
Duduk di tepian ranjang, Alisha mengusap pelan kasur tebal berbalut sprei lembut warna putih yang menjadi kamarnya itu. Ia sedikit menggerakkan tubuhnya hingga menimbulkan guncangan.
"Empuk." Ia bergumam. "Kasur mahal. Sudah pasti nyaman."
Mahal? Tentu saja. Hari ini Alisha diboyong Narendra ke rumah mewahnya. Alisha resmi menjadi anggota keluarga Narendra. Mendapatkan kasih sayang, fasilitas sama dengan Lara, dan melanjutkan pendidikan.
Namun, meski begitu, ia tak terlihat bahagia. Ia hanya sendirian di sana. Sang ibu tidak turut serta. Senyum yang tersungging tampak begitu dipaksakan. Dalam perjalanan pun ia hanya bicara seperlunya saja. Sekadar menjawab pertanyaan sang papa, meskipun Lara yang turut serta tak berhenti mengoceh di sepanjang perjalanan.
Ini memang untuk pertama kalinya Alisha jauh dari sang ibu. Harusnya ia tak perlu segelisah itu. Toh Wanda juga telah terjamin kehidupannya. Rumah berlantai dua dengan dua asisten rumah tangga yang mengurusnya, lengkap dengan satu perawat untuk menjaganya. Harusnya Wanda tak akan kesepian, sebab Narendra mengizinkan kapan pun Alisha hendak menjenguknya.
Ketukan di pintu memulihkan Alisha dari lamunannya. Gadis dengan kemeja kotak-kotak itu menoleh ke arah pintu, lalu bertanya dengan suara tinggi agar yang di luar bias mendengar.
"Siapa?"
"Saya, Nona. Maid yang ditugaskan melayani Anda," jawab yang di luar.
Maid? Alisha tertegun sejenak, sebelum kemudian mempersilahkan orang itu masuk.
"Masuk saja."
Pintu terbuka perlahan, lalu muncul sesosok gadis seumuran dia dengan berbalut pakaian khas seorang pelayan.
Di pandangi oleh Alisha, gadis manis berkulit sawo matang itu menyunggingkan senyum sambil sebentar membungkuk sopan, lalu kemudian memperkenalkan diri dengan ramah.
__ADS_1
"Selamat datang, Nona. Perkenalkan, saya adalah Lisa. Mulai sekarang, saya adalah maid Nona. Saya akan melayani apa pun yang Nona butuhkan. Mohon jangan sungkan-sungkan, Nona."
Alisha tersenyum tipis, lalu mengangguk samar. "Terima kasih," ujarnya.
"Sama-sama, Nona."
"Kau boleh pergi sekarang."
Lisa mengernyit. "Pergi? Tapi–"
"Kenapa? Ada masalah?"
Lisa menggeleng. "Maaf, tapi keberadaan saya di sini untuk membantu Nona."
Lisa menggeleng pelan dengan wajah memasang mimik sedih. "Tidak mau. Saya ingin membantu Nona."
"Tapi pakaianku hanya sedikit. Sebentar juga selesai."
"Tidak apa-apa." Tanpa sungkan Lisa mengambil alih tas Alisha. Membuat Alisha tak bisa berkata-kata. "Mari Nona, saya tunjukkan semua pakaian Anda."
Alisha melongo. Bukankah pakaiannya sudah dijinjing Lisa semua, lalu pakaian mana lagi yang akan ditunjukkan gadis itu kepadanya?
Alisha mengikuti langkah Lisa menuju pintu di sisi kanan kamar atas permintaan gadis itu. Seketika ia terperangah melihat isi di ruangan itu.
__ADS_1
Bagaimana tidak? Ruangan berukuran empat kali tiga meter itu sepertinya didesain khusus untuk penyimpanan pakaian beserta aksesoris penunjang penampilan lainnya.
Alisha begitu takjub saat pandangannya memindai isi lemari yang menutupi hampir sekeliling dinding ruangan itu. Masing-masing lemari diisi dengan barang-barang sesuai dengan jenis dan fungsinya. Ada baju, tas, sepatu, dan aksesoris. Di bagian tengah ada sebuah sofa bulu berbentuk bundar, sementara sebelah kanan ada set meja rias lengkap dengan aksesorisnya.
"Ini semua milik siapa?" Alisha menautkan alisnya. Mungkinkah ini pakaian seluruh penghuni rumah ini? Lalu kenapa harus di tempatkan di sini. Di sebuah ruangan yang bertempat di kamarnya. Bukankah ini aneh? Bagaimana dia bisa beristirahat tenang jika sebentar-sebentar ada orang masuk untuk sekadar berganti pakaian.
"Milik Nona semuanya."
"Hah!" Alisha terbelalak mendengar jawaban Lisa. "Semuanya?"
"Benar." Lisa mengangguk meyakinkan.
"Tapi ini banyak sekali. Ini lebih mirip toko pakaian daripada lemari pakaian milik satu orang," gumamnya tak percaya.
"Tuan Narendra sangat menyayangi Anda, Nona. Jadi beliau mempersiapkan segalanya dengan baik sebelum Anda kemari," kata Lisa sambil memindahkan baju-baju Alisha pada salah satu lemari kosong. Gadis itu sangat cekatan. Meski pakaian Alisha sangat tak layak jika dibandingkan gaun-gaun yang ada di sana, tetapi Lisa tetap memperlakukan barang bawaan nonanya dengan sangat baik.
Alisha terduduk lemas di kursi. "Ini terlalu mewah untukku, Lisa. Aku tak mungkin cocok mengenakannya. Maaf, aku tidak bisa." Ia bergumam.
"Nona bisa," sahut Lisa mantap. "Nona pasti sangat cocok mengenakan ini semua. Nona itu cantik. Memakai apa saja pasti bagus," bujuk Lisa.
"Aku tidak terbiasa."
"Bisa dibiasakan sejak sekarang," sahut Lisa lagi. Gadis itu tersenyum tipis lalu menghampiri Alisha dan berjongkok di depannya. "Nona, sesuatu yang belum terbiasa itu memang tidak nyaman. Itu memang wajar. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, pasti akan terbiasa kok. Nona harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Nona sekarang adalah putri Tuan Narendra yang terhormat. Nona juga harus terlihat terhormat seperti Tuan Narendra. Perubahan ke hal baik itu penting. Jangan sampai Nona menjadi bahan gunjingan orang-orang sekitar dan kampus tempat Nona belajar lantaran penampilan Nona yang asal."
__ADS_1
Alisha terdiam, memandangi Lisa sejenak sambil berpikir. "Benar juga." Ia bergumam. Kata-kata Lisa memang ada benarnya. Ia harus menjaga nama baik sang papa. Tak peduli sebelum berada di sini, ia berasal dari mana.