
Dante begitu bersemangat saat menjemput Alisha ke kontrakan Sena. Ia terlalu bahagia sampai-sampai Alisha yang sangat sulit dihubungi beberapa saat lalu sama sekali tidak ia ambil pusing.
Hari ini juga ia harus menyatakan perasaan. Alisha gadis yang tulus dan apa adanya. Ia yakin, gadis itu akan menerimanya meski tanpa buket bunga ataupun cincin permata.
Sambutan tidak mengenakkan Alisha di kontrakan Sena masih bisa dimakluminya. Mungkin Alisha hanya lelah dan dirinya datang di saat tidak tepat. Namun, pernyataan cinta tetap pernyataan cinta. Ini darurat dan tidak bisa ditunda-tunda.
Mau langsung bicara di sana juga rasanya tidak sebab ada Sena di tengah-tengah mereka. Jujur, ia kurang suka pada gadis kupu-kupu malam itu. Apalagi melihat Alisha berteman terlalu dekat dengan dia. Ia takut Sena akan memberi pengaruh buruk terhadap Alisha.
Terlepas seperti apa masa lalu, Alisha, ia tak akan ambil pusing sebab sudah benar-benar cinta. Yang penting sekarang gadis itu sudah benar-benar meninggalkan dunia malamnya.
Jujur, Dante bisa merasakan perubahan sikap Alisha mulai saat berkendara bersama menuju taman. Tak seperti biasanya, gadis itu tampak ogah-ogahan dan hanya diam sepanjang perjalanan. Mukanya juga ditekuk seperti kain lusuh.
Saat itu Dante tak terlalu mempermasalahkan sebab ia tak merasa melakukan salah. Yang ada di benaknya hanya pernyataan cinta. Setelah itu ia akan pulang dan memperkenalkan Alisha pada orang tuanya.
Ia yakin papa dan mamanya akan merestui sebab Alisha adalah gadis yang cantik dan mandiri. Bukankah yang terpenting adalah dirinya cinta?
Alisha juga sudah melewati banyak uji coba darinya dan hasilnya lulus dengan nilai bagus. Apalagi yang perlu diragukan dari seorang Alisha?
"Ngapain jauh-jauh ke sini, sih? Udah berpanas-panasan, eh taunya cuma diajak ke taman doang."
Kata-kata yang dilontarkan Alisha setelah sampai taman sukses membuat Dante terperangah. Gadis itu bersikap terbalik dari biasanya dan enggan menatap wajah Dante. Jujur, Dante sangat terkejut. Namun, sebagai pria sejati ia tetap berusaha memaklumi.
Ia hanya mengernyit saat mengamati gerak-gerik Alisha yang membelakanginya sembari bersedekap dada. Gadis itu kini menatap permukaan air danau buatan yang tenang.
__ADS_1
Perlahan, ia mendekati gadis itu dan berdiri di sampingnya. "Al, kok kamu cemberut gitu sih? Kita ada di taman loh sekarang. Bukannya ini tempat favorit kamu untuk mencari ketenangan?" tanyanya pelan seperti mengingatkan. Namun, jawaban Alisha justru membuatnya makin terheran.
"Itu kan dulu, Dan. Beda sama sekarang."
Dante mendesah pelan. Ia berpikir Alisha sedang kedatangan tamu bulanan. Mungkin itu yang membuat gadis ini lebih sensitif dari biasanya.
"Maaf .... Kukira kamu masih suka dengan tempat ini seperti kemarin." Dante sudah berbicara pelan dan memaklumi, malah Alisha membuang muka. Cinta tetaplah cinta sekalipun gadisnya ngambek atau marah. Ia hanya perlu memperbanyak stok sabar dan meluluhkan hati si wanita. Barangkali saja Alisha sedang mengujinya.
Tak ingin menunda lagi, Dante mendekati Alisha yang sebelumnya bergerak menciptakan jarak.
"Alisha."
Gadis yang dipanggilnya itu bahkan sampai terlonjak. Bisa-bisanya Alisha terkejut saat dia dekati.
"Al," panggilnya lagi dengan lembut.
Seperti biasanya, Alisha akan memandangnya dengan penuh cinta dan hangat. Namun, anehnya kali ini mata bening itu terlihat sembab. Dan sekarang malah berkaca-kaca. Saat ia bertanya untuk memastikan, Alisha hanya menjawab dirinya baik-baik saja. Apa karena saking terharunya? Sebab, setelahnya Dante bersikap sangat manis.
Angin sejuk yang bertiup di siang itu menerbangkan helaian rambut indah Alisha yang tergerai. Ia mengelus untuk merapikan dan menyelipkan ke belakang telinga. Selanjutnya, menggenggam kedua tangan dingin dan gemetar itu dengan lembut untuk menyalurkan kehangatan.
Dante mulai mengutarakan kalimat indah yang sempat ia rangkai saat memutuskan Alisha lah wanitanya. Walaupun deguban jantungnya tak beraturan, ia berusaha setenang mungkin saat menyatakan.
Sungguh, Dante tak pernah merasakan romantisnya kebersamaan ini. Saat dirinya menyatakan perasaan, Alisha mendengarkannya dengan seksama, menatapnya penuh kelembutan, dan menyunggingkan senyum manis yang penuh haru. Mata bening itu menunjukkan binar bahagia. Nyaris seperti tak menyangka.
__ADS_1
Ia bahkan begitu percaya diri gayung akan bersambut dan cintanya diterima. Namun, sebuah hal tak terduga pun terjadi. Tiba-tiba Alisha melepaskan tangannya dari genggaman dan memasang wajah gusar.
"Apa-apaan sih Dan! Pake pegang-pegang tangan segala!"
"Kenapa sih, Al? Bukankah sudah hal biasa kita saling berpegang tangan?" Dahi Dante mengernyit heran.
"Itu karena aku menghargaimu sebagai teman ya, Dan! Bukan hal lain!"
Dante membelalak. Ia terkejut. Mungkin karena Alisha belum terbiasa, makanya terkejut seperti ini. Namun, bisakah dia bicara lebih halus lagi? Apakah Alisha sedang menunjukkan sisi lain dari dirinya? Gadis itu bahkan tersinggung saat ia mengeluhkan tentang perubahan sikapnya yang mendadak. Bukannya menyadari, malahan Alisha balik menuding Dante.
"Al, aku ini lagi nyatain cinta loh sama kamu. Aku udah berusaha seromantis mungkin dengan keterbatasan yang kumiliki. Aku udah bawa kamu ke tempat kesukaan kamu. Aku ini tulus cinta sama kamu, Al. Apa begini cara kamu nanggapin aku?" Akhirnya Dante mengungkapkan protesnya karena nyaris tidak tahan. Kali ini Alisha sudah keterlaluan dan ia merasa perlu menegurnya. Sayangnya, reaksi mengejutkan kembali ditujukan oleh Alisha.
Gadis itu menunjukkan keterkejutan yang berlebihan. Bahkan menuntut sesuatu yang tidak sepantasnya. Alisha benar-benar menunjukkan sikap berbeda. Alisha sekarang bukanlah Alisha yang Dante kenal.
Jantung Dante seperti dihantam bongkahan batu besar berulang-ulang. Alisha menolak cintanya mentah-mentah. Namun, bukanlah itu yang membuatnya semakin meradang. Jika sebelumnya perlakuan Alisha selalu memberikan kenyamanan, tetapi sekarang lidah gadis itu menjadi belati paling tajam yang menggores hati. Alisha bukan hanya menolaknya, tetapi juga merendahkan sebagai orang miskin.
Entah sebesar apa rasa kecewa yang melingkupi hati seorang Dante. Gadis yang kini bergerak meninggalkannya itu telah merobek hatinya, membuatnya hancur berkeping-keping.
Sia-sialah pengorbanan yang ia lakukan. Sia-sia ia memupuk perasaan. Jika akhirnya akan sama pada kata-kata kecewa, ia menyesal pernah mengenal seorang Alisha.
Tepat saat itu ponselnya berdering. Nama Jonathan terpampang di layarnya. Ia mengusap sudut mata sebelum menerima panggilan dan berusaha bersikap tegar. Tak ada lagi alasan dirinya bertahan di sini. Tak ada lagi yang tersisa selain rasa benci.
Memandang lurus ke depan sambil menempelkan ponsel pada telinga, Dante lantas berucap maaf.
__ADS_1
"Jo, jemput gue sekarang juga. Gue akan pulang dan menerima perjodohan itu, siapapun wanitanya."