat aneh hari ini. Tapi entahlah karena apa. Ia malas memikirkan itu.
Kembali fokus pada Alisha, barulah Niken menyadari jika ia belum menanyakan maksud dan tujuan kedatangan tamunya itu untuk apa.
"Alisha, Tante seneng loh kamu mau main-main ke sini. Ini tadi ceritanya memang sengaja, atau kebetulan mampir aja?" tanya Niken sopan untuk mengulik informasi tanpa sedikitpun berniat menyinggung perasaan.
__ADS_1
Alisha sendiri sepertinya merasakan hal yang sama. Ia juga baru teringat belum menyampaikan maksud dan tujuannya bertamu itu apa.
"Anu, Tante. Saya dan Papa dapat amanat dari Mama buat antar kue ini. Tapi Tante–" Alisha menarik kotak kuenya yang ada di meja, membuka tutupnya dengan pelan, lantas menunjukkan penampilan kue itu dengan takut dan malu. "Kuenya ... rusak," lirihnya, kemudian menggigit bibir bawah.
Niken mengerutkan kening saat memperhatikan kue itu. Hal itu tak luput dari pengawasan Dante. Entah demi apa, ia tak ingin melihat mamanya kesal ataupun marah terhadap Alisha. Maka buru-buru saja ia bangkit duduk lalu memberi penjelasan pada Niken.
"Tadi aslinya cantik banget kok, Ma. Cuma, ya itu. Gara-gara dia jatoh tadi kuenya jadi salto sendiri." Dante menunjuk Alisha dan menatap mamanya penuh kesungguhan.
Niken sontak mengalihkan pandangan pada Dante dengan ekspresi seperti terperangah. Entah benar atau salah penilaiannya kali ini, tetapi Dante terkesan melindungi Alisha.
Sebenarnya ini anak gimana sih?
Usai membatin seperti itu, Niken terkekeh pelan sambil mengambil alih kue itu dari tangan Alisha. Terlihat olehnya jika Dante bernapas lega. Meskipun sikap Dante barusan itu terkesan disembunyikan.
"Iya, Dante. Mama percaya kalau desain kue ini cantik banget. Ini kan kue kesukaan Mama. Apalagi rasanya. Beuuuh. Enak, banget." Niken berbicara dengan gaya yang lebih-lebihkan. Membuat putranya meringis dengan wajah heran. Wanita itu kemudian menatap seorang pelayan yang berdiri siaga di sana, lalu memberikan sebuah perintah. "Ambilkan pisau kue beserta peralatan makannya, ya."
"Baik, Bu." Wanita berusia sekitar tiga puluh tahun itu segera menjalankan tugasnya.
Sembari menunggu, Niken kembali pada Alisha dan ingin bertanya-tanya. Jujur, ia merasa baru bertemu dengan gadis itu sekali saja. Lantas, bagaimana bisa mama papa gadis itu tahu betul kue kesukaannya? Memangnya siapa orang tua Alisha?
"Jadi Alisha ke sini nggak sendirian?"
"Enggak, Tante. Tadi ke sini sama Papa, tapi sekarang Papa lagi ngobrol sama Om Robby di ruang tamu." Alisha menunjuk ke arah yang ia pikir itu ruang tamu. Padahal yang sebenarnya itu toilet tamu. Dante yang mengetahui itu hanya bisa mengurut keningnya sambil menggeleng samar.
"Memangnya papa Alisha siapa?" Niken sedikit terkejut lantaran ternyata papa gadis itu mengenal Robby juga. Namun, keterkejutan di wajahnya bertambah banyak setelah mendengar nama papa yang disebutkan oleh Alisha.
__ADS_1
"Papa Narendra, Tante."
"Hah?"