
"Sial. Ke mana perginya Alisha, sih! Cepet banget ngilangnya." Lara menggerutu sendirian saat tidak menemukan Alisha. Ia memutar tubuhnya pelan sambil menatap jeli ke arah sekitar. Banyak orang berlalu-lalang, tetapi tidak ada sosok gadis berpiyama marun yang dicarinya. Mendengkus kasar, ia menggemertakkan gigi sambil mengepalkan tangannya.
Tak lama kemudian seorang pemuda melangkah cepat menghampirinya. Entah pemuda itu datangnya dari mana.
"Ra, gimana? Kamu nemuin dia?" Dia bertanya. Namun, bukannya jawaban baik yang ia terima, melainkan sebuah gerutuan dari gadis yang digilainya.
"Kalau Alisha kutemuin, udah pasti ada sama aku sekarang! Kamu nggak lihat ini sekarang aku sendirian?" Lara mengacak rambutnya frustasi. Ia menatap pemuda itu sejenak kemudian melontarkan tanya. "Kamu sendiri gimana? Gagal nemuin dia?"
"Kamu sendiri juga tau kan, Ra, aku balik ke sini sendirian!" jawabnya dengan nada tak jauh beda dari Alisha.
"Sialan. Cepet banget dia ngilangnya!" Lara mendengkus sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Nggak mungkin deh Alisha ngilang gitu aja! Aku yakin banget dia masih ada di sekitar sini, Vid. Dia pasti ngumpet di suatu tempat!"
"Iya, tapi mana, Ra. Dari tadi kita udah nyariin kayak orang gila. Kita nyaris jadi pusat perhatian orang-orang sampai ditanya-tanya segala lagi nyari apa. Kamu pengen mereka curiga?"
Lara menggemertakkan giginya, menatap David dengan geram. "Kamu nggak ngerti aja gimana imbasnya kalau sampai Alisha ngadu ke Mama Papa, David! Bisa hancur semuanya!"
"Apanya? Apanya yang hancur!" David bertanya setengah tak terima.
"Tentu saja rencana aku, lah! Memang apa lagi?"
"Rencana untuk menghancurkan Alisha dengan merebut orang yang dia cinta?" David menjeda ucapannya dan menggeleng tak habis pikir. "Untuk apa sih, Al? Kenapa kamu suka banget lihat orang menderita?"
"Karena aku juga sudah menderita, David. Aku hanya ingin dia merasakan apa yang aku rasa! Apa itu salah!"
"Salah besar, Ra. Itu salah besar." David bergerak mengikis jarak, lalu meraih kedua tangan Lara untuk ia genggam penuh kelembutan. "Ra, sebenarnya apa sih tujuan hidup kamu? Pernahkah terpikirkan di benak kamu, kelak memiliki masa depan seperti apa?"
Lara masih diam dengan pandangan tak mengerti pada David. David sepertinya memahami pikiran Lara, sehingga ia kembali menjelaskan apa maksud dari perkataannya agar tidak membingungkan Lara.
"Ra, tujuan kamu bertunangan dengan Dante itu apa? Apakah untuk hidup bersama selamanya ataukah hanya ingin melihat kesedihan Alisha? Jikapun kelak semua keinginanmu bisa terkabul, apakah nanti kalian bisa bahagia dengan pernikahan yang terpaksa? Ingat, Ra. Pernikahan itu hanya sekali seumur hidup, kenapa kamu harus menyiksa diri dengan obsesi tak masuk akal itu?
Ra ... ada aku di sini yang selalu cinta sama kamu. Kumohon, terima cinta aku. Kita menikah dan hidup bahagia. Aku sangat yakin kalau kamu masih cinta aku juga kan?
Lupakan dendammu. Buang rasa iri di hatimu. Alisha itu saudarimu, jadi wajar jika dia juga dapat kasih sayang yang sama dari papa kamu. Berdamai lah dengan keadaan. Aku yakin, kamu pasti akan merasa damai dan tenteram."
"Eng-gak!" Alih-alih mengiyakan bujukan David, Lara justru membentak sambil mengempaskan tangan si pemuda.
David hanya bisa mengembuskan napas sambil geleng kepala. Tak habis pikir melihat sifat keras kepala gadisnya.
__ADS_1
"Aku nggak bisa semudah itu maafin Alisha, David! Nggak akan bisa!" Tanpa menunggu kata-kata David, Lara berbalik badan lantas pergi begitu saja setelah mengembuskan napas kasar. David yang masih berdiri di tempatnya hanya bisa menggeleng pelan saking herannya.
***
Dante tersenyum sambil melambaikan tangan melepas kepergian Alisha untuk pulang. Ia sudah mengantar gadis itu sampai di depan rumah, dan hanya bisa bersandar pada body mobilnya sambil menatap punggung gadis itu bergerak menjauh. Alisha memang melarangnya mengantar sampai depan pintu, akhirnya ia hanya bisa mengawasi gadis itu dari kejauhan.
Senyum di bibirnya memudar seiring dengan sosok Alisha yang menghilang. Berganti dengan gemeretakkan geraham dan kepalan tangan, gesture yang selalu Dante tunjukkan ketika sedang murka.
Ia buru-buru kembali masuk ke mobilnya dan melajukan dengan kecepatan tinggi. Ia berniat kembali ke kafe untuk menemui teman-temannya yang masih menunggu di sana.
Sementara itu di rumah Narendra, Alisha bernapas lega setelah membaringkan tubuh di kasurnya. Lara belum pulang sampai sekarang, itu artinya gadis itu masih di sana. Entah sedang mencarinya atau melanjutkan acara mereka.
Lagi-lagi wajah Alisha berubah sendu setiap mengingat hal itu. Kelakuan Alisha yang suka diam-diam pergi itu benar-benar mengejutkannya. Mungkin Lara memang tidak menggangu atau merugikannya dari berbagai segi, tetapi gadis itu bisa mencoreng nama baik papa mereka. Cepat atau lambat media akan tahu dan itu pasti menjadi sorotan.
Kegelisahan Alisha tidak cukup sampai di situ saja. Gadis itu mengubah posisi tidurnya. Memiringkan badan sambil berbantal lengan. Kata-kata Dante saat di mobil tadi kembali menari di pikiran.
Al, kamu ngerasa nggak kalau kamu jadi berubah. Kamu yang sekarang terlihat lemah dan mudah ditindas. Kau tidak seperti Alisha yang dulu aku kenal. Alisha yang kuat dan tegar. Alisha yang berani menghadapi masalahnya. Kamu yang sekarang lebih rapuh. Kamu seperti kehilangan jati diri.
"Benarkah diriku bukan Alisha yang dulu lagi ...?"
***
Alisha berusaha membuka kelopak matanya saat mendengar seseorang memanggil namanya. Rasanya sangat berat dan ia masih mengantuk. Ia bisa merasakan dirinya masih terbaring di atas ranjang, dan wanita yang memanggilnya adalah suara Bi Saras. Wanita itu mengguncang lengannya pelan agar dirinya mau terjaga.
"Iya, Bi. Ada apa?" tanyanya lemas dengan suara parau khas bangun tidur.
"Ini hampir jam tujuh, Non. Non Alisha mau kuliah, nggak?"
Mendengar itu mata Alisha sontak membelalak. Seketika ia melenting bangun dan kembali bertanya dengan nada tak percaya. "Jam tujuh, Bu?"
"Iya, Non."
Panik, Alisha buru-buru beranjak dari tempatnya. Lantaran bingung, sampai-sampai salah membuka pintu. Ia berniat ke kamar mandi tapi malah membuka pintu keluar."
"Eh, Non. Pintunya di sini!" Saras mengingatkan. Sementara Alisha yang menyadari kekonyolannya langsung berlari menghampiri pintu kamar mandi.
"Air hangat dan bajunya sudah saya siapkan, Non. Setelah selesai nanti cepat-cepat turun untuk sarapan, ya. Tuan sama Nyonya sudah nunggu." Saras berpesan sebelum keluar.
__ADS_1
"Iya, Bi. Makasih, ya," jawab Alisha dari dalam kamar mandinya dengan suara tidak jelas. Sepertinya gadis itu sedang bicara sambil menyikat giginya.
Saras kembali turun ke lantai dasar guna mengatur hidangan sarapan. Ia harus siaga di ruang makan saat sarapan keluarga berjalan. Rupanya tiga anggota keluarga lainnya sudah berada di meja makan dan menunggu Alisha datang.
Saras menyunggingkan senyum saat Alisha turun dengan penampilan rapi dan segar. Ia buru-buru menarik kursi dan mempersilahkan Alisha duduk di sana. Acara sarapan pun berjalan aman dan terkendali. Semua anggota keluarga tampak mengobrol dan sesekali bercanda.
Hanya saja Alisha dan Lara memang terlihat jarang bertegur sapa. Kecuali jika memang ada sesuatu penting yang harus dibicarakan. Namun, meski begitu Saras meyakini jika dua gadis itu berhubungan baik sekalipun ikatan mereka hanyalah saudari tiri.
"Pa, Lara berangkat kuliah dulu, ya." Lara pamit sembari bangkit. Ia sudah menghabiskan segelas susu dan dua lembar roti tawar berselai.
"Nggak nunggu dijemput Dante?" tanya Helena agak heran.
"Hari ini Lara buru-buru, Pa." Gadis itu keluar rumah setelah mencium pipi kedua orang tuanya bergantian.
Alisha menyusul berdiri dan pamit setelah kepergian Lara. Ia bersalaman dan mencium pipi Narendra dan Helena bergantian, lalu kemudian berjalan keluar dengan santai.
Semula Alisha berpikir dengan keberangkatan Lara yang lebih cepat, ia juga terbebas dari intimidasi gadis itu. Namun, ternyata Alisha salah. Rupanya Lara masih menunggunya di luar secara diam-diam.
Alisha sangat terkejut saat tiba-tiba sebuah tangan mencengkeramnya sebelum kemudian menarik dengan sangat kuat, membawanya ke tempat yang sepi. Entah apa yang akan Lara lakukan, Alisha hanya bisa pasrah mengikuti saat tahu yang menariknya adalah sang saudari.
"Apa maksud kamu ngikutin aku sampai ke kelab malam? Jawab!" bentak Lara dengan tatapan mata yang tajam.
"Karena aku penasaran kamu mau ke mana ngelayap malam-malam! Kenapa? Kamu meras terancam?"
Lara membulatkan matanya saat mendengar jawaban Alisha yang terdengar tanpa gentar. Sialan. Dari mana gadis itu mendapatkan keberanian? Alisha menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan sangat tenang. Bahkan sambil bersedekap dada dan tersenyum seperti menantang.
"Awas kalau sampai Dante dan Mama Papa tau. Aku akan bikin perhitungan sama kamu," ancam Lara sambil menuding wajah Alisha. Sementara yang diancam hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Silahkan. Aku nggak takut ancaman kamu."
Lara mengepalkan tangan tanpa mengangkatnya. Jujur, andai ini bukan di rumah mereka, ia ingin memberi hukuman pada Alisha atas kelancangannya. Sayangnya tidak bisa, sebab di beberapa sisi ada CCTV penjaga yang bisa melihat apa pun kegiatannya. Akhirnya, Lara memutuskan untuk pergi sebelum papanya memergoki mereka.
"Lara."
Gadis itu sontak berhenti saat Alisha memanggilnya. Namun, sifat angkuh dan kemarahan gadis itu turut andil menghalangi Lara untuk menoleh.
Alisha tak mempermasalahkan hal itu. Ia tetap tersenyum selagi mengatakan sepatah kata untuk menginterupsi ancaman Lara.
__ADS_1
"Tuhan itu nggak tidur, Lara. Dia maha tau mana yang benar dan mana yang salah. Karma itu pasti ada. Mungkin sekarang kau bisa menyembunyikan keburukanmu dari semua orang, tetapi cepat atau lambat semua akan terungkap."